Doa Mama Sa’ida

Doa Mama Sa’ida.    Rabu ini, saya memutuskan berangkat ke Fez bersama rombongan dosen IAIN Sumut. Mereka datang ke Maroko dalam rangka menindaklanjuti MoU antara IAIN Sumut dan Universitas Qarawiyyin, Fez. Ini adalah hari ke-20 mereka berada di Maroko, dan hari ini dijadualkan akan ada pertemuan dengan pihak kampus. Saya memaksakan diri untuk ikut sebab belum pernah berkunjung ke kampusnya. Sekaligus ingin berkunjung ke Universitas lain di Fez, yaitu Universitas Sidi Muhammad ben Abdullah.

Saya pernah mengunjungi Fez sekitar 5 bulan silam bersama Istri saya untuk riset dan acuan menulis Buku honeymoon Backpacker kami (mudah-mudahan cepat selesai bukunya, amin..) Proyek penulisan buku ini telah lama kami rancang. Idenya bahkan telah muncul sejak awal kami menikah.

Selain untuk proyek penulisan, kami juga ingin menyambung silaturahim dengan salah satu keluarga lokal di Fez yang dulu pernah berbaik hati berkenalan dan menerima Istri saya berkunjung dan menginap beberapa malam di rumahnya. Saat itu saya belum menikah.

“Nanti kalau sudah menikah, bawa suami kamu kesini dan kenalkan pada Mama ya.” Pesan Mama Saiedah ketika ima berpamitan pulang, 2010 silam.

“Insya Allah, Mama.”

Dan lima bulan yang lalu, setelah 2 tahun lebih usia pernikahan kami, Istri saya bersemangat menelpon Mama Saidah setiba kami di Maroko.

“Assalamu’alaikum, Mama, ana fil magrib al-an ma’a zaujy. Saya sekarang di Maroko bareng suami.”

“wa’alaikom salam, barakallahu fik ya binti wa waladii..nurahhibukum fi baiti..asytsqu mink jiddan jiddan. Mudahan Allah memberkahimu anak-anaku. Saya sangat merindukanmu.”

Kami menuju Fez dari Casablanca dengan berkereta ONCF. Berangkat dari stasiun casa Luiz, tiketnya 110 Dirham kalau tidak salah. Karena Jadual kereta yang ada saat itu sore, maka diperkirakan sampai Fez tengah malam.

Sesampai Fez, kami dibalut haru.

Ternyata Mama menjemput kami di stasiun. Ditemani Maryam, anak sulungnya, Kamal, suaminya, dan Syama, cucunya. Mereka ceria menyambut kami, padahal sudah tengah malam.

Mama memeluk Istri saya erat.

“Ahlan wa sahlan ya binti. Selamat datang anakku.”

Di sudut matanya perlahan tampak buliran air mata rindu, haru, dan seolah tidak percaya dapat bertemu kembali sesuai pesan Mama kala itu.

Hampir seminggu kami menginap di rumah Mama. Merenda jalinan silaturahim, memupuk kedekatan batin bersama keluarga mereka yang ramah. Hingga tiba saatnya kami pulang.

Selesai berfoto bersama; saya, Istri, Mama Saiedah, suaminya, Sara (putri keduanya yang kini baru dua minggu menikah), syama, kami dianter sampai terminal bis Medina. Old Town.

Kami berpamitan. Berpelukan.

Mama berpesan, “Nanti kalau kalian sudah punya baby, bawa juga kesini ya, Mama pengen gendong cucu Mama dari Indonesia.”

Kami berbisik dalam hati…

Amin. Insya Allah!
Fez, 13/11/13

A Good Man

A Good Man  

Siang itu (14/11/13) saya memutuskan untuk kembali ke penginapan saja. Tidak jadi ikut mengantar para dosen menjelajah kota tua Fez; mesjid bersejarah Al-Qarawiyyin, pabrik dan penyamakan kulit, ziarah makan Ibnu Al-Arabi–penulis kitab tafsir Ahkaam Alquran, dan beberapa tempat jelajah lain di sekitarnya.

Disamping sudah tidak kuat ingin ke toilet, saya punya janji menyelesaikan rancangan powerpoint untuk istri dan mengirimkannya via email hari itu juga, karena akan dipresentasikan besok pagi waktu Indonesia.

