Honeymoon Diaries: Ban Bocor

Hari Sabtu yang menyenangkan, meski diwarnai kisah ban bocor sebanyak dua kali.

Yang pertama di Buah Batu (lalu ditambal). Yang kedua -untungnya- di Balaikota Bandung dan cuek saja diparkirkan karena mempertimbangkan acara yang sudah dimulai. Kami lalu ngacir ke GAPURA, powered by Google.

Materi dibagi beberapa sesi. Materinya seru-seru. Tinggal mengaplikasikan ilmu yang didapat. Mudahan sebagian materi yang mengesankan juga bisa saya tulis di sini. 🙂

Jam 5 sore acara Google kelar. Tentu saja foto-foto heboh dulu dengan teman-teman blogger Bandung.

I love you, girls! 🙂

“Pulang yuk,” kata si Aa setelah beres memotret istri dan teman-temannya.

Kami melangkah beriringan. Saat tiba di parkiran seketika tersadar. Ban kami kan bocor lagi! Hahaha.

Continue reading

Berbakti Tak Harus Terhenti

Berbakti Tak Harus Terhenti.

Senin pagi saya terkaget-kaget saat istri setengah berteriak dari depan layar computer,

“Aa, ayahnya Mbak Andri meninggal dunia.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Timpalku spontan.

“Kapan?”

“Tadi malam.”

Kami berpandangan, lalu sama-sama berdoa.

Sejenak larut dalam sedih. Sembari merenungi misteri kematian yang datang menjemput manusia tanpa pandang bulu.

Terkadang kita sendiri seolah tidak percaya saat kematian datang kepada orang yang kita cintai. Sama kasusnya seperti yang pernah dialami Umar bin Khattab di hari wafatnya Nabi Muhammad Saw., sang Rasul panutan tercinta.

“Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, aku penggal lehernya.” Ancam Umar saat itu.

“Muhammad tidak akan mati.” Lanjutnya antara sadar dan tidak.

Continue reading

Surat Untuk Ibu

Surat Untuk Ibu

Salam,

Wah, sudah lama sekali kami tidak berbagi cerita di sini. Secara pribadi, saya akhir-akhir ini justru banyak menunaikan aktifitas di luar. Terutama setelah muncul ‘surat cinta’ Senin dua minggu silam dari Dikti Tunis.

“Alhamdulillah, istri tersungkur sujud seketika.” Tulis istri turut haru membaca beritanya.

“Alhamdulillah..” saya turut sujud syukur.

Di satu sisi, kabar itu sungguh berkesan dan mengharukan karena muncul setelah penantian yang sangat panjang. Penantian yang menyebabkan saya ‘terdampar’ di negeri pinggiran Samudra Atlantik selama dua bulan lebih, bahkan membuat kami terpisah bentangan benua.

Namun di sisi lain, kabar ini agak membimbangkan karena muncul saat hati saya tertambat nuansa ilmu kota Rabat. Ketika saya perlahan mulai mengubah haluan karena pengumuman tak kunjung keluar. Kala saya mulai menikmati perkuliahan interaktif ala kampus Universitas Muhammad V ini.

Bagaimana tidak menikmati, di kelas hanya ada bahasa Arab fusha. Posisi meja dan kursi dipola membentuk leter U. Setiap pertemuan setidaknya terdiri dari empat sesi. Pertama, kuliah dari dosen. Kedua, presentasi dari mahasiswa. Ketiga, diskusi. Keempat, arahan, bimbingan, dan kesimpulan dari dosen. Memang tidak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia, saya pikir. Agaknya, perbedaan menonjol terletak pada bahasa pengantar, kapabilitas, dan keaktifan dosen.

Mana yang harus dipilih?

Memilih salah satu dari dua impian besar yang tidak mungkin diambil kedua-duanya memang sulit. Di sinilah fungsi shalat istikharah yang diajarkan Rasulullah Saw. Memohon pertolongan Allah Swt. dalam menentukan pilihan yang terbaik menurut-Nya.

Jadi memilih yang mana?

Insya Allah, Tunis!

Apa pertimbangannya?

