Tunanetra Berhati Surga

Tunanetra Berhati Surga

Awal Perkenalan

Kedekatan saya dengan penghafal Al-Quran berdarah asli Sale-Rabat ini bermula tak sengaja. Ketika itu ia berdiri mematung di dekat meja resepsionis sebuah acara seminar sehari tentang hari Bahasa Arab se-dunia (18/12) Sementara ratusan peserta—mayoritas mahasiswa Jurusan Studi Islam Fakultas Adab dan Humaniora dari jenjang s1 hingga s3—berseliweran dan bergantian mengisi daftar hadir.  Acara ini dihitung kuliah umum wajib.

“Assalamu’alaikum, ya akhi Muhammad.” Saya menyapanya terlebih dahulu. Mendekatkan suara pada telinganya.

“Wa’alaikum salam. Ahlan wa marhaban bik ya akhi.” Jawabnya ramah dan tegas.

“Labaas..?

“Labaas, alhamdulillah.”

“Man hadza. Siapa ini?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan yang kerap saya dengar jika bertemu orang baru atau belum lama dikenalnya. Memang sejak lebih dari sepuluh tahun, dia hanya mengandalkan pendengaran.

Dia satu kelas dengan saya, namun tidak pernah mengobrol. Bertemu hanya saat sama-sama mendengarkan kuliah atau shalat berjamaah di mushalla.

“Ana Risyan Nurhakim, Anduuniisi.”

“Kenapa masih berdiri di sini?” Tanya saya.

“Teman-temanku tidak kembali menjemputku. Mereka bilang mau mengisi daftar hadir dan ke toilet. Tapi sudah 10 menit belum balik-balik.” Ujarnya.

“Mereka jahat sekali padaku. Huh! Habis membubuhkan tanda tangan di daftar hadir, satu persatu mereka meninggalkanku.” Lanjutnya dengan nada setengah bercanda, setengah tertawa.    

“Ha ha ha…” Saya ikut tertawa.

“Mari ikut saya kalau begitu. Kita masuk ke aula.” Saya menggandeng tangannya sembari tertawa renyah.

Aula Al-Idrissy

Depan Aula Al-Idriisiy

Fakultas Adab dan Humaniora Muhammad V ini memiliki beberapa aula. Ada aula Ibnu Khaldun untuk kuliah umum bagi Mahasiswa. Aula Hajji untuk sidang tesis atau disertasi. Aula ‘Abid Al-Jabiri untuk pertemuan para dosen dan dekanat. Sementara aula Al-Idriisy, aula antik dan besar ini khusus untuk acara seminar besar. Seperti seminar bahasa Arab waktu itu.

“Tunggu.” Cegah dia.

“Ada apa?”

“Kamu jangan pegang aku seperti itu. Cukup kamu berjalan di depanku saja namun agak samping. Nanti satu tanganku memegang pundakmu.” Paparnya menjelaskan cara menuntun tunanetra yang benar.

Aula sudah penuh dengan peserta. Bahkan banyak yang berdiri berdesakan di pintu masuk. Sementara di jejeran kursi terdepan masih tampak beberapa yang kosong. Namun sudah booked untuk para dosen dan pejabat kampus, kata panitia. Saya memutar pandangan sampai mentok di pojok kanan. Di situ ada dua kursi tambahan.

“Cari tempat duduk paling depan saja.” Pintanya.

Shaafii. Baiklah.”

Saya melangkah perlahan menerobos ke dalam aula. Hampir semua pandangan mata peserta yang tengah duduk tertuju pada Muhammad ini. Saya yang menuntunnya pun jadi objek sorot mata mereka. Mirip bintang yang berjalan di atas karpet merah dan disaksikan ratusan pasang mata. Tap tap tap…!

“Hati-hati ya, jalannya menurun dengan beberapa tangga pendek di depan kita.” Pesan saya.

“Saya tahu.” Ia menanggapi sambil senyum.

“Hah, tahu darimana?” Tanya saya penasaran.

“Dari pundakmu yang saya pegang. Ketika saya merasakan badanmu sedikit turun, berarti kamu melangkah turun menapaki tangga.” Urainya.

“O ya ya, ini ilmu baru bagi saya.” Gumam saya dalam hati.

