Surat Untuk Ibu

Surat Untuk Ibu

Salam,

Wah, sudah lama sekali kami tidak berbagi cerita di sini. Secara pribadi, saya akhir-akhir ini justru banyak menunaikan aktifitas di luar. Terutama setelah muncul ‘surat cinta’ Senin dua minggu silam dari Dikti Tunis.

“Alhamdulillah, istri tersungkur sujud seketika.” Tulis istri turut haru membaca beritanya.

“Alhamdulillah..” saya turut sujud syukur.

Di satu sisi, kabar itu sungguh berkesan dan mengharukan karena muncul setelah penantian yang sangat panjang. Penantian yang menyebabkan saya ‘terdampar’ di negeri pinggiran Samudra Atlantik selama dua bulan lebih, bahkan membuat kami terpisah bentangan benua.

Namun di sisi lain, kabar ini agak membimbangkan karena muncul saat hati saya tertambat nuansa ilmu kota Rabat. Ketika saya perlahan mulai mengubah haluan karena pengumuman tak kunjung keluar. Kala saya mulai menikmati perkuliahan interaktif ala kampus Universitas Muhammad V ini.

Bagaimana tidak menikmati, di kelas hanya ada bahasa Arab fusha. Posisi meja dan kursi dipola membentuk leter U. Setiap pertemuan setidaknya terdiri dari empat sesi. Pertama, kuliah dari dosen. Kedua, presentasi dari mahasiswa. Ketiga, diskusi. Keempat, arahan, bimbingan, dan kesimpulan dari dosen. Memang tidak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia, saya pikir. Agaknya, perbedaan menonjol terletak pada bahasa pengantar, kapabilitas, dan keaktifan dosen.

Mana yang harus dipilih?

Memilih salah satu dari dua impian besar yang tidak mungkin diambil kedua-duanya memang sulit. Di sinilah fungsi shalat istikharah yang diajarkan Rasulullah Saw. Memohon pertolongan Allah Swt. dalam menentukan pilihan yang terbaik menurut-Nya.

Jadi memilih yang mana?

Insya Allah, Tunis!

Apa pertimbangannya?

Nanti saja saya ceritakan ya, sebab sekarang saya tak tahan ingin menulis surat untuk sosok tak tergantikan di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan IBU. Kenapa tidak tergantikan, sebab dia yang melahirkan, membesarkan, mendidik, tiada putus dan bosan mendoakan kebaikan untuk kita tanpa pamrih.

SURAT UNTUK IBU

Bagiku, engkau adalah sumber doa dan harapan. Engkau makhluk paling telaten merangkai doa, menanam asa, memupuk cinta. Engkau hamba Allah paling sabar merenda benang cita-cita. Paling tekun membentuk generasi.

Aku selalu ingat,

Kala masih kecil, engkau rajin menyiapkan segelas susu campur telor ayam kampung mentah untukku kala sore. Bahkan sampai menyusulku jika sedang bermain di lapangan bola;

Engkau menyiapkan segelas susu hangat 10 menit sebelum adzan subuh kala anakmu ini ada jadual private belajar seni baca Al-Quran ba’da subuh di mesjid dekat rumah;

Engkau memesankan mie bakso kesukaan anakmu ini saat les private bahasa Arab dari salah seorang ustadz di tempat tinggal kita. Anakmu ini bosan mengikuti les itu, tapi luluh juga karena mie bakso J;

Engkau bangun subuh lebih awal dan membangunkanku dengan cara menyetel murattal Syaikh Abdullah Al-Matrud dengan lembut sayup-sayup. Sampai aku hafal dan bisa menirukan gaya bacaannya. Hingga kini, Ma!;

Engkau mengajak dan menuntunku mengikuti pengajian Ahad pagi di mesjid Gumuruh yang membludak penuh;

Engkau mengantarku yang masih usia SD ke depan pintu shaf khusus laki-laki. Menitipkanku pada siapa saja yang duduk di shaf depan. Kemudian engkau meninggalkanku untuk bergabung bersama para jamaah wanita. Aku paling kecil sendirian duduk memperhatikan gerak gerik sang Kyai memaparkan materinya, meski hanya mampu menyerap sedikit saja materi sang Kyai karena menyasar kelas dewasa;

Engkau mengingatkanku,

“A, lima menit lagi waktu shalat.”

Itu berarti isyarat agar aku bersiap untuk mengumandangkan adzan di mesjid yang berjarak 50 meter saja dari rumah;

Engkau menegur makhraj dan tajwid bacaan Al-Quran-ku yang belum tepat. “Mamah tadi hanya mendenger ho, bukan kha dalam bacaan min khauf. Lain kali bisa diulang menjadi kho?”—seraya mencontohkan seperti mengeluarkan dahak. Aku mengangguk manyun. J;

Aku selalu ingat,

Kalau pulang liburan dari pondok, engkau kerap menyiapkan makan malam, lalu duduk dan bercerita kisah perjalanan sekolahmu yang hanya sampai SMP. Kemudian bergumam, “Mamah pengen sekolah tinggi, tapi kondisi keluarga tidak mengizinkan. Apalagi ketemu bapak dan menikah.”