Nanti saja saya ceritakan ya, sebab sekarang saya tak tahan ingin menulis surat untuk sosok tak tergantikan di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan IBU. Kenapa tidak tergantikan, sebab dia yang melahirkan, membesarkan, mendidik, tiada putus dan bosan mendoakan kebaikan untuk kita tanpa pamrih.

SURAT UNTUK IBU

Bagiku, engkau adalah sumber doa dan harapan. Engkau makhluk paling telaten merangkai doa, menanam asa, memupuk cinta. Engkau hamba Allah paling sabar merenda benang cita-cita. Paling tekun membentuk generasi.

Aku selalu ingat,

Kala masih kecil, engkau rajin menyiapkan segelas susu campur telor ayam kampung mentah untukku kala sore. Bahkan sampai menyusulku jika sedang bermain di lapangan bola;

Engkau menyiapkan segelas susu hangat 10 menit sebelum adzan subuh kala anakmu ini ada jadual private belajar seni baca Al-Quran ba’da subuh di mesjid dekat rumah;

Engkau memesankan mie bakso kesukaan anakmu ini saat les private bahasa Arab dari salah seorang ustadz di tempat tinggal kita. Anakmu ini bosan mengikuti les itu, tapi luluh juga karena mie bakso J;

Engkau bangun subuh lebih awal dan membangunkanku dengan cara menyetel murattal Syaikh Abdullah Al-Matrud dengan lembut sayup-sayup. Sampai aku hafal dan bisa menirukan gaya bacaannya. Hingga kini, Ma!;

Engkau mengajak dan menuntunku mengikuti pengajian Ahad pagi di mesjid Gumuruh yang membludak penuh;

Engkau mengantarku yang masih usia SD ke depan pintu shaf khusus laki-laki. Menitipkanku pada siapa saja yang duduk di shaf depan. Kemudian engkau meninggalkanku untuk bergabung bersama para jamaah wanita. Aku paling kecil sendirian duduk memperhatikan gerak gerik sang Kyai memaparkan materinya, meski hanya mampu menyerap sedikit saja materi sang Kyai karena menyasar kelas dewasa;

Engkau mengingatkanku,

“A, lima menit lagi waktu shalat.”

Itu berarti isyarat agar aku bersiap untuk mengumandangkan adzan di mesjid yang berjarak 50 meter saja dari rumah;

Engkau menegur makhraj dan tajwid bacaan Al-Quran-ku yang belum tepat. “Mamah tadi hanya mendenger ho, bukan kha dalam bacaan min khauf. Lain kali bisa diulang menjadi kho?”—seraya mencontohkan seperti mengeluarkan dahak. Aku mengangguk manyun. J;

Aku selalu ingat,

Kalau pulang liburan dari pondok, engkau kerap menyiapkan makan malam, lalu duduk dan bercerita kisah perjalanan sekolahmu yang hanya sampai SMP. Kemudian bergumam, “Mamah pengen sekolah tinggi, tapi kondisi keluarga tidak mengizinkan. Apalagi ketemu bapak dan menikah.”

“Teruslah sekolah sampai perguruan Tinggi. Lanjutkan cita-cita Mamah!”

Aku tak pernah lupa,

Selesai Aliyah dan diterima kuliah kelas persiapan bahasa Arab (I’dad Lughah) di LIPIA Jakarta yang penuh perjuangan, sebab sering harus bangun dini hari demi mengejar beberapa tes pagi-pagi di Jakarta karena dulu belum ada travel dan belum dibuka jalur tol cipularang.

Engkau memelukku erat sembari mata berkaca-kaca.

”Mamah bahagia cita-cita Mamah terwujud olehmu.”

Aku selalu terkenang,

Saat pertama kali membaca pengumuman kelulusan beasiswa DEPAG untuk kuliah s1 di Universitas Al-Azhar Mesir, sengaja saya tidak menelponmu. Aku ingin membuat kejutan untukmu. Makanya aku langsung bawa surat resmi dari DEPAG. Aku ingin memperlihatkan langsung surat itu padamu.

Aku segera pulang dari Jakarta. Sesampai rumah, aku ketuk pintu,

“Assalamu’alaikum, Aa pulang.”

“Wa’alaikum salam..”

Aku mencium tanganmu, lalu memelukmu. Seperti biasa.

Aku langsung mengeluarkan suratnya.

