MIMPI KELANA

Foto were taken by Retha at Merzouga desert, Morocco

MIMPI KELANA

Seseorang pernah bertanya,

“Ima, kamu kenapa sih aktif terus. Bergerak terus. Memangnya gak capek ya?”

Aiiih…

Kata siapa saya bergerak terus?

Kata siapa saya bergiat terus?

Saya sama seperti yang lainnya juga.

Makan dan tidur.

Kadang diterjang malas.

Kadang gak ngapa-ngapain berhari-hari (meski tetap masak bersih-bersih).

“Oh ya? Tapi kok saya lihat aktif terus. Padahal lagi di luar negeri. Jauh dari tanah air.”

Oh, maksudnya menjalankan bisnis baru bernama Kelana Cahaya Tour ya?

Teman saya buru-buru mengangguk.

Baik.

Saya jawab apa adanya ya 🙂

Saya senang memelihara mimpi.

Jika kamu pernah membaca tulisan panjang saya pada tahun 2013 awal di blog www.honeymoonbackpacker.com maka kamu akan mengerti kenapa saya senang bermimpi.

Mimpi adalah gairah.

Mimpi adalah semangat.

Mimpi adalah cambuk.

Mimpi adalah kerja keras!

2013 awal saya bermimpi mengajak suami berkelana sekaligus #dakwahbackpacking sepanjang Ramadhan di benua lain.

Alhamdulillah telah terwujud 3 tahun berturut-turut. Beyond our dream that time!

Meski harus membuat pempek siang malam di rumah host kami di Belgia, kemudian menjualnya dari satu pengajian ke pengajian lain -tentu saja setelah Aa selesai ceramah, saya bangga bisa mewujudkan mimpi.

Suami saya awalnya sangsi dengan mimpi dakwahbackpacking. 

Apa mungkin?

Eropa kan mahal.

Aku hanya guru pesantren.

Tapi mimpi saya yang akhirnya menjadi mimpi berdua berhasil menepis ketidakmungkinan menjadi kata ‘kerja’.

 Yaitu kerja keras dan berdoa.

Alhamdulillah terwujud.

Jika sudah begini, kenapa kami harus berhenti bermimpi?

Teman saya menatap takjub.

“Lalu apa mimpi kalian sekarang?”

Baik.

Ini pertanyaan makin menjurus ya.

Saya dan si Aa sepakat menumbuhkan Kelana Cahaya Tour sebagai income generator!

“Income generator alias mesin uang bagi kalian? Wow, mantap tuh!”

Saya menggeleng. Lalu menjawab tegas.

Bukan mesin uang untuk kami. Kami sudah cukup makan. Cukup pakaian. Bisa tinggal di rumah sederhana. Kami sudah merasa kaya. Kami selesai dengan dunia material.

Kelana Cahaya Tour dilahirkan insyaAllah sebagai alat kami mewujudkan mimpi yang lebih besar!

Mungkin terdengar utopia bagimu, Kawan.

Tapi sekali lagi saya tegaskan, ini mimpi besar kami.

Kami ingin membangun lembaga pendidikan -apapun namanya dan jenisnya nanti- untuk anak-anak dhuafa berprestasi yang ingin belajar. Agar kelak berkelana memaknai dunia dengan lebih baik.

Untuk mewujudkan mimpi ini kami harus menyiapkan diri.

Aa sedang menempuh pendidikan lanjut. 

Sedang saya fokus bekerja untuk Kelana Cahaya Tour.

Harapan kami, semua keuntungan finansial Kelana Cahaya Tour bisa kami tabung sebaik-baiknya.

Simpan dan kelola lalu segera dibelikan tanah begitu ada lahan yang cocok. Syukur-syukur bisa bertemu orang yang mau mewakafkan tanah miliknya. Jadi keuntungan bisnis Kelana Cahaya Tour fokus untuk membangun infratruktur calon Pesantren Kelana.

Mohon doakan Kelana Cahaya Tour bisa membesar dan mempekerjakan orang lain.

Saat pendidikan Aa telah tuntas dan tabungan sudah mencukupi, kami akan membangun bata pertama Pesantren Kelana dan Rumah Kelana.

Doakan kamI istiqomah menghidupi mimpi ini ya, Kawan!

“Wow. Serius sekali mimpimu, Ima.”

Ya. Kami serius.

Semoga Allah mudahkan.

Dan ssst, kalau pakai jasa Kelana Cahaya Tour jangan ditawar lagi ya. 🙂

Kalau kamu ikhlas menggunakan jasa kami, ada tabungan amal jariyahmu di situ.

