Cinta dan Perjalanan

Cinta dan Perjalanan.

2014 sudah dua hari berjalan.

Tak ada perayaan, karena tak diajarkan pula oleh baginda Rasulullah tercinta untuk mengkhidmati awal tahun masehi. Cukup mengingat saja, bahwa dunia sudah semakin renta. Artinya harus kembali bertanya kepada jiwa, apa yang sudah kita sumbangkan untuk kebaikan anak cucu di alam fana?

Saya memutuskan kontemplasi, apa saja yang sudah saya lalui sepanjang 2013, apakah penuh manfaat atau justru penuh madharat?

***

Alhamdulillah, beberapa milestone dicapai pasangan Honeymoon Backpacker:

1. EGYPT TRIP bersama @MozBackpackTrip, pada tanggal 21 sampai 31 Maret 2013

Di akhir Februari 2012, satu tahun pernikahan kami, saya sempat berujar pada Aa, “Aa, awal menikah kita mulai semuanya dari nol. Benar-benar dari nol, tidak punya apa-apa. Rumah saja harus ngontrak, sudah jalan satu tahun. Tapi…, Aa tahu aku kan. Muslimah petualang, yang senang berkelana hingga jauuuh.

Sayang, aku ingin sekali kita bisa berkelana berdua. Sejauh yang kita bisa, menapaki sejarah Islam klasik. Kembali ke Mesir… Mengunjungi Tunisia, mendatangi Maroko, lalu menyeberang ke Spanyol!

Tidak apa-apa belum bisa pergi sekarang, tapi insyaAllah kita akan sampai ke sana ya, A?

Continue reading

Advertisements

Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakanΒ Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis πŸ™‚

Bagaimana tidak, sejak awal itineraryΒ rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal πŸ˜€

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. πŸ™‚

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! πŸ™‚

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya πŸ˜‰

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”

Sepotong Rindu di Pembaringan

Suatu malam, saya berbisik-bisik dengan Aa di pembaringan.

Ya, setiap akan membincangkan sesuatu yang serius, kami merasa harus mengecilkan suara karena kamar tamu ini minim barang, suara akan menggema dan terdengar ke kamar adik-adik mahasiswa di sebelah. πŸ™‚

“Aa, sudah kangen tanah air kah? Semalam aku bermimpi keluarga di Indonesia. Rupanya aku mulai kangen semua yang ada di Indonesia.”

“Iya, Aa juga kangen…”

“Tapi baru dua negara kita jelajahi, bukankah kita ingin menulis buku Honeymoon Backpacker’s Series? Selain itu, aku ingin melihat banyak negara baru bersamamu, A!”

Aa menggenggam tanganku…

“Kamu tahu apa yang sudah kita korbankan untuk semua mimpi ini. Ayo terus berjalan. Habisi semua negara yang ingin kita datangi. Aa juga akan mengejar mimpi meneruskan kuliah di universitas berkualitas dan cepat lulus. Salah satu tujuan backpack kita kan mencari kampus untuk Aa.”

“Iya ya, kita tidak boleh surut. Rindu adalah candu sekaligus cambuk yang dahsyat untuk berbuat yang terbaik bagi kerabat yang kita tinggalkan di tanah air.”

Kami saling merapatkan diri. Memeluk harapan dan mimpi.

Allah…
Tak terasa sudah dua bulan kami menjelajah negara-negaraΒ less famous and less touristsΒ terutama di kalangan anak muda Indonesia.

Tidak ada sponsor, kecuali uluran keramahan dari sahabat-sahabat yang kerap kami temukan di perjalanan atau di socmed. Mereka tulus menawari menginap di rumah mereka. Gratis merebahkan tubuh di kasur mereka, menggunakan air hangat untuk mandi, listrik untuk menyalakan laptop dan kompor gas untuk memasak pengganjal perut kami.

Boleh dibilang kami sudah seperti orang gipsi.
Jika mereka berpindah-pindah hutan, lembah dan desa, maka kami berpindah-pindah kota dan negara sambil menggembol ransel kami.

Sebelum memejamkan mata saya merapal doa dan meneguhkan mimpi, mudahan perjalanan panjang kami melahirkan ribuan inspirasi dan hikmah bagi semesta, ya Rabb!

