A Good Man

A Good Man  

Siang itu (14/11/13) saya memutuskan untuk kembali ke penginapan saja. Tidak jadi ikut mengantar para dosen menjelajah kota tua Fez; mesjid bersejarah Al-Qarawiyyin, pabrik dan penyamakan kulit, ziarah makan Ibnu Al-Arabi–penulis kitab tafsir Ahkaam Alquran, dan beberapa tempat jelajah lain di sekitarnya.

Disamping sudah tidak kuat ingin ke toilet, saya punya janji menyelesaikan rancangan powerpoint untuk istri dan mengirimkannya via email hari itu juga, karena akan dipresentasikan besok pagi waktu Indonesia.

Kami harus bekerjasama secara ketat soal file dan data ini, sebab saya yang memegang laptop si doi. Ingin hati bukan hanya laptopnya yang menemaninya saya, tapi situasinya belum memungkinkan.

“Saya pamit ya pak,” Ucap saya pada Pak Taufik. Leader rombongan.

“Syukran ya Hadi, mohon maaf belum bisa ikut menemani antum”, ujar saya pada Hadi, mahasiswa Indonesia di Fez.

Sesampai penginapan, saya hanya bertahan setengah jam di depan laptop. Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba leher serasa kepelintir. Pinggang sebelah kiri terasa sakit. Sementara jari tangan masih di atas keyboard laptop. Ternyata saya tadi tertidur dengan posisi tidak jelas saking mengantuk. He he

Sekitar dua jam saya selesaikan urusan, perut melilit kelaparan. Agaknya sarapan roti plus syai bil halib traktiran rombongan dosen jam 8 pagi tadi tidak cukup kuat menahan keinginan perut untuk ‘diisi ulang’ sampai sore.

Saya segera tunaikan shalat jamak. Lalu siap-siap hunting makan. Tiada teman selain bayang-bayang istri. Allah, miss her so much!

Saya gendong ransel hijau berisi laptop dan barang penting lain. Kendati penginapan dirasa aman, tetap saja kita mesti waspada. Jangan meninggalkan laptop dan barang berharga di kamar. Demikian pesan Istri suatu ketika.

Meskipun di dekat penginapan tersedia banyak warung makan khas Maroko, namun saya lebih memilih berjalan agak menjauh sedikit dari jejeran warung itu, kurang lebih 200 meter ke sebelah timur. Biasanya kalau agak jauh dari keramaian, harganya tidak terlalu mahal.

Alhamdulillah akhirnya saya temukan warung sederhana. Aneka daging bakar. Satu porsinya tertulis 15 dirham. Saya perhatikan tulisan itu baik-baik.

“Satu paha ayam bakar ini 15 dirham kan?” Tanya saya memastikan.

“Betul.”

Sekalian saya menunjuk dan menanyakan satu persatu menu yang tersedia berikut harganya. Tidak apa-apa banyak bertanya untuk meminta kejelasan. Bertanya lebih baik daripada menerima begitu saja dalam keraguan atau ketidakpastian.

“Baiklah, saya pesan satu paha bakar ya.”

Letak warung ini berhadapan langsung dengan warung daging bakar serupa yang lebih besar, Namanya Gunto. Saya tidak memilih warung Gunto, tampak terlalu mewah.

Saya mengakrabkan diri lewat senyum, salam, menanyakan kabar, dan mendoakan keberkahan untuk usaha yang dia jalani. Tentu dengan bahasa Arab.

Dia terlihat senang dan saya dipersilahkan duduk. Meski sederhana, tapi tempat duduknya enak dan suasananya nyaman.

Tiba-tiba seorang lelaki menghentikan motor sepedanya di depan warung.

Derum..Derum…cekiiit.

“Assalamu’alaikum.” Dia menyapa penjual.

Rupanya dia mau makan juga di tempat ini.

“wa’alaikom salam.” Saya turut membalas salamnya.

Dia hanya melirik saya singkat. Kemudian dia mengobrol ke sana kemari dengan penjual. Saya bangkit dari kursi, melihat-lihat bagian dalam warung. Saya melihat ada jejeran gelas berisi daun mint siap seduh, ada tumpukan teh seduh, dan lain-lain.

“Ini dagangan kamu juga?”

“Iya, itu juga milik saya. Cuma yang memegang tugasnya si teteh itu.”

Si Teteh Maroko melirik dari dalam dan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Saya tidak tahu ternyata ada orang di dalam hehe.

Saya kembali ke tempat duduk saya yang kini posisinya bersebelahan dengan kursi bapak pengendara motor tadi.

Assalamu’alaikum.” Saya duluan tersenyum dan menyapa.

Wa’alaikom salam.” Jawabnya, sedikit cuek.

Saya juga tidak peduli jika dia cuek. Bukan urusan saya. Toh saya disini hanya mau makan kok.

Saya menyender lebih santai di atas kursi. Merenggangkan otot yang tadi sempat sakit. Mencoba memancing ide dan inspirasi. Ah, nikmat sekali.

Ayam bakar sudah terhidang. Tapi Si pelayan meletakkan hidangannya di antara dua meja, saya dan si bapak. Dia terlihat buru-buru dan tidak menyebutkan untuk siapa.

Karena saya merasa memesan terlebih dahulu, saya geserkan piring berisi ayam itu seraya bertanya,

“A hadza laka am liyya. Apakah ayam ini untukmu ataukah untukku?”

Mengetahui saya bisa bahasa Arab, dia mulai tersenyum dan menjawab,

“Hadza diyalak, mayakunsy diyally..Itu punyamu, bukan punyaku.”

Wakha. Oke.” Saya buru-buru menarik piring lebih dekat.

“Mari makan.” ajak saya.

“Silahkan, selamat menikmati.”

Tak lama kemudian, si pelayan datang menghidangkan pesanan si bapak.

“Syukran, hadza rajulun thayyeb. A good man.” Dia berujar pada pelayan sembari menunjuk diriku. Kenapa dia menyimpulkan saya orang baik, padahal baru saja bertemu. Aneh sekali.

Anta athyabu wa ahsan.” Saya langsung membalas ucapannya segera. Biasanya mereka berbasa-basi atau berupaya mengakrabkan diri dengan cara itu.

“Anda darimana, Mister?” Dia mulai membuka pembicaraan.

“Indonesia, negeri di Asia Tenggara sana.”

“Do you speak English?” Tanya dia.

“Yes, just a little. And you?” ujar saya.

“I do, but I learnt it 20 years ago. So I forget some words.”

Kami mengobrol campur aduk antara bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa darijah dan amiyyah. Malah sesekali saya masukkan bahasa sunda saat menyebut kondisi bagian bawah ayam ini gosong.

“It’s so tutung wa gosong ya basya..”

Herannya, dia manggut-manggut seperti mengerti. Ha ha ha. Kelakuannya mirip saya saat dia ngomong darijah dan saya manggut-manggut, “oo…, na’am…”

Saya bercerita banyak hal tentang Indonesia, terutama sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Maroko awal-awal kemerdekaan yang dibangun oleh presiden Soekarno dan Raja Muhammad V. Salah satu hasil yang masih dinikmati sampai sekarang, yaitu berupa bebas visa entry selama tiga bulan untuk masing-masing warga negara.

“Hm..Apakah disini ada tukang ikan bakar terdekat, kami sangat doyan ikan. Negeri kami dikelilingi banyak lautan lho?” Saya bertanya karena teringat rombongan bapak ibu dosen ingin makan malam dengan menu ikan bakar.

La. Disini jarang. Bukan daerah pantai.”

Dia menjelaskan.

“O ya, kamu beli saja di pasar, nanti minta dibakar di sini.”

Dia langsung memanggil tukang ayam bakar, menanyakan mungkinkah nebeng bakar ikan.

