Berbakti Tak Harus Terhenti

Berbakti Tak Harus Terhenti.

Senin pagi saya terkaget-kaget saat istri setengah berteriak dari depan layar computer,

“Aa, ayahnya Mbak Andri meninggal dunia.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Timpalku spontan.

“Kapan?”

“Tadi malam.”

Kami berpandangan, lalu sama-sama berdoa.

Sejenak larut dalam sedih. Sembari merenungi misteri kematian yang datang menjemput manusia tanpa pandang bulu.

Terkadang kita sendiri seolah tidak percaya saat kematian datang kepada orang yang kita cintai. Sama kasusnya seperti yang pernah dialami Umar bin Khattab di hari wafatnya Nabi Muhammad Saw., sang Rasul panutan tercinta.

“Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, aku penggal lehernya.” Ancam Umar saat itu.

“Muhammad tidak akan mati.” Lanjutnya antara sadar dan tidak.

Continue reading

Surat Untuk Ibu

Surat Untuk Ibu

Salam,

Wah, sudah lama sekali kami tidak berbagi cerita di sini. Secara pribadi, saya akhir-akhir ini justru banyak menunaikan aktifitas di luar. Terutama setelah muncul ‘surat cinta’ Senin dua minggu silam dari Dikti Tunis.

“Alhamdulillah, istri tersungkur sujud seketika.” Tulis istri turut haru membaca beritanya.

“Alhamdulillah..” saya turut sujud syukur.

Di satu sisi, kabar itu sungguh berkesan dan mengharukan karena muncul setelah penantian yang sangat panjang. Penantian yang menyebabkan saya ‘terdampar’ di negeri pinggiran Samudra Atlantik selama dua bulan lebih, bahkan membuat kami terpisah bentangan benua.

Namun di sisi lain, kabar ini agak membimbangkan karena muncul saat hati saya tertambat nuansa ilmu kota Rabat. Ketika saya perlahan mulai mengubah haluan karena pengumuman tak kunjung keluar. Kala saya mulai menikmati perkuliahan interaktif ala kampus Universitas Muhammad V ini.

Bagaimana tidak menikmati, di kelas hanya ada bahasa Arab fusha. Posisi meja dan kursi dipola membentuk leter U. Setiap pertemuan setidaknya terdiri dari empat sesi. Pertama, kuliah dari dosen. Kedua, presentasi dari mahasiswa. Ketiga, diskusi. Keempat, arahan, bimbingan, dan kesimpulan dari dosen. Memang tidak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia, saya pikir. Agaknya, perbedaan menonjol terletak pada bahasa pengantar, kapabilitas, dan keaktifan dosen.

Mana yang harus dipilih?

Memilih salah satu dari dua impian besar yang tidak mungkin diambil kedua-duanya memang sulit. Di sinilah fungsi shalat istikharah yang diajarkan Rasulullah Saw. Memohon pertolongan Allah Swt. dalam menentukan pilihan yang terbaik menurut-Nya.

Jadi memilih yang mana?

Insya Allah, Tunis!

Apa pertimbangannya?

Nanti saja saya ceritakan ya, sebab sekarang saya tak tahan ingin menulis surat untuk sosok tak tergantikan di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan IBU. Kenapa tidak tergantikan, sebab dia yang melahirkan, membesarkan, mendidik, tiada putus dan bosan mendoakan kebaikan untuk kita tanpa pamrih.

SURAT UNTUK IBU

Bagiku, engkau adalah sumber doa dan harapan. Engkau makhluk paling telaten merangkai doa, menanam asa, memupuk cinta. Engkau hamba Allah paling sabar merenda benang cita-cita. Paling tekun membentuk generasi.

Aku selalu ingat,

Kala masih kecil, engkau rajin menyiapkan segelas susu campur telor ayam kampung mentah untukku kala sore. Bahkan sampai menyusulku jika sedang bermain di lapangan bola;

Engkau menyiapkan segelas susu hangat 10 menit sebelum adzan subuh kala anakmu ini ada jadual private belajar seni baca Al-Quran ba’da subuh di mesjid dekat rumah;

Engkau memesankan mie bakso kesukaan anakmu ini saat les private bahasa Arab dari salah seorang ustadz di tempat tinggal kita. Anakmu ini bosan mengikuti les itu, tapi luluh juga karena mie bakso J;

