Cinta dan Perjalanan

Cinta dan Perjalanan.

2014 sudah dua hari berjalan.

Tak ada perayaan, karena tak diajarkan pula oleh baginda Rasulullah tercinta untuk mengkhidmati awal tahun masehi. Cukup mengingat saja, bahwa dunia sudah semakin renta. Artinya harus kembali bertanya kepada jiwa, apa yang sudah kita sumbangkan untuk kebaikan anak cucu di alam fana?

Saya memutuskan kontemplasi, apa saja yang sudah saya lalui sepanjang 2013, apakah penuh manfaat atau justru penuh madharat?

***

Alhamdulillah, beberapa milestone dicapai pasangan Honeymoon Backpacker:

1. EGYPT TRIP bersama @MozBackpackTrip, pada tanggal 21 sampai 31 Maret 2013

Di akhir Februari 2012, satu tahun pernikahan kami, saya sempat berujar pada Aa, “Aa, awal menikah kita mulai semuanya dari nol. Benar-benar dari nol, tidak punya apa-apa. Rumah saja harus ngontrak, sudah jalan satu tahun. Tapi…, Aa tahu aku kan. Muslimah petualang, yang senang berkelana hingga jauuuh.

Sayang, aku ingin sekali kita bisa berkelana berdua. Sejauh yang kita bisa, menapaki sejarah Islam klasik. Kembali ke Mesir… Mengunjungi Tunisia, mendatangi Maroko, lalu menyeberang ke Spanyol!

Tidak apa-apa belum bisa pergi sekarang, tapi insyaAllah kita akan sampai ke sana ya, A?

Continue reading

Advertisements

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra ย in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life ๐Ÿ™‚

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada ๐Ÿ™‚

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa,ย Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih ๐Ÿ™‚

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara ๐Ÿ™‚

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah ๐Ÿ˜‰

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini ๐Ÿ™‚

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara ๐Ÿ™‚

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh ๐Ÿ™‚

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai ๐Ÿ™‚

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. ๐Ÿ˜ฆ

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palacesย dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi ๐Ÿ™‚

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja ๐Ÿ™‚

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing ๐Ÿ™‚

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakanย Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis ๐Ÿ™‚

Bagaimana tidak, sejak awal itineraryย rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal ๐Ÿ˜€

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. ๐Ÿ™‚

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! ๐Ÿ™‚

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya ๐Ÿ˜‰

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”

Sepotong Rindu di Pembaringan

Suatu malam, saya berbisik-bisik dengan Aa di pembaringan.

Ya, setiap akan membincangkan sesuatu yang serius, kami merasa harus mengecilkan suara karena kamar tamu ini minim barang, suara akan menggema dan terdengar ke kamar adik-adik mahasiswa di sebelah. ๐Ÿ™‚

“Aa, sudah kangen tanah air kah? Semalam aku bermimpi keluarga di Indonesia. Rupanya aku mulai kangen semua yang ada di Indonesia.”

“Iya, Aa juga kangen…”

“Tapi baru dua negara kita jelajahi, bukankah kita ingin menulis buku Honeymoon Backpacker’s Series? Selain itu, aku ingin melihat banyak negara baru bersamamu, A!”

Aa menggenggam tanganku…

“Kamu tahu apa yang sudah kita korbankan untuk semua mimpi ini. Ayo terus berjalan. Habisi semua negara yang ingin kita datangi. Aa juga akan mengejar mimpi meneruskan kuliah di universitas berkualitas dan cepat lulus. Salah satu tujuan backpack kita kan mencari kampus untuk Aa.”

“Iya ya, kita tidak boleh surut. Rindu adalah candu sekaligus cambuk yang dahsyat untuk berbuat yang terbaik bagi kerabat yang kita tinggalkan di tanah air.”

Kami saling merapatkan diri. Memeluk harapan dan mimpi.

Allah…
Tak terasa sudah dua bulan kami menjelajah negara-negaraย less famous and less touristsย terutama di kalangan anak muda Indonesia.

Tidak ada sponsor, kecuali uluran keramahan dari sahabat-sahabat yang kerap kami temukan di perjalanan atau di socmed. Mereka tulus menawari menginap di rumah mereka. Gratis merebahkan tubuh di kasur mereka, menggunakan air hangat untuk mandi, listrik untuk menyalakan laptop dan kompor gas untuk memasak pengganjal perut kami.

