Sewa Rumah di Rabat

Akhirnya sampai pada titik harus segera meninggalkan kamar kos di sudut ibukota Maroko.

Besok InsyaAllah, atap pertama kami yang jadi saksi sepanjang memancangkan niat dan ikhtiar mendaftar kuliah si Aa di negeri senja akan ditinggalkan.

Seharian tadi kami semangat mencuci rumah (seperti adat orang Maroko dalam bersih-bersih rumah).

Sejenak terlintas haru saat menatap kamar kos. Kamar yang telah merekam semangat, rinai doa di sepertiga malam, keputusasaan, kesedihan, kebahagiaan kecil, turbulensi rasa, lonjakan harapan, tetes airmata, romansa sepasang jiwa hingga drama bertetangga dalam satu apartemen. Pengalaman pertama yang lengkap!

Masa sewa kamar luas dan panjang berukuran 3.5 X 6.5 meter yang telah kami huni sejak 28 Agustus 2015 ini berakhir besok.

Kami sengaja bayar bulanan, agar mudah angkat kaki jika memang situasi menuntut seperti itu.

Sejak awal memutuskan berjuang mendaftarkan kuliah si Aa, kami sudah diperingatkan beberapa orang tentang panjangnya proses pendaftaran kuliah di Maroko.

Jangan bayangkan proses pendaftaran kuliah program master dan doktoral sesederhana proses mendaftar di Eropa atau Amerika ya.

Berdasar pengalaman saya mendaftar kuliah master di Inggris pada tahun 2004, saya cukup mengirimkan beberapa email ke univeritas target yang saya inginkan, berkomunikasi dengan professor untuk membimbing tesis saya nantinya dan bersamaan dengan itu memulai proses pendaftaran online.

Yup! Dua belas tahun lalu di bumi Eropa sudah bisa mendaftar kuliah secara online. Semua berkas cukup discan lalu dikirimkan by email. Jika diterima, kampus akan mengeluarkan ‘Letter of Acceptance’ dari departemen / fakultas yang kita tuju.

LoA ini adalah surat sakti yang bisa digunakan untuk apply visa sekaligus. Jika visa granted, maka mahasiswa dipersilahkan menuju kampus yang dituju. Hassle-free!

Simpel, ringkas, mudah dan tidak membuang biaya belasan hingga puluhan juta. (Pesawat, sewa rumah atau kamar, biaya hidup selama proses mendaftar dan seterusnya!)

Jangan harapkan kenyamanan serupa di negara-negara Arab. Meski Maroko secara geografis letaknya di ujung Afrika Utara dan sudah sangat dekat dengan Eropa Selatan, attitude mereka tetaplah ‘Arab’!

Bersiaplah untuk sabar bolak-balik mengurus surat pengantar ke KBRI Rabat.

Setelahnya hunjamkan kembali rasa sabar mengecek berkas di AMCI (Aa sendiri menjalani 16 kali bolak-balik). Belum selesai!

Panjangkan lagi sabarmu mengecek berkas ke Ta’lim Aliy (Dikti Maroko) untuk memastikan berkas tidak lenyap di tengah jalan(Aa bolak-balik 7 kali hingga dipastikan berkas sudah terkirim ke kampus yang dituju).

Sudah selesai?

Belum. Terus lah bersabar mengawal berkas ke rektorat kampus tujuan, kawal terus berkas saat berjalan ke kepala dekan, ketua jurusan lalu kembali ke Rektorat.

Sudah?

Belum. Sabar, sabaaar! 🙂

Tambahkan kembali si sabar saat berkas masuk lagi ke Ta’lim Aliy.

Terus pupuk sabar hingga akhirnya keluar surat sakti bernama Rukhshah dari AMCI (lembaga bentukan Kemlu Maroko khusus mengurusi mahasiswa asing). Dengan rukhshah inilah si Aa nantinya membawa ke kampus untuk meminta diterbitkannya nomor registrasi mahasiswa ‘paling’ resmi!

Sudah kah Aa dapat rukhshah?
Belum juga dear pembaca.

Doakan ya supaya rukhshah si Aa secepatnya keluar karena musim ujian telah menjelang!

Sebelum hidup di Maroko dengan tujuan menuntut ilmu, kami tak pernah menyangka jika urusan mendaftar saja memakan waktu berbulan-bulan. Dua kali menjejak Maroko kami bahagia. Pasalnya kami adalah backpacker yang tak berurusan dengan birokrasi. Kami sekadar menikmati keindahan warisan budaya Islam klasik dan artefak sejarah padang pasir. Selebihnya kami miskin pengalaman hidup di Maroko!