Menunggu dari Cairo!

Alhamdulillah, sebagian Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria, gunung Sinai, Siwa dan Matrouh telah kami jelajahi. Akan tetapi, Allah memberi kami begitu banyak waktu di negeri ini. Di satu sisi, saya dan Aa begitu senang diberi tambahan waktu ‘illegal‘, namun di sisi lain, hati menjadi tak tenang!

Ketenangan hati adalah salah satu kunci utama keberhasilan perjalanan ‘honeymoon backpacker‘ ini πŸ™‚

Saat ini kami masih memupuk harap, visa Tunis kami segera keluar, di rentang masa menunggu dalam ketidakpastian. Kami mengajukan aplikasi 11 April lalu, sampai blog ini ditulis, terhitung sudah 15 hari kami menunggu dalam ketidakpastian! 😦

Menunggu dan serba tidak pasti itu adalah sepasang kata sifat yang sangat tidak menyenangkan untuk disandingkan bersama-sama, kemudian dikudap dalam waktu yang tidak ditentukan!

Apalagi visa Mesir kami telah berakhir sejak 23 April lalu. Dengan bumbu rasa khawatir, kami mengecek ke KBRI, Alhamdulillah ternyata ada masa tenggang 1 bulan tanpa visa, tapi kami akan dikenai denda di bandara sebesar 150 LE/orang.

Barangkali ada yang bertanya, kenapa tidak memperpanjang visa?

Kami sangat ingin memperpanjang visa Mesir kami di ‘mogamma’ (bagian imigrasi Mesir), akan tetapi paspor kami masih ‘tertahan’ di kedutaan Tunisia, tentu perpanjangan visa kami juga tidak bisa diproses tanpa paspor. Ahad nanti kami akan ke kedutaan Tunis kembali, untuk mengambil sebuah keputusan!

Mona -salah satu petugas konsuler di kedutaan Tunis rajin berujar, “Come back on Thursday, we will see…”

Faktanya sungguh mengesalkan. Hari kamis kemarin adalah hari pembebasan Sinai (dari cengkeraman tentara Israel), tentu saja tanggal Merah di negeri ini! Arrgh! Jum’at Sabtu adalah weekend di sini, serupa Sabtu Ahad di Indonesia! Duh, we have no choice, we have to back not on last Thursday, but Monday or Sunday! 😦

Di sisi lain, saat ini Aa terbaring sakit (sepertinya ketularan virus dari saya). Semula hanya jerawat kecil di atas bibir, lama-kelamaan bibir bagian atas ‘mengembang’, hingga maju sekian senti, Aa bilang, “Sudah kayak Suneo saja, Shizuka masih mencintai Suneo inikah?”

Ah Aa, sedang sakit saja masih bisa bercanda πŸ˜€

Kasihan Aa, suhu tubuh kerap meninggi diiringi feeling guilty beliau, “Sakitku memaksa kita menghentikan backpack untuk sementara waktu. Maafkan aku ya, Sayang.”

“Aa gak boleh bicara seperti itu. Kemarin aku sakit mulai 17 April lalu, hampir seminggu kemudian baru sembuh. Aa telaten dan sabar merawatku, hiks… Sekarang ‘giliran’ Aa yang sakit, insyaAllah Aa akan segera sembuh, asal minum obat teratur, istirahat yang cukup dan tidak memikirkan hal-hal negatif segala rupa!” Aa kupeluk.

Kami saling memeluk.
Jauh di negeri orang, diuji beberapa hal sekaligus dan bergantian sakit, sungguh mendekatkan kami sedekat-dekatnya. Honeymoon backpacking ini terasa begitu komplit dan ‘sempurna’ dalam ketidaksempurnaan.

Bukankah ketulusan dan cinta sejati bisa dirasakan dalam situasi paling tidak menyenangkan bagi sepasang jiwa?

Begitu banyak yang Aa korbankan hingga kami bisa memulai ‘Honeymoon Backpacker‘ ini. Alangkah naifnya jika hanya karena sakit beberapa masa dan masalah visa Tunis yang tak jelas kapan selesainya ini kemudian membuat semangat kami berdua melemah dan terbetik pikiran untuk menyerah, kembali ke tanah air saja?