Hebat sekali ini bapak, usulan dan aksi konkrit! Tapi sayang, tukang ikan keberatan.

Kami asik makan dan ngobrol, dia terlihat lahap sekali. Bahkan sampai nambah satu porsi lagi. Mungkin sedang lapar-laparnya dan lagi dapat rezeki kali ya.

Dia menghabiskan dua porsi, sementara saya masih berkutat dengan makanan saya. Dia mendekati tukang ayam itu, mengobrol ke sana kemari, seraya mengambil satu bungkus plastik. Adapun saya kembali menghabiskan sisa roti.

Tiba-tiba dia mengagetkan saya,

“Hakeem, selamat menikmati, khalish.”

“Maksudnya?”

“Kau tidak usah bayar, saya sudah membayarkannya untukmu.”

“lho, tidak usah. Saya bayar sendiri.”

“Sudah saya bayar, karena kamu Rajul Thayyib. Kamu tamu saya sekarang!” Dia tersenyum sambil ngeloyor pergi menuju sepeda motornya, memasang helm, dan beranjak pergi.

Saya masih melongo.

Jazakallah khairan. Bal Anta aidhan rajulun thayyib. Anda memang a good man. Bahkan athyabu. Lebih dari yang saya kira.”

Catatan dari Fez

Pesan Jumat

Pesan Jum’at

Salah satu ‘keunikan’ Jumatan di Maroko adalah adzan dikumandangkan sampai tiga kali putaran, sambung-menyambung tanpa diselingi ritual apapun.

Kalau di Tunisia lain lagi, justru shalat jumat dibagi menjadi tiga waktu. Awal, tengah, atau akhir. Makanya ada mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat awal waktu, ada yang tengah waktu, dan ada pula yang memilih akhir waktu menjelang Ashar tiba. Kabar-kabarnya, Mesjid Az-Zaitouna (731 M) di Kota Tunis dan Mesjid Kairouan (670 M) di Kota Kairouan memilih waktu terakhir.

Saya belum mempelajari detail alasannya secara mendalam. Mudah-mudahan ada yang bisa membantu. Namun jika ingin jawaban ringkas, demikianlah hasil ijtihad dalam madzhab Maliki. Seperti itu kira-kira.

Yang menarik, di beberapa mesjid Maroko yang saya hadiri, khutbahnya ringkas mirip kultum (kuliah tujuh menit) Kalau yang seperti ini saya pernah mendengar hadis, “Ciri khatib/imam Faqih adalah khutbahnya ringkas, shalatnya panjang.”

Kendati di mesjid terdekat yang kerap saya hadiri–mesjid Al-Itqan (didirikan tahun 1963)–bukan hanya khutbahnya yang ringkas, shalatnya pun turut ringkas dengan bacaan surat yang pendek-pendek seukuran surat An-nashr.

Mungkin karena masih awal-awal tahun baru hijriyyah 1435 H, tema yang diangkat khatib adalah masalah WAKTU. Surat yang disitir QS Al-‘Ashar.

Firman Allah, “Demi waktu! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat kebenaran, dan saling berwasiat kesabaran.” 

Kita sama-sama mengerti, jika Allah bersumpah dengan sesuatu, sedemikian pentingnya ia. Karenanya, semestinya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bukan malah menyia-nyiakannya terbuang percuma. Kemudian mengisinya dengan ragam kebaikan, ibadah, kegiatan ilmu, dan segala hal bermanfaat.

Orang yang jalinan hari-harinya dihiasi dengan perbaikan diri dan amal, dipuji Nabi Saw. sebagai orang terbaik. “Sebaik-baik orang ialah yang usianya panjang dan amalnya baik.” (HR Tirmidzi)

Khatib kemudian menyitir dialog Nabi dengan para sahabat, bahwa setiap orang kelak akan menyesal, orang baik (muhsin) maupun orang jahat (musi’) Ada yang bertanya, orang jahat menyesal, kami memaklumi. Kalau orang baik menyesal, maksudnya bagaimana?

“Orang jahat menyesal, karena dahulu tidak menjadi orang baik. Orang baik menyesal, karena ia tidak berbuat kebaikan lebih banyak lagi dari yang sudah dia lakukan sebelumnya.”

Oleh karena itu, mari simak cuplikan doa Nabi Saw. nan indah,

“Ya Allah, jadikan hidup kami sebagai ajang menambah kebaikan.

Ya Rabb, jadikan kematian sebagai ajang istirahat dari berbuat keburukan.”

Aquulu qauli hadza wa astagfirullaha lii wa lakum
Wallahu a’lam bishshawab!

Catatan jumat lalu, Maroko.

08/11/2013

Jumat Wada’ di Brussels

Jumat Wada’ di Brussels

Rangkaian perjalanan sepuluh hari silam bagi kami tentu sarat cerita dan kesan.

Sebut saja di Itali, kami mendapat delayed beruntun. Pasalnya, masinis kereta lokal terlambat datang. Akibatnya, semua jadual kereta harus mundur satu jam. Ditambah delayed bis ke bandara Treviso 1 jam. Sehingga kami nyaris ketinggalan pesawat.

Lain Itali lain Malaga. Di Malaga kami justru ‘dimanjakan’ di bandara. ‘Menumpang tidur gratis’ di salah satu restoran yang sudah tutup, terletak tak jauh dari gate-gate keberangkatan dalam Malaga Airport. Ada fasilitas kursi panjang empuk milik restoran. Tak hanya itu, kami dijamu air panas gratis, dan tentu saja toilet yang nyaman.

Di Granada lain cerita, kami menghabiskan waktu jelajah Al-Hambra seharian penuh. Lupa masih ada satu obyek belum kami datangi. Saat mau masuk istana ‘General Life’, kami ditolak petugas karena tternyata validitas tiket masuk istana ‘General Life’ telah habis. Kami sungguh tidak menyadari batasan waktu tersebut, saking terpesona pada keindahan dan keanggunan Nasrid Palaces!

Terutama di Alhambra, hati kami sempat bergemuruh menyaksikan kalimat tauhid tertempel kuat di segenap dinding istana peninggalan Dinasti Nasried yang memerintah selama kurang lebih 300-an tahun. Kami pun diliput haru kala menilik dan membaca, Al-Qudratu lillah (Kekuasaan hanya milik Allah), Al-Izzatu Lillah (Kejayaan hanya milik Allah), La Ghaliba illallah (Tiada penakluk selain Allah) Wa ma bikum min ni’matin faminallah (Nikmat kalian apa saja, semua dari Allah), Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam (Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam), dan sebagainya. La haula wa la quwwata illa billah. Memang tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah Swt.

Belum lagi cerita di Cordoba, Madrid, dan Paris.

***

Setelah perjalanan usai, Jumat pagi ini lelah tubuh belum pulih. Rasa capek masih bersisa. Namun agaknya jadual khutbah jumat (wada’) di KBRI Brussel harus tetap saya penuhi.

“Supaya menjadi kesempatan berpamitan dengan jama’ah, khususnya jama’ah KPMI Belgia.” Dorong istri.

Bismillah.
Saya ditemani Atif kecil berangkat berkereta menuju Brussels.

Saya tak ragu membawakan tema seputar petikan hikmah dari Haji dan ibadah Qurban. Sebab kurang lebih 2 hari lagi, jamaah haji di Mekkah akan memulai tarwiyah, berwukuf di Arafah, kemudian manasik haji yang lain. Bagi mereka, rangkaian manasik adalah kesempatan emas untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saudara-saudara kita, para hujjaj di sana akan berupaya meraup taburan kasih sayang dan ampunan Allah Swt.

Betapa Maha Rahman Maha Rahim Allah, sehingga Dia membuka banyak kesempatan untuk menyucikan diri dari alpa, lupa, dan dosa.

