Daftar Kuliah di Maroko

Pintu Kedua: Tiga Belas Kali ke AMCI

Ini masih kisah perjuangan si Aa mendaftar kuliah di Maroko. Jangan bosan membaca tentang ini dan terus doakan kami ya.

Jika sebelumnya saya mengisahkan kisah ‘Pintu Pertama’ birokrasi berbelit-belit untuk mendapatkan selembar surat pengantar dari KBRI Rabat, maka sekarang saya akan menceritakan ujung perjuangan pintu birokrasi kedua, yaitu perjuangan memasukkan berkas pendaftaran kuliah Aa ke AMCI (lembaga resmi yang mengurusi internasional untuk mendaftar kuliah).

Setelah melewati 100 hari menetap di Rabat Maroko dan berpanas-panas naik bis dikombinasi berjalan kaki bolak-balik sebanyak tiga belas kali mendatangi AMCI, dari mulai sangat bersemangat hingga loyo, dari sabar hingga nyaris patah hati, hari ini Allah takdirkan babak baru dimulai!

Tetiba suami menelepon via whatsapp. Sayangnya saya hanya mendengar suara salam. Setelah itu hening.

Bad connection.

Aa langsung mengetik. Typing…

Menceritakan kalau sekarang ini beliau baru saja sampai di AMCI.

Buru-buru ke AMCI karena mendadak ditelepon Mona, tapi tidak bisa mengangkat telepon karena tadi sedang mengikuti kuliah.

Kelar kuliah Aa menceritakan bagaimana ia gegas ke AMCI menaiki bis sambil berhitung dengan waktu karena jam 4 sore akan masuk kelas lagi.

“Aa sekarang duduk menunggu Mona yang sedang melayani dua orang lagi sebelum Aa.”

“Jadi ini Aa mengetik saat menunggu antrian?”

“Iya, Yang. Aku deg-degan.”

“Ya Allah. Mudahan yang terbaik, A.”

Waktu berjalan lambat.
Saya turut menunggu di whatsapp.
Lamanya.
Saya melantun zikir. Fikir. Zikir.

Aa mengetik kembali.
Typing…

“Kenapa lama mengetiknya?
Apa kata Mona?”

Ketikan Aa terkirim.



“Kamu yang bernama Risyan?

Ya, maaf Mona. Tadi saya tidak sempat angkat telponmu. Lagi masuk kelas.

Tidak apa apa.

Ada kabar apakah?

Apa ada berkas saya yang bermasalah lagi?

Berkas baru dari KBRI (red. Yang keenam kali) masih ada yang perlu direvisi?

Berkasmu dan temanmu… MAQBUULLL!

Berkas kalian sudah dikirimkan ke Majelis Aliy (red. Dikti Maroko). Bla bla bla…”

Then the rest was history for us 🙂

***

Alhamdulilah…
Seketika saya sujud syukur di kamar sahaja ini.

Perjalanan masih panjang untuk terdaftar resmi dan memiliki KTP penduduk Maroko. Tapi pintu pertama (KBRI Rabat) dan pintu kedua utama (AMCI) telah ditembus.

Setelah perjuangan panjang 3 bulan satu minggu berada di Maroko!

Tugas Aa tinggal ‘mengawal’ berkas yang sudah di-acc AMCI menuju Majelis Aliy, lalu ke Rektorat kemudian ke Fakultas dan dikawal lagi menuju Rektorat, Majelis Aliy dan kembali ke AMCI.

Kenapa harus dikawal?
Karena sudah banyak kejadian dan cerita disampaikan pada kami, berkas bisa lenyap di tengah jalan tanpa ada kejelasan siapa yang patut dimintai pertanggung jawaban.

Welcome to the Arabian administrative style!

Mohon doakan Aa ya. Bisa sabar dan ikhlas menjalani proses selanjutnya.

Masih panjang, tapi setidaknya Aa sudah ‘legal’ dan diterima oleh AMCI untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Maroko.

Kisah detil kita tunggu saja dari Aa ya 🙂

I’ll insist him to write his long journey to pass the AMCI’s door 13 times in three months.

Sebagai istri, Alhamdulilah saya bisa menarik napas lega.

Babak baru akan kami mulai di negeri yang super lelet, ribet dan gak jelas jika terkait urusan administrasi, hehe.

Terima kasih untuk semua yang sudah berkenan mendoakan kami. Berkat teman-teman dan keluarga, kami bisa sabar menjalani ini semua. Dan sampai di titik ini.

Alhamdulillaah…
*sujud syukur*

Bismillah…
Bersiap menarik napas lebih panjang untuk proses selanjutnya.

Semoga dipermudahNya.

*terharu*

Menunggu Surat Cinta dari KBRI

Izinkan saya berbagi resah yang mendera.

Kali ini ingin membincang keberadaan KBRI di luar negeri, karena kami sedang mengajukan hajat pada salah satu KBRI.

