Berbakti Tak Harus Terhenti

Berbakti Tak Harus Terhenti.

Senin pagi saya terkaget-kaget saat istri setengah berteriak dari depan layar computer,

“Aa, ayahnya Mbak Andri meninggal dunia.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Timpalku spontan.

“Kapan?”

“Tadi malam.”

Kami berpandangan, lalu sama-sama berdoa.

Sejenak larut dalam sedih. Sembari merenungi misteri kematian yang datang menjemput manusia tanpa pandang bulu.

Terkadang kita sendiri seolah tidak percaya saat kematian datang kepada orang yang kita cintai. Sama kasusnya seperti yang pernah dialami Umar bin Khattab di hari wafatnya Nabi Muhammad Saw., sang Rasul panutan tercinta.

“Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, aku penggal lehernya.” Ancam Umar saat itu.

“Muhammad tidak akan mati.” Lanjutnya antara sadar dan tidak.

Continue reading

Advertisements

Surat Untuk Ibu

Surat Untuk Ibu

Salam,

Wah, sudah lama sekali kami tidak berbagi cerita di sini. Secara pribadi, saya akhir-akhir ini justru banyak menunaikan aktifitas di luar. Terutama setelah muncul ‘surat cinta’ Senin dua minggu silam dari Dikti Tunis.

“Alhamdulillah, istri tersungkur sujud seketika.” Tulis istri turut haru membaca beritanya.

“Alhamdulillah..” saya turut sujud syukur.

Di satu sisi, kabar itu sungguh berkesan dan mengharukan karena muncul setelah penantian yang sangat panjang. Penantian yang menyebabkan saya ‘terdampar’ di negeri pinggiran Samudra Atlantik selama dua bulan lebih, bahkan membuat kami terpisah bentangan benua.

Namun di sisi lain, kabar ini agak membimbangkan karena muncul saat hati saya tertambat nuansa ilmu kota Rabat. Ketika saya perlahan mulai mengubah haluan karena pengumuman tak kunjung keluar. Kala saya mulai menikmati perkuliahan interaktif ala kampus Universitas Muhammad V ini.

Bagaimana tidak menikmati, di kelas hanya ada bahasa Arab fusha. Posisi meja dan kursi dipola membentuk leter U. Setiap pertemuan setidaknya terdiri dari empat sesi. Pertama, kuliah dari dosen. Kedua, presentasi dari mahasiswa. Ketiga, diskusi. Keempat, arahan, bimbingan, dan kesimpulan dari dosen. Memang tidak berbeda dengan sistem perkuliahan di Indonesia, saya pikir. Agaknya, perbedaan menonjol terletak pada bahasa pengantar, kapabilitas, dan keaktifan dosen.

Mana yang harus dipilih?

Memilih salah satu dari dua impian besar yang tidak mungkin diambil kedua-duanya memang sulit. Di sinilah fungsi shalat istikharah yang diajarkan Rasulullah Saw. Memohon pertolongan Allah Swt. dalam menentukan pilihan yang terbaik menurut-Nya.

Jadi memilih yang mana?

Insya Allah, Tunis!

Apa pertimbangannya?

Nanti saja saya ceritakan ya, sebab sekarang saya tak tahan ingin menulis surat untuk sosok tak tergantikan di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan IBU. Kenapa tidak tergantikan, sebab dia yang melahirkan, membesarkan, mendidik, tiada putus dan bosan mendoakan kebaikan untuk kita tanpa pamrih.

SURAT UNTUK IBU

Bagiku, engkau adalah sumber doa dan harapan. Engkau makhluk paling telaten merangkai doa, menanam asa, memupuk cinta. Engkau hamba Allah paling sabar merenda benang cita-cita. Paling tekun membentuk generasi.

Aku selalu ingat,

Kala masih kecil, engkau rajin menyiapkan segelas susu campur telor ayam kampung mentah untukku kala sore. Bahkan sampai menyusulku jika sedang bermain di lapangan bola;

Engkau menyiapkan segelas susu hangat 10 menit sebelum adzan subuh kala anakmu ini ada jadual private belajar seni baca Al-Quran ba’da subuh di mesjid dekat rumah;

Engkau memesankan mie bakso kesukaan anakmu ini saat les private bahasa Arab dari salah seorang ustadz di tempat tinggal kita. Anakmu ini bosan mengikuti les itu, tapi luluh juga karena mie bakso J;