Aku kasihan melihat Aa yang lemah.
Saat ini berbaring tak berdaya.
Kerap kuusap kepalanya, sekadar meringankan rasa pusing yang membebat kepala.
Biasanya Aa paling suka kupijat, namun kali ini menjerit kesakitan dengan pijatan selembut apapun 😦

Berharap Allah segera menyembuhkan beliau -selain royal jelly, madu, antibiotik dan parasetamol yang terus diminum untuk meringankan rasa sakit.

Bagaimanapun, kami harus segera mengambil sikap tegas dan kembali berjalan -setelah Aa sembuh tentu saja- meski visa Tunis tidak berhasil kami dapatkan.

Buat kami, masih banyak negara lain yang juga layak dieskplorasi selain Tunisia, yang terkesan jual mahal saat ini. Bayangkan, surat sakti bernama ‘diplomatic calling visa‘ yang dibuatkan untuk kami berdua (oleh Indonesian Embassy in Tunis) bisa mereka abaikan! Hubungan diplomatik macam apa yang sebetulnya ingin dibangun kedutaan Tunisia di Cairo dengan Indonesian Embassy di Tunisia?

Di sisi lain, kami sangat berterima kasih atas bantuan Abang Zulfikar, Kang Dede dan istri serta staf KBRI Tunisia yang sudah bahu-membahu terlibat dalam ‘melahirkan surat sakti’ untuk kami.

Jujur kami sangat terharu, mengingat kami bukan siapa-siapa. Hanya sepasang musafir kelana yang ingin melihat lebih banyak, belajar lebih banyak dan berbagi lebih banyak.

Teman-teman di Tunisia, mohon maafkan kami jika akhirnya nanti kami harus memutar haluan tidak jadi ke Tunis 😦
Kami tidak mungkin bertahan terus-menerus dalam situasi penuh ketidakpastian ini 😦

Saya dan Aa sudah memutuskan, kami akan menunggu visa Tunis sampai hari Senin besok, jika kedutaan Tunis tetap tidak bisa memberikan jawaban (dengan alasanΒ Waaziratud dukhuul belum memberikan jawaban atas aplikasi visa kami), kami akan mundur dan terbang menuju negara lain saja.

Pada akhirnya, kami tidak nyaman tinggal di Mesir berlama-lama tanpa visa. Kami harus kembali bergerak, melanjutkan perjalanan ini, meski harus kehilangan tiket pesawat Cairo-Tunis-Casablanca (termasuk sejumlah denda di Cairo Intl Airport nanti).

Welcome to this unpredictable country, Ima!

Anyway, we’re honeymoon backpackers!
We wont ruin our own honeymoon, whatever happened in front of us, we will continue our honeymoon journey!

Bismillah, insyaAllah…!

Honeymoon Backpacker Begins!

KENAPA ‘HONEYMOON BACKPACKER’?

Bismillaahir rahmaaanir rahiim.

Akhirnya blog ini kami lahirkan πŸ™‚

Honeymoon Backpacker adalah mimpi kami berdua.

Sejak awal menikah, kami bersemangat menghidupi mimpi ini. Ide perjalanan ini bahkan ‘dilamar’ sebuah penerbit (lalu ditunda bertahun-tahun lamanya,) hingga bisa terwujud saat ini. Semua diawali dari lahirnya Komunitas Muslimah Backpacker dari batok kepala sejak setahun lalu.

Terselenggaranya MB EGYPT Trip 21-31 Maret lalu mengantarkan kami berdua ke bumi para Nabi ini.

2-karnak

MB di Abu Simbel, 26 Maret 2013

5-sinai

MB di puncak gunung Sinai, 30 Maret 2013

aswan-nice

MB di Aswan, 26 Maret 2013

with muslimahbackpacker on pyramid

MB di Piramid Giza, 23 Maret 2013

Ya Rabb! Maha Suci Ia yang telah memperjalankan kami!

Sungguh, betapa berliku perwujudan sebuah mimpi dan betapa hebat Aa Risyan Nurhakim, Lc bersedia mendukung penuh mimpi-mimpi kami.