Dua bulan lalu, kita dianugerahi bulan ramadhan nan penuh berkah. Disusul bulan syawal dengan shaum 6 hari. Dilanjut bulan Dzulqa’dah (seperti bulan-bulan lain) dengan shaum sunnah Senin Kamis atau Ayyamul Bidh-nya. Lalu disusul bulan Dzulhijjah, bulan haji.

Semua pintu kesempatan untuk menebus lumuran noda jiwa, Allah hamparkan tanpa henti.

Para hujjaj yang mabrur, dijanjikan Nabi akan diberikan surga Allah. Sementara kita yang tidak sedang berhaji, diberikan kabar gembira akan diampuni dosa selama dua tahun, dengan cara menunaikan shaum sunnah Arafah 9 Dzulhijjah. Saat para hujjaj berwukuf di sana.

Jika sudah demikian Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Ia, pantaskah kita menyia-nyiakannya?! Atau malah kita tidak peduli dengan kekotoran hati kita. Na’udzu billah.

Ibadah haji dan Qurban adalah simbol pengorbanan. Ia adalah upaya membuktikan pengakuan cinta dan loyalitas kepada Allah dan Rasul.

Usai jumatan, saya berpamitan kepada jamaah KPMI terkhusus Pak Iman, staf KBRI sekaligus ketua KPMI. Seraya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama saya dan istri menunaikan amanah di sini. Tiada gading yang tak retak. Demikian pepatah masyhur menyebutkan. Kami pun bersalaman, bermaafan, berpelukan, dan saling mendoakan kebaikan bagi segala rencana dan cita-cita kejayaan Islam dan Umatnya.

Saya semakin terharu, saat Pak Iman mengantar saya dan athif langsung ke Metro Roodebek untuk kembali ke rumah di Bambrugge.

Sepanjang kaki saya menapaki pedestrian, saya merasa tanah Brussels seakan menatap sembari melambai, mengucap perpisahan untuk kembali berjumpa di waktu yang hanya Allah yang Mahatahu.

Dinginnya udara Brussels memeluk erat, semakin menguarkan rasa ngelangut dalam dada, karena saya akan meninggalkan kehangatan persaudaraan Islam di ibukota Belgia ini.

Hingga sampailah saya di loket penjualan tiket metro.

Seorang pelayan loket berwajah ramah dan bercahaya menyunggingkan senyum. Wajahnya campuran Arab-Eropa Muslim. Saya pun tidak ragu menyampaikan salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Dia menjawab lebih fasih dariku.

Wah, agaknya akan lebih asyik mengobrol. Setelah menanyakan kabar layaknya tradisi bersapa di tanah Maroko sana, saya berujar,

“Uriidu tadzkirah li rihlah waahidah (one voyage). Kam Ats-tsaman?” Saya ingin membeli satu tiket untuk satu perjalanan. Berapa harganya?”

“Thayyib, maktub fi lauhah, itsnan euro.” Baiklah, seperti tertulis di papan, 2 euro/ one voyage”

Tertulis pula di situ, untuk pembelian 2 euro, minimal uang pembelian adalah 5 euro.

Segera saya menjelaskan kondisi saya.

“Masyi, lakin lil asaf asy-syadid, ‘indi khamsun euro laisat fakkah. Tafadhhal.” Baik, tapi maaf sekali, saya ada 50 euro bukan pecahan. Silahkan.

“Wah, kamu tidak punya uang pas saja?”

“Hm, saya tidak punya.”

Mudah-mudahan di sini tidak sekejam di Madrid dan Paris. Gumam hati saya.

Di dua negara tersebut kami sempat harus merelakan perjalanan tertunda bahkan hingga 3 jam, hanya gara-gara petugas tidak mau melayani transaksi pembelian tiket kereta, hanya karena kami tidak memakai uang pas. Malah menyuruh kami keliling membeli sesuatu di toko mana saja untuk mencari uang pecahan. Dan menemukan toko yang mau memberi uang recehan juga tidak mudah menjelang midnight dan semua toko sudah tutup.

“Khalash, laisa fihi musykilah.” Ya sudah, tidak apa-apa.

Alhamdulillah.

Sambil transaksi, saya sempatkan mengobrol.

Nama petugas itu Abdurrahim.

Setelah menanyakan nama saya, dia berujar, “Nahnu Ikhwah. Al-Muslimun Kulluhum Kal Wahid.” Kita ini saudara. Seluruh umat Islam ibarat satu (tubuh). Seraya membacakan ragam doa untuk saya. Apalagi setelah dia tahu saya mau melanjutkan studi di Tunis.

Terlontar dari bibir beliau, barakallahu fik, wa zadakallahu ‘ilman nafi’an, wa wassa’allahu laka rizqak. Semoga Allah memberkahimu, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan meluaskan rezekimu.

Saya jawab, “Wa iyyak ya akhil kariim” Demikian pula untukmu, saudaraku.

Tak terasa transaksi usai dan antrian mulai memanjang. Saya pun berpamitan.

“Syukran ya Akhi Abdurrahim, barakallahu fi syughlik wa wassa’allahu rizqak. Ilalliqa” Terima kasih, saudaraku. Semoga pekerjaanmu diberkahi dan rezekimu pun diluaskan-Nya. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillah, petugas loket karcis di Metro Roodebek berusia kira-kira 50 tahunan baik hati itu menutup rangkaian perjalanan kami selama kami di Eropa. Setelah sebelumnya berkali-kali bertemu sosok petugas berwajah bengis, sinis, bahkan bau bir saat melayani kami, yang kami temui kala 10 hari menjelajah eropa mulai Jerman, Swedia, Finlandia, Belanda, Ceko, Italia, Spanyol dan Perancis.

Alhamdulillah, semoga engkau mampu menampilkan wajah Islam yang ramah. Ilalliqa’ ya Abdurrahim!

Ilalliqa ya Brussels! Ilalliqa’ ya Uruba!

Sampai jumpa Brussels! sampai jumpa lagi Eropa!

Bambrugge, Jumat senja, 11 Oktober 2013

 

 

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra  in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life 🙂

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada 🙂

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa, Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih 🙂

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara 🙂

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah 😉

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini 🙂

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara 🙂

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh 🙂

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai 🙂

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palaces dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi 🙂

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja 🙂

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing 🙂

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Nama Saya Ridha

Menuju Le Bardo

Beberapa hari lalu (21/05), agenda kami adalah berkunjung  ke museum Le Bardo.

Menurut catatan Wikipedia, museum nasional sarat sejarah ini sudah ada sejak tahun 1882. Le Bardo diambil dari bahasa Spanyol yang artinya taman. Kata beberapa mahasiswa Indonesia yang kami tanyai, mereka tidak terlalu tahu di mana museum tua ini berada. Apalagi jarak apartemen kami ke Le Bardo, tak satupun yang tahu.

Untungnya Kang Dede Ahmad Permana berbaik hati menelepon temannya yang kerap keliling Tunis menggunakan bis. Akhirnya diketahui, bahwa Le Bardo tidak terlalu jauh dari kota. 🙂

Untuk menuju ke sana, kami disarankan naik bis dari halte dekat Perpustakaan Nasional Tunis, sejalur perempatan Universitas Tunis. Hanya beberapa meter dari toko buku mungil, Libraries Medical.

Karena cuaca masih dingin, kami keluar dari rumah agak siang. Berbekal coret-coretan peta digambar tangan karya Kang Dede, kami berjalan mengambil jalur terdekat, melewati beberapa warung pizza, piastre dan croissant. Penasaran dengan makanan khas Tunis, kami mampir dan membeli roti croissant dan malawi dekat kampus Universitas Zaitouna.