Berdasarkan data statistik tahun 2011, dari 39 juta jiwa tunanetra dunia ini (www.npbc.org.sa/numbers.htm), 90% di antaranya adalah warga negara berkembang (www.skynewsarabia.com/web/article/312318). 12% dari mereka penduduk timur tengah dan Maroko.

Kala jalan-jalan ke pusat kota (Medina), beberapa kali saya menemukan banyak tunanetra mengemis. Walau masih muda, mereka duduk mematung dan menengadahkan tangan memegang kardus atau plastik sumbangan. Terutama di dekat Bank Magrib yang sampai kini masih renovasi. Tak jauh dari bunderan Rue Soekarno-Rabat Mereka duduk terpencar hampir tiap seratus meter. Bahkan Rabu silam (6/1) saat berlari ke Medina, sekitar seratusan tunanetra berkumpul untuk berdemo di depan Gedung Parlemen Maroko. Entah apa yang mereka suarakan kepada pemerintah. Saya tidak begitu memperhatikan dengan baik, karena sedang ada misi pengejaran copet bis kota.

Jika mereka mengemis, teman saya ini sama sekali tidak.

***

Alhamdulillah, meski di pojok, akhirnya kami duduk berdampingan di jejeran kursi terdepan. Beberapa dosen jurusan Islamic Studies duduk di samping kami.

Karena acara belum dimulai, saya mulai mengobrol dengan Muhammad El-Wadhdhah. Kalau di kampungnya biasa dipanggil Al-Habib.

“Aina taskunu ya Nour Hakim?”

“Saya tinggal di Nahdha 2th. Wa inta?”

“Saya di Sale (baca: Sela) kamu tahu Sela?

“Ya, terakhir kami ke Sale-Rabat Airport, awal Desember lalu. Rumahmu dekat dari situ?”

“Dekat atuh (kalau kata, atuh, itu dari saya ya he he). Kurang lebih 2-3 km.”

“Dari Medina ke rumah saya naik Tram line-2.” Dia melanjutkan.

“Caranya, dari Bab Rewah Station dekat kampus ini naik tram Line-1 sampai Bab Joulan Station, turun di situ. Lalu pindah ke Bab Joulan 2, naik Tram line-2. Atau turun di La Marisa, lalu pindah ke Tram Line-2. Pokoknya kata kuncinya, Line-2 Tramway, turun di station terakhir. Pergantian line tidak perlu bayar lagi kok.”

“Kalau kamu mau ke bandara lagi, naik tram Line-2 itu saja. Nanti turun di station paling akhir (Hassan II). Dari situ kontak saya, nanti teman saya akan mengantarkan sampai bandara pakai mobil.”

Hah? baru saja ngobrol sebentar sudah menawarkan segala rupa. Saya tidak begitu menanggapi terlalu serius, karena beberapa kali saya berinteraksi dan mendapat tawaran baik dari orang Maroko, tapi rupanya hanya basa-basi.

Teringat di awal menemukan rumah kontrakan di Nahdha 2, teman Umar (anak tuan rumah) berjanji mengantar kami ke Taqaddum (nama pasar besar tradisional terdekat) untuk belanja kebutuhan kamar, seperti kasur, dan lain-lain. Kami saling tukar nomor hp, bersepakat berangkat sama-sama ke taqaddum jam 10 pagi besoknya. Start dari depan rumah tuan rumah kami.

“Kamu harus bareng dia, lalu biarkan dia yang beli dan menawar. Karena kalau pedagang tahu orang asing yang beli, harganya akan dinaikin.” Terang Umar.

Apa yang terjadi besoknya? Boro-boro jam sepuluh. Bahkan jam sebelas siang kami telpon, berkali-kali tidak diangkatnya. Baru diangkat setelah tiga kali kami bolak-balik telpon.

Hisyam? Kaifa haluk? Aina anta?

“Hm…hoam. Ana fil gurfah. Kalian mau jalan?”

La haula wa la quwwata illa billah!

Ternyata dia baru bangun. Padahal kami sudah siap segala rupa. Kami lupa, bahwa kini kami ada di tanah Arab. Secara umum, ngaret adalah hal lumrah.