Boleh dibilang kami sudah seperti orang gipsi.
Jika mereka berpindah-pindah hutan, lembah dan desa, maka kami berpindah-pindah kota dan negara sambil menggembol ransel kami.

Sebelum memejamkan mata saya merapal doa dan meneguhkan mimpi, mudahan perjalanan panjang kami melahirkan ribuan inspirasi dan hikmah bagi semesta, ya Rabb!

Selamat Jalan Handuk Pink!

Mencari Handuk Pink

Seharian kemarin saya uring-uringan.

Awalnya bersemangat ingin segera mandi. Tentu segar dan nyaman untuk memulai menulis sebuah naskah untuk majalah / koran yang menjadi target kami.ย Akan tetapi semangat saya lindap seketika, kala mencari si handuk pink kemana-mana akan tetapi tak kunjung berhasil ditemukan!

Saya sempat mencarinya di selasar lantai dua rumah ini. Berharap ia saya jemur di pagar di depan kamar adik-adik mahasiswa, kala kemarin lusa gegas siap-siap mengisi pelatihan menulis ‘Creative Non Fiction Writing Class’ untuk ibu-ibu DWP KBRI Tunis.

Saya juga sibuk membongkar lipatan pakaian di pojok kamar. Ya, kami tidak memiliki lemari di tempat ini. Ruangan yang kami tempati sebetulnya adalah common room adik-adik mahasiswa Zaitouna University ๐Ÿ™‚

Emosi Melambung

Saya mulai mengomel.
Kesal karena handuk pink mungil itu belum jua berhasil saya temukan.
Aa diam saja. Asik dengan bacaan atau tulisan atau entah apa, duduk mencangkung di depan laptop kami.

Saya makin kesal.
Aa kok santai sekali. Padahal saya ingin diperhatikan sekaligus dibantu!

Bagi saya, si handuk pink lenyap ini sama pentingnya dengan lenyapnya kepedulian negara-negara Arab tetangga pada Syria yang sedang terus-menerus diobok-obok media jahat USA, agar mereka berhasil memborbardir Syria seperti dahulu mereka membombardir Libya! Eh, persamaan yang ini terlalu lebay ya? ๐Ÿ™‚

Saya sempat bertanya, “Aa lihat si handuk pink?”

“Kemarin bukannya sekalian kamu cuci?”

“Iya, aku cuci! Tapi kan Aa yang bantu jemurin.”

“Nah kemarin kamu angkat handuk itu gak?”

“Enggak. Aku gak lihat handuk itu sama sekali, A!”

“Yah, hilang mungkin. Jatuh atau terbang…” Mata Aa tetap asik ke laptop kami. Hhhh!

Saya semakin merasa kesal. Jujur saya kurang senang berbagi handuk meski dengan pasangan. Bagi saya handuk adalah salah satu barang paling privat! Bagaimana ceritanya jika akhirnya kami harus terus-menerus berbagi handuk?

Lagian handuk-handuk kami berukuran kecil dan tipis. Kalau dipakai bersama-sama, artinya akan cepat basah dan sial bagi si pemakai kedua, handuknya akan basah kuyup bahkan sebelum dilap ke tubuh yang basah.

Ah, I don’t like this!
Saya tahu, wajah saya mulai cemberut.

Mengail Handuk!

Saya memutuskan naik ke atap kembali. Siapa tahu mata saya kurang awas. Siapa tahu cuma ketelingsut?

Rumah yang kami tempati tipikal rumah lama, bertingkat dua hingga tiga. Lantai teratas adalah atap datar dari semen, sekaligus dijadikan tempat untuk meletakkan jemuran dan parabola.

Deg!
Saya seketika merasa lemas kala sampai di atas.

Angin menampar-nampar tubuh. Jilbab saya berulang menutup wajah. Berkibar ke segala arah, padahal saya sedang mengenakan jilbab kaos cukup tebal dan berat.

Kemungkinan besar handuk itu lenyap ditiup angin kala kami menjemur sehari sebelumnya.
Bukankah tadi malam angin bertiup sangat kencang? Bahkan tubuh kami saja seperti didorong angin bahkan saat tidak melangkah. Angin di pesisir Mediterania memang bukan main kencangnya!

Saya mencoba melompat-lompat ke setiap sisi tembok. Berusaha menemukan si handuk, kemana ia diterbangkan oleh sang bayu?