Engkau bangun subuh lebih awal dan membangunkanku dengan cara menyetel murattal Syaikh Abdullah Al-Matrud dengan lembut sayup-sayup. Sampai aku hafal dan bisa menirukan gaya bacaannya. Hingga kini, Ma!;

Engkau mengajak dan menuntunku mengikuti pengajian Ahad pagi di mesjid Gumuruh yang membludak penuh;

Engkau mengantarku yang masih usia SD ke depan pintu shaf khusus laki-laki. Menitipkanku pada siapa saja yang duduk di shaf depan. Kemudian engkau meninggalkanku untuk bergabung bersama para jamaah wanita. Aku paling kecil sendirian duduk memperhatikan gerak gerik sang Kyai memaparkan materinya, meski hanya mampu menyerap sedikit saja materi sang Kyai karena menyasar kelas dewasa;

Engkau mengingatkanku,

“A, lima menit lagi waktu shalat.”

Itu berarti isyarat agar aku bersiap untuk mengumandangkan adzan di mesjid yang berjarak 50 meter saja dari rumah;

Engkau menegur makhraj dan tajwid bacaan Al-Quran-ku yang belum tepat. “Mamah tadi hanya mendenger ho, bukan kha dalam bacaan min khauf. Lain kali bisa diulang menjadi kho?”—seraya mencontohkan seperti mengeluarkan dahak. Aku mengangguk manyun. J;

Aku selalu ingat,

Kalau pulang liburan dari pondok, engkau kerap menyiapkan makan malam, lalu duduk dan bercerita kisah perjalanan sekolahmu yang hanya sampai SMP. Kemudian bergumam, “Mamah pengen sekolah tinggi, tapi kondisi keluarga tidak mengizinkan. Apalagi ketemu bapak dan menikah.”

“Teruslah sekolah sampai perguruan Tinggi. Lanjutkan cita-cita Mamah!”

Aku tak pernah lupa,

Selesai Aliyah dan diterima kuliah kelas persiapan bahasa Arab (I’dad Lughah) di LIPIA Jakarta yang penuh perjuangan, sebab sering harus bangun dini hari demi mengejar beberapa tes pagi-pagi di Jakarta karena dulu belum ada travel dan belum dibuka jalur tol cipularang.

Engkau memelukku erat sembari mata berkaca-kaca.

”Mamah bahagia cita-cita Mamah terwujud olehmu.”

Aku selalu terkenang,

Saat pertama kali membaca pengumuman kelulusan beasiswa DEPAG untuk kuliah s1 di Universitas Al-Azhar Mesir, sengaja saya tidak menelponmu. Aku ingin membuat kejutan untukmu. Makanya aku langsung bawa surat resmi dari DEPAG. Aku ingin memperlihatkan langsung surat itu padamu.

Aku segera pulang dari Jakarta. Sesampai rumah, aku ketuk pintu,

“Assalamu’alaikum, Aa pulang.”

“Wa’alaikum salam..”

Aku mencium tanganmu, lalu memelukmu. Seperti biasa.

Aku langsung mengeluarkan suratnya.

“Ini persembahan untuk Mamah!”

“Apa ini?”

“Mangga dibuka we…”

Setelah di buka,

“Ya Allah…….alhamdulillah….”

Engkau spontan bersujud syukur. Meluapkan kebahagiaan dengan sujud. Persis seperti yang aku lakukan saat pertama kali mendengar namaku tertera di pengumuman kelulusan.

Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu!

Terima kasih Mamah, engkau telah mengajarkan cara mengekspresikan kebahagiaan sesuai tuntunan Rasul-Mu.

Kita dibalut haru saat itu.

***

Dengan apa yang masih aku ingat saja, membuatku ingin terus mempersembahkan bakti terbaik untukmu, Mah. Setulusnya. Selamanya. Belum lagi jasa yang tidak aku rasa dan ingat. Ah, terlalu besar jasa dan pengorbananmu.

Sangat layak Rasulullah Saw. menegaskan tiga kali hak bakti dari anak kepadamu. Ketika sahabat bertanya, siapa yang paling berhak aku persembahkan baktiku? Beliau menjawab, “Ibumu” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Bapakmu.”