Engkau bangun subuh lebih awal dan membangunkanku dengan cara menyetel murattal Syaikh Abdullah Al-Matrud dengan lembut sayup-sayup. Sampai aku hafal dan bisa menirukan gaya bacaannya. Hingga kini, Ma!;

Engkau mengajak dan menuntunku mengikuti pengajian Ahad pagi di mesjid Gumuruh yang membludak penuh;

Engkau mengantarku yang masih usia SD ke depan pintu shaf khusus laki-laki. Menitipkanku pada siapa saja yang duduk di shaf depan. Kemudian engkau meninggalkanku untuk bergabung bersama para jamaah wanita. Aku paling kecil sendirian duduk memperhatikan gerak gerik sang Kyai memaparkan materinya, meski hanya mampu menyerap sedikit saja materi sang Kyai karena menyasar kelas dewasa;

Engkau mengingatkanku,

“A, lima menit lagi waktu shalat.”

Itu berarti isyarat agar aku bersiap untuk mengumandangkan adzan di mesjid yang berjarak 50 meter saja dari rumah;

Engkau menegur makhraj dan tajwid bacaan Al-Quran-ku yang belum tepat. “Mamah tadi hanya mendenger ho, bukan kha dalam bacaan min khauf. Lain kali bisa diulang menjadi kho?”—seraya mencontohkan seperti mengeluarkan dahak. Aku mengangguk manyun. J;

Aku selalu ingat,

Kalau pulang liburan dari pondok, engkau kerap menyiapkan makan malam, lalu duduk dan bercerita kisah perjalanan sekolahmu yang hanya sampai SMP. Kemudian bergumam, “Mamah pengen sekolah tinggi, tapi kondisi keluarga tidak mengizinkan. Apalagi ketemu bapak dan menikah.”

“Teruslah sekolah sampai perguruan Tinggi. Lanjutkan cita-cita Mamah!”

Aku tak pernah lupa,

Selesai Aliyah dan diterima kuliah kelas persiapan bahasa Arab (I’dad Lughah) di LIPIA Jakarta yang penuh perjuangan, sebab sering harus bangun dini hari demi mengejar beberapa tes pagi-pagi di Jakarta karena dulu belum ada travel dan belum dibuka jalur tol cipularang.

Engkau memelukku erat sembari mata berkaca-kaca.

”Mamah bahagia cita-cita Mamah terwujud olehmu.”

Aku selalu terkenang,

Saat pertama kali membaca pengumuman kelulusan beasiswa DEPAG untuk kuliah s1 di Universitas Al-Azhar Mesir, sengaja saya tidak menelponmu. Aku ingin membuat kejutan untukmu. Makanya aku langsung bawa surat resmi dari DEPAG. Aku ingin memperlihatkan langsung surat itu padamu.

Aku segera pulang dari Jakarta. Sesampai rumah, aku ketuk pintu,

“Assalamu’alaikum, Aa pulang.”

“Wa’alaikum salam..”

Aku mencium tanganmu, lalu memelukmu. Seperti biasa.

Aku langsung mengeluarkan suratnya.

“Ini persembahan untuk Mamah!”

“Apa ini?”

“Mangga dibuka we…”

Setelah di buka,

“Ya Allah…….alhamdulillah….”

Engkau spontan bersujud syukur. Meluapkan kebahagiaan dengan sujud. Persis seperti yang aku lakukan saat pertama kali mendengar namaku tertera di pengumuman kelulusan.

Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu!

Terima kasih Mamah, engkau telah mengajarkan cara mengekspresikan kebahagiaan sesuai tuntunan Rasul-Mu.

Kita dibalut haru saat itu.

***

Dengan apa yang masih aku ingat saja, membuatku ingin terus mempersembahkan bakti terbaik untukmu, Mah. Setulusnya. Selamanya. Belum lagi jasa yang tidak aku rasa dan ingat. Ah, terlalu besar jasa dan pengorbananmu.

Sangat layak Rasulullah Saw. menegaskan tiga kali hak bakti dari anak kepadamu. Ketika sahabat bertanya, siapa yang paling berhak aku persembahkan baktiku? Beliau menjawab, “Ibumu” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Ibumu.” Siapa lagi, “Bapakmu.”