Setelah melompat-lompat di beberapa sisi tembok dan si handuk tidak kunjung saya temukan, saya terdiam cukup lama. Merasa resah sekaligus heran, kenapa saya bisa sebegininya kehilangan selembar handuk tipis dan sudah berumur?

Cukup masuk akal kah saya bersikap seperti ini?

Saya terduduk…
Lemas rasanya…

Kenapa saya bisa sesedih ini kehilangan selembar handuk tipis sederhana?
Padahal kami bisa membelinya di sini, meski mungkin kami harus mengalah untuk tidak masuk restoran manapun setelahnya. Bagaimanapun, backpack kami sejak semula memang sangat hemat! Dana kami terbatas, sedang negara yang ingin kami kunjungi tak berbatas!

Sejak dari Indonesia, kami hanya membawa beberapa potong pakaian, agar kami tidak direpotkan dengan barang bawaan, ditambah postur mungil tubuh kami masing-masing, yang tentu saja akan kelelahan jika harus menggendong ransel berukuran besar.

Kenapa kami tidak membawa koper tarik saja? Muat lebih banyak dan praktis kan. Saya waktu itu merayu Aa untuk tidak membawanya, karena akan merepotkan saja, terutama kala harus berlari dan melompat masuk ke dalam tubuh kereta. Terbukti terjadi, kala kami harus menjemput sebagian koper teman-teman peserta “MB Egypt Trip” tempo hari. Ransel lebih mudah dilempar, tapi koper akan rusak kalau dilempar-lempar!

Tahu-tahu Aa sudah berdiri tegak di sisi saya.
Saya merasa speechless. Kehilangan kata-kata!

Saya akhirnya berucap lirih, entah Aa mendengar atau tidak.

“Aku sayang handuk itu, A. Dia menemani kita dua bulan terakhir ini. Barang kita tidak banyak. Aa hanya membawa 4 lembar kaos dan 2 celana, sedang aku hanya membawa 5 tunik dan 2 celana. Handuk pink dan kuning adalah penyempurna bawaan kita. Si pink baru saja aku cuci kemarin, sekarang dia sudah hilang entah kemana…”

Aa menyahut, “Handuknya jatuh ke rumah sebelah tuh!”

Eh, apa?
Berarti masih ada harapan untuk diambil?

“Di mana A?”

Santai Aa menunjuk ke arah tembok sebelah. Telunjuknya agak turun. Saya segera menuruni anak tangga, mengira si handuk jatuh ke lantai dua.

“Maksudnya di mana sih?” Saya mendongak dan berteriak tak sabar. Gusar.

Aa mengajakku naik ke lantai 3 kembali.

Mataku akhirnya menemukan handuk itu.
What a big relief!
Rupanya si handuk terjun bebas dari lantai 3 tempat kami menjemur pakaian ke atap rumah tetangga sebelah. Angin kemarin lusa luar biasa kencang. Rasanya menyesal tidak menjemur cucian di dalam ruangan tanpa pintu di sudut atap ini! ๐Ÿ˜ฆ

Aku langsung ribut turun ke lantai bawah, meminjam hanger besi pada Ridho, salah satu adik mahasiswa. Aa mencari tali serupa tali kail, kemudian hanger besi diikatkan di ujungnya.

Handuk pink itu terlihat pasrah tergeletak di atas atap sebuah rumah tua tanpa penghuni.

Aa mulai beraksi, mencoba mengais-ais si handuk agar mendekat dan aku sibuk berdoa.

Handuk sempat mendekat, tapi angin tadi siang terlalu kencang! Handuk akhirnya justru semakin menjauh dari jangkauan dan…,ย tlek! Tahu-tahu si hanger besi juga lepas dari tali. ๐Ÿ˜ฆ

Rasanya ada yang mencelos, lepas dari genggaman.
Entah kenapa saya bisa merasa sesedih ini.
Rupanya saya merasa begitu terikat pada barang-barang yang kami bawa, meski sesederhana apapun barang tersebut.

Ah, padahal saya pernah berujar di salah satu percakapan di socmed, “Kami adalah petualang yang belajar untuk berjalan tanpa berbagai kenyamanan.

Kami belajar melepaskan diri dari seluruh benda keduniawian.

Bukankah berjalan meninggalkan rumah secara fisik artinya belajar melepaskan kecintaan pada seluruh kebendaan?