Terima kasih atas jasamu yang sedari kecil tekun membimbing, ‘memaksa’-ku les bahasa Arab, membangunkanku saat subuh untuk belajar AlQuran dari ustadz, membetulkan makhraj bacaan yang belum tepat, menyiapkan segala keperluan, mendoakan yang terbaik untukku, dan sebagainya..dan sebagainya…

Rabbanaghfir lana wa liwalidiina warhamhuma kama rabbayaanaa shighaara.

“Duhai Rabb, ampuni kami, pun kedua orangtua kami. Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semasa kecil.”

Pojok Kota Rabat, 22 Desember 2013

Doa Mama Sa’ida

Doa Mama Sa’ida.    Rabu ini, saya memutuskan berangkat ke Fez bersama rombongan dosen IAIN Sumut. Mereka datang ke Maroko dalam rangka menindaklanjuti MoU antara IAIN Sumut dan Universitas Qarawiyyin, Fez. Ini adalah hari ke-20 mereka berada di Maroko, dan hari ini dijadualkan akan ada pertemuan dengan pihak kampus. Saya memaksakan diri untuk ikut sebab belum pernah berkunjung ke kampusnya. Sekaligus ingin berkunjung ke Universitas lain di Fez, yaitu Universitas Sidi Muhammad ben Abdullah.

Saya pernah mengunjungi Fez sekitar 5 bulan silam bersama Istri saya untuk riset dan acuan menulis Buku honeymoon Backpacker kami (mudah-mudahan cepat selesai bukunya, amin..) Proyek penulisan buku ini telah lama kami rancang. Idenya bahkan telah muncul sejak awal kami menikah.

Selain untuk proyek penulisan, kami juga ingin menyambung silaturahim dengan salah satu keluarga lokal di Fez yang dulu pernah berbaik hati berkenalan dan menerima Istri saya berkunjung dan menginap beberapa malam di rumahnya. Saat itu saya belum menikah.

“Nanti kalau sudah menikah, bawa suami kamu kesini dan kenalkan pada Mama ya.” Pesan Mama Saiedah ketika ima berpamitan pulang, 2010 silam.

“Insya Allah, Mama.”

Dan lima bulan yang lalu, setelah 2 tahun lebih usia pernikahan kami, Istri saya bersemangat menelpon Mama Saidah setiba kami di Maroko.

“Assalamu’alaikum, Mama, ana fil magrib al-an ma’a zaujy. Saya sekarang di Maroko bareng suami.”

“wa’alaikom salam, barakallahu fik ya binti wa waladii..nurahhibukum fi baiti..asytsqu mink jiddan jiddan. Mudahan Allah memberkahimu anak-anaku. Saya sangat merindukanmu.”

Kami menuju Fez dari Casablanca dengan berkereta ONCF. Berangkat dari stasiun casa Luiz, tiketnya 110 Dirham kalau tidak salah. Karena Jadual kereta yang ada saat itu sore, maka diperkirakan sampai Fez tengah malam.

Sesampai Fez, kami dibalut haru.

Ternyata Mama menjemput kami di stasiun. Ditemani Maryam, anak sulungnya, Kamal, suaminya, dan Syama, cucunya. Mereka ceria menyambut kami, padahal sudah tengah malam.

Mama memeluk Istri saya erat.

“Ahlan wa sahlan ya binti. Selamat datang anakku.”

Di sudut matanya perlahan tampak buliran air mata rindu, haru, dan seolah tidak percaya dapat bertemu kembali sesuai pesan Mama kala itu.

Hampir seminggu kami menginap di rumah Mama. Merenda jalinan silaturahim, memupuk kedekatan batin bersama keluarga mereka yang ramah. Hingga tiba saatnya kami pulang.

Selesai berfoto bersama; saya, Istri, Mama Saiedah, suaminya, Sara (putri keduanya yang kini baru dua minggu menikah), syama, kami dianter sampai terminal bis Medina. Old Town.

Kami berpamitan. Berpelukan.

Mama berpesan, “Nanti kalau kalian sudah punya baby, bawa juga kesini ya, Mama pengen gendong cucu Mama dari Indonesia.”

Kami berbisik dalam hati…

Amin. Insya Allah!
Fez, 13/11/13

Hikmah Semangkuk Harirah

Hikmah Semangkuk Harirah

Assalaamu’alaikum blogger semua 🙂

Saat ini saya dan istri berpisah untuk sementara karena pertimbangan ekonomis dan hal-hal teknis lainnya.