Backpacker seperti kami sebetulnya enggan berdekatan dengan ‘kekuasaan’.
Kami sepasang pengantin kelana mandiri. Akan tetapi, ada kalanya kami mesti bersinggungan dengan KBRI di negara yang kami datangi.

Kalau kami akan ‘menetap’ minimal satu bulan di suatu negara, secara alami saya dan suami senang hati lapor diri ke KBRI setempat.

Rasanya lega jika sudah ‘kolunuwun’ ke perwakilan pemerintah Indonesia di negeri asing yang kami jejak.

Jika ada apa-apa di tengah perjalanan (na’udzubillaah), ke mana kami bisa minta bantuan kalau bukan ke KBRI?

Secara umum, kami selalu merasa nyaman dengan atmosfer kekeluargaan yang dibangun oleh petinggi KBRI di negara-negara yang pernah kami sambangi.

Meski untuk urusan administrasi nanti dulu, karena fakta di lapangan ternyata sangat beragam.

Berdasar pengamatan kami, tidak semua KBRI lincah membantu warga Indonesia di luar negeri yang sedang memerlukan ayoman dan uluran tangan.

Beberapa KBRI tampil birokratis dan kaku. Tampaknya dipengaruhi gaya kepemimpinan sang dubes yang dipilih presiden berkuasa.

Kesimpulan ini saya ambil setelah bersua dan berbincang dengan sekian dubes sepanjang pengembaraan sepuluh tahun terakhir.

Saya masih terkenang-kenang dengan kebaikan Doktor Marty Natalegawa sepanjang beliau menjadi dubes UK, terutama saat saya kuliah di sana.

Sikap tulus membantu pelajar dan mahasiswa seperti saya meninggalkan jejak indah di hati. Mengingat beliau adalah sekaligus melangitkan doa untuk kebaikan-kebaikan beliau sekeluarga. 🙂

Untuk Timur Tengah dan Afrika lain lagi ceritanya.

Sepanjang 2010 hingga 2013 saya pernah berurusan dengan dubes Mesir, dubes Jordan, dubes Tunisia dan dubes Maroko.

Alhamdulillaah semua dubes membantu segala hajat saya.

Yang paling mengesankan adalah silaturahim dengan dubes Mesir pada jelajah Mesir pertama kali di tahun 2010, yaitu Doktor Fachir (sekarang wakil Menlu). Beliau malah mengundang saya untuk dinner di rumah beliau dan membantu mewujudkan impian saya menjejakkan kaki hingga Jordania.

Bagaimana dengan pengembaraan kami tahun 2015 ini?

Sepanjang Ramadhan backpacking di Eropa tahun ini, kami tidak mampir ke KBRI manapun karena kebetulan Aa tidak diminta mengisi pengajian di lingkungan KBRI. Akan tetapi jejak kebaikan KBRI Belanda membuhul di benak kami.

Salah satu home staff KBRI Belanda membantu membuatkan invitation letter dan berbuah visa schengen multiple entry berlaku hingga 2017. Alhamdulillaah.

Menunggu Surat Pengantar dari KBRI Maroko

Sekarang kami kembali ke Maroko. Langsung terbang dari Belgia setelah Dakwah backpacking berakhir. Semata agar ngirit biaya dan waktu.

Seluruh pengeluaran direncanakan seapik mungkin, mengingat kami berdua sama-sama tidak bekerja dan beasiswa suami baru turun setelah mulai kuliah.

Dubes Maroko ternyata telah berganti.

Saya pernah bersua dengan dubes sebelumnya, yaitu Bapak Tosari Wijaya.
Beliau sosok yang hangat, kebapakan dan tidak mudah menghakimi seseorang.

Beliau ringan tangan mempermudah hajat orang banyak. Senang bergerak secara kultural dan merangkul seluruh lapisan.

Dubes sekarang saya masih mengamati. Alhamdulillaah sudah bersua beliau saat shalat Idul Adha di KBRI Maroko tanggal 24 September lalu.

Yang jelas, suami saya telah ke
KBRI Maroko pada tanggal 18 September untuk meminta surat pengantar ke Pensosbud KBRI Maroko.

Surat pengantar ini akan dibawa ke AMCI untuk menginisiasi proses pendaftaran sebagai calon mahasiswa di salah satu universitas di Maroko.

AMCI (lembaga yang mengurusi seluruh mahasiswa internasional di Maroko) mensyaratkan surat pengantar dari KBRI Maroko untuk melengkapi berkas pendaftaran mahasiswa mandiri seperti suami saya.

Untuk memastikan ini, Aa sudah mendatangi AMCI seorang diri pada hari Selasa lampau.

Sayangnya surat pengantar yang dibutuhkan suami saya belum dibuatkan KBRI Maroko hingga hari ini.

Entah berapa lama kami harus bersabar menunggu dibuatkannya selembar surat pengantar mendaftar kuliah di negeri ini?

Sangat banyak yang ingin saya ukir di sini, tapi saya harus menahan diri…

Kini, harapan kami tumpukan pada Allah sepenuhnya, semoga Ia permudah segala niat baik ini.

Amin.