Bukti support paling hebat beliau adalah, Aa berkenan berhenti bekerja dari al-Imarat untuk 3 bulan ke depan (meski insyaAllah) jika tak ada aral melintang Aa akan kembali ke sana jika backpack telah berakhir dan Imarat Bandung masih berkenan menerima beliau, anyway, we’ve decided to take that risk! πŸ™‚

Saat kami tiba di Cairo International Airport pertama kali, perasaan haru meliputi kami berdua.

P1290313 - Copy

Dulu, di awal 2004 Aa tiba di bandara yang sama seorang diri, begitu juga dengan aku yang mendarat sendirian di tahun 2010. Kami bahkan belum saling mengenal secara mendalam πŸ™‚

Tapi sekarang, kami menjejakkan kaki kembali di bandara yang sama dan berstatus suami istri, memutuskan saling menghormati, saling mendukung dan saling menikmati perjalanan panjang menggembel ala ‘Honeymoon Backpacker‘ ini, bismillah πŸ™‚

Jika selama ini definisi ‘honeymoon‘ menurut orang Indonesia identik dengan destinasi-destinasi cantik, mewah, anggun sekaligus mahal seperti Paris, Venice, Bali, London, New York, Tajmahal dan lain-lain, kami berdua ingin membuktikan, bahwa ‘honeymoon‘ pun bisa dilakukan dengan biaya murah di destinasi-destinasi murah. Afrika dan sebagian Timur Tengah akhirnya menjadi tujuan kami, menumpang menginap di beberapa kerabat, sahabat atau bahkan di penduduk lokal asli menjadi cara menghemat kami πŸ™‚

Sebulan terakhir sebelum ke Mesir, saya ‘ditakuti-takuti’ oleh beberapa orang (yang akhirnya saya batalkan tidak menjadi tim kepanitiaan MB EGYPT Trip), mereka menyampaikan bahwa segala sesuatu di Mesir saat ini serba MAHAL! Konon katanya, harga-harga melambung tinggi!

Sampai detik ini, sudah 13 hari kami di Mesir, secara umum harga bahan makanan, transportasi dkknya ternyata masih normal, bahkan buah-buahan dan sayur-sayuran (termasuk bawang putih!) sungguh berlipat-lipat lebih murah dibandingkan di Indonesia!

Mulutmu harimaumu, Kawan!
Be careful!

***

MB EGYPT TRIP Ended and HONEYMOON BACKPACKER Begins!

Alhamdulillah, meski ada kekurangan di sana sini, secara umum kami merasa berhasil menjadi pengawal ‘Muslimah Backpacker’s EGYPT Journey’ selama 10 hari, khususnya jelajah Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria, Sinai Mountain dan Sharm el Sheikh. Setelah kami pastikan seluruh peserta sudah kembali ke tanah air tercinta, kami putuskan beristirahat nyaris dua hari dua malam di rumah salah satu teman baik Aa, tepatnya di Build. 38 Flat 1 No 1, Distrik Saqr Quraisy, Nasr City, Cairo.

Sempat terpikir ingin menginap satu malam saja di salah satu hotel berbintang, tapi kami teringat kembali, perjalanan kami baru saja dimulai. Setiap rupiah yang kami tabung 3 tahun terakhir (semenjak menikah) sangat berharga untuk perjalanan ‘Honeymoon Backpacker’ 3 bulan ke depan, InsyaAllah!Β πŸ™‚

Di sisi lain, tuan dan nyonya rumah kami amat pandai memuliakan tamu. Kami bak dilayani hotel bintang lima, Allah Maha Baik, insyaAllah Allah yang akan membalas budi baik mereka, Allahu Rabb!