“Ini persembahan untuk Mamah!”

“Apa ini?”

“Mangga dibuka we…”

Setelah di buka,

“Ya Allah…….alhamdulillah….”

Engkau spontan bersujud syukur. Meluapkan kebahagiaan dengan sujud. Persis seperti yang aku lakukan saat pertama kali mendengar namaku tertera di pengumuman kelulusan.

Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu!

Terima kasih Mamah, engkau telah mengajarkan cara mengekspresikan kebahagiaan sesuai tuntunan Rasul-Mu.

Kita dibalut haru saat itu.

***

Dengan apa yang masih aku ingat saja, membuatku ingin terus mempersembahkan bakti terbaik untukmu, Mah. Setulusnya. Selamanya. Belum lagi jasa yang tidak aku rasa dan ingat. Ah, terlalu besar jasa dan pengorbananmu.

Sangat layak Rasulullah Saw. menegaskan tiga kali hak bakti dari anak kepadamu. Ketika sahabat bertanya, siapa yang paling berhak aku persembahkan baktiku? Beliau menjawab, “Ibumu” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Bapakmu.”

Terima kasih atas jasamu yang sedari kecil tekun membimbing, ‘memaksa’-ku les bahasa Arab, membangunkanku saat subuh untuk belajar AlQuran dari ustadz, membetulkan makhraj bacaan yang belum tepat, menyiapkan segala keperluan, mendoakan yang terbaik untukku, dan sebagainya..dan sebagainya…

Rabbanaghfir lana wa liwalidiina warhamhuma kama rabbayaanaa shighaara.

“Duhai Rabb, ampuni kami, pun kedua orangtua kami. Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semasa kecil.”

Pojok Kota Rabat, 22 Desember 2013

Berkelana!

Berkelana!

Saya pernah terluka…
Sangat nganga, terpuruk, terhina.

Saya sempat tidak keluar kamar berhari-hari,
enggan bertemu orang banyak,
dan menganggap dunia sudah berakhir.

Saya menangis,
hingga sembab, hingga bengkak,
saya putuskan menghabiskan seluruh rasa,
yang mengalir melalui kedua mata,
agar tak bersisa,
rasa sakit yang mendera…

Setelah berminggu-minggu,
saya ingin keluar kamar,
berjalan-jalan,
menghirup udara yang berbeda,
bersua kenalan baru,
menyapa kawan lama,
meraih energi positif yang melimpahi mayapada.

Sebulan,
dunia begitu muram di mata saya…

dua bulan,
dunia tak ramah pada saya…

tiga bulan,
dunia bukan tempat tinggal yang nyaman untuk saya!

Saya memutuskan pergi,
meninggalkan Indonesia,
nekad menghabiskan seluruh tabungan yang ada,
membeli tiket pesawat ke negeri yang jauh,
setengah tak bersemangat,
hanya ingin pergi sejauh mungkin,
dan berharap ribuan langkah berjalan,
akan menghapus jejak-jejak luka,
agar lupa sakit yang bersarang di dada.

Saat itu saya tak berharap banyak,
hanya ingin mengembara seorang diri,
menjelajah tiga negeri…

Pada akhirnya…,
tiga bulan berkelana seorang diri di tanah asing mengajarkan saya banyak hal;

Bahwa berkelana mengobati luka,

bahwa berkelana mengembalikan percaya,

bahwa berkelana menumbuhkan rasa berharga,

bahwa berkelana melahirkan ribuan kata,

bahwa berkelana pertemukan kita dengan keindahan semestaNya,

bahwa berkelana membuka pintu-pintu bahagia,

dan berkelana, di ujung cerita,
mempertemukanku dengan belahan jiwa!

Usah luka terlalu lama,
berjalanlah,
sembari merenung,
hitung nikmat-nikmat kecil,
keajaiban sehari-hari,
dan limpahan kasihNya,
dan akan engkau sadari,
perjalanan mengutuhkan kembali keping-keping dirimu dengan sempurna.

Berkelana itu melahirkan dirimu kembali!
***

PS.
Berkelana di sini benar-benar berjalan dengan gaya sederhana, ala musafir!

Bukan berjalan ala turis ya, kemana-mana sudah ada yang mengatur, tidur di hotel berbintang dan seterusnya.