Berdasarkan informasi dari kawan mahasiswa, museum tutup jam 6 sore. Kami pun berjalan pelan, berfoto sana-sini, menikmati udara taman seputaran kampus. Makanan yang tadi dibeli pun kami santap di taman.

Kisah di Sebuah Halte

Usai makan dan perut terasa kenyang, kami kembali berjalan kaki sampai halte yang ditunjukkan Kang Dede. Pesan beliau, tradisi di sini, bus akan berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang hanya di halte. Di luar halte, jangan harap bis akan berhenti.

Sesampai halte yang berdampingan dengan kios kuning tempat menjual tiket, kami celingak-celinguk mencari petugas. Kenapa tidak ada petugas di dalam kios ini? Kami ingin memastikan rute bis terlebih dahulu. Petugasnya ternyata sedang duduk dan mengobrol dengan anak muda si calon penumpang dekat kursi halte.

“Assalamu’alaikum.” Sembari kusodorkan tangan untuk bersalaman.

“Wa’alaikum salam.”

“Samihni, nahnu nuriidu an nadzhaba ila mathaf le bardo. Hal al-hafilah maujudah min huna?” Maaf, kami ingin pergi ke museum le bardo. Adakah bis dari sini?

Segera dia menjelaskan rute dan nomor bis dengan cepat. Tapi dengan bahasa Prancis. Entah kenapa, sapa dan obrolan pertama saat bertemu orang asing, orang Tunis kerap menggunakan bahasa Prancis. Bonjour! Oui!

Nu siga kitu tea lah… 🙂

“Intadzhir, mumkin billughatil ‘arabiyyah? Li anni lam astathi’ al-kalam bil-faransiyyah!”

Dia tertawa melihat wajah bingung kami. Anak muda di sampingnya ikut tersenyum. Mendengar mereka tertawa, pandangan calon penumpang lain yang berada dekat halte pun sontak tertuju pada kami.

“Irkab al-hafilah raqm mi’ah wa sittata ‘asyar, aw tsalatsah wa tsalatsiin, aw mi’ah wa arba’ah.

Aku mencatat nomor-nomor tersebut dengan angka arab di selembar kertas. 116, 33, dan 104. Lalu memperlihatkannya kepadanya. Dia tersenyum. Anak muda tadi pun ikut tersenyum dan berkomentar,

“Tepat sekali. Dia orang Indonesia sepertinya. Saya sering melihat beberapa mahasiswa mirip orang ini di dekat kampus. Mereka Indonesia.”

Rupaya dia mahasiswa Universitas Tunis. Kampusnya kan tidak jauh dari Zaitouna.

“Bikam tadzkirah?” Harga karcisnya berapa.

“Alf wa tsalatsu mi’ah milim li tadzkiratain.” 2 karcis, 1 dinar 300 milim.

Kami bertransaksi. Lalu karcisnya kupegang untuk kami foto. Bukan hanya memakai kamera digital, namun juga kamera hp. Aksi kami rupanya menarik perhatian orang. Pandangan banyak pasang mata calon penumpang pun tertuju kepada aksi kami ini. Namun kami cuek bebek. He he.

image

Sambil menunggu, aku ajak petugas itu ngobrol.

“Museumnya jauhkah dari sini?”

“Tidak terlalu jauh, jaraknya kurang lebih 5 km. Kalau sore begini, paling-paling sampai sana 20 menit-an.”

“Oh. Ok. Tapi, ngomong-ngomong, museum biasanya tutup jam berapa ya?”

“Jam 4 sore.”

“Iya, jam 4 sore sudah tutup,” timpal calon penumpang.

Kami melirik jam.
Hah? Sekarang sudah jam 15.40. Keburu enggak ya?
Kami saling pandang. Mencoba menghitung jarak dan waktu. Khawatir tidak kesampaian masuk museum. Percuma saja kalau datang ke sana sekadar melihat museum ditutup.

Petugas melihat kami berbincang cukup serius.

Saya mendekatinya.

“Hm, karcis ini berlaku hanya untuk hari ini atau bisa dipakai besok lusa? Soalnya kami berniat mengunjungi museum. Tapi kalau berangkat sekarang, sepertinya museum keburu tutup.”

“Karcis berlaku hanya untuk hari ini saja!”

Waduh, bagaimana ini. Karcis sudah kita beli, tapi tidak terpakai. Apa kita tetap berjalan saja. Kita ikuti arus bus saja. Kemana bus melaju, ke sana kita pergi. Tapi kalau berjalan tanpa tujuan, sayang waktu.

Kami saling pandang. Apakah karcisnya bisa ditukar kembali. Lama kami menebak dan berdiskusi antara bisa ditukar kembali atau tidak. Tiba-tiba petugas berujar,

“Mau di-cancel saja karcisnya? Kalau mau di-cancel, silahkan.” Tiba-tiba dia menyarankan.

Wah, ternyata bisa.

Dia meminta karcis kami. Sementara itu dia masuk mengambil uang di loket dan benar-benar mengembalikan uang kami.

Subhanallah! Petugas baik hati ini tidak basa-basi.

Alhamdulillah karcis kami bisa ditukar dengan uang. Berbeda sama sekali dengan petugas Mesir saat kami ingin menukar karcis untuk mengganti rute karena salah informasi. Padahal transaksi saat itu baru selesai beberapa menit. Si petugas Mesir dengan tegas menolak, “Tidak bisa ditukar!” Walaupun kami berkali-kali menjelaskan salah rute.

Tapi petugas di Tunis ini lain. Dia benar-benar baik.

Dia lalu bertanya, “Kamu shalat enggak?”

Mendengar pertanyaan tersebut, saya teringat paparan Kang Dede Ahmad Permana, bahwa sebelum revolusi Tunis 2 tahun silam, dia kerap ditanyai, ‘Anda muslim yang shalat atau tidak?’ Seakan-akan ada pengotakan antara muslim shalat dan muslim tak shalat. Saat ini pertanyaan yang Kang Dede paparkan itu ternyata masih berlaku dan saya rasakan sendiri.

Calon penumpang yang berusia kira-kira 65 tahunan mendekati kami dan menepis pertanyaan petugas itu.

“Indonesia itu berpenduduk muslim mayoritas, hingga 75% dari total penduduk. Dan mereka pasti menunaikan shalat, shaum, belajar Al-Quran, hadis, dan sebagainya. Tidak usah lagi bertanya shalat apa tidak.”

Setahu saya muslim Indonesia 85%. Saya bergumam.

“Bukan begitu. Maksud saya, saya hanya bertanya, mau shalat Ashar di mesjid atau tidak? Kalau mau, saya akan tunjukkan mesjid jami’ dekat sini. Sekalian saya pun akan shalat. Waktu Ashar hampir tiba.” Petugas itu meluruskan pertanyaannya.

Subhanallah. Kami kembali lirih bertasbih. Betapa ketaatannya menjalankan shalat berbuah manis pada kebaikan hatinya dalam interaksi dengan sesama. Terutama sikapnya sebagai petugas karcis yang humanis.

Saat temannya datang menggantikan shiftnya, dia pun pamit untuk berangkat ke mesjid. Sembari menjawab pertanyaanku soal nama, “Nama saya Ridha.”

Jazakallahu khairan ya Ridha!

image

Salam Romantis dari Tunis.
Rue Ras Darb – Tunis, 23 Mei 2013

Serba-Serbi Tukang Panci

Ingin tahu cara termudah mengenali karakter masyarakat lokal sebuah negara? Kunjungi saja pasar tradisional mereka. Di sana akan kita temukan seribu cerita ragam warna 🙂

Sore itu kami berjalan kaki menuju pasar bernama ‘Madrasah’. Terletak di wilayah 10th District, Nasr City. Tujuan kami adalah membeli beberapa perlengkapan dapur.