Singkat cerita, saya harus keluar dari Brussels karena Schengen Visa kami berdua sudah habis dan memutuskan saya mesti bertahan di Maroko (negara non visa bagi orang Indonesia 3 bulan lamanya), hingga keluarnya kepastian status studi saya di Tunisia.

Sedang istri saya tercinta kembali ke Indonesia, karena akan memproses aplikasi ‘visa dependent’ dari sana.

***

Cerita Semangkuk Harirah

Saat ini saya tinggal di ibukota Maroko, Rabat.

Kemarin Rabat mulai menggigil. Suhu turun ke angka 10 derajat Celsius. Menjelang magrib, angkanya terus turun hingga shalat magrib usai ditunaikan. Dingiiin bukan main!

Biasanya, saya tak beranjak meninggalkan mesjid sebelum ikut menyimak tadarusan Quran khas Maroko (qiraat warasy) rutin ba’da magrib atau subuh.

Mumpung masih berada di mesjid, kenapa tidak sekalian satu paket.

Terkadang agak malas-malasan membaca sendiri, apalagi kalau sudah kembali ke rumah. Toh tadarusnya hanya berlangsung sekitar 15-20 menitan. Tidak lama bukan?!

Tapi magrib kemarin dingin sekali.

Dingin yang menusuk kulit. Padahal sudah memakai baju kaos dua lapis ditambahi sweater, masih dilengkapi kaos kaki tapi tipis. Ternyata belum mampu menghalau dingin. Brrr!

Saya langsung terpikir memilih keluar mesjid, menuju kios harirah terdekat. Kenapa memilih harirah? Sebab baru sup panas jenis harirah-lah yang saya akrabi. Kalau sudah kedinginan dan menghangatkan perut, biasanya sup ini yang saya ingat. He he he. Harga semangkuknya sama dengan satu bungkus Indomie. Tapi kandungan sup harirah jelas lebih sehat.

harira400

Aah…, nikmatnya!
Alhamdulillah.
Dua sendok sup sudah saya seruput. Setidaknya hawa dingin dari dalam mulai tergusur, menyingkir perlahan. Sementara saya  tekun membuka kulit telur rebus, tiba-tiba seorang kakek tua mendekat. Dia selesai menyantap dan membayar supnya.

“Di Indonesia, ma yakuun? Tidak ada ya sup seperti ini Indonesia?”
“Tidak ada.”
“Kenapa kamu tidak mencari tahu cara membuatnya, lalu nanti dibuat di sana?”
“Bahan-bahannya tidak semuanya ada. Terutama kacang hums, karafs, adas. Kalau tepung, garam, gula, insya Allah ada…” he he he…, saya ajak dia bercanda.
“Baiklah, selamat menikmati.” Ujarnya sambil pamit pergi. Terlihat ekspresi kenyang dari wajahnya, he he he…

Tak lama setelah itu, muncul bapak tua yang lain. Beliau berpakaian lusuh, bertopi, berjubah tebal. Tapi dia lumpuh, tangan kirinya dibalut kain tertutup. Yang mengkhawatirkan, dia berkursi roda dan menggeret kursi rodanya sendirian. Ya Allah. Di belakang kursi tergantung tas gendong yang juga lusuh dan agak robek.

Dia mendekat ke meja bundar saya. Terdiam. Nafasnya tersengal- sengal.

Saya memandangnya, mencoba melempar senyum. Tapi tak ada respon. Agaknya dia sangat lelah. Tidak memperhatikan selain kondisi dirinya.

Tiba-tiba ibu kantin datang membawa sepiring besar milwi dan semangkuk harirah. Tafadhdhal! Ternyata, dia satu meja dengan saya. Dekat sekali.

8115512708_cfe648c35a_b

ilustrasi: semangkok  harira sumber foto: internet 

Hm. Kasihan sekali si bapak tua ini. Dia hanya bisa menggunakan satu tangan saja untuk menyobek rotinya. Lambat sekali. Tapi saya perhatikan makannya lahap sekali. Terlihat sangat nikmat. Seperti tidak menemukan makanan seharian.

Sementara konsumen lain asik bercanda, mengobrol ke sana kemari di jejeran meja samping, bapak tua ini fokus melahap makanannya.