Dan berkelana ini butuh waktu pengembaraan yang tidak bisa sebentar ya, minimal dua minggu lah, supaya ada ruang dan waktu untuk banyak merenung dan berpikir mendalam.

Coba deh! 🙂

A Good Man

A Good Man  

Siang itu (14/11/13) saya memutuskan untuk kembali ke penginapan saja. Tidak jadi ikut mengantar para dosen menjelajah kota tua Fez; mesjid bersejarah Al-Qarawiyyin, pabrik dan penyamakan kulit, ziarah makan Ibnu Al-Arabi–penulis kitab tafsir Ahkaam Alquran, dan beberapa tempat jelajah lain di sekitarnya.

Disamping sudah tidak kuat ingin ke toilet, saya punya janji menyelesaikan rancangan powerpoint untuk istri dan mengirimkannya via email hari itu juga, karena akan dipresentasikan besok pagi waktu Indonesia.

Kami harus bekerjasama secara ketat soal file dan data ini, sebab saya yang memegang laptop si doi. Ingin hati bukan hanya laptopnya yang menemaninya saya, tapi situasinya belum memungkinkan.

“Saya pamit ya pak,” Ucap saya pada Pak Taufik. Leader rombongan.

“Syukran ya Hadi, mohon maaf belum bisa ikut menemani antum”, ujar saya pada Hadi, mahasiswa Indonesia di Fez.

Sesampai penginapan, saya hanya bertahan setengah jam di depan laptop. Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba leher serasa kepelintir. Pinggang sebelah kiri terasa sakit. Sementara jari tangan masih di atas keyboard laptop. Ternyata saya tadi tertidur dengan posisi tidak jelas saking mengantuk. He he

Sekitar dua jam saya selesaikan urusan, perut melilit kelaparan. Agaknya sarapan roti plus syai bil halib traktiran rombongan dosen jam 8 pagi tadi tidak cukup kuat menahan keinginan perut untuk ‘diisi ulang’ sampai sore.

Saya segera tunaikan shalat jamak. Lalu siap-siap hunting makan. Tiada teman selain bayang-bayang istri. Allah, miss her so much!

Saya gendong ransel hijau berisi laptop dan barang penting lain. Kendati penginapan dirasa aman, tetap saja kita mesti waspada. Jangan meninggalkan laptop dan barang berharga di kamar. Demikian pesan Istri suatu ketika.

Meskipun di dekat penginapan tersedia banyak warung makan khas Maroko, namun saya lebih memilih berjalan agak menjauh sedikit dari jejeran warung itu, kurang lebih 200 meter ke sebelah timur. Biasanya kalau agak jauh dari keramaian, harganya tidak terlalu mahal.

Alhamdulillah akhirnya saya temukan warung sederhana. Aneka daging bakar. Satu porsinya tertulis 15 dirham. Saya perhatikan tulisan itu baik-baik.

“Satu paha ayam bakar ini 15 dirham kan?” Tanya saya memastikan.

“Betul.”

Sekalian saya menunjuk dan menanyakan satu persatu menu yang tersedia berikut harganya. Tidak apa-apa banyak bertanya untuk meminta kejelasan. Bertanya lebih baik daripada menerima begitu saja dalam keraguan atau ketidakpastian.

“Baiklah, saya pesan satu paha bakar ya.”

Letak warung ini berhadapan langsung dengan warung daging bakar serupa yang lebih besar, Namanya Gunto. Saya tidak memilih warung Gunto, tampak terlalu mewah.

Saya mengakrabkan diri lewat senyum, salam, menanyakan kabar, dan mendoakan keberkahan untuk usaha yang dia jalani. Tentu dengan bahasa Arab.

Dia terlihat senang dan saya dipersilahkan duduk. Meski sederhana, tapi tempat duduknya enak dan suasananya nyaman.

Tiba-tiba seorang lelaki menghentikan motor sepedanya di depan warung.

Derum..Derum…cekiiit.

“Assalamu’alaikum.” Dia menyapa penjual.

Rupanya dia mau makan juga di tempat ini.

“wa’alaikom salam.” Saya turut membalas salamnya.