Tukang Panci 1
“assalamu’alaikum, ‘indak shuhun? Ada piring?”

“wa’alaikum salam. Maugud, syuf guwwah. Ada, silahkan lihat di dalam.”

Sementara dia duduk asik memencet-mencet kalkulator, kami beringsut masuk ke dalam dan melihat-lihat. Cukup lama kami menyisir isi toko, rupanya barang yang kami cari tidak ada.

“musy ‘indak shuhun mi zugaag? Tidak punya piring kaca ya?”

La, enggak ada, semua dari plastik dan aluminium.”

Waduh. Kami masuk lagi ke dalam, mencari alat lain. Panci. Tapi yang kami inginkan tidak kunjung kami temukan. Kami menyerah.

Lau samahta, tahu toko yang jual piring dari kaca yang dekat sini gak?

Tak kami sangka, ia bangkit dan benar-benar menunjukkan tokonya dari jauh.

“Coba lihat di toko situ, di samping tukang ikan bakar.”

Subhanallah, terharu. Dia tak berat menunjukkan toko lain. Betapa lapang dan mulia hatinya membuka jalan rezeki orang. Saya jadi teringat ucapan Imam Hasan Al-Bashri, bahwa beliau tidak pernah merasa khawatir rezekinya disambar orang lain, karena rezeki masing-masing orang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan pernah tertukar.

“Syukran. Terima kasih kami berpamitan.

Tukang Panci 2
Saat masuk ke tokonya, kami langsung melihat piring kaca. Warnanya coklat muda, ada strip coklat tua melingkari ujungnya.

“Kok mirip piring mamah di Banjar? Jangan-jangan made in Indonesia.” istriku menduga.

Kami mendekat dan membalikkan piring itu. Bener juga. Piring Indonesia bisa sampai sini juga ya.

“wahdah bi kam. Berapa satunya?”

“khamsa geneh. 5 le.”

Kemahalan.

“wahid bi itsnain wa nush mumkin? alasyan dah min baladina. Satu buah 2,5 le aja ya, kan ini produk negara kami.”

Dia mengambil kalkulator. Cukup lama menghitung, lalu dia menjawab,

“La. Khamsah geneh wahid.”

“Ma fisy khashm? Ga ada diskon?”

“ayiz kam wahid? Mau beli berapa buah?”

“ayiz asyrah. Kami mau ambil sepuluh.”

Dia kembali memainkan kalkulatornya. Setelah beberapa saat, dia berujar,

“masyi, arba’ah. Okelah, 4 le per buah.”

Wah, turunnya masih belum signifikan.

Asyrah bi tsalatsin, masyi? 30 Le aj ya, 10 buah.”

Dia berpikir. Lalu melihat kalkulator seperti menghitung-hitung. Entah Bagaimana cara dia menghitung, karena tiba-tiba dia bertanya,

“Hm, kalau 30 le, berarti satu buahnya berapa?”

Glek. Hi hi. Kami tertawa kecil sambil saling pandang. Ternyata dia memikirkan itu. Kami pikir dia bisa menghitung.

Sambil senyum aku paparkan, “30 aja dibagi sepuluh, jadi berapa?”

Wajahnya menyiratkan ekspresi kebingungan. Kami heran. Belum lancar berhitung tapi kok berani berdagang. Urusannya kan hitung-hitungan.

Saat tahu ditawar 3 le, dia menolak. Namun kami tetap bersikukuh pada harga tawaran dari kami. Karena 3 Le menurut kami adalah harga yang wajar. Dia pun bertahan di angka 4 le. Tak ada titik temu, kami pun perlahan beranjak meninggalkan toko sembari menawar. Kalau dia mau, pasti dia akan kembali memanggil kami.

Ta’al. Sini.”

Tuh ‘kan. Baru saja beberapa meter kami melangkah, si  Amu  sudah memanggil. Yes!

Kami kembali ke toko dan memilih-milih sepuluh piring terbaik, hahaha. 🙂 Beres memilih, tak sengaja kami melihat panci besar yang kami inginkan.

Bi kam. Berapa harganya yang ini?”

“55 Le.”

Kami berdiskusi sejenak.

“60 Le aja dengan piring tadi ya?” Kami mulai menawar.

Disodori tawaran kami dia kembali bete dengan hitungan. Ha ha. Gegas mengambil kalkulator lagi dan seperti biasa, wajahnya mengekspresikan kebingungan. Setelah cukup lama menghitung, akhirnya dia menyodorkan hasil hitungannya di kalkulator. Tanpa kata-kata.

“Hah? semua 95 Le?” Kok jadi tambah mahal. Mana piring tadi jadi tak ada diskon sama sekali.

Melihat gelagatnya yang sudah ‘tidak bersahabat’ tidak sudi ditawar, kami sudahi saja transaksi kami dengan membeli piring tanpa panci. Beli pancinya nanti saja di toko lain.

Tukang Panci 3

Dia tidak memiliki toko. Panci yang dia tawarkan hanya diletakkan di emperan. Tapi modelnya bagus, seperti di toko panci sebelumnya, bahkan lebih besar ukurannya.

“Berapa harganya?”

“60 Le.”

“40 aja ya?”

“Gak bisa. Ini model baru.”

Kami menego harga. Hingga akhirnya mentok di 45 Le. Tidak apa-apa, kami pikir. Ukurannya lebih besar dibanding toko kedua tadi. Tapi di tengah transaksi, kami dikagetkan oleh tutup panci yang tidak berbaut. Dia mencarinya kesana kemari namun tetap tidak menemukannya.

“Kamu beli sendiri aja ya bautnya. Tuh di toko listrik sana. Dekat kok. Bilang aja baut untuk tutup panci ini.”

Lha, ini yang jual dia, kok kami yang disuruh beli baut sendiri.

“Kamu aja beli dulu, biar kami tunggu di sini.” Pinta kami.

“Gak bisa. Ini barang daganganku gimana?’

“Biar kami tunggu barangmu di sini, sampai kamu kembali.”

“Kamu saja yang beli. Dekat situ kok.”

Lha kalau dekat, kenapa tidak dia saja yang beli. Wah. Mulai nampak gelagat tidak beres. Siapa yang mau beli barang cacat. Kami juga tidak dapat memastikan apakah baut yang nanti kami beli itu cocok dengan lubang tutup panci ini atau tidak.

Cukup lama kami ‘berdebat’, akhirnya dia nyeletuk sambil meletakkan pancinya. Agak sewot.

“Kalian ini memang gak niat mau beli ya?”

“Lha, kami mau beli, makanya kami nawar.”

“Ya sudah, kamu ambil ini, nanti bautnya beli sendiri di toko.”

Agak kesal, kami bilang, “Kami mau beli panci ini, asal lengkap dengan bautnya. Kalau belum lengkap, kami gak mau beli.”

“khalash, ma’assalamah! Sudahlah kalau begitu, selamat tinggal Pungkas dia ketus.

Masya Allah! Aneh sekali penjual ini.

Istri ikutan kesal, “Amit-amit deh itu penjual. Enak aja beli panci ‘rusak’! Apa susahnya sih dia beli dan mencari baut yang pas!”

Kami menjauh sambil ikutan misuh-misuh, haha 🙂

Tukang Panci 4

Sejumlah toko peralatan dapur sudah kami datangi. Namun panci belum juga kami temukan. Kami sempat berpikir, apa kami kembali saja ke tukang panci ke 2, walaupun harga pancinya agak mahal. Namun agaknya tidak mungkin kembali lagi, karena Kami sudah berjalan terlalu jauh.