Ketika berjalan, raga dan jiwalah yang akan tetap bersama kita. Rumah, kendaraan, perhiasaan dan seluruh benda-benda semuanya tidak akan kita bawa karena akan memberatkan ransel kita.

Bukankah jendela hati dan pikiran akan ringan terbuka kala kita kosongkan beban diri? Ibarat gelas, kosongkan ia, agar bisa menampung banyak airmata hikmah di sepanjang perjalanan nanti.

Bukankah semesta asing akan mudah kita serap, adaptasi dan cerna kala kita tidak banyak membawa dugaan, sterotype dan asumsi-asumsi?”

Ah Ima!
Rupanya kamu belum naik kelas dalam perjalanan ini.

Hanya karena masalah sangat sepele mood saya dropped. Saya akhirnya batal menulis naskah perjalanan untuk koran. Saya bahkan sempat marah pada Aa yang tidak gegas mengangkat jemuran (sebelum badai angin mengamuk tadi malam).

Selembar handuk tipis -seharga delapan belas ribu rupiah yang dibeli Aa di Alfamart Cipanas, nyaris setahun lalu- melayang ditiup angin Tunis yang sangat kencang dan berhasil menghilangkan kejernihan berpikirku!

***

Saat kisah ini saya tuliskan, saya sudah bisa berdamai dengan diri dan menertawakan sikap emosional saya tadi siang ๐Ÿ™‚

Hikmahnya saya bisa menulis sepanjang ini, lega rasanya.
Ini semacam solilokui untuk si handuk pink.

Sayonara pinky! ๐Ÿ™‚

Menunggu dari Cairo!

Alhamdulillah, sebagian Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria, gunung Sinai, Siwa dan Matrouh telah kami jelajahi. Akan tetapi, Allah memberi kami begitu banyak waktu di negeri ini. Di satu sisi, saya dan Aa begitu senang diberi tambahan waktu ‘illegal‘, namun di sisi lain, hati menjadi tak tenang!

Ketenangan hati adalah salah satu kunci utama keberhasilan perjalanan ‘honeymoon backpacker‘ ini ๐Ÿ™‚

Saat ini kami masih memupuk harap, visa Tunis kami segera keluar, di rentang masa menunggu dalam ketidakpastian. Kami mengajukan aplikasi 11 April lalu, sampai blog ini ditulis, terhitung sudah 15 hari kami menunggu dalam ketidakpastian! ๐Ÿ˜ฆ

Menunggu dan serba tidak pasti itu adalah sepasang kata sifat yang sangat tidak menyenangkan untuk disandingkan bersama-sama, kemudian dikudap dalam waktu yang tidak ditentukan!

Apalagi visa Mesir kami telah berakhir sejak 23 April lalu. Dengan bumbu rasa khawatir, kami mengecek ke KBRI, Alhamdulillah ternyata ada masa tenggang 1 bulan tanpa visa, tapi kami akan dikenai denda di bandara sebesar 150 LE/orang.

Barangkali ada yang bertanya, kenapa tidak memperpanjang visa?

Kami sangat ingin memperpanjang visa Mesir kami di ‘mogamma’ (bagian imigrasi Mesir), akan tetapi paspor kami masih ‘tertahan’ di kedutaan Tunisia, tentu perpanjangan visa kami juga tidak bisa diproses tanpa paspor. Ahad nanti kami akan ke kedutaan Tunis kembali, untuk mengambil sebuah keputusan!

Mona -salah satu petugas konsuler di kedutaan Tunis rajin berujar, “Come back on Thursday, we will see…”

Faktanya sungguh mengesalkan. Hari kamis kemarin adalah hari pembebasan Sinai (dari cengkeraman tentara Israel), tentu saja tanggal Merah di negeri ini! Arrgh! Jum’at Sabtu adalah weekend di sini, serupa Sabtu Ahad di Indonesia! Duh, we have no choice, we have to back not on last Thursday, but Monday or Sunday! ๐Ÿ˜ฆ

Di sisi lain, saat ini Aa terbaring sakit (sepertinya ketularan virus dari saya). Semula hanya jerawat kecil di atas bibir, lama-kelamaan bibir bagian atas ‘mengembang’, hingga maju sekian senti, Aa bilang, “Sudah kayak Suneo saja, Shizuka masih mencintai Suneo inikah?”