Dia hanya melirik saya singkat. Kemudian dia mengobrol ke sana kemari dengan penjual. Saya bangkit dari kursi, melihat-lihat bagian dalam warung. Saya melihat ada jejeran gelas berisi daun mint siap seduh, ada tumpukan teh seduh, dan lain-lain.

“Ini dagangan kamu juga?”

“Iya, itu juga milik saya. Cuma yang memegang tugasnya si teteh itu.”

Si Teteh Maroko melirik dari dalam dan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Saya tidak tahu ternyata ada orang di dalam hehe.

Saya kembali ke tempat duduk saya yang kini posisinya bersebelahan dengan kursi bapak pengendara motor tadi.

Assalamu’alaikum.” Saya duluan tersenyum dan menyapa.

Wa’alaikom salam.” Jawabnya, sedikit cuek.

Saya juga tidak peduli jika dia cuek. Bukan urusan saya. Toh saya disini hanya mau makan kok.

Saya menyender lebih santai di atas kursi. Merenggangkan otot yang tadi sempat sakit. Mencoba memancing ide dan inspirasi. Ah, nikmat sekali.

Ayam bakar sudah terhidang. Tapi Si pelayan meletakkan hidangannya di antara dua meja, saya dan si bapak. Dia terlihat buru-buru dan tidak menyebutkan untuk siapa.

Karena saya merasa memesan terlebih dahulu, saya geserkan piring berisi ayam itu seraya bertanya,

“A hadza laka am liyya. Apakah ayam ini untukmu ataukah untukku?”

Mengetahui saya bisa bahasa Arab, dia mulai tersenyum dan menjawab,

“Hadza diyalak, mayakunsy diyally..Itu punyamu, bukan punyaku.”

Wakha. Oke.” Saya buru-buru menarik piring lebih dekat.

“Mari makan.” ajak saya.

“Silahkan, selamat menikmati.”

Tak lama kemudian, si pelayan datang menghidangkan pesanan si bapak.

“Syukran, hadza rajulun thayyeb. A good man.” Dia berujar pada pelayan sembari menunjuk diriku. Kenapa dia menyimpulkan saya orang baik, padahal baru saja bertemu. Aneh sekali.

Anta athyabu wa ahsan.” Saya langsung membalas ucapannya segera. Biasanya mereka berbasa-basi atau berupaya mengakrabkan diri dengan cara itu.

“Anda darimana, Mister?” Dia mulai membuka pembicaraan.

“Indonesia, negeri di Asia Tenggara sana.”

“Do you speak English?” Tanya dia.

“Yes, just a little. And you?” ujar saya.

“I do, but I learnt it 20 years ago. So I forget some words.”

Kami mengobrol campur aduk antara bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa darijah dan amiyyah. Malah sesekali saya masukkan bahasa sunda saat menyebut kondisi bagian bawah ayam ini gosong.

“It’s so tutung wa gosong ya basya..”

Herannya, dia manggut-manggut seperti mengerti. Ha ha ha. Kelakuannya mirip saya saat dia ngomong darijah dan saya manggut-manggut, “oo…, na’am…”

Saya bercerita banyak hal tentang Indonesia, terutama sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Maroko awal-awal kemerdekaan yang dibangun oleh presiden Soekarno dan Raja Muhammad V. Salah satu hasil yang masih dinikmati sampai sekarang, yaitu berupa bebas visa entry selama tiga bulan untuk masing-masing warga negara.

“Hm..Apakah disini ada tukang ikan bakar terdekat, kami sangat doyan ikan. Negeri kami dikelilingi banyak lautan lho?” Saya bertanya karena teringat rombongan bapak ibu dosen ingin makan malam dengan menu ikan bakar.

La. Disini jarang. Bukan daerah pantai.”

Dia menjelaskan.

“O ya, kamu beli saja di pasar, nanti minta dibakar di sini.”

Dia langsung memanggil tukang ayam bakar, menanyakan mungkinkah nebeng bakar ikan.

Hebat sekali ini bapak, usulan dan aksi konkrit! Tapi sayang, tukang ikan keberatan.

Kami asik makan dan ngobrol, dia terlihat lahap sekali. Bahkan sampai nambah satu porsi lagi. Mungkin sedang lapar-laparnya dan lagi dapat rezeki kali ya.