Terima kasih atas jasamu yang sedari kecil tekun membimbing, ‘memaksa’-ku les bahasa Arab, membangunkanku saat subuh untuk belajar AlQuran dari ustadz, membetulkan makhraj bacaan yang belum tepat, menyiapkan segala keperluan, mendoakan yang terbaik untukku, dan sebagainya..dan sebagainya…

Rabbanaghfir lana wa liwalidiina warhamhuma kama rabbayaanaa shighaara.

“Duhai Rabb, ampuni kami, pun kedua orangtua kami. Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semasa kecil.”

Pojok Kota Rabat, 22 Desember 2013

Doa Mama Sa’ida

Doa Mama Sa’ida.    Rabu ini, saya memutuskan berangkat ke Fez bersama rombongan dosen IAIN Sumut. Mereka datang ke Maroko dalam rangka menindaklanjuti MoU antara IAIN Sumut dan Universitas Qarawiyyin, Fez. Ini adalah hari ke-20 mereka berada di Maroko, dan hari ini dijadualkan akan ada pertemuan dengan pihak kampus. Saya memaksakan diri untuk ikut sebab belum pernah berkunjung ke kampusnya. Sekaligus ingin berkunjung ke Universitas lain di Fez, yaitu Universitas Sidi Muhammad ben Abdullah.

Saya pernah mengunjungi Fez sekitar 5 bulan silam bersama Istri saya untuk riset dan acuan menulis Buku honeymoon Backpacker kami (mudah-mudahan cepat selesai bukunya, amin..) Proyek penulisan buku ini telah lama kami rancang. Idenya bahkan telah muncul sejak awal kami menikah.

Selain untuk proyek penulisan, kami juga ingin menyambung silaturahim dengan salah satu keluarga lokal di Fez yang dulu pernah berbaik hati berkenalan dan menerima Istri saya berkunjung dan menginap beberapa malam di rumahnya. Saat itu saya belum menikah.

“Nanti kalau sudah menikah, bawa suami kamu kesini dan kenalkan pada Mama ya.” Pesan Mama Saiedah ketika ima berpamitan pulang, 2010 silam.

“Insya Allah, Mama.”

Dan lima bulan yang lalu, setelah 2 tahun lebih usia pernikahan kami, Istri saya bersemangat menelpon Mama Saidah setiba kami di Maroko.

“Assalamu’alaikum, Mama, ana fil magrib al-an ma’a zaujy. Saya sekarang di Maroko bareng suami.”

“wa’alaikom salam, barakallahu fik ya binti wa waladii..nurahhibukum fi baiti..asytsqu mink jiddan jiddan. Mudahan Allah memberkahimu anak-anaku. Saya sangat merindukanmu.”

Kami menuju Fez dari Casablanca dengan berkereta ONCF. Berangkat dari stasiun casa Luiz, tiketnya 110 Dirham kalau tidak salah. Karena Jadual kereta yang ada saat itu sore, maka diperkirakan sampai Fez tengah malam.

Sesampai Fez, kami dibalut haru.

Ternyata Mama menjemput kami di stasiun. Ditemani Maryam, anak sulungnya, Kamal, suaminya, dan Syama, cucunya. Mereka ceria menyambut kami, padahal sudah tengah malam.

Mama memeluk Istri saya erat.

“Ahlan wa sahlan ya binti. Selamat datang anakku.”

Di sudut matanya perlahan tampak buliran air mata rindu, haru, dan seolah tidak percaya dapat bertemu kembali sesuai pesan Mama kala itu.

Hampir seminggu kami menginap di rumah Mama. Merenda jalinan silaturahim, memupuk kedekatan batin bersama keluarga mereka yang ramah. Hingga tiba saatnya kami pulang.

Selesai berfoto bersama; saya, Istri, Mama Saiedah, suaminya, Sara (putri keduanya yang kini baru dua minggu menikah), syama, kami dianter sampai terminal bis Medina. Old Town.

Kami berpamitan. Berpelukan.

Mama berpesan, “Nanti kalau kalian sudah punya baby, bawa juga kesini ya, Mama pengen gendong cucu Mama dari Indonesia.”

Kami berbisik dalam hati…

Amin. Insya Allah!
Fez, 13/11/13

Pesan Jumat

Pesan Jum’at

Salah satu ‘keunikan’ Jumatan di Maroko adalah adzan dikumandangkan sampai tiga kali putaran, sambung-menyambung tanpa diselingi ritual apapun.