Itu pengalaman pertama setelah dua bulan cukup terbiasa (atau terpaksa) hidup di Eropa yang strict dengan masalah waktu.

***

“Sudah menikah?” Tanya Muhammad melanjutkan obrolan menjelang dimulai acara.

“Alhamdulillah, lima tahun silam.”

“Wah sudah lama. Sudah punya anak?”

Ah, pertanyaannya kok privasi banget.

“Belum ditakdirkan. Saya mohon doanya ya. Mudahan segera dipercaya oleh Allah. ”

Kalau menjawab pertanyaan demikian, saya selalu sekalian memohon doa. Kita tidak tahu dari mulut orang saleh mana doa terkabul.

“Oh, sama. Saya juga belum punya anak. Bahkan saya sudah tujuh tahun menikah belum dikaruniai keturunan.”

O ow. Saya perhatikan wajah dia lebih serius, lalu melanjutkan obrolan. Apa saja yang diobrolkan? Sssst. Ini urusan laki-laki ya ha, ha, ha.

Dia menyarankan minum madu, habbah sauda (jinten hitam), terapi sengat lebah, bekam, dan sejumlah terapi alternatif lain. Saya balik menyarankan dia menerapkan foodcombining dan olahraga rutin biar segala hormon normal. Sebenarnya lucu, di acara seminar ini kami malah mengobrolkan masalah terapi alternatif. Lucunya lagi, masing-masing dari kami menawarkan terapi yang sudah dijalani.

Paparan berikutnya ini yang membuat saya tercenung haru.

“Tapi saya punya Kuttab Qurani (Sekolah Al-Quran) Muridnya sekarang 120 anak didik. Beberapa generasi sudah ada yang hafal Al-Quran. Bukan mesjid, tapi rumah yang saya jadikan langgar Al-Quran. Sudah lebih dari sepuluh tahun berdiri. Tiap jam 2 sore anak-anak datang sampai magrib. Gelombang kedua, dari magrib sampai kira-kira jam 9 atau jam 10. Pada setiap pertemuan, mereka harus menghafal satu halaman ayat yang mereka tulis sendiri di lauhah (kayu tulis khusus). Ini metode tradisional ala Maroko dalam menghafal Al-Quran.”

Dia menjelaskan panjang lebar tentang langgarnya.

“Kapan kamu ada waktu untuk berkunjung ke langgar saya? Tentukan saja harinya. Sabtu, Ahad, atau Senin, pas tidak ada jadual kuliah. Biar kamu lihat aktifitas kami.”

Saya yang terpesona dengan paparan dia langsung terperanjat mendengar ajakannya. Ini ajakan orang saleh. Berkali-kali dia mengajak.

“Kalau hari Sabtu ba’da magrib, ada Syaikh yang menyampaikan pelajaran kaidah tajwid.”

“Bawa istri kamu sekalian. Dia bisa bahasa Arab ‘kan?”

“Bisa.”

“Nah, biarkan dia nanti ngobrol sama istri saya.” Tegasnya.

Tadinya berburuk sangka (astagfirullah), sekarang tidak. Dari ceritanya saya merasakan kejernihan dan ketulusan hatinya. Benar kata Umar bin Abdul Aziz bahwa ucapan yang terungkap dari hati akan meresap sampai ke hati.

Jika satu dari 4 lantai rumah dia wakafkan untuk langgar anak-anak menghafal Al-Quran dengan tanpa bayaran, apalagi langgar itu didirikan di lingkungan yang katanya dikenal zona hitam, maka dia bukan orang biasa-biasa di mata para penghuni langit. Dia berhati surga walau tunanetra.

“Saya ingin mengubah kampung ini dengan cahaya Al-Quran.” Ucapnya ketika kami berkunjung ke sana. (Ceritanya akan ada di seri berikut) 

Terharu rasanya.

Ceritanya itu menguatkan kembali cita-cita kami berdua sepulang merantau nanti, yaitu mendirikan Rumah PINTAR (pusat belajar Al-Quran, baca gratis, kelas bahasa asing, homestay musafir, dan sebagainya)

Mendengar untaian kata yang mencerminkan ketulusan hati, kebersihan niat, dan kebeningan nuraninya, saya teringat sosok Abdullah bin Umi Maktum. Seorang tunanetra sahabat Nabi Saw. yang diangkat menjadi salah seorang muadzdzin (petugas adzan) Rasulullah Saw.