Dia menghabiskan dua porsi, sementara saya masih berkutat dengan makanan saya. Dia mendekati tukang ayam itu, mengobrol ke sana kemari, seraya mengambil satu bungkus plastik. Adapun saya kembali menghabiskan sisa roti.

Tiba-tiba dia mengagetkan saya,

“Hakeem, selamat menikmati, khalish.”

“Maksudnya?”

“Kau tidak usah bayar, saya sudah membayarkannya untukmu.”

“lho, tidak usah. Saya bayar sendiri.”

“Sudah saya bayar, karena kamu Rajul Thayyib. Kamu tamu saya sekarang!” Dia tersenyum sambil ngeloyor pergi menuju sepeda motornya, memasang helm, dan beranjak pergi.

Saya masih melongo.

Jazakallah khairan. Bal Anta aidhan rajulun thayyib. Anda memang a good man. Bahkan athyabu. Lebih dari yang saya kira.”

Catatan dari Fez

Pesan Jumat

Pesan Jum’at

Salah satu ‘keunikan’ Jumatan di Maroko adalah adzan dikumandangkan sampai tiga kali putaran, sambung-menyambung tanpa diselingi ritual apapun.

Kalau di Tunisia lain lagi, justru shalat jumat dibagi menjadi tiga waktu. Awal, tengah, atau akhir. Makanya ada mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat awal waktu, ada yang tengah waktu, dan ada pula yang memilih akhir waktu menjelang Ashar tiba. Kabar-kabarnya, Mesjid Az-Zaitouna (731 M) di Kota Tunis dan Mesjid Kairouan (670 M) di Kota Kairouan memilih waktu terakhir.

Saya belum mempelajari detail alasannya secara mendalam. Mudah-mudahan ada yang bisa membantu. Namun jika ingin jawaban ringkas, demikianlah hasil ijtihad dalam madzhab Maliki. Seperti itu kira-kira.

Yang menarik, di beberapa mesjid Maroko yang saya hadiri, khutbahnya ringkas mirip kultum (kuliah tujuh menit) Kalau yang seperti ini saya pernah mendengar hadis, “Ciri khatib/imam Faqih adalah khutbahnya ringkas, shalatnya panjang.”

Kendati di mesjid terdekat yang kerap saya hadiri–mesjid Al-Itqan (didirikan tahun 1963)–bukan hanya khutbahnya yang ringkas, shalatnya pun turut ringkas dengan bacaan surat yang pendek-pendek seukuran surat An-nashr.

Mungkin karena masih awal-awal tahun baru hijriyyah 1435 H, tema yang diangkat khatib adalah masalah WAKTU. Surat yang disitir QS Al-‘Ashar.

Firman Allah, “Demi waktu! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat kebenaran, dan saling berwasiat kesabaran.” 

Kita sama-sama mengerti, jika Allah bersumpah dengan sesuatu, sedemikian pentingnya ia. Karenanya, semestinya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bukan malah menyia-nyiakannya terbuang percuma. Kemudian mengisinya dengan ragam kebaikan, ibadah, kegiatan ilmu, dan segala hal bermanfaat.

Orang yang jalinan hari-harinya dihiasi dengan perbaikan diri dan amal, dipuji Nabi Saw. sebagai orang terbaik. “Sebaik-baik orang ialah yang usianya panjang dan amalnya baik.” (HR Tirmidzi)

Khatib kemudian menyitir dialog Nabi dengan para sahabat, bahwa setiap orang kelak akan menyesal, orang baik (muhsin) maupun orang jahat (musi’) Ada yang bertanya, orang jahat menyesal, kami memaklumi. Kalau orang baik menyesal, maksudnya bagaimana?

“Orang jahat menyesal, karena dahulu tidak menjadi orang baik. Orang baik menyesal, karena ia tidak berbuat kebaikan lebih banyak lagi dari yang sudah dia lakukan sebelumnya.”

Oleh karena itu, mari simak cuplikan doa Nabi Saw. nan indah,

“Ya Allah, jadikan hidup kami sebagai ajang menambah kebaikan.

Ya Rabb, jadikan kematian sebagai ajang istirahat dari berbuat keburukan.”