Saya berniat membayarkan bapak ini, cuma sayang sekali saya cuma membawa uang pas. Dan uangnya sudah saya bayarkan terlebih dahulu. Duh, ya Allah! Berikanlah kekuatan dan kesehatan kepada bapak ini. Engkau Maha Pemurah, Maha Pengasih. Gumam saya.

Ah, saya ajak ngobrol nanti ah. Mumpung dekat. Mudah-mudahan dia memahami bahasa Arab saya. Sebab biasanya orang sepuh di sini hanya faham bahasa Darijah, atau Perancis. Tidak nyambung kalau diajak bicara dengan bahasa Arab fusha (bahasa Arab sesuai grammar/akademis) atau bahasa Inggris.

Saya menunggu saat yang tepat, sambil sesekali menoleh ke arah makanan dan wajahnya. Tapi tetap saja, bapak itu lempeng fokus menikmati makanannya. Saya juga tidak berani juga menodong langsung dengan pertanyaan.

Lambat sekali makannya. Saya sudah mulai kedinginan lagi. Ya sudah, saya memutuskan menunggu di meja dekat oven roti milwi saja. Biar hangat he he. Tiga orang ibu-ibu penjaga kantin mulai curiga dan membicarakan saya. Rupaya saya jadi pusat perhatian mereka..*artis kali…, hihihi

“Aha, dia sudah selesai makan!”

Baru saja saya tuangkan air satu gelas, sengaja saya niatkan untuk dia. Ternyata dia mulai bergerak menjauh, memutar roda kursi roda, dengan satu tangannya yang bebas. Menjauh meninggalkan meja. Tanpa kata, tanpa sapa. Sejak datang, duduk, bahkan pergi.

Saya terheran-heran.

Beberapa saat, dua konsumen lain datang memesan sup. Mereka duduk dekat meja tadi. Ibu penjaga kantin siaga menghidangkan pesanannya. Aku mengikuti ibu itu.

Saat si ibu mengambil mangkok bapak tua tadi, dan mulai membersihkan meja, saya mendekatinya,

“Hm, madam, hal huwa dafa’al fulus?” Saya eja sembari menjelaskan maksud pertanyaan saya lewat gerakan tubuh.

“hm..madza..?”

Waduh, benar saja pertanyaanku belum dia pahami.

“Orang tua tadi, orang sakit tadi, selesai makan, tidak membayar ke ibu?”

Saya memperagakan sekali lagi.

“Ooo…, ya ya…”

Fyuuuh, saya harus belajar bahasa Perancis atau Darijah (Arab lokal) untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat lokal, seperti pedagang-pedagang kecil atau yang sudah sepuh.

Fi sabilillah…Kami meniatkan untuk sedekah di jalan Allah.”

Saya tertegun…

Subhanallah.

Di satu sisi, si bapak tua datang tanpa perlu berkata-kata, tanpa merengek, memaksa, atau mengemis kasih sayang. Si ibu kantin pun memberi tulus tanpa mengata-ngatai, basa-basi, menghina, mencaci, atau menampakkan sikap tak ikhlas.

“Barakallahu fik, Semoga Allah memberkahimu. “ Doa saya pada ibu kantin. Sembari pamit pergi.

Dada saya tersedak haru kala menembus dinginnya malam di kota Rabat.

Mata saya berkaca-kaca, mengingat kembali upaya keras bapak tua itu untuk tidak memaksa mengemis, sekaligus tergetar atas kelapangan hati dan kepedulian si ibu kantin. Padahal kantinya tampak kumuh dan sederhana.

Alhamdulillah, bertambah lagi satu hikmah yang bisa saya petik dari kantin sup harirah!

Jum’ah Mubarakah!

Taqabbalallahu shaliha a’malina wa niyyatina. Semoga Allah menerima amal dan niat baik kita. Amin

Jumat Wada’ di Brussels

Jumat Wada’ di Brussels

Rangkaian perjalanan sepuluh hari silam bagi kami tentu sarat cerita dan kesan.

Sebut saja di Itali, kami mendapat delayed beruntun. Pasalnya, masinis kereta lokal terlambat datang. Akibatnya, semua jadual kereta harus mundur satu jam. Ditambah delayed bis ke bandara Treviso 1 jam. Sehingga kami nyaris ketinggalan pesawat.