InsyaAllah!

PS.

Akhir Desember 2016 Kelana Cahaya Tour akan membuka backpacking trip santai ke Eropa Timur, antara lain ke Austria, Praha dan Budapest. 

Maksimal 14 peserta saja.

Yang berminat bergabung segera sapa saya di WhatsApp: +62 819 5290 4075.

Setelah Terjatuh, Ayo Bangkit Lagi!

Awalnya saya hanya ingin menulis sebuah status pendek di facebook (dan mengetiknya melalui hape jadul saya), isi status tersebut menceritakan inti ‘backpack‘ kami hari ini; kami baru saja mendatangi kantor imigrasi Mesir yang dijaga ketat, kamera mungilku bahkan ditahan sejak pintu masuk 😉

Kantor ‘mogamma‘ ini posisinya berseberangan dengan Museum of Egypt berwarna merah agak oranye, terletak tidak jauh dari bundaran Tahrir, tempat bersejarah kala para demonstran meneriakkan kata-kata revolusi dan yel-yel menghujat diktator Husni Mubarak dua tahun lampau.

Eh, tahu-tahu ngetiknya keterusan, menghasilkan tulisan sangat panjang. Ide jelang Isya tadi rupanya mengalir lancar sederas air bah!

Saat detik-detik akan mengakhirinya, salah satu jemari salah pencet tombol di hape (maklum hurufnya serba mungil, hehe). Tentu tulisan di status ini lenyap seketika, tinggal halaman putih tanpa huruf.

Saya kehilangan kata-kata…!
Tercenung dan ini bukan yang pertama!
*Mulai mengkhayal menjedotkan kepala ke tembok khayalan juga, hahaha* 😀

Dalam hidup, barangkali kita kerap mengalami hal serupa ini.

Saat sedang semangat-semangatnya mengejar mimpi dan rasanya sudah hampir meraihnya, tahu-tahu sesuatu yang ‘buruk’ terjadi! Kita terhenti seketika, bahkan kadang ambruk! Akhirnya impian yang nyaris digapai lenyap begitu saja!

Lalu apa yang ingin saya lakukan di halaman putih ini?

Awalnya gemas dan curhat pada si Aa yang sedang ‘timbul tenggelam’ dalam tidur ayamnya, kelelahan berurusan di ‘mogamma’ seharian tadi. 🙂

Setelah merasa puas curhat, saya memutuskan menuliskan kejadian barusan, tentu saja di halaman putih ini kembali. Tak terasa sudah sepanjang ini, hehe 🙂

Apa yang ingin tangan saya sampaikan?

Ya, benar-benar tangan saya, saya menulis saja tanpa banyak berpikir. Saya hanya mengikuti tangan saya, bukan ide di kepala saya. Jujur saya masih merasa sedih kehilangan tulisan sangat panjang dan menurut saya isinya bermanfaat dan bagus. Hehe, boleh ya memuji tulisan sendiri sekali-kali 🙂

Jadi apa pesan tangan saya?

Teruslah mengetik, meski tulisanmu ‘lenyap’ berkali-kali.

Ide tetap ada di kepalamu!

Meski rasa bahasa yang diketik akan berbeda, tak mengapa, toh ide tetap saja sama.

Begitu juga dalam mengejar mimpi, tidak apa caranya berbeda -mungkin akan jauh lebih efektif dan efisien karena kamu sudah punya sedikit pengalaman- yang jelas kamu pernah menapaki jalan -yang sama- menuju mimpimu, insyaAllah tapak berikutnya akan terasa jauh lebih mudah karena kamu sudah agak ‘mengenalinya”.

Intinya, jangan takut gagal, digagalkan, dihalangi, atau bahkan dijatuhkan, mimpi dan usahamu adalah kemerdekaan dirimu!

Kejar (kembali) mimpimu! 🙂

PS.

Bahkan tadi saya tidak menyadari, mengetik status panjang ini justru ‘menumpang’ di statusnya Desi Puspitasari, kala saya mengunjungi rumah FBnya 😉

Hihihi, ya, ide bisa menyambar di mana saja!
Dan kita kerap lupa, bahwa kita menulis di rumah yang salah, hehehe.

Saya langsung buru-buru ke depan PCnya neng Al-hamasah Fillah, membuka akun saya. Segera memosting tulisan saya di laman Desi, lalu segera meng-copy pastenya ke laman saya sendiri. Lalu kembali menghapus tulisan saya di laman Desi.

Duh, faktor U, benar-benar tidak bisa dipungkiri, hehehe ;D