Aquulu qauli hadza wa astagfirullaha lii wa lakum
Wallahu a’lam bishshawab!

Catatan jumat lalu, Maroko.

08/11/2013

Hikmah Semangkuk Harirah

Hikmah Semangkuk Harirah

Assalaamu’alaikum blogger semua 🙂

Saat ini saya dan istri berpisah untuk sementara karena pertimbangan ekonomis dan hal-hal teknis lainnya.

Singkat cerita, saya harus keluar dari Brussels karena Schengen Visa kami berdua sudah habis dan memutuskan saya mesti bertahan di Maroko (negara non visa bagi orang Indonesia 3 bulan lamanya), hingga keluarnya kepastian status studi saya di Tunisia.

Sedang istri saya tercinta kembali ke Indonesia, karena akan memproses aplikasi ‘visa dependent’ dari sana.

***

Cerita Semangkuk Harirah

Saat ini saya tinggal di ibukota Maroko, Rabat.

Kemarin Rabat mulai menggigil. Suhu turun ke angka 10 derajat Celsius. Menjelang magrib, angkanya terus turun hingga shalat magrib usai ditunaikan. Dingiiin bukan main!

Biasanya, saya tak beranjak meninggalkan mesjid sebelum ikut menyimak tadarusan Quran khas Maroko (qiraat warasy) rutin ba’da magrib atau subuh.

Mumpung masih berada di mesjid, kenapa tidak sekalian satu paket.

Terkadang agak malas-malasan membaca sendiri, apalagi kalau sudah kembali ke rumah. Toh tadarusnya hanya berlangsung sekitar 15-20 menitan. Tidak lama bukan?!

Tapi magrib kemarin dingin sekali.

Dingin yang menusuk kulit. Padahal sudah memakai baju kaos dua lapis ditambahi sweater, masih dilengkapi kaos kaki tapi tipis. Ternyata belum mampu menghalau dingin. Brrr!

Saya langsung terpikir memilih keluar mesjid, menuju kios harirah terdekat. Kenapa memilih harirah? Sebab baru sup panas jenis harirah-lah yang saya akrabi. Kalau sudah kedinginan dan menghangatkan perut, biasanya sup ini yang saya ingat. He he he. Harga semangkuknya sama dengan satu bungkus Indomie. Tapi kandungan sup harirah jelas lebih sehat.

harira400

Aah…, nikmatnya!
Alhamdulillah.
Dua sendok sup sudah saya seruput. Setidaknya hawa dingin dari dalam mulai tergusur, menyingkir perlahan. Sementara saya  tekun membuka kulit telur rebus, tiba-tiba seorang kakek tua mendekat. Dia selesai menyantap dan membayar supnya.

“Di Indonesia, ma yakuun? Tidak ada ya sup seperti ini Indonesia?”
“Tidak ada.”
“Kenapa kamu tidak mencari tahu cara membuatnya, lalu nanti dibuat di sana?”
“Bahan-bahannya tidak semuanya ada. Terutama kacang hums, karafs, adas. Kalau tepung, garam, gula, insya Allah ada…” he he he…, saya ajak dia bercanda.
“Baiklah, selamat menikmati.” Ujarnya sambil pamit pergi. Terlihat ekspresi kenyang dari wajahnya, he he he…

Tak lama setelah itu, muncul bapak tua yang lain. Beliau berpakaian lusuh, bertopi, berjubah tebal. Tapi dia lumpuh, tangan kirinya dibalut kain tertutup. Yang mengkhawatirkan, dia berkursi roda dan menggeret kursi rodanya sendirian. Ya Allah. Di belakang kursi tergantung tas gendong yang juga lusuh dan agak robek.

Dia mendekat ke meja bundar saya. Terdiam. Nafasnya tersengal- sengal.

Saya memandangnya, mencoba melempar senyum. Tapi tak ada respon. Agaknya dia sangat lelah. Tidak memperhatikan selain kondisi dirinya.

Tiba-tiba ibu kantin datang membawa sepiring besar milwi dan semangkuk harirah. Tafadhdhal! Ternyata, dia satu meja dengan saya. Dekat sekali.