Beberapa kasus pendahulu kami yang berburu ilmu, mereka malah menjalani proses setahun lebih. Datang ke Maroko, terlunta-lunta dalam birokrasi yang tak ramah hingga dipaksa keadaan pulang ke tanah air lalu kembali lagi setelah mendapatkan kuota departemen agama di Indonesia. Kapan-kapan si Aa ceritakan ya.

Jika proses pendaftaran kuliah di Maroko belum tuntas, kenapa kami pindah?

Kami bukan pasangan yang mudah bosan. Kami terbiasa prihatin, menekan rasa dan bertenggang hati dengan tetangga kamar. Buat kami prihatin wajib dalam masa mendaftar dan beasiswa juga belum turun.

Kami hanya sanggup sewa satu kamar di ibukota Rabat karena saking mahalnya sewa rumah di Rabat!

Sepanjang hasil penelusuran kami berkali-kali hunting rumah di area tak jauh dari kampus Muhammad V University (seputar Agdal, Madinah dan sekitarnya) sewa rumah di Rabat dimulai dari 6500 dirham hingga 18000 dirham per bulan. Bukan per tahun ya!

Kalikan 1500 rupiah. Kisaran 9.750.000 – 27.000.000 rupiah! MasyaAllah, bukan main mahalnya sewa rumah di Rabat ya. 😦

Sungguh angka sewa rumah bulanan yang fantastis bukan!

Pertama tiba di sini kami juga shock bukan main. Akhirnya kami putuskan tinggal di pinggiran ibukota. Agar sanggup membayar bulanan sewa kamar. Sekali lagi bukan sewa satu buah rumah utuh ya! 🙂

Dengan kondisi beasiswa Aa yang belum turun sama sekali, kami hanya mampu sewa satu kamar di pinggiran kota Rabat. Uang sewa lima bulan terakhir kami dapatkan dari ‘tabungan’ – lebih tepatnya hasil jualan pempek di Eropa sepanjang Ramadhan-Dakwah backpacking 2015- yang tersisa.

Tentu saja kami harus hidup sangat sangat sederhana, kalau tidak dikatakan ala kadarnya.

Sungguh kami berhemat sebisa mungkin.

Juga menahan keinginan tuk berkelana ke kota-kota lain, karena itu akan menyedot tabungan kami yang juga tak seberapa.

image

Kamar kos di Rabat

Alhamdulillaah kami cukup puas dengan satu kamar dan dapur mungil berjendela.

Yang utama, kami diliputi syukur karena tetangga kamar adalah satpam yang tidur sepanjang siang lalu pergi jelang Maghrib hingga esok pagi.

Sampai kemudian awal bulan lalu landlady protes pada penggunaan listrik kami. Kata Aisha bayar listrik bulan Desember meroket! “Ghaaliy bidz zhoof!”

Kami tersentak. Rasanya pemakaian listrik kamar kami paling hemat dibandingkan pemilik rumah dan adik si pemilik rumah.

Mereka menyalakan TV nyaris 12 jam sehari, kulkas 24 jam, laptop, dkknya kali dua rumah dengan empat titik lampu.

Sementara kami hanya menyalakan laptop saat dibutuhkan, pemanas air saat ingin minum air panas dua buah titik lampu (satu di kamar dan satu di dapur) saat malam hari saja.

Bahkan ruang tengah yang kosong berbatasan dengan kami dibiarkan gulita tak diberi lampu. Juga tangga ke lantai dua tak pernah dinyalakan jika sedang tidak melintasi.

Rasanya muntab mendengar kata-kata, “Ghaaliy bidz zhoof” tersebut sementara kami menjaga pemakaian listrik.

Kami memang sempat menyalakan heater (pemanas ruangan) yang dipinjamkan seorang Kakak di Belgia. Tapi hanya kami pakai sesekali terutama saat temperature udara sangat rendah dan tak kuat menahan dingin.

Di sisi lain, kami pernah meninggalkan kamar menuju Belgia untuk perbaharui free visa selama dua minggu lebih. Artinya biaya heater yang kami nyalakan bisa dimasukkan ke situ.

Kami pikir Aisha sudah bersikap berlebihan, sementara kami pernah mengintip surat tagihan listrik dan air. Hanya 300-an dirham untuk empat lantai dan tiga kamar kos di basement.

Saya pribadi juga sudah bersabar rutin mendengar teriakan kasar Umar pada istrinya, bersabar atas sikap Aisha yang selalu mengecek penggunaan listrik khususnya perebus air elektrik milik kami, bersabar atas larangan berisik – seakan kami sepasang anak kecil- karena akan membangunkan Pak satpam (tapi 5 bulan bertetangga Pak satpam tak pernah protes pada kami) dan bersabar menemukan ‘harta karun’ Pak satpam di toilet bersama. Duuuuh!

Ini seperti tanda-tanda semesta, agar kami mengakhiri kos di sini