“Teruslah sekolah sampai perguruan Tinggi. Lanjutkan cita-cita Mamah!”

Aku tak pernah lupa,

Selesai Aliyah dan diterima kuliah kelas persiapan bahasa Arab (I’dad Lughah) di LIPIA Jakarta yang penuh perjuangan, sebab sering harus bangun dini hari demi mengejar beberapa tes pagi-pagi di Jakarta karena dulu belum ada travel dan belum dibuka jalur tol cipularang.

Engkau memelukku erat sembari mata berkaca-kaca.

”Mamah bahagia cita-cita Mamah terwujud olehmu.”

Aku selalu terkenang,

Saat pertama kali membaca pengumuman kelulusan beasiswa DEPAG untuk kuliah s1 di Universitas Al-Azhar Mesir, sengaja saya tidak menelponmu. Aku ingin membuat kejutan untukmu. Makanya aku langsung bawa surat resmi dari DEPAG. Aku ingin memperlihatkan langsung surat itu padamu.

Aku segera pulang dari Jakarta. Sesampai rumah, aku ketuk pintu,

“Assalamu’alaikum, Aa pulang.”

“Wa’alaikum salam..”

Aku mencium tanganmu, lalu memelukmu. Seperti biasa.

Aku langsung mengeluarkan suratnya.

“Ini persembahan untuk Mamah!”

“Apa ini?”

“Mangga dibuka we…”

Setelah di buka,

“Ya Allah…….alhamdulillah….”

Engkau spontan bersujud syukur. Meluapkan kebahagiaan dengan sujud. Persis seperti yang aku lakukan saat pertama kali mendengar namaku tertera di pengumuman kelulusan.

Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu!

Terima kasih Mamah, engkau telah mengajarkan cara mengekspresikan kebahagiaan sesuai tuntunan Rasul-Mu.

Kita dibalut haru saat itu.

***

Dengan apa yang masih aku ingat saja, membuatku ingin terus mempersembahkan bakti terbaik untukmu, Mah. Setulusnya. Selamanya. Belum lagi jasa yang tidak aku rasa dan ingat. Ah, terlalu besar jasa dan pengorbananmu.

Sangat layak Rasulullah Saw. menegaskan tiga kali hak bakti dari anak kepadamu. Ketika sahabat bertanya, siapa yang paling berhak aku persembahkan baktiku? Beliau menjawab, “Ibumu” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Bapakmu.”

Terima kasih atas jasamu yang sedari kecil tekun membimbing, ‘memaksa’-ku les bahasa Arab, membangunkanku saat subuh untuk belajar AlQuran dari ustadz, membetulkan makhraj bacaan yang belum tepat, menyiapkan segala keperluan, mendoakan yang terbaik untukku, dan sebagainya..dan sebagainya…

Rabbanaghfir lana wa liwalidiina warhamhuma kama rabbayaanaa shighaara.

“Duhai Rabb, ampuni kami, pun kedua orangtua kami. Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semasa kecil.”

Pojok Kota Rabat, 22 Desember 2013

Advertisements

Sepotong Rindu di Pembaringan

Suatu malam, saya berbisik-bisik dengan Aa di pembaringan.

Ya, setiap akan membincangkan sesuatu yang serius, kami merasa harus mengecilkan suara karena kamar tamu ini minim barang, suara akan menggema dan terdengar ke kamar adik-adik mahasiswa di sebelah. 🙂

“Aa, sudah kangen tanah air kah? Semalam aku bermimpi keluarga di Indonesia. Rupanya aku mulai kangen semua yang ada di Indonesia.”

“Iya, Aa juga kangen…”

“Tapi baru dua negara kita jelajahi, bukankah kita ingin menulis buku Honeymoon Backpacker’s Series? Selain itu, aku ingin melihat banyak negara baru bersamamu, A!”

Aa menggenggam tanganku…

“Kamu tahu apa yang sudah kita korbankan untuk semua mimpi ini. Ayo terus berjalan. Habisi semua negara yang ingin kita datangi. Aa juga akan mengejar mimpi meneruskan kuliah di universitas berkualitas dan cepat lulus. Salah satu tujuan backpack kita kan mencari kampus untuk Aa.”

“Iya ya, kita tidak boleh surut. Rindu adalah candu sekaligus cambuk yang dahsyat untuk berbuat yang terbaik bagi kerabat yang kita tinggalkan di tanah air.”

Kami saling merapatkan diri. Memeluk harapan dan mimpi.

Allah…
Tak terasa sudah dua bulan kami menjelajah negara-negara less famous and less tourists terutama di kalangan anak muda Indonesia.

