Kelana Cahaya Tour, Bermula Dari Mimpi

Rasanya masih mimpi, bisa sampai di titik ini.

We’re totally living our dream!

Sejak berani berjualan kue-kue basah di pesantren saat usia saya menginjak 15 tahun (karena kekurangan dana untuk membayar SPP dan uang asrama), sejak itu saya bermimpi ingin memiliki bisnis sendiri. Suatu ketika, saya akan utuh berdiri di atas kaki sendiri.

Butuh 37 tahun jatuh bangun menjalani hidup dan hampir seperempat usia saya habiskan dengan berkelana seorang diri.

Alhamdulillaah sekarang tak sendiri. Ada Aa yang mendampingi. Mengembara bersama sepenuh hati.

Belajar Bisnis Travel and Tour: Kelana Cahaya Tour!

Secara alami, kami sekarang mengelola bisnis travel kecil-kecilan bersama suami tercinta yang sedang fokus menuntut ilmu.

Jika ada libur atau jadual kuliah sedang senggang, sesekali Aa ‘kabur sejenak’ dari tugas kuliah, menemani istri mengantar tamu kesana kemari jelajah Maroko dan Eropa.

Semua dimulai dari mimpi

2011 kami menikah. Modal harta nol. Hanya dimodali niat baik, ingin berjalan bersama, bergenggam tangan arungi bahtera kehidupan dalam suka dan duka.

Awal pernikahan kami mulai dengan berjualan brownies kukus, bolu mekar gula jawa dkknya.
Keuntungan harian sekitar 15 ribu perak. Sungguh kecil tapi bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tentu kebutuhan paling dasar, semacam beli tahu tempe, sedikit sayur dan beras. Jika diingat-ingat, dengan omzet harian semungil itu, Alhamdulilah kami bisa bertahan hidup dan tetap tertawa bahagia. Asal ada cinta tulus dari si dia. πŸ™‚

Aa juga fokus menerima orderan menerjemah. Satu kitab tebal diselesaikan dalam dua – tiga bulan.

“Pegal punggungku, Yang.”

Keluh Aa yang duduk berjam-jam di depan komputer. Lalu saya pijiti segenap sayang.

Jelang Ramadhan kami memberanikan diri mulai menerima order jualan pempek sehat ala Imazahra. Tetap dipasarkan secara online.

Pempek kami pempek istimewa. Diolah dengan hati dari dapur sendiri. Non MSG non kimiawi apapun.

Alhamdulillaah omzet meledak buat ukuran home industry pemula. Kalau tidak salah pendapatan sebulan kala itu sekitar 5 juta.

Mungkin kecil di matamu, Kawan, tapi sungguh besar bagi kami yang biasa jualan kue dengan omzet sebesar 40 ribu perak / hari.

2011 pertengahan Aa mulai mengajar di lembaga bahasa Arab Al Imarat Bandung. Otomatis menerima gaji bulanan. Tak besar tapi Alhamdulilah cukup dengan berhemat dan apik mengelola uang. Total gaji bulanan Aa saat itu tak lebih dari satu setengah juta rupiah.

Sumbangan Besar Muslimah Backpacker

2011 akhir saya membentuk komunitas Muslimah Backpacker. Langsung melejit dengan keinginan anggota untuk trip jelajah Indonesia.

2012 Muslimah Backpacker jelajah Garut Selatan, disusul jelajah Kalimantan Selatan, dilanjutkan jelajah Bromo dan Malang.

2013 pecah telur. Muslimah Backpacker memberanikan diri bawa rombongan 16 perempuan 2 laki-laki ke Mesir.

Jelajah Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki gunung Sinai.

image

MB dan Kelana Cahaya Tour Jelajah Mesir

Subhanallah, 11 hari yang menantang dan membuat kami belajar banyak tentang bisnis jasa ‘bersenang-senang sambil traveling’ ini.

Tanpa lahirnya komunitas Muslimah Backpacker, saya yakin seratus persen, saya tidak akan pernah punya keberanian untuk memulai bisnis bernama Kelana Cahaya Tour. Saya berhutang banyak pada Komunitas Muslimah Backpacker sebagai pendidik saya.

Belajar Fokus

Semenjak Mesir Trip, saya mulai berpikir tentang menumbuhkan bisnis baru ini dengan serius dan tentu saja fokus.