Dia semangat mencari ilmu, mengais nasehat, dan menyerap petuah beliau Saw. Saking semangatnya, Abdullah bin Umi Maktum datang kepada Rasulullah Saw. dan memohon nasehat beliau ketika sedang mendakwahi pembesar-pembesar Quraisy. Pantas saja oleh Nabi Saw. diabaikan. Tapi beliau Saw. ditegur oleh Allah lewat surat Abasa (QS Abasa [80]: 1-10)

1. “He frowned and turned away,”
2. “Because there came to him the blind man.”
3. “And what would make you know that he might (spiritually) purify himself,”
4 “Or become reminded so that the reminder might profit him?”
5. “As to one who regards himself self‑sufficient,”
6. “To him do you address yourself!”
7. “Though it is no blame on you if he would not (spiritually) purify himself.”
8. “But as to him who comes to you striving hard,”
9. “And he fears (Allah in his heart),”
10. “Of him wast thou unmindful.”

Ya Rabb, bersihkan niat kami, kabulkan cita-cita kami mewujudkan rumah Pintar untuk mencetak generasi Qurani. Restui langkah kami seperti langkah sosok tunanetra berhati Surga ini.

Amin ya mujibassa’ilin.

Rabat, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H/10 Januari 2016

Honeymoon Diaries: Ban Bocor

Hari Sabtu yang menyenangkan, meski diwarnai kisah ban bocor sebanyak dua kali.

Yang pertama di Buah Batu (lalu ditambal). Yang kedua -untungnya- di Balaikota Bandung dan cuek saja diparkirkan karena mempertimbangkan acara yang sudah dimulai. Kami lalu ngacir ke GAPURA, powered by Google.

Materi dibagi beberapa sesi. Materinya seru-seru. Tinggal mengaplikasikan ilmu yang didapat. Mudahan sebagian materi yang mengesankan juga bisa saya tulis di sini. 🙂

Jam 5 sore acara Google kelar. Tentu saja foto-foto heboh dulu dengan teman-teman blogger Bandung.

I love you, girls! 🙂

“Pulang yuk,” kata si Aa setelah beres memotret istri dan teman-temannya.

Kami melangkah beriringan. Saat tiba di parkiran seketika tersadar. Ban kami kan bocor lagi! Hahaha.

Continue reading

Wefie: Rayakan Sembuh di Brugge

 

Wefie rayakan sembuh di Brugge! :)

Wefie rayakan sembuh di Brugge! Saking susah foto dengan tangan sendiri, si Aa nyengir kuda! 🙂

Rayakan Sehat di Brugge!

Tak pernah terbayangkan, jika #DakwahBackpacking dan #HoneymoonBackpacking di tahun 2014 dipenuhi sederet ‘drama’ dan musibah.

Salah satunya adalah ambruknya saya sampai akhirnya dilarikan ke Luisen Hospital di Aachen, Jerman.

Penyebabnya?

Continue reading

Berbakti Tak Harus Terhenti

Berbakti Tak Harus Terhenti.

Senin pagi saya terkaget-kaget saat istri setengah berteriak dari depan layar computer,

“Aa, ayahnya Mbak Andri meninggal dunia.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Timpalku spontan.

“Kapan?”

“Tadi malam.”

Kami berpandangan, lalu sama-sama berdoa.

Sejenak larut dalam sedih. Sembari merenungi misteri kematian yang datang menjemput manusia tanpa pandang bulu.

Terkadang kita sendiri seolah tidak percaya saat kematian datang kepada orang yang kita cintai. Sama kasusnya seperti yang pernah dialami Umar bin Khattab di hari wafatnya Nabi Muhammad Saw., sang Rasul panutan tercinta.

“Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, aku penggal lehernya.” Ancam Umar saat itu.

“Muhammad tidak akan mati.” Lanjutnya antara sadar dan tidak.