Kami sempat putus asa dan memilih untuk pulang saja. Namun kami penasaran dengan lorong pasar sebelah timur. Kami susuri lorong tersebut hingga terhenti di satu toko peralatan dapur yang menarik.

Kami masuk dan melihat barang-barang yang cukup bagus. Petugasnya juga rapi, berjenggot tebal, berjubah, berkacamata, dan terlihat terpelajar. Sepertinya orang ini baik. Tutur katanya lembut dan menyapa kami dengan sopan. Bahasanya fusha. Seperti yang sering saya temui di halaqah majlis ilmu.

Ternyata dia orang asli Luxor, sudah lama membuka toko itu. Anaknya empat. Saat pertama kali diajak mengobrol, dia spontan bercerita soal teman-temannya yang orang Indonesia, Malaysia dan Thailand dan sering bertemu ngaji di mesjid Al-Fatah.

“Hum thayyibun. Mereka orang-orang baik.” Komentar dia soal teman-teman Melayunya.

Yang asik, dia benar-benar mengajak kami mengobrol dengan bahasa Arab fusha. Istriku pun senang, karena ikut memahami obrolan kami.

“Bikam hadza assikkin. Pisau ini berapa harganya?” Si istri mulai bertanya.

“Bi itsanain junaih wannishf. 2,5 le.”

Wah, murah. Made in Japan dan Stainless pula. Si istri langsung beli. Bukan hanya itu, kami membeli beberapa peralatan tambahan lain.

Hal ‘inddaka hallah. jual panci kah?” Kami menjelaskan bentuk dan jenis panci yang kami inginkan. Tapi jawabannya cukup mengecewakan.

“Kalau modelnya seperti itu, ada. Tapi baru datang hari Kamis.”

Wah, dua hari lagi. Hm. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk kembali lagi dua hari kemudian.

Alhamdulillah. Kami pun berpamitan sembari mencatat memori tentang si tukang panci yang berhasil memikat konsumen dengan harga miring, kualitas  bagus, dan pelayanan ramah. Akhirnya, di toko inilah pepatah “Pembeli adalah raja” kami rasakan 🙂

Toko dan jenis barang yang dijajakan boleh sama, tapi keterampilan memikat pembeli dengan sikap dan keramahan penjual, tergantung pada tingkat pendidikan dan pergaulan di masyarakat.(!)

Kairo, senja April 2013

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Kota kuno bernama Siwa ini menjadi highlight 1.5 bulan pengembaraan pengantin kelana di Mesir. Kami terpesona dengan keheningan gurun pasir keemasan yang terbentang sejauh mata memandang. Kami juga terkagum-kagum dengan keramahan penduduknya.

Rencananya, kami akan menceritakan beragam kisah perjumpaan dengan penduduk lokal di Siwa. Sebuah kota kecil yang dibangun 12 abad lampau, berbatasan langsung dengan negara Libya.

Untuk kisah pertama, kami akan menceritakan sosok tukang rumput bernama Mahmud.

Mahmud Siwi; Tukang Rumput Soleh

(17/4/2013) Dia kami temui kala sinar matahari laksana permadani membentang di atas kepala. Saat itu kami menuruni lereng Gunung Dakrur yang terbakar matahari dan asik berfoto di atasnya. Dakrur adalah nama salah satu gunung mati (serupa dengan Jabal Mauta) yang terletak beberapa kilometer dari terminal utama bis antar-kota, Siwa—salah satu wilayah terjauh dan berbatasan dengan Libya, sekaligus merupakan bagian dari Propinsi Mathruh. Jaraknya 592 km dari Alexandria.

berdua di jabal dakrur

Tiada kehidupan sama sekali di gunung Dakrur. Kendati banyak rumah dibangun di sekitar gunung tersebut, namun hanya ramai dihuni 3 hari selama satu tahun. Tepatnya bulan Oktober, saat penduduk Siwa merayakan perdamaian antar kabilah. Gunung ini menjadi saksi bisu sejarah pertumpahan darah antar kabilah di Siwa bertahun-tahun lamanya hingga dibuatnya kesepakatan perdamaian. Di luar hari perayaan perdamaian tersebut, Dakrur sepi tak berpenghuni. Gunung mati!

dakrur-death

alone

from up

Ketika suara motor terdengar menggerung dari kejauhan, kami gegas menghambur ke pinggir jalan. Menunggu pengendara ini lewat di hadapan kami. Kami hanya ingin menumpang sampai pasar. Tempat kami pertama kali datang dari Kairo.

Sembari menunggu dia mendekat, kami menyiapkan uang. Menurut perhitungan kami, sepuluh pond cukup untuk jarak tempuh yang telah kami lalui saat datang ke Dakrur ini.

Deru motor kian nyaring dan mendekat.

Waduh. Sepertinya motor roda tiga. Supirnya bergamis abu-abu. Terlihat sangat lusuh. Perawakannya kurus. Wajahnya mengukir gurat kelelahan. Yang paling mengejutkan, bak motor belakangnya dipenuhi tumpukan rumput sejenis alang-alang. Tumpukannya tinggi menjulang. Ini sayuran khas Siwa kah?

‘Assalamu’alaikum.” Saya menyapa setengah berteriak.

‘Wa’alaikum salam warahmatullah.”

Bapak yang akhirnya kuketahui bernama Mahmud Siwi (35 th, beranak empat) mengiringi salam dengan senyuman tulus. Dia menyetop motornya. Menyambut sapaan kami dengan sangat ramah. Laiknya semua penduduk asli Siwa yang kutemui selama perjalanan di kota kecil tersebut.

Setelah mengobrol sedikit, saya langsung ‘nodong’,

“Lau samahta, mumkin narkab ma’ak?” Bolehkah kami menumpang?

“Kemana?”

Kemana ya? Ha ha. Kami juga tidak tahu tempatnya dimana dan arahnya kemana. Saya terdiam beberapa jenak. 

“Hadhratak tamsyi fen?” Memangnya Tuan mau kemana?

“Saya mau ke pasar, jual rumput ini.”

“Hm, dekat terminal gak?”

“Lumayan.”

“Ya sudah, kami nebeng ke pasar aja bareng Tuan.”

Heu heu heu.  Benar-benar kami sedang berada di tempat antah berantah dan tidak tahu mau ke antah berantah yang mana lagi J

Ia mengangguk dan tetap menyunggingkan senyuman. Kemudian turun dari motornya. Ekspresi wajahnya tampak kebingungan, mau disimpan di mana kami berdua ini. Bak sudah penuh. Di depan hanya ada satu jok, yaitu tempat dia duduk itu.

“Ihna wa’qifin wara bas. Mafisy  masyakil. Kida.”Kami berdiri begini saja di belakang, tidak apa-apa!

“La la…” Jangan!

Dilarang berdiri, atau dilarang ikut ya? Saya mulai khawatir kami tidak diangkut 🙂

Pas saya mencoba berdiri di belakang bak, ternyata hal itu tidak mungkin dilakukan.

Di sela kebingungan kami, dia menyodorkan karpet biru kecil. Cukup untuk dua orang. Jadi, kami diizinkan menumpang nih?!

Alhamdulillah.

motor

Meski kami harus duduk di atas tumpukan rumput menjulang, tidak apa… Wuih! Tentu menegangkan, tapi daripada jalan kaki berkilo-kilo jauhnya di bawah sengatan matahari pukul 12 siang, mending kami ikut saja.

Anggap saja sedang syuting film pengantin India sedang honeymoon di desa, hahaha 😀

“Yalla, irkab.” Yok, naik!

Gimana caranya? Apa kami nanti akan terjungkal? He he, si petualang mulai mencemaskan diri sendiri.

“Aa naik duluan, nanti tarik aku. Percaya saja sama dia, pasti dia sudah memperhitungkan keamanannya.” Ujar istri saya meyakinkan.