Pelan-pelan saja. Semampu saya dan Aa. Sebab jelas belum memungkinkan untuk buka kantor atau memiliki rumah dua tingkat dan kantor travel diletakkan di lantai dasar sepanjang kami masih berkelana seperti saat ini.

Satu buah rumah pun belum resmi kami miliki. Masih menyicil pada seorang sahabat. Alhamdulillaah tanpa bunga, tanpa riba.

Muslimah Backpacker dibiarkan tetap sebagai komunitas dan saya lebih tertantang belajar membangun bisnis travel.

Selangkah demi selangkah. Bata demi bata. Perlahan-lahan.

Dengan pikiran seperti ini, saya memutuskan memisahkan Komunitas Muslimah Backpacker dengan lini bisnis baru, yaitu melahirkan Kelana Cahaya Tour.

Kelana Cahaya Tour adalah saudara kandung Komunitas Muslimah Backpacker. Alhamdulillaah.

2014 awal Kelana Cahaya Tour nekad memberangkatkan 18 jamaah umrah bersama salah satu travel partner yang berkantor di Jakarta.

Partner saya dapat 10 jamaah, sedang kami memeroleh 8 jamaah.

Alhamdulillaah ada sedikit keuntungan.

Keuntungannya (plus ditambah uang pribadi sekian juta) Alhamdulilah bisa memberangkatkan Mama mertua. Guru ngaji bersahaja yang diliputi cahaya syukur karena diberangkatkan anaknya sendiri. Alhamdulillaah.

Saya tidak akan berhenti. Meski saat ini posisi kami sedang di Maroko, tidak ada halangan untuk terus melanjutkan proses belajar.

Tanggal 27 Maret hingga 4 April lalu kami baru saja mendampingi 39 tamu jelajah Eropa Timur yang cantik. Yaitu Innsbruck, Salzburg, Wina, Hallstatt, Bratislava, Budapest dan Praha. Bukan main menantang mengingat kami harus mengelola banyak kepala, keinginan personal dan rupa-rupa kejadian. Seru! πŸ™‚

image

Cantiknya Hallstatt dan tamu-tamu kami

image

Kelana Cahaya Tour jelajah Eropa Timur

image

Kegiatan tour leaders dan dua bus drivers, mengecek lokasi berikutnya

Bisnis travel dan tour leader adalah bisnis yang sangat luwes dan cair. Bisa dikerjakan di mana saja. Asal ada internet, peluang waktu, calon klien dan destinasi, InsyaAllah bisa dikerjakan.

Menurut hemat saya, bisnis travel khususnya tour leader adalah bisnis yang menuntut keseriusan tingkat tinggi saat kita sedang bersama klien. Meski tampak asik bisa jalan-jalan ‘gratis’ kesana kemari, tapi sungguh tidak mudah.

Kita dituntut terus-menerus berjalan bersama klien dalam kurun waktu yang telah disepakati bersama. Tidak boleh mengeluh meski berpeluh.

Profesionalitas kerja diukur dari tangan yang banyak bekerja dalam diam dan ketenangan sikap. Untuk ini saya masih harus belajar banyak pada Aa.

Ada komitmen moral untuk melakukan yang terbaik karena pada akhirnya bisnis travel and tour adalah bisnis jasa.

Kekuatan marketing bisnis jasa sesungguhnya terletak pada kepuasan klien. Kalau klien puas, siap siaplah pada efek ‘iklan dari mulut ke mulut’ yang aduhai dampak viralnya!

Ada bebatan emosi yang harus dijaga agar tidak pecah di tengah perjalanan. Butuh partner berjalan dengan hati seluas samudera. Dan Alhamdulilah partner terbaik saya adalah Aa. πŸ™‚

Selama Kelana Cahaya Tour dilahirkan, saya dan Aa sudah dipercaya lima klien untuk terbang ke luar Indonesia. Menjelajah dunia. Satu kali umrah. Tiga kali jelajah Maroko dan satu kali jelajah Eropa Timur.

Semoga kami berdua terus dipercaya. Karena kami butuh banyak jam terbang dan ruang untuk belajar.

Apalagi ada cita-cita besar yang ingin kami wujudkan dari bisnis ini, menjadi income generator bagi pesantren dhu’afa yang kelak ingin kami dirikan!

Ya, kami ingin membesarkan bisnis travel ini menjadi gerakan social entrepreneurship.

Keuntungan terbesar niatnya akan digunakan untuk membangun bata demi bata Rumah Kelana dan Pesantren Kelana.