Kalau di Tunisia lain lagi, justru shalat jumat dibagi menjadi tiga waktu. Awal, tengah, atau akhir. Makanya ada mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat awal waktu, ada yang tengah waktu, dan ada pula yang memilih akhir waktu menjelang Ashar tiba. Kabar-kabarnya, Mesjid Az-Zaitouna (731 M) di Kota Tunis dan Mesjid Kairouan (670 M) di Kota Kairouan memilih waktu terakhir.

Saya belum mempelajari detail alasannya secara mendalam. Mudah-mudahan ada yang bisa membantu. Namun jika ingin jawaban ringkas, demikianlah hasil ijtihad dalam madzhab Maliki. Seperti itu kira-kira.

Yang menarik, di beberapa mesjid Maroko yang saya hadiri, khutbahnya ringkas mirip kultum (kuliah tujuh menit) Kalau yang seperti ini saya pernah mendengar hadis, “Ciri khatib/imam Faqih adalah khutbahnya ringkas, shalatnya panjang.”

Kendati di mesjid terdekat yang kerap saya hadiri–mesjid Al-Itqan (didirikan tahun 1963)–bukan hanya khutbahnya yang ringkas, shalatnya pun turut ringkas dengan bacaan surat yang pendek-pendek seukuran surat An-nashr.

Mungkin karena masih awal-awal tahun baru hijriyyah 1435 H, tema yang diangkat khatib adalah masalah WAKTU. Surat yang disitir QS Al-‘Ashar.

Firman Allah, “Demi waktu! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat kebenaran, dan saling berwasiat kesabaran.” 

Kita sama-sama mengerti, jika Allah bersumpah dengan sesuatu, sedemikian pentingnya ia. Karenanya, semestinya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bukan malah menyia-nyiakannya terbuang percuma. Kemudian mengisinya dengan ragam kebaikan, ibadah, kegiatan ilmu, dan segala hal bermanfaat.

Orang yang jalinan hari-harinya dihiasi dengan perbaikan diri dan amal, dipuji Nabi Saw. sebagai orang terbaik. “Sebaik-baik orang ialah yang usianya panjang dan amalnya baik.” (HR Tirmidzi)

Khatib kemudian menyitir dialog Nabi dengan para sahabat, bahwa setiap orang kelak akan menyesal, orang baik (muhsin) maupun orang jahat (musi’) Ada yang bertanya, orang jahat menyesal, kami memaklumi. Kalau orang baik menyesal, maksudnya bagaimana?

“Orang jahat menyesal, karena dahulu tidak menjadi orang baik. Orang baik menyesal, karena ia tidak berbuat kebaikan lebih banyak lagi dari yang sudah dia lakukan sebelumnya.”

Oleh karena itu, mari simak cuplikan doa Nabi Saw. nan indah,

“Ya Allah, jadikan hidup kami sebagai ajang menambah kebaikan.

Ya Rabb, jadikan kematian sebagai ajang istirahat dari berbuat keburukan.”

Aquulu qauli hadza wa astagfirullaha lii wa lakum
Wallahu a’lam bishshawab!

Catatan jumat lalu, Maroko.

08/11/2013

Jumat Wada’ di Brussels

Jumat Wada’ di Brussels

Rangkaian perjalanan sepuluh hari silam bagi kami tentu sarat cerita dan kesan.

Sebut saja di Itali, kami mendapat delayed beruntun. Pasalnya, masinis kereta lokal terlambat datang. Akibatnya, semua jadual kereta harus mundur satu jam. Ditambah delayed bis ke bandara Treviso 1 jam. Sehingga kami nyaris ketinggalan pesawat.

Lain Itali lain Malaga. Di Malaga kami justru ‘dimanjakan’ di bandara. ‘Menumpang tidur gratis’ di salah satu restoran yang sudah tutup, terletak tak jauh dari gate-gate keberangkatan dalam Malaga Airport. Ada fasilitas kursi panjang empuk milik restoran. Tak hanya itu, kami dijamu air panas gratis, dan tentu saja toilet yang nyaman.

Di Granada lain cerita, kami menghabiskan waktu jelajah Al-Hambra seharian penuh. Lupa masih ada satu obyek belum kami datangi. Saat mau masuk istana ‘General Life’, kami ditolak petugas karena tternyata validitas tiket masuk istana ‘General Life’ telah habis. Kami sungguh tidak menyadari batasan waktu tersebut, saking terpesona pada keindahan dan keanggunan Nasrid Palaces!