Tidak ada sponsor, kecuali uluran keramahan dari sahabat-sahabat yang kerap kami temukan di perjalanan atau di socmed. Mereka tulus menawari menginap di rumah mereka. Gratis merebahkan tubuh di kasur mereka, menggunakan air hangat untuk mandi, listrik untuk menyalakan laptop dan kompor gas untuk memasak pengganjal perut kami.

Boleh dibilang kami sudah seperti orang gipsi.
Jika mereka berpindah-pindah hutan, lembah dan desa, maka kami berpindah-pindah kota dan negara sambil menggembol ransel kami.

Sebelum memejamkan mata saya merapal doa dan meneguhkan mimpi, mudahan perjalanan panjang kami melahirkan ribuan inspirasi dan hikmah bagi semesta, ya Rabb!

Setelah Terjatuh, Ayo Bangkit Lagi!

Awalnya saya hanya ingin menulis sebuah status pendek di facebook (dan mengetiknya melalui hape jadul saya), isi status tersebut menceritakan inti ‘backpack‘ kami hari ini; kami baru saja mendatangi kantor imigrasi Mesir yang dijaga ketat, kamera mungilku bahkan ditahan sejak pintu masuk 😉

Kantor ‘mogamma‘ ini posisinya berseberangan dengan Museum of Egypt berwarna merah agak oranye, terletak tidak jauh dari bundaran Tahrir, tempat bersejarah kala para demonstran meneriakkan kata-kata revolusi dan yel-yel menghujat diktator Husni Mubarak dua tahun lampau.

Eh, tahu-tahu ngetiknya keterusan, menghasilkan tulisan sangat panjang. Ide jelang Isya tadi rupanya mengalir lancar sederas air bah!

Saat detik-detik akan mengakhirinya, salah satu jemari salah pencet tombol di hape (maklum hurufnya serba mungil, hehe). Tentu tulisan di status ini lenyap seketika, tinggal halaman putih tanpa huruf.

Saya kehilangan kata-kata…!
Tercenung dan ini bukan yang pertama!
*Mulai mengkhayal menjedotkan kepala ke tembok khayalan juga, hahaha* 😀

Dalam hidup, barangkali kita kerap mengalami hal serupa ini.

Saat sedang semangat-semangatnya mengejar mimpi dan rasanya sudah hampir meraihnya, tahu-tahu sesuatu yang ‘buruk’ terjadi! Kita terhenti seketika, bahkan kadang ambruk! Akhirnya impian yang nyaris digapai lenyap begitu saja!

Lalu apa yang ingin saya lakukan di halaman putih ini?

Awalnya gemas dan curhat pada si Aa yang sedang ‘timbul tenggelam’ dalam tidur ayamnya, kelelahan berurusan di ‘mogamma’ seharian tadi. 🙂

Setelah merasa puas curhat, saya memutuskan menuliskan kejadian barusan, tentu saja di halaman putih ini kembali. Tak terasa sudah sepanjang ini, hehe 🙂

Apa yang ingin tangan saya sampaikan?

Ya, benar-benar tangan saya, saya menulis saja tanpa banyak berpikir. Saya hanya mengikuti tangan saya, bukan ide di kepala saya. Jujur saya masih merasa sedih kehilangan tulisan sangat panjang dan menurut saya isinya bermanfaat dan bagus. Hehe, boleh ya memuji tulisan sendiri sekali-kali 🙂

Jadi apa pesan tangan saya?

Teruslah mengetik, meski tulisanmu ‘lenyap’ berkali-kali.

Ide tetap ada di kepalamu!

Meski rasa bahasa yang diketik akan berbeda, tak mengapa, toh ide tetap saja sama.

Begitu juga dalam mengejar mimpi, tidak apa caranya berbeda -mungkin akan jauh lebih efektif dan efisien karena kamu sudah punya sedikit pengalaman- yang jelas kamu pernah menapaki jalan -yang sama- menuju mimpimu, insyaAllah tapak berikutnya akan terasa jauh lebih mudah karena kamu sudah agak ‘mengenalinya”.

Intinya, jangan takut gagal, digagalkan, dihalangi, atau bahkan dijatuhkan, mimpi dan usahamu adalah kemerdekaan dirimu!

Kejar (kembali) mimpimu! 🙂

PS.

Bahkan tadi saya tidak menyadari, mengetik status panjang ini justru ‘menumpang’ di statusnya Desi Puspitasari, kala saya mengunjungi rumah FBnya 😉

Hihihi, ya, ide bisa menyambar di mana saja!
Dan kita kerap lupa, bahwa kita menulis di rumah yang salah, hehehe.

Saya langsung buru-buru ke depan PCnya neng Al-hamasah Fillah, membuka akun saya. Segera memosting tulisan saya di laman Desi, lalu segera meng-copy pastenya ke laman saya sendiri. Lalu kembali menghapus tulisan saya di laman Desi.

Duh, faktor U, benar-benar tidak bisa dipungkiri, hehehe ;D