“Siap!” Jawab saya kian mantap.

Segera saya injakkan kaki ke beberapa rangkaian besi motor. Tiga langkah saja saya sudah berada di atas tumpukan rumput menjulang yang kini dilapisi karpet kain kecil milik Mahmud Siwi.

Hap hap hap!
Kini giliran sang istri saya tarik perlahan. Cukup berat, karena meski menumpuk, beban rumput terlalu ringan dan tidak padat.

Yes…, akhirnya kami berhasil duduk manis di atas bak penuh tumpukan rumput.

“Musta’id?” Siap?

“Yalla, ihna musta’iddun.” Yuk, kami sudah siap.

Motor pun menggerung dan siap melaju.

“Bismillah.”

Yiihaaaaah. Setengah berteriak, saya membuka kantong kamera. Bersiap merekam jejak berkesan ini. Kendati akhirnya saya tidak maksimal memotret, karena goncangan keras kerap terjadi.

mahmud s

Teriakan kami kian seru. Campur aduk antara takut terpelanting karena beberapa kali melewati jalan bergelombang—maklum bukan jalan aspal—namun senang karena mengalami kejadian tak terduga dan tak  terbayangkan sebelumnya. Seperti saat ini.

Sesekali saya tatap wajah istri. Wajahnya bersinar-sinar, memancarkan raut senang 🙂

Backpack seperti inilah yang aku inginkan, A. Merasakan sendiri hal-hal unik di sepanjang perjalanan, mengalami hal-hal tak terduga, dan menikmati kehidupan penduduk lokal dari dekat. Perjalanan kita menjadi tak biasa dan sangat hidup! Live up our life!

Sepakat!
Saya mengangguk-angguk! 🙂

***

Obrolan Di Atas Guncangan

Meski motor bergoncang tanpa henti, namun saya tetap menanyakan sejumlah hal ke Mahmud. Tentu dengan sedikit berteriak, karena suara kami bercampur dengan gerungan suara motor besar merk Cina! Ya, barang-barang Cina juga menyerbu hingga pelosok Siwa.

Posisi Mahmud sebagai pengemudi berada di depan. Tepat di bawah kaki kami yang menjuntai. ‘Kelakuan’ kami tidak sopan sekali ya. Sudah dikasih tumpangan, tapi kaki-kaki kami menjuntai tepat di atas kepala Mahmud. Maafkan kami! Soalnya untuk menjaga keseimbangan kami yang terguncang-guncang ini, khawatir terjungkal! He he he 🙂

love in siwa

Mahmud mulai membuka diri, “Ana kuntu fi Su’udiyyah, sanatain. Alasyan Syughl.” Saya pernah bekerja di Saudi, selama dua tahun.

Hm, iseng saya bertanya, bekerja apa.

“Ya, serabutan aja. Kalau enggak mengemudi, buruh. Tapi saya senang, karena saya bisa menunaikan dua kali ibadah haji selama dua tahun itu. Umroh pun beberapa kali. Dua hal itu sudah cukup menyenangkan bagi saya. Saya pun bisa sedikit menabung untuk kebutuhan hidup keluarga.”

Alhamdulillah. Saya dan istri saling pandang. Kami senang mendengar uraiannya saat menjelaskan dirinya bisa menunaikan ibadah dengan baik, tapi tidak lupa mencukupi kebutuhan keluarganya. Mencukupi kebutuhan keluarga juga termasuk ibadah yang tidak pantas diabaikan.

Obrolan kami sesekali terhenti saat melewati beberapa orang yang tengah duduk di beranda rumah penduduk dan Mahmud Siwi menyapa mereka. Kami tak ketinggalan melambaikan tangan, melempar senyuman, dan setengah berteriak, “Assalamu’alaikum!”

Rupanya Mahmud ini sudah cukup dikenal. Atau karena penduduk Siwa sangat sedikit ya? 🙂

Beberapa orang sempat mengobrol singkat dengannya, menanyakan pesanan rumput, bahkan beberapa orang lagi bergurau, apa kami ini dijual juga? Alamak! Hahaha 😀

Sembari menjawab salam kami, senyuman orang-orang pun kian melebar. Entah, apa karena merasa lucu melihat sepasang makhluk aneh didudukkan di atas tumpukan rumput, seakan-akan mau dijual bersama rumput di pasar, atau memang senang karena disapa dengan sapaan khas Islam. Ah kami tidak peduli. Yang penting kami senang.

Kami sempat membayangkan bagaimana Nabi Yusuf kecil dijajakan untuk dijual di Mesir setelah ditemukan di salah satu sumur oleh penjual. Apakah adegannya seperti kami ini? 🙂

Di atas motor, kami mengobrol beberapa hal; tentang pohon kurma yang banyak tumbuh di daerah padang pasir seperti Siwa dan akan berbuah di bulan Agustus-an; keadaan cuaca Indonesia yang selalu sejuk karena sering hujan dan tidak ada musim dingin atau panas; tentang Siwa yang terberkahi meski tidak dilewati aliran sungai Nil, namun produksi air mineral yang bersih justru banyak dikemas dari Siwa, di sini ditemukan banyak sumber mata air oase (wahah).

kebun kurma

bukan nil

Ciittt!

Mahmud menghentikan motornya.

“Nanzil huna?” turun di sini?” Saya spontan bertanya.

“Jangan, tetap di tempat. Saya mau melayani pelanggan yang beli rumput saya dulu.”

Dia menarik satu ikat rumput dari bagian tumpukan belakang. Dudukan kami ikut bergoyang seolah akan melorot ke belakang. Tapi dia lagi-lagi menenangkan kami.

“Tenang, cuma satu ikat yang ditarik.” Satu ikat, tapi besar! Pikir saya cemas!

Mahmud kembali menjalankan motornya.

“Inta tigi hina alasyan leh? Syughl wala siyahah?” Kalian datang kesini untuk apa? Bekerja atau berkunjung?

Dia mulai menyelidiki tujuan kami datang ke Mesir. Mulailah saya bercerita,

“Ana Kuntu Thalib fil Azhar fil qahirah qabla tsalats tsanawat. Dulu saya mahasiswa Al-Azhar.”

Begitu mendengar kata Al-Azhar, dia terlihat sangat menyambut dan senang. Persis seperti ekspresi H. Umar, kuncen Mesjid Tsabah yang terletak di belakang Ma’had Al-Azhar  saat kami mengatakan hal sama ketika hendak shalat zuhur di mesjid itu. [cerita serunya diundang jamuan makan siang dengan Hajj Umar, menyusul ya]

“Saya ke sini berkunjung, sekaligus mau bulan madu dengan menjelajah kota yang belum pernah kami datangi. Istri saya hobi menjelajah.”

Istri saya menyahut, “Ka mitsli Ibnu Batutah!”

“Aaa, Ibnu Batutah!” Mahmud mengangguk-angguk tanda mengerti 🙂

Sepertinya mendukung pilihan perjalanan ala kami, hehehe, saya merasa PD menduga seperti itu 🙂

 Kami sempat menjelaskan bergantian, kami kagum sekaligus terinspirasi oleh semangat sejumlah ulama besar yang tidak pernah lama menetap di satu tempat, sepanjang hidup mereka berkelana untuk mencari pengalaman, ilmu, maupun hadis-hadis dari manapun—Meskipun kami baru bisa meniru berjalan dan memetik secuil ilmu dari perjalanan saja.

“Bukankah Imam Syafi’i gemar mencari ilmu kemana-mana. Beliau bahkan pernah bersyair, “Ma fil Muqaami lidzi ilmin fa dzi adabin min raahatin, fa da’ al-authana waghtaribi.  Wa safir fa saufa tajid iwadhan amman tufariquhu.” Bagi yang memiliki budaya luhur dan ilmu tinggi, berdiam diri itu tidak nyaman. Tinggalkan sejenak negeri dan berkelanalah. Merantaulah, engkau akan memperoleh ganti dari apa yang engkau tinggalkan.