Kami harus bekerjasama secara ketat soal file dan data ini, sebab saya yang memegang laptop si doi. Ingin hati bukan hanya laptopnya yang menemaninya saya, tapi situasinya belum memungkinkan.

“Saya pamit ya pak,” Ucap saya pada Pak Taufik. Leader rombongan.

“Syukran ya Hadi, mohon maaf belum bisa ikut menemani antum”, ujar saya pada Hadi, mahasiswa Indonesia di Fez.

Sesampai penginapan, saya hanya bertahan setengah jam di depan laptop. Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba leher serasa kepelintir. Pinggang sebelah kiri terasa sakit. Sementara jari tangan masih di atas keyboard laptop. Ternyata saya tadi tertidur dengan posisi tidak jelas saking mengantuk. He he

Sekitar dua jam saya selesaikan urusan, perut melilit kelaparan. Agaknya sarapan roti plus syai bil halib traktiran rombongan dosen jam 8 pagi tadi tidak cukup kuat menahan keinginan perut untuk ‘diisi ulang’ sampai sore.

Saya segera tunaikan shalat jamak. Lalu siap-siap hunting makan. Tiada teman selain bayang-bayang istri. Allah, miss her so much!

Saya gendong ransel hijau berisi laptop dan barang penting lain. Kendati penginapan dirasa aman, tetap saja kita mesti waspada. Jangan meninggalkan laptop dan barang berharga di kamar. Demikian pesan Istri suatu ketika.

Meskipun di dekat penginapan tersedia banyak warung makan khas Maroko, namun saya lebih memilih berjalan agak menjauh sedikit dari jejeran warung itu, kurang lebih 200 meter ke sebelah timur. Biasanya kalau agak jauh dari keramaian, harganya tidak terlalu mahal.

Alhamdulillah akhirnya saya temukan warung sederhana. Aneka daging bakar. Satu porsinya tertulis 15 dirham. Saya perhatikan tulisan itu baik-baik.

“Satu paha ayam bakar ini 15 dirham kan?” Tanya saya memastikan.

“Betul.”

Sekalian saya menunjuk dan menanyakan satu persatu menu yang tersedia berikut harganya. Tidak apa-apa banyak bertanya untuk meminta kejelasan. Bertanya lebih baik daripada menerima begitu saja dalam keraguan atau ketidakpastian.

“Baiklah, saya pesan satu paha bakar ya.”

Letak warung ini berhadapan langsung dengan warung daging bakar serupa yang lebih besar, Namanya Gunto. Saya tidak memilih warung Gunto, tampak terlalu mewah.

Saya mengakrabkan diri lewat senyum, salam, menanyakan kabar, dan mendoakan keberkahan untuk usaha yang dia jalani. Tentu dengan bahasa Arab.

Dia terlihat senang dan saya dipersilahkan duduk. Meski sederhana, tapi tempat duduknya enak dan suasananya nyaman.

Tiba-tiba seorang lelaki menghentikan motor sepedanya di depan warung.

Derum..Derum…cekiiit.

“Assalamu’alaikum.” Dia menyapa penjual.

Rupanya dia mau makan juga di tempat ini.

“wa’alaikom salam.” Saya turut membalas salamnya.

Dia hanya melirik saya singkat. Kemudian dia mengobrol ke sana kemari dengan penjual. Saya bangkit dari kursi, melihat-lihat bagian dalam warung. Saya melihat ada jejeran gelas berisi daun mint siap seduh, ada tumpukan teh seduh, dan lain-lain.

“Ini dagangan kamu juga?”

“Iya, itu juga milik saya. Cuma yang memegang tugasnya si teteh itu.”

Si Teteh Maroko melirik dari dalam dan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Saya tidak tahu ternyata ada orang di dalam hehe.

Saya kembali ke tempat duduk saya yang kini posisinya bersebelahan dengan kursi bapak pengendara motor tadi.

Assalamu’alaikum.” Saya duluan tersenyum dan menyapa.

Wa’alaikom salam.” Jawabnya, sedikit cuek.

Saya juga tidak peduli jika dia cuek. Bukan urusan saya. Toh saya disini hanya mau makan kok.