Terutama di Alhambra, hati kami sempat bergemuruh menyaksikan kalimat tauhid tertempel kuat di segenap dinding istana peninggalan Dinasti Nasried yang memerintah selama kurang lebih 300-an tahun. Kami pun diliput haru kala menilik dan membaca, Al-Qudratu lillah (Kekuasaan hanya milik Allah), Al-Izzatu Lillah (Kejayaan hanya milik Allah), La Ghaliba illallah (Tiada penakluk selain Allah) Wa ma bikum min ni’matin faminallah (Nikmat kalian apa saja, semua dari Allah), Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam (Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam), dan sebagainya. La haula wa la quwwata illa billah. Memang tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah Swt.

Belum lagi cerita di Cordoba, Madrid, dan Paris.

***

Setelah perjalanan usai, Jumat pagi ini lelah tubuh belum pulih. Rasa capek masih bersisa. Namun agaknya jadual khutbah jumat (wada’) di KBRI Brussel harus tetap saya penuhi.

“Supaya menjadi kesempatan berpamitan dengan jama’ah, khususnya jama’ah KPMI Belgia.” Dorong istri.

Bismillah.
Saya ditemani Atif kecil berangkat berkereta menuju Brussels.

Saya tak ragu membawakan tema seputar petikan hikmah dari Haji dan ibadah Qurban. Sebab kurang lebih 2 hari lagi, jamaah haji di Mekkah akan memulai tarwiyah, berwukuf di Arafah, kemudian manasik haji yang lain. Bagi mereka, rangkaian manasik adalah kesempatan emas untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saudara-saudara kita, para hujjaj di sana akan berupaya meraup taburan kasih sayang dan ampunan Allah Swt.

Betapa Maha Rahman Maha Rahim Allah, sehingga Dia membuka banyak kesempatan untuk menyucikan diri dari alpa, lupa, dan dosa.

Dua bulan lalu, kita dianugerahi bulan ramadhan nan penuh berkah. Disusul bulan syawal dengan shaum 6 hari. Dilanjut bulan Dzulqa’dah (seperti bulan-bulan lain) dengan shaum sunnah Senin Kamis atau Ayyamul Bidh-nya. Lalu disusul bulan Dzulhijjah, bulan haji.

Semua pintu kesempatan untuk menebus lumuran noda jiwa, Allah hamparkan tanpa henti.

Para hujjaj yang mabrur, dijanjikan Nabi akan diberikan surga Allah. Sementara kita yang tidak sedang berhaji, diberikan kabar gembira akan diampuni dosa selama dua tahun, dengan cara menunaikan shaum sunnah Arafah 9 Dzulhijjah. Saat para hujjaj berwukuf di sana.

Jika sudah demikian Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Ia, pantaskah kita menyia-nyiakannya?! Atau malah kita tidak peduli dengan kekotoran hati kita. Na’udzu billah.

Ibadah haji dan Qurban adalah simbol pengorbanan. Ia adalah upaya membuktikan pengakuan cinta dan loyalitas kepada Allah dan Rasul.

Usai jumatan, saya berpamitan kepada jamaah KPMI terkhusus Pak Iman, staf KBRI sekaligus ketua KPMI. Seraya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama saya dan istri menunaikan amanah di sini. Tiada gading yang tak retak. Demikian pepatah masyhur menyebutkan. Kami pun bersalaman, bermaafan, berpelukan, dan saling mendoakan kebaikan bagi segala rencana dan cita-cita kejayaan Islam dan Umatnya.

Saya semakin terharu, saat Pak Iman mengantar saya dan athif langsung ke Metro Roodebek untuk kembali ke rumah di Bambrugge.

Sepanjang kaki saya menapaki pedestrian, saya merasa tanah Brussels seakan menatap sembari melambai, mengucap perpisahan untuk kembali berjumpa di waktu yang hanya Allah yang Mahatahu.

Dinginnya udara Brussels memeluk erat, semakin menguarkan rasa ngelangut dalam dada, karena saya akan meninggalkan kehangatan persaudaraan Islam di ibukota Belgia ini.

Hingga sampailah saya di loket penjualan tiket metro.

Seorang pelayan loket berwajah ramah dan bercahaya menyunggingkan senyum. Wajahnya campuran Arab-Eropa Muslim. Saya pun tidak ragu menyampaikan salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Dia menjawab lebih fasih dariku.