Lain Itali lain Malaga. Di Malaga kami justru ‘dimanjakan’ di bandara. ‘Menumpang tidur gratis’ di salah satu restoran yang sudah tutup, terletak tak jauh dari gate-gate keberangkatan dalam Malaga Airport. Ada fasilitas kursi panjang empuk milik restoran. Tak hanya itu, kami dijamu air panas gratis, dan tentu saja toilet yang nyaman.

Di Granada lain cerita, kami menghabiskan waktu jelajah Al-Hambra seharian penuh. Lupa masih ada satu obyek belum kami datangi. Saat mau masuk istana ‘General Life’, kami ditolak petugas karena tternyata validitas tiket masuk istana ‘General Life’ telah habis. Kami sungguh tidak menyadari batasan waktu tersebut, saking terpesona pada keindahan dan keanggunan Nasrid Palaces!

Terutama di Alhambra, hati kami sempat bergemuruh menyaksikan kalimat tauhid tertempel kuat di segenap dinding istana peninggalan Dinasti Nasried yang memerintah selama kurang lebih 300-an tahun. Kami pun diliput haru kala menilik dan membaca, Al-Qudratu lillah (Kekuasaan hanya milik Allah), Al-Izzatu Lillah (Kejayaan hanya milik Allah), La Ghaliba illallah (Tiada penakluk selain Allah) Wa ma bikum min ni’matin faminallah (Nikmat kalian apa saja, semua dari Allah), Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam (Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam), dan sebagainya. La haula wa la quwwata illa billah. Memang tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah Swt.

Belum lagi cerita di Cordoba, Madrid, dan Paris.

***

Setelah perjalanan usai, Jumat pagi ini lelah tubuh belum pulih. Rasa capek masih bersisa. Namun agaknya jadual khutbah jumat (wada’) di KBRI Brussel harus tetap saya penuhi.

“Supaya menjadi kesempatan berpamitan dengan jama’ah, khususnya jama’ah KPMI Belgia.” Dorong istri.

Bismillah.
Saya ditemani Atif kecil berangkat berkereta menuju Brussels.

Saya tak ragu membawakan tema seputar petikan hikmah dari Haji dan ibadah Qurban. Sebab kurang lebih 2 hari lagi, jamaah haji di Mekkah akan memulai tarwiyah, berwukuf di Arafah, kemudian manasik haji yang lain. Bagi mereka, rangkaian manasik adalah kesempatan emas untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saudara-saudara kita, para hujjaj di sana akan berupaya meraup taburan kasih sayang dan ampunan Allah Swt.

Betapa Maha Rahman Maha Rahim Allah, sehingga Dia membuka banyak kesempatan untuk menyucikan diri dari alpa, lupa, dan dosa.

Dua bulan lalu, kita dianugerahi bulan ramadhan nan penuh berkah. Disusul bulan syawal dengan shaum 6 hari. Dilanjut bulan Dzulqa’dah (seperti bulan-bulan lain) dengan shaum sunnah Senin Kamis atau Ayyamul Bidh-nya. Lalu disusul bulan Dzulhijjah, bulan haji.

Semua pintu kesempatan untuk menebus lumuran noda jiwa, Allah hamparkan tanpa henti.

Para hujjaj yang mabrur, dijanjikan Nabi akan diberikan surga Allah. Sementara kita yang tidak sedang berhaji, diberikan kabar gembira akan diampuni dosa selama dua tahun, dengan cara menunaikan shaum sunnah Arafah 9 Dzulhijjah. Saat para hujjaj berwukuf di sana.

Jika sudah demikian Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Ia, pantaskah kita menyia-nyiakannya?! Atau malah kita tidak peduli dengan kekotoran hati kita. Na’udzu billah.

Ibadah haji dan Qurban adalah simbol pengorbanan. Ia adalah upaya membuktikan pengakuan cinta dan loyalitas kepada Allah dan Rasul.

Usai jumatan, saya berpamitan kepada jamaah KPMI terkhusus Pak Iman, staf KBRI sekaligus ketua KPMI. Seraya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama saya dan istri menunaikan amanah di sini. Tiada gading yang tak retak. Demikian pepatah masyhur menyebutkan. Kami pun bersalaman, bermaafan, berpelukan, dan saling mendoakan kebaikan bagi segala rencana dan cita-cita kejayaan Islam dan Umatnya.

Saya semakin terharu, saat Pak Iman mengantar saya dan athif langsung ke Metro Roodebek untuk kembali ke rumah di Bambrugge.