Saya menyender lebih santai di atas kursi. Merenggangkan otot yang tadi sempat sakit. Mencoba memancing ide dan inspirasi. Ah, nikmat sekali.

Ayam bakar sudah terhidang. Tapi Si pelayan meletakkan hidangannya di antara dua meja, saya dan si bapak. Dia terlihat buru-buru dan tidak menyebutkan untuk siapa.

Karena saya merasa memesan terlebih dahulu, saya geserkan piring berisi ayam itu seraya bertanya,

“A hadza laka am liyya. Apakah ayam ini untukmu ataukah untukku?”

Mengetahui saya bisa bahasa Arab, dia mulai tersenyum dan menjawab,

“Hadza diyalak, mayakunsy diyally..Itu punyamu, bukan punyaku.”

Wakha. Oke.” Saya buru-buru menarik piring lebih dekat.

“Mari makan.” ajak saya.

“Silahkan, selamat menikmati.”

Tak lama kemudian, si pelayan datang menghidangkan pesanan si bapak.

“Syukran, hadza rajulun thayyeb. A good man.” Dia berujar pada pelayan sembari menunjuk diriku. Kenapa dia menyimpulkan saya orang baik, padahal baru saja bertemu. Aneh sekali.

Anta athyabu wa ahsan.” Saya langsung membalas ucapannya segera. Biasanya mereka berbasa-basi atau berupaya mengakrabkan diri dengan cara itu.

“Anda darimana, Mister?” Dia mulai membuka pembicaraan.

“Indonesia, negeri di Asia Tenggara sana.”

“Do you speak English?” Tanya dia.

“Yes, just a little. And you?” ujar saya.

“I do, but I learnt it 20 years ago. So I forget some words.”

Kami mengobrol campur aduk antara bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa darijah dan amiyyah. Malah sesekali saya masukkan bahasa sunda saat menyebut kondisi bagian bawah ayam ini gosong.

“It’s so tutung wa gosong ya basya..”

Herannya, dia manggut-manggut seperti mengerti. Ha ha ha. Kelakuannya mirip saya saat dia ngomong darijah dan saya manggut-manggut, “oo…, na’am…”

Saya bercerita banyak hal tentang Indonesia, terutama sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Maroko awal-awal kemerdekaan yang dibangun oleh presiden Soekarno dan Raja Muhammad V. Salah satu hasil yang masih dinikmati sampai sekarang, yaitu berupa bebas visa entry selama tiga bulan untuk masing-masing warga negara.

“Hm..Apakah disini ada tukang ikan bakar terdekat, kami sangat doyan ikan. Negeri kami dikelilingi banyak lautan lho?” Saya bertanya karena teringat rombongan bapak ibu dosen ingin makan malam dengan menu ikan bakar.

La. Disini jarang. Bukan daerah pantai.”

Dia menjelaskan.

“O ya, kamu beli saja di pasar, nanti minta dibakar di sini.”

Dia langsung memanggil tukang ayam bakar, menanyakan mungkinkah nebeng bakar ikan.

Hebat sekali ini bapak, usulan dan aksi konkrit! Tapi sayang, tukang ikan keberatan.

Kami asik makan dan ngobrol, dia terlihat lahap sekali. Bahkan sampai nambah satu porsi lagi. Mungkin sedang lapar-laparnya dan lagi dapat rezeki kali ya.

Dia menghabiskan dua porsi, sementara saya masih berkutat dengan makanan saya. Dia mendekati tukang ayam itu, mengobrol ke sana kemari, seraya mengambil satu bungkus plastik. Adapun saya kembali menghabiskan sisa roti.

Tiba-tiba dia mengagetkan saya,

“Hakeem, selamat menikmati, khalish.”

“Maksudnya?”

“Kau tidak usah bayar, saya sudah membayarkannya untukmu.”

“lho, tidak usah. Saya bayar sendiri.”

“Sudah saya bayar, karena kamu Rajul Thayyib. Kamu tamu saya sekarang!” Dia tersenyum sambil ngeloyor pergi menuju sepeda motornya, memasang helm, dan beranjak pergi.

Saya masih melongo.

Jazakallah khairan. Bal Anta aidhan rajulun thayyib. Anda memang a good man. Bahkan athyabu. Lebih dari yang saya kira.”

Catatan dari Fez