Ah Aa, sedang sakit saja masih bisa bercanda ๐Ÿ˜€

Kasihan Aa, suhu tubuh kerap meninggi diiringi feeling guilty beliau, “Sakitku memaksa kita menghentikan backpack untuk sementara waktu. Maafkan aku ya, Sayang.”

“Aa gak boleh bicara seperti itu. Kemarin aku sakit mulai 17 April lalu, hampir seminggu kemudian baru sembuh. Aa telaten dan sabar merawatku, hiks… Sekarang ‘giliran’ Aa yang sakit, insyaAllah Aa akan segera sembuh, asal minum obat teratur, istirahat yang cukup dan tidak memikirkan hal-hal negatif segala rupa!” Aa kupeluk.

Kami saling memeluk.
Jauh di negeri orang, diuji beberapa hal sekaligus dan bergantian sakit, sungguh mendekatkan kami sedekat-dekatnya. Honeymoon backpacking ini terasa begitu komplit dan ‘sempurna’ dalam ketidaksempurnaan.

Bukankah ketulusan dan cinta sejati bisa dirasakan dalam situasi paling tidak menyenangkan bagi sepasang jiwa?

Begitu banyak yang Aa korbankan hingga kami bisa memulai ‘Honeymoon Backpacker‘ ini. Alangkah naifnya jika hanya karena sakit beberapa masa dan masalah visa Tunis yang tak jelas kapan selesainya ini kemudian membuat semangat kami berdua melemah dan terbetik pikiran untuk menyerah, kembali ke tanah air saja?

Aku kasihan melihat Aa yang lemah.
Saat ini berbaring tak berdaya.
Kerap kuusap kepalanya, sekadar meringankan rasa pusing yang membebat kepala.
Biasanya Aa paling suka kupijat, namun kali ini menjerit kesakitan dengan pijatan selembut apapun ๐Ÿ˜ฆ

Berharap Allah segera menyembuhkan beliau -selain royal jelly, madu, antibiotik dan parasetamol yang terus diminum untuk meringankan rasa sakit.

Bagaimanapun, kami harus segera mengambil sikap tegas dan kembali berjalan -setelah Aa sembuh tentu saja- meski visa Tunis tidak berhasil kami dapatkan.

Buat kami, masih banyak negara lain yang juga layak dieskplorasi selain Tunisia, yang terkesan jual mahal saat ini. Bayangkan, surat sakti bernama ‘diplomatic calling visa‘ yang dibuatkan untuk kami berdua (oleh Indonesian Embassy in Tunis) bisa mereka abaikan! Hubungan diplomatik macam apa yang sebetulnya ingin dibangun kedutaan Tunisia di Cairo dengan Indonesian Embassy di Tunisia?

Di sisi lain, kami sangat berterima kasih atas bantuan Abang Zulfikar, Kang Dede dan istri serta staf KBRI Tunisia yang sudah bahu-membahu terlibat dalam ‘melahirkan surat sakti’ untuk kami.

Jujur kami sangat terharu, mengingat kami bukan siapa-siapa. Hanya sepasang musafir kelana yang ingin melihat lebih banyak, belajar lebih banyak dan berbagi lebih banyak.

Teman-teman di Tunisia, mohon maafkan kami jika akhirnya nanti kami harus memutar haluan tidak jadi ke Tunis ๐Ÿ˜ฆ
Kami tidak mungkin bertahan terus-menerus dalam situasi penuh ketidakpastian ini ๐Ÿ˜ฆ

Saya dan Aa sudah memutuskan, kami akan menunggu visa Tunis sampai hari Senin besok, jika kedutaan Tunis tetap tidak bisa memberikan jawaban (dengan alasanย Waaziratud dukhuul belum memberikan jawaban atas aplikasi visa kami), kami akan mundur dan terbang menuju negara lain saja.

Pada akhirnya, kami tidak nyaman tinggal di Mesir berlama-lama tanpa visa. Kami harus kembali bergerak, melanjutkan perjalanan ini, meski harus kehilangan tiket pesawat Cairo-Tunis-Casablanca (termasuk sejumlah denda di Cairo Intl Airport nanti).

Welcome to this unpredictable country, Ima!

Anyway, we’re honeymoon backpackers!
We wont ruin our own honeymoon, whatever happened in front of us, we will continue our honeymoon journey!

Bismillah, insyaAllah…!