Sepanjang kaki saya menapaki pedestrian, saya merasa tanah Brussels seakan menatap sembari melambai, mengucap perpisahan untuk kembali berjumpa di waktu yang hanya Allah yang Mahatahu.

Dinginnya udara Brussels memeluk erat, semakin menguarkan rasa ngelangut dalam dada, karena saya akan meninggalkan kehangatan persaudaraan Islam di ibukota Belgia ini.

Hingga sampailah saya di loket penjualan tiket metro.

Seorang pelayan loket berwajah ramah dan bercahaya menyunggingkan senyum. Wajahnya campuran Arab-Eropa Muslim. Saya pun tidak ragu menyampaikan salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Dia menjawab lebih fasih dariku.

Wah, agaknya akan lebih asyik mengobrol. Setelah menanyakan kabar layaknya tradisi bersapa di tanah Maroko sana, saya berujar,

“Uriidu tadzkirah li rihlah waahidah (one voyage). Kam Ats-tsaman?” Saya ingin membeli satu tiket untuk satu perjalanan. Berapa harganya?”

“Thayyib, maktub fi lauhah, itsnan euro.” Baiklah, seperti tertulis di papan, 2 euro/ one voyage”

Tertulis pula di situ, untuk pembelian 2 euro, minimal uang pembelian adalah 5 euro.

Segera saya menjelaskan kondisi saya.

“Masyi, lakin lil asaf asy-syadid, ‘indi khamsun euro laisat fakkah. Tafadhhal.” Baik, tapi maaf sekali, saya ada 50 euro bukan pecahan. Silahkan.

“Wah, kamu tidak punya uang pas saja?”

“Hm, saya tidak punya.”

Mudah-mudahan di sini tidak sekejam di Madrid dan Paris. Gumam hati saya.

Di dua negara tersebut kami sempat harus merelakan perjalanan tertunda bahkan hingga 3 jam, hanya gara-gara petugas tidak mau melayani transaksi pembelian tiket kereta, hanya karena kami tidak memakai uang pas. Malah menyuruh kami keliling membeli sesuatu di toko mana saja untuk mencari uang pecahan. Dan menemukan toko yang mau memberi uang recehan juga tidak mudah menjelang midnight dan semua toko sudah tutup.

“Khalash, laisa fihi musykilah.” Ya sudah, tidak apa-apa.

Alhamdulillah.

Sambil transaksi, saya sempatkan mengobrol.

Nama petugas itu Abdurrahim.

Setelah menanyakan nama saya, dia berujar, “Nahnu Ikhwah. Al-Muslimun Kulluhum Kal Wahid.” Kita ini saudara. Seluruh umat Islam ibarat satu (tubuh). Seraya membacakan ragam doa untuk saya. Apalagi setelah dia tahu saya mau melanjutkan studi di Tunis.

Terlontar dari bibir beliau, barakallahu fik, wa zadakallahu ‘ilman nafi’an, wa wassa’allahu laka rizqak. Semoga Allah memberkahimu, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan meluaskan rezekimu.

Saya jawab, “Wa iyyak ya akhil kariim” Demikian pula untukmu, saudaraku.

Tak terasa transaksi usai dan antrian mulai memanjang. Saya pun berpamitan.

“Syukran ya Akhi Abdurrahim, barakallahu fi syughlik wa wassa’allahu rizqak. Ilalliqa” Terima kasih, saudaraku. Semoga pekerjaanmu diberkahi dan rezekimu pun diluaskan-Nya. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillah, petugas loket karcis di Metro Roodebek berusia kira-kira 50 tahunan baik hati itu menutup rangkaian perjalanan kami selama kami di Eropa. Setelah sebelumnya berkali-kali bertemu sosok petugas berwajah bengis, sinis, bahkan bau bir saat melayani kami, yang kami temui kala 10 hari menjelajah eropa mulai Jerman, Swedia, Finlandia, Belanda, Ceko, Italia, Spanyol dan Perancis.

Alhamdulillah, semoga engkau mampu menampilkan wajah Islam yang ramah. Ilalliqa’ ya Abdurrahim!

Ilalliqa ya Brussels! Ilalliqa’ ya Uruba!

Sampai jumpa Brussels! sampai jumpa lagi Eropa!

Bambrugge, Jumat senja, 11 Oktober 2013