8115512708_cfe648c35a_b

ilustrasi: semangkok  harira sumber foto: internet 

Hm. Kasihan sekali si bapak tua ini. Dia hanya bisa menggunakan satu tangan saja untuk menyobek rotinya. Lambat sekali. Tapi saya perhatikan makannya lahap sekali. Terlihat sangat nikmat. Seperti tidak menemukan makanan seharian.

Sementara konsumen lain asik bercanda, mengobrol ke sana kemari di jejeran meja samping, bapak tua ini fokus melahap makanannya.

Saya berniat membayarkan bapak ini, cuma sayang sekali saya cuma membawa uang pas. Dan uangnya sudah saya bayarkan terlebih dahulu. Duh, ya Allah! Berikanlah kekuatan dan kesehatan kepada bapak ini. Engkau Maha Pemurah, Maha Pengasih. Gumam saya.

Ah, saya ajak ngobrol nanti ah. Mumpung dekat. Mudah-mudahan dia memahami bahasa Arab saya. Sebab biasanya orang sepuh di sini hanya faham bahasa Darijah, atau Perancis. Tidak nyambung kalau diajak bicara dengan bahasa Arab fusha (bahasa Arab sesuai grammar/akademis) atau bahasa Inggris.

Saya menunggu saat yang tepat, sambil sesekali menoleh ke arah makanan dan wajahnya. Tapi tetap saja, bapak itu lempeng fokus menikmati makanannya. Saya juga tidak berani juga menodong langsung dengan pertanyaan.

Lambat sekali makannya. Saya sudah mulai kedinginan lagi. Ya sudah, saya memutuskan menunggu di meja dekat oven roti milwi saja. Biar hangat he he. Tiga orang ibu-ibu penjaga kantin mulai curiga dan membicarakan saya. Rupaya saya jadi pusat perhatian mereka..*artis kali…, hihihi

“Aha, dia sudah selesai makan!”

Baru saja saya tuangkan air satu gelas, sengaja saya niatkan untuk dia. Ternyata dia mulai bergerak menjauh, memutar roda kursi roda, dengan satu tangannya yang bebas. Menjauh meninggalkan meja. Tanpa kata, tanpa sapa. Sejak datang, duduk, bahkan pergi.

Saya terheran-heran.

Beberapa saat, dua konsumen lain datang memesan sup. Mereka duduk dekat meja tadi. Ibu penjaga kantin siaga menghidangkan pesanannya. Aku mengikuti ibu itu.

Saat si ibu mengambil mangkok bapak tua tadi, dan mulai membersihkan meja, saya mendekatinya,

“Hm, madam, hal huwa dafa’al fulus?” Saya eja sembari menjelaskan maksud pertanyaan saya lewat gerakan tubuh.

“hm..madza..?”

Waduh, benar saja pertanyaanku belum dia pahami.

“Orang tua tadi, orang sakit tadi, selesai makan, tidak membayar ke ibu?”

Saya memperagakan sekali lagi.

“Ooo…, ya ya…”

Fyuuuh, saya harus belajar bahasa Perancis atau Darijah (Arab lokal) untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat lokal, seperti pedagang-pedagang kecil atau yang sudah sepuh.

Fi sabilillah…Kami meniatkan untuk sedekah di jalan Allah.”

Saya tertegun…

Subhanallah.

Di satu sisi, si bapak tua datang tanpa perlu berkata-kata, tanpa merengek, memaksa, atau mengemis kasih sayang. Si ibu kantin pun memberi tulus tanpa mengata-ngatai, basa-basi, menghina, mencaci, atau menampakkan sikap tak ikhlas.

“Barakallahu fik, Semoga Allah memberkahimu. “ Doa saya pada ibu kantin. Sembari pamit pergi.

Dada saya tersedak haru kala menembus dinginnya malam di kota Rabat.

Mata saya berkaca-kaca, mengingat kembali upaya keras bapak tua itu untuk tidak memaksa mengemis, sekaligus tergetar atas kelapangan hati dan kepedulian si ibu kantin. Padahal kantinya tampak kumuh dan sederhana.

Alhamdulillah, bertambah lagi satu hikmah yang bisa saya petik dari kantin sup harirah!

Jum’ah Mubarakah!

Taqabbalallahu shaliha a’malina wa niyyatina. Semoga Allah menerima amal dan niat baik kita. Amin