Continue reading

Meninggalkan Maroko, Menuju Tunisia

BERTEMAN

Dalam pesawat Tunisair jenis airbus yang mengantarkan saya bersama 180-an penumpang lain dari Casablanca menuju Tunis Cartagena, seorang anak muda dari Temara, Rabat membacakan sebuah ungkapan yang menarik perhatian saya. Dia bilang ungkapan ini bersumber dari Abdul Qadir Jaelani, tapi seingat saya, sumbernya berasal dari Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari.

Begini ungkapannya,

اصحب من يُنهضك حاله، ويدلك على الله مقاله.

“Berkawanlah dengan orang yang sikapnya (membantu) kita untuk bangkit -(dari keterpurukan), membuat (kita) lebih bersemangat meniti kehidupan bermartabat, lebih memotivasi merenda hidup yang lebih baik, lebih terdorong menanam manfaat lebih banyak bagi semesta, lebih giat mengais rezeki, lebih rajin mencari ilmu, dan sebagainya- dan ucapannya selalu menunjukkan kita pada Allah Swt.”

Saya lalu mencatat pesan tersebut di buku agenda 2014 berwarna coklat muda yang sengaja saya beli di Maktabah Alfiyah, Medina-Rabat Senin silam, persis sebelum menghadiri ceramah umum Dr. Aidh Al-Qarni bertema, La Tansa Dzikrallah, JANGAN LUPA DZIKRULLAH! di Kampus Fakultas Sains, tak jauh dari kampus Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Muhammad V, tempat saya menumpang kuliah selama di Rabat.

Menghadiri secara langsung ceramah memukau dan menggetarkan dari seorang ulama, dai, intelektual muda, dan penulis buku best seller internasional LA TAHZAN (don’t be Sad, Jangan bersedih!) adalah salah satu pengalaman berkesan jelang meninggalkan Maroko (8/01) Continue reading

Surat Untuk Ibu

Surat Untuk Ibu

Salam,

Wah, sudah lama sekali kami tidak berbagi cerita di sini. Secara pribadi, saya akhir-akhir ini justru banyak menunaikan aktifitas di luar. Terutama setelah muncul ‘surat cinta’ Senin dua minggu silam dari Dikti Tunis.

“Alhamdulillah, istri tersungkur sujud seketika.” Tulis istri turut haru membaca beritanya.

“Alhamdulillah..” saya turut sujud syukur.

Di satu sisi, kabar itu sungguh berkesan dan mengharukan karena muncul setelah penantian yang sangat panjang. Penantian yang menyebabkan saya ‘terdampar’ di negeri pinggiran Samudra Atlantik selama dua bulan lebih, bahkan membuat kami terpisah bentangan benua.

Namun di sisi lain, kabar ini agak membimbangkan karena muncul saat hati saya tertambat nuansa ilmu kota Rabat. Ketika saya perlahan mulai mengubah haluan karena pengumuman tak kunjung keluar. Kala saya mulai menikmati perkuliahan interaktif ala kampus Universitas Muhammad V ini.

Bagaimana tidak menikmati, di kelas hanya ada bahasa Arab fusha. Posisi meja dan kursi dipola membentuk leter U. Setiap pertemuan setidaknya terdiri dari empat sesi. Pertama, kuliah dari dosen. Kedua, presentasi dari mahasiswa. Ketiga, diskusi. Keempat, arahan, bimbingan, dan kesimpulan dari dosen. Memang tidak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia, saya pikir. Agaknya, perbedaan menonjol terletak pada bahasa pengantar, kapabilitas, dan keaktifan dosen.

Mana yang harus dipilih?

Memilih salah satu dari dua impian besar yang tidak mungkin diambil kedua-duanya memang sulit. Di sinilah fungsi shalat istikharah yang diajarkan Rasulullah Saw. Memohon pertolongan Allah Swt. dalam menentukan pilihan yang terbaik menurut-Nya.

Jadi memilih yang mana?

Insya Allah, Tunis!

Apa pertimbangannya?

Nanti saja saya ceritakan ya, sebab sekarang saya tak tahan ingin menulis surat untuk sosok tak tergantikan di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan IBU. Kenapa tidak tergantikan, sebab dia yang melahirkan, membesarkan, mendidik, tiada putus dan bosan mendoakan kebaikan untuk kita tanpa pamrih.