Malam pertama tiba di rumah mereka, kami dijamu ayam dimasak rendang, tahu bacem, nasi putih pulen, rebusan sayur Gargir (sayur hijau khas Mesir, kombinasi sayur katuk dan bayam), buah pisang dan lain-lain. Menu sangat Indonesia, lovely and delicious dinner! πŸ˜€

Tubuh dan mental kami yang kuyup kelelahan karena kawal peserta ‘MB EGYPT Trip’ 10 hari terakhir seakan ‘dibasuh sekaligus dikeringkan’ oleh sambutan Teh Eva dan Abang Rohmat, syukran ‘ala husni istidhafah πŸ™‚

Setelah itu, kami berdua meminta izin langsung masuk kamar yang telah mereka siapkan. Jujur mata kami terasa amat berat, apalagi perut terasa menghangat πŸ™‚

Saya dan Aa beriringan masuk kamar padahal masih pukul 22.00 CLT (Cairo Local Time). Lalu lelap pulas hingga pukul 6 pagi, ups! πŸ˜€

Hari kedua, tanggal 1 April 2013, aktifitas kami hanya makan, tidur, makan dan tidur kembali (jangan ditiru, hehehe).

Rasanya lelaaaah sekali, seperti tidak tidur satu tahun lamanya πŸ˜€

Ternyata, backpack membawa 16 peserta ‘MB EGYPT Trip’ amat berbeda dengan backpack seorang diri πŸ™‚

Ada tanggung jawab sangat besar yang harus kami sandang, sejak berbulan-bulan (sebelum tiba di Mesir) hingga 10 hari berjalan di bumi para Nabi πŸ™‚

Setiba di Mesir, nyaris setiap hari, saya dan tim baru bisa menghampiri kasur ‘budget flat / hostel’ pukul 3 dinihari. Kami harus rapat dadakan saban malam.

Kenapa harus seperti itu?

Karena adik-adik al Azhar yang akhirnya memutuskan membantu ‘MB EGYPT Trip’ baru terbentuk anggotanya persis 3 hari sebelum kedatangan 18 backpackers ini!

Kepanitiaan yang semula saya bentuk sejak di tanah air ternyata harus saya bongkar kembali hingga tiga kali. The stories (related to EO) behind the scene of this journey were so unpredictable and drawn my energy! πŸ™‚

InsyaAllah, saya, Aa dan adik-adik al Azhar belajar banyak hal sekaligus sepanjang mengelola trip ini!
Seluruh hal yang sudah terjadi di sepanjang trip sungguh tidak bisa dinilai dengan uang sebesar apapun, pada akhirnya, Pengalaman memang mahal harganya, dan pada akhirnya rizki tidak semata berbentuk uang bukan? πŸ™‚

***

Tanggal 2 April kemarin, saya dan Aa merasa pulih kembali. Kami memutuskan keluar dari sarang nyaman kami πŸ™‚

Honeymoon Backpacker kami buka dengan meminta surat pengantar dari KBRI untuk apply visa ke Tunisia.

Pasca revolusi, apply visa ke Tunisia untuk orang Indonesia diperketat. Ada banyak syarat yang harus kami lengkapi. Tak mengapa, kami masih 3 minggu di bumi kinanah ini, masih cukup waktu πŸ™‚

Kelar lapor diri dan mengajukan permohonan surat jalan untuk apply visa Tunisia sebesar $15 per orang ($30 untuk kami berdua), kami mampir ke toko sebelah (tidak jauh dari konsuler KBRI), Aa membeli sandal made in China (25 Le saja) dan sempat mampir ke toko Ranin, khusus menjual alat-alat rumah tangga. Rasanya kami membutuhkan ‘ricecooker‘ untuk menanak nasi πŸ™‚

Beres dari Ranin (dan saya belum memutuskan untuk membeli ricecooker) kami meluncur ke Madrasah, salah satu pasar tradisional terbesar di distrik Nasr City.

What a vibrant traditional market!

Saya dan Aa betah berlama-lama menawar panci, wajan, centong, sutil dkk, hehehe πŸ˜€
Ya, kami berencana memasak Soto Banjar untuk menjamu tim sukses ‘MB EGYPT Trip’, insyaAllah acara silaturahmi dan makan bersama akan kami adakan di flat Teh Eva dan BanG Rohmat tanggal 6 besok (jika tak ada halangan) πŸ˜€

***

Hari ini kami mau ke mana?

InsyaAllah akan jelajah aneka ‘maktabah‘ (toko buku), mudahan bisa dijadikan bahan ide dan naskah untuk ‘Travel Leisure Republika’ atau rubrik sejenis di majalah / koran lainnya πŸ™‚

Tunggu update hasil jelajah kami ya πŸ™‚

***