Wah, agaknya akan lebih asyik mengobrol. Setelah menanyakan kabar layaknya tradisi bersapa di tanah Maroko sana, saya berujar,

“Uriidu tadzkirah li rihlah waahidah (one voyage). Kam Ats-tsaman?” Saya ingin membeli satu tiket untuk satu perjalanan. Berapa harganya?”

“Thayyib, maktub fi lauhah, itsnan euro.” Baiklah, seperti tertulis di papan, 2 euro/ one voyage”

Tertulis pula di situ, untuk pembelian 2 euro, minimal uang pembelian adalah 5 euro.

Segera saya menjelaskan kondisi saya.

“Masyi, lakin lil asaf asy-syadid, ‘indi khamsun euro laisat fakkah. Tafadhhal.” Baik, tapi maaf sekali, saya ada 50 euro bukan pecahan. Silahkan.

“Wah, kamu tidak punya uang pas saja?”

“Hm, saya tidak punya.”

Mudah-mudahan di sini tidak sekejam di Madrid dan Paris. Gumam hati saya.

Di dua negara tersebut kami sempat harus merelakan perjalanan tertunda bahkan hingga 3 jam, hanya gara-gara petugas tidak mau melayani transaksi pembelian tiket kereta, hanya karena kami tidak memakai uang pas. Malah menyuruh kami keliling membeli sesuatu di toko mana saja untuk mencari uang pecahan. Dan menemukan toko yang mau memberi uang recehan juga tidak mudah menjelang midnight dan semua toko sudah tutup.

“Khalash, laisa fihi musykilah.” Ya sudah, tidak apa-apa.

Alhamdulillah.

Sambil transaksi, saya sempatkan mengobrol.

Nama petugas itu Abdurrahim.

Setelah menanyakan nama saya, dia berujar, “Nahnu Ikhwah. Al-Muslimun Kulluhum Kal Wahid.” Kita ini saudara. Seluruh umat Islam ibarat satu (tubuh). Seraya membacakan ragam doa untuk saya. Apalagi setelah dia tahu saya mau melanjutkan studi di Tunis.

Terlontar dari bibir beliau, barakallahu fik, wa zadakallahu ‘ilman nafi’an, wa wassa’allahu laka rizqak. Semoga Allah memberkahimu, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan meluaskan rezekimu.

Saya jawab, “Wa iyyak ya akhil kariim” Demikian pula untukmu, saudaraku.

Tak terasa transaksi usai dan antrian mulai memanjang. Saya pun berpamitan.

“Syukran ya Akhi Abdurrahim, barakallahu fi syughlik wa wassa’allahu rizqak. Ilalliqa” Terima kasih, saudaraku. Semoga pekerjaanmu diberkahi dan rezekimu pun diluaskan-Nya. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillah, petugas loket karcis di Metro Roodebek berusia kira-kira 50 tahunan baik hati itu menutup rangkaian perjalanan kami selama kami di Eropa. Setelah sebelumnya berkali-kali bertemu sosok petugas berwajah bengis, sinis, bahkan bau bir saat melayani kami, yang kami temui kala 10 hari menjelajah eropa mulai Jerman, Swedia, Finlandia, Belanda, Ceko, Italia, Spanyol dan Perancis.

Alhamdulillah, semoga engkau mampu menampilkan wajah Islam yang ramah. Ilalliqa’ ya Abdurrahim!

Ilalliqa ya Brussels! Ilalliqa’ ya Uruba!

Sampai jumpa Brussels! sampai jumpa lagi Eropa!

Bambrugge, Jumat senja, 11 Oktober 2013

 

 

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra  in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life 🙂

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada 🙂

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa, Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih 🙂

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara 🙂

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah 😉

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini 🙂

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara 🙂

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh 🙂

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai 🙂

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palaces dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi 🙂

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja 🙂

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing 🙂

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Mulai dari Keluarga!

Ini salah satu kesan dan pengalaman kami selama backpacking di Belgia.

Pertama kali saya dan istri tinggal di keluarga baru kami di rumah Kak L, saya terharu dan dibuat takjub saat mereka menerapkan salah satu ajaran Rasulullah Saw. yang paling sederhana, yaitu adab bersin. Pada saat sebagian orang lupa, atau bahkan belum mengetahui cara menyukuri nikmat bersin ini, mereka mempraktikkan ajaran Nabi dengan sangat baik 🙂

Kala itu, si kecil Ali (6 th) mendadak bersin. Spontan ia mengucapkan, alhamdulillah, dengan cukup keras hingga terdengar yang lain. Kakak-kakaknya yang mendengarkan ucapan hamdalah segera menyahut, yarhamukallah. Si kecil kembali membalas, yahdikumullah.