SURAT UNTUK IBU

Bagiku, engkau adalah sumber doa dan harapan. Engkau makhluk paling telaten merangkai doa, menanam asa, memupuk cinta. Engkau hamba Allah paling sabar merenda benang cita-cita. Paling tekun membentuk generasi.

Aku selalu ingat,

Kala masih kecil, engkau rajin menyiapkan segelas susu campur telor ayam kampung mentah untukku kala sore. Bahkan sampai menyusulku jika sedang bermain di lapangan bola;

Engkau menyiapkan segelas susu hangat 10 menit sebelum adzan subuh kala anakmu ini ada jadual private belajar seni baca Al-Quran ba’da subuh di mesjid dekat rumah;

Engkau memesankan mie bakso kesukaan anakmu ini saat les private bahasa Arab dari salah seorang ustadz di tempat tinggal kita. Anakmu ini bosan mengikuti les itu, tapi luluh juga karena mie bakso J;

Engkau bangun subuh lebih awal dan membangunkanku dengan cara menyetel murattal Syaikh Abdullah Al-Matrud dengan lembut sayup-sayup. Sampai aku hafal dan bisa menirukan gaya bacaannya. Hingga kini, Ma!;

Engkau mengajak dan menuntunku mengikuti pengajian Ahad pagi di mesjid Gumuruh yang membludak penuh;

Engkau mengantarku yang masih usia SD ke depan pintu shaf khusus laki-laki. Menitipkanku pada siapa saja yang duduk di shaf depan. Kemudian engkau meninggalkanku untuk bergabung bersama para jamaah wanita. Aku paling kecil sendirian duduk memperhatikan gerak gerik sang Kyai memaparkan materinya, meski hanya mampu menyerap sedikit saja materi sang Kyai karena menyasar kelas dewasa;

Engkau mengingatkanku,

“A, lima menit lagi waktu shalat.”

Itu berarti isyarat agar aku bersiap untuk mengumandangkan adzan di mesjid yang berjarak 50 meter saja dari rumah;

Engkau menegur makhraj dan tajwid bacaan Al-Quran-ku yang belum tepat. “Mamah tadi hanya mendenger ho, bukan kha dalam bacaan min khauf. Lain kali bisa diulang menjadi kho?”—seraya mencontohkan seperti mengeluarkan dahak. Aku mengangguk manyun. J;

Aku selalu ingat,

Kalau pulang liburan dari pondok, engkau kerap menyiapkan makan malam, lalu duduk dan bercerita kisah perjalanan sekolahmu yang hanya sampai SMP. Kemudian bergumam, “Mamah pengen sekolah tinggi, tapi kondisi keluarga tidak mengizinkan. Apalagi ketemu bapak dan menikah.”

“Teruslah sekolah sampai perguruan Tinggi. Lanjutkan cita-cita Mamah!”

Aku tak pernah lupa,

Selesai Aliyah dan diterima kuliah kelas persiapan bahasa Arab (I’dad Lughah) di LIPIA Jakarta yang penuh perjuangan, sebab sering harus bangun dini hari demi mengejar beberapa tes pagi-pagi di Jakarta karena dulu belum ada travel dan belum dibuka jalur tol cipularang.

Engkau memelukku erat sembari mata berkaca-kaca.

”Mamah bahagia cita-cita Mamah terwujud olehmu.”

Aku selalu terkenang,

Saat pertama kali membaca pengumuman kelulusan beasiswa DEPAG untuk kuliah s1 di Universitas Al-Azhar Mesir, sengaja saya tidak menelponmu. Aku ingin membuat kejutan untukmu. Makanya aku langsung bawa surat resmi dari DEPAG. Aku ingin memperlihatkan langsung surat itu padamu.

Aku segera pulang dari Jakarta. Sesampai rumah, aku ketuk pintu,

“Assalamu’alaikum, Aa pulang.”

“Wa’alaikum salam..”

Aku mencium tanganmu, lalu memelukmu. Seperti biasa.

Aku langsung mengeluarkan suratnya.

“Ini persembahan untuk Mamah!”

“Apa ini?”

“Mangga dibuka we…”

Setelah di buka,

“Ya Allah…….alhamdulillah….”

Engkau spontan bersujud syukur. Meluapkan kebahagiaan dengan sujud. Persis seperti yang aku lakukan saat pertama kali mendengar namaku tertera di pengumuman kelulusan.

Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu!

Terima kasih Mamah, engkau telah mengajarkan cara mengekspresikan kebahagiaan sesuai tuntunan Rasul-Mu.

Kita dibalut haru saat itu.

***

Dengan apa yang masih aku ingat saja, membuatku ingin terus mempersembahkan bakti terbaik untukmu, Mah. Setulusnya. Selamanya. Belum lagi jasa yang tidak aku rasa dan ingat. Ah, terlalu besar jasa dan pengorbananmu.

Sangat layak Rasulullah Saw. menegaskan tiga kali hak bakti dari anak kepadamu. Ketika sahabat bertanya, siapa yang paling berhak aku persembahkan baktiku? Beliau menjawab, “Ibumu” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Bapakmu.”

Terima kasih atas jasamu yang sedari kecil tekun membimbing, ‘memaksa’-ku les bahasa Arab, membangunkanku saat subuh untuk belajar AlQuran dari ustadz, membetulkan makhraj bacaan yang belum tepat, menyiapkan segala keperluan, mendoakan yang terbaik untukku, dan sebagainya..dan sebagainya…

Rabbanaghfir lana wa liwalidiina warhamhuma kama rabbayaanaa shighaara.

“Duhai Rabb, ampuni kami, pun kedua orangtua kami. Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semasa kecil.”

Pojok Kota Rabat, 22 Desember 2013

Berkelana!

Berkelana!

Saya pernah terluka…
Sangat nganga, terpuruk, terhina.

Saya sempat tidak keluar kamar berhari-hari,
enggan bertemu orang banyak,
dan menganggap dunia sudah berakhir.

Saya menangis,
hingga sembab, hingga bengkak,
saya putuskan menghabiskan seluruh rasa,
yang mengalir melalui kedua mata,
agar tak bersisa,
rasa sakit yang mendera…

Setelah berminggu-minggu,
saya ingin keluar kamar,
berjalan-jalan,
menghirup udara yang berbeda,
bersua kenalan baru,
menyapa kawan lama,
meraih energi positif yang melimpahi mayapada.

Sebulan,
dunia begitu muram di mata saya…

dua bulan,
dunia tak ramah pada saya…

tiga bulan,
dunia bukan tempat tinggal yang nyaman untuk saya!

Saya memutuskan pergi,
meninggalkan Indonesia,
nekad menghabiskan seluruh tabungan yang ada,
membeli tiket pesawat ke negeri yang jauh,
setengah tak bersemangat,
hanya ingin pergi sejauh mungkin,
dan berharap ribuan langkah berjalan,
akan menghapus jejak-jejak luka,
agar lupa sakit yang bersarang di dada.

Saat itu saya tak berharap banyak,
hanya ingin mengembara seorang diri,
menjelajah tiga negeri…

Pada akhirnya…,
tiga bulan berkelana seorang diri di tanah asing mengajarkan saya banyak hal;

Bahwa berkelana mengobati luka,

bahwa berkelana mengembalikan percaya,

bahwa berkelana menumbuhkan rasa berharga,

bahwa berkelana melahirkan ribuan kata,

bahwa berkelana pertemukan kita dengan keindahan semestaNya,

bahwa berkelana membuka pintu-pintu bahagia,

dan berkelana, di ujung cerita,
mempertemukanku dengan belahan jiwa!

Usah luka terlalu lama,
berjalanlah,
sembari merenung,
hitung nikmat-nikmat kecil,
keajaiban sehari-hari,
dan limpahan kasihNya,
dan akan engkau sadari,
perjalanan mengutuhkan kembali keping-keping dirimu dengan sempurna.

Berkelana itu melahirkan dirimu kembali!
***

PS.
Berkelana di sini benar-benar berjalan dengan gaya sederhana, ala musafir!

Bukan berjalan ala turis ya, kemana-mana sudah ada yang mengatur, tidur di hotel berbintang dan seterusnya.

Dan berkelana ini butuh waktu pengembaraan yang tidak bisa sebentar ya, minimal dua minggu lah, supaya ada ruang dan waktu untuk banyak merenung dan berpikir mendalam.

Coba deh! 🙂