Aku melanjutkan, “Imam Syafi’i di Mesir masyhur ya?”

“Sangat.” Jawab dia tegas.

“Madzhabnya menjadi satu madzhab yang dipelajari di Al-Azhar.” Tambahnya.

Tak terasa kami berhenti untuk kedua kalinya.

“Turun di sini?” Tanya kami.

“Jangan. Tunggu sebentar.” Dia agak berlari meninggalkan kami. Masuk ke lorong rumah-rumah tua dari tanah dan batu.

***

“Maaf, tadi saya ganti baju dulu. Ini baju khusus untuk ke pasar. Baju tadi khusus untuk ke kebun.”

Pantas saja tampak lusuh dan kotor. Penampilan keduanya ini terlihat meyakinkan. Gamis putih ditemani sorban merah khas Saudi dililitkan di kepalanya.

“Hayya namsyi!” Mari kita teruskan perjalanan.

Sejenak kemudian saya langsung iseng bertanya,

“Hafizhtal Quran?” Kamu hafal Al-Quran?

 “Alhamdulillah.

“Semua? 30 Juz? “ Tambahku penasaran.

“Iya, semuanya.”

Wow!

“Sejak kapan mulai menghafal Al-Quran?”

“Sejak usia saya 20 tahun, saya mulai fokus menghafal. Alhamdulillah, di usia saya sekarang, 30 juz sudah berhasil saya hafal.”

Saya dan istri saling pandang. Kagum.

“Wa Anta hafizhtal Quran?”

Jreng. Pertanyaan mulai menohok batin saya 🙂

“Alhamdulillah.”

Dia langsung menyahut, “Masya Allah.”

“Tapi belum semua,” Segera kususul jawabanku tadi.

Tawa kami menghambur di udara.

Istriku menyahut dan membaca ayat andalannya, “Saya hafal ayat ini, Ya ayyuhannasu inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaa’ila li ta’aarafuu. Inna akramakum ‘indallahi atqaakum…(QS Al-Hujurat [49]: 13)

“Benar sekali. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa. Tanpa peduli apa dia orang Arab, non Arab, kabilah terpandang ataupun tidak. Semua sama, kecuali dengan takwa.”

Rupanya dia benar-benar menghayati ayat tersebut. Kami diliputi haru, bertemu Mahmud si Siwi sekaligus penghafal al-Qur’an.

***

“Aha, hadzal huwal makan alladzi nanthaliqu minhu.” Nah, ini tempat kami pertama berangkat tadi, Mahmud! Berarti kita sudah sampai! Seketika saya berucap kala mengenali lokasi saat kami pertama kali sampai di kota kecil ini.

“Mau saya antar sampai terminal?”

“Ga usah, saya mau shalat zuhur dulu.”

“Waktu Zuhur belum tiba.” Tukasnya.

“Enggak apa-apa, kami ingin wudlu, istirahat sejenak, dan shalat di mesjid.”

Kami diantarkan ke mesjid Al-Faruq. Kami lihat bagian depannya hitam pekat karena terbakar. Saya pikir karena pernah dibakar massa. Ternyata  katanya mesjid tersebut terbakar karena berseberangan dengan pom bensin yang pernah meledak.

Ooo.

“Mesjidnya masih tutup. Kita cari mesjid lain aja ya?”

“Masyi.” Oke.

Menara mesjid yang lain mulai terlihat. Aku merasa makin mengenali tempat sekitarnya. Ma’had Al-Azhar tingkat SD-SMP-SMA. Ya, ini dia tempat yang sempat saya lihat pas tiba pertama kali di Siwa. Berarti udah dekat terminal juga. Hi hi. Kecil juga ya kota Siwa ini. Mungkin bisa dikelilingi hanya dalam setengah hari.

“Khalash, washalna.” Sudah sampai, teriakku.

Mahmud menghentikan motornya.

“Kami akan shalat di mesjid itu saja.” Tangan saya menunjuk masjid yang saya kenali sejak sampai di kota ini.

Saya turun duluan, ingin segera meloncat dan memotret! Di awal, saya belum sempat memotret seperti apa ‘penampakan’ kami kala berada di atas tumpukan rumput ini. Saya sempat ingin meminta tolong Mahmud memotretkan kami, tapi masih merasa sungkan. Biar saya sajalah memotret wujud istri di atas gunungan rumput.

Saya segera memotret istri. Dan inilah hasilnya. [foto1]

Istri akhirnya mengusulkan agar Mahmud memotret kami berdua, meskipun saya sudah turun dari gunungan rumput 🙂

Inilah hasilnya. [foto2]

Setiap pertemuan, selalu berujung pada perpisahan. Meski masih enggan untuk berpisah dan masih ingin menggali banyak hal pada sosok Mahmud yang santun, kami memutuskan untuk berpamitan. Khawatir nanti Mahmud merasa direpotkan dengan kehadiran kami yang ‘menginthil’ ini, hehehe…

Saya rogoh saku celana dan menyodorkan uang 10 pound untuknya. Mudah-mudahan jumlahnya dianggap tidak terlalu kecil.

“Tafadhdhal.” Silahkan.

Tangan Mahmud gegas menolak.

Saya kaget, kenapa dia menolak dengan tegas?
Sikap Mahmud adalah kebalikan sikap orang-orang Mesir di Cairo, hampir semua tidak pernah menolak pemberian, bahkan cenderung materialistik.

Saya memutuskan memaksa. Saya masukkan uang itu ke saku bajunya. Dia mengeluarkan lagi dan mengembalikannya kepada saya. Saya pun memasukkannya lagi ke sakunya. Begitu seterusnya, berulang-ulang sambil saling merayu, hehehe 🙂

Akhirnya dia menerima uang tersebut.
Saya lega.
Eh, ternyata lagi-lagi Mahmud memasukkan uang itu ke dalam tas istriku yang berada tepat di sampingnya.  

Hm, susah juga nih.  Apa artinya Mahmud benar-benar tidak mau menerima uang dari kami? Apa berarti dia murni menolong?!

“Ini buat anakmu.” Aku paksa untuk terakhir kali.

“Tidak!”

Akhirnya kami tidak kuasa memaksa lagi.

Rupanya, penduduk di sini rata-rata ramah, penolong dan menganggap kami sebagai tamu agung bagi tanahnya. Apalagi kami selalu lebih dahulu menyapa dengan sapaan Islam, berbincang soal Al-Quran dan Hadis. Dua kali kami naik motor bak, dua kali naik mobil omprengan bersama Ahmad Kohla di pagi hari dan H. Umar di siang hari juga sama sekali tidak ditagih ongkos.

Kesan Hati

Kami berpamitan dan saling bertukar nomor HP. Berkali-kali kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Terucap doa, Jazakallahu khairal jaza’ atas keramahan dan kehangatannya.

Hati kami mencatat kesan mendalam atas akhlak Mahmud Siwi, tukang rumput yang soleh dan hafal Quran. Dia bukan hanya hafal Al-Quran, tapi juga menghayati dan mengaplikasikan spirit Al-Quran dalam hidupnya. Dia menjaga shalat, mengagungkan tamu, menebar salam, bekerja keras untuk menghidupi keluarga, ramah, dan benar-benar ikhlas membantu dan berbagi.

Barakallahu fik wa fi Ahlik wa auladik! Semoga Allah selalu memberkahi kehidupanmu beserta keluarga dan anak-anakmu.

Shaqr Quraisy, jelang Magrib 19 April 2013

de sky

de up