Image

Saya berpose di depan Islamic Centre Brussels
bersama istri, Ali dan Athif.

Di saat yang lain, kakaknya Ali bersin, pun ia mengucapkan alhamdulillah pertanda syukur. Yang mendengar seraya menyahut, yarhamukallah. Dia kembali menjawab, yahdikumullah.

Subhanallah. Murah bersyukur, murah berbalas doa. Indah sekali kan?!

Saya yakin doa-mendoakan tersebut sudah menjadi tradisi di keluarga ini. Sebab beberapa hari hingga sebulan kami tinggal bersama mereka, sunnah tersebut terus dijalankan secara spontan. Alhamdulillah.

Jika hal yang (seolah-olah) ringan ini bisa dibiasakan, insya Allah hal lain yang lebih ‘berat’ akan mudah dipraktekkan.

Memang, diantara cara efektif  menanamkan nilai atau ajaran Islam, menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. dan menyuburkan kebaikan, adalah mulai menerapkan perlahan dari ruang lingkup terkecil dan terdekat. Mulai dari diri sendiri, lalu keluarga. Terutama istri/suami dan anak-anak tercinta.

Hal ini selaras dengan salah satu ungkapan Arab yang menyebutkan, ‘Ibda’ binafsika!”

“Mulailah (melakukan kebaikan) dari diri kamu sendiri.”

Atau ungkapan lain, “Ashlih nafsaka, yushlih lakannasu.”

“Perbaiki dirimu, niscaya orang akan ikut memperbaiki diri (dengan mengikuti caramu).”

***

Ingin mengetahui hakikat nikmat bersin ini, berikut kutipan tulisan lama saya di Republika terkait dengan bersin; nikmat yang kerap terlupa.

Anas bin Malik RA bercerita, ada dua orang bersin di dekat Nabi Muhammad SAW. Beliau mendoakan (tasymit) salah seorang dari keduanya, namun tidak mendoakan seorang yang lain. Ditanyakan alasannya, Rasul menjawab, “Sebab, orang yang satu mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satu lagi tidak membacanya.” (HR Bukhari).

Jadi, orang yang bersin dan tidak membaca alhamdulillah, tidak layak didoakan karena tidak syukur nikmat. Padahal, bersin termasuk salah satu nikmat dari Allah SWT yang manfaatnya sangat besar. Menurut Ibnul Qayyim, bersin dapat mengeluarkan uap dari dalam otak yang jika dibiarkan akan berbahaya. (Zadul Ma’ad 2: 438).

Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam.

Bahkan, Dr Michael Roizen, wellness officer Cleveland clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Untuk itulah, setelah bersin, sejatinya membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Hamdalah merupakan doa paling utama. (Lihat hadis riwayat Tirmidzi). Imam Al-Sindi menyatakan, hamdalah mengandung pengertian dua jenis (fungsi) doa, yaitu menyanjung (tsana`) dan mengingat Allah SWT (zikir); serta mengajukan permohonan (thalab) agar nikmat ditambah.

Padahal, dengan berzikir saja, Allah menjamin akan memberikan lebih dari yang diminta. “Siapa orang yang lebih sibuk mengingat-Ku (berzikir) daripada meminta sesuatu kepada-Ku, ia akan Aku berikan sesuatu melebihi yang orang-orang mohon.” (Hadis Qudsi).

Lain bersin, lain pula menguap (tatsâ`ub berarti layu dan malas). Menguap terjadi karena minimnya oksigen dalam tubuh. Biasanya, orang menguap saat kondisi tubuh lelah, malas, bosan, atau mengantuk. Karenanya, Nabi SAW bersabda, “Menguap itu dari setan. Oleh karenanya, jika menguap, tahanlah sebisa mungkin. Sebab, jika orang menguap hingga terucap ‘ha’, setan tertawa menyaksikannya.” (HR Bukhari).

Setan tertawa gembira karena menyukai kemalasan. Sedangkan Islam sangat anti dengan kemalasan dan menganjurkan umatnya untuk giat beramal. Nabi SAW pun selalu berlindung dari sifat malas (kasal). Wallahu a’lam.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/06/29/122135-nikmat-yang-kerap-terlupakan.