Semoga Allah mampukan. InsyaAllah, janji Allah pasti untuk hamba yang mau bekerja keras!

Mohon support doanya ya, Kawan! πŸ™‚

***

Bagi teman-teman yang ingin merasakan jasa pengelolaan perjalanan, umrah berkualitas, atau pun tour leader penuh semangat mengawal klien travel anda, silahkan kontak kami di:

Email: imazahra@gmail.com
Whatsapp: +62819 5290 4075

Advertisements

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Image

SIWA MATROUH IN LOVE!
Jabal Dakrur-Siwa,
Hanya berdua,
Tiada bunyi, tiada gema,
Selain belahan jiwa
Membisik cinta…

Angin tak sekadar terasa,
bahkan berkesiut suara
membisiki telinga
tentang anugrah cinta
akan selalu ada
jika dipelihara
segenap rasa

RN
17 April 2013

***

Image

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Pantai Ageeba sungguh ajaib sesuai namanya. Sepi, senyap, kosong tak berpenghuni.

Sepanjang musim dingin keindahan pantai ini ternyata tak berhasil menarik minat turis lokal dan mancanegara untuk bertandang. Berbeda kala musim panas memanggang bumi Mesir, Ageeba beach tumpah-ruah dikerumuni, laksana sepotong gula merah dikerubungi semut-semut kelaparan.

Saat kami tiba di sana (18 April 2013), angin siang itu bergulung kencang. Menyelusup masuk hingga seluruh sendi terasa linu. Gerimis yang mengiringi sejak pagi hari di Marsa Matrouh terus merintik-menetes, semakin mengusir selera dan rencana Aa, meloncat ke dalam turqoise-nya warna laut yang bening mengundang.

Supir angkot yang membawa kami dari Matrouh Β menuju Ageeba beach bercerita, “Sepanjang Januari hingga April tahun ini, di sini sepi tak ada kehidupan, ibarat kota mati saja, makanya saya tidak membawa angkot sampai ke sini. Hari ini khusus untuk kalian berdua saja. Keadaan seperti ini sangat berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan musim panas. Ribuan manusia datang ke sini saban hari,” ujarnya bersemangat sambil mengurai senyum hangat.

Kami saling berpandangan. Saling melempar senyuman.

Betapa baiknya supir asli Matrouh ini.
Betapa bersekongkolnya penghuni langit, memberikan kita kesempatan, menikmati pantai Ageeba seakan pantai indah ini hanya milik kita pribadi.
Resort ‘pribadi’ hadiah dariNya.

Sungguh, semesta merestui ‘honeymoon backpacking’ kita ya, A. πŸ™‚

Sang supir angkot menurunkan kami di tepi gerbang menuju Ageeba beach, kami menyepakati janji, akan dijemput setengah jam lagi.

Saat deru mobil semakin menjauh, kita saling mengaitkan jemari, melangkah perlahan menuju keindahan yang membentang.

Di depan kami, sejauh mata memandang, horison biru bertemu langit biru muda. Mereka berdansa begitu sempurna! Sedang biru turquise-nya pantai Ageeba menyaksi kemesraan mereka. Subhanallah, indahnya lukisan Sang Maha Cinta!

Sesekali, udara tak bersahabat menyapa, meniupkan dingin menggigit, aku kerap menciut dalam balutan jaket hitam tebalku, di pertengahan April yang masih sangat gigil.

Kala kita hanya berdua, aku yang gemeletuk di antara demam sisa semalam engkau hangatkan dalam pelukan. Engkau mengajakku menikmati suasana bening, hening dan sesekali memecahnya dengan canda, mengundang sungging di bibirku πŸ™‚

“Aa, ada tripod mungil kita kan?”

“Iya yah, kenapa tak kita abadikan saja?”

Aku tersenyum melihat engkau meloncat-loncat riang, serupa anak kijang kala berlomba mendahului kecepatan cahaya, agar sempat diabadikan oleh kamera mungil kita πŸ™‚

“Aa, I love you, more and more, insyaAllah for the rest of our life!”

“Me too my dear,” sahutmu lembut.

Dan genggaman tangan kita, diabadikan cahaya!

Biru dan anggunnya pantai Ageeba-Matrouh, menjadi saksi perasaan terdalam kita. Mudahan abadi hingga surga!

***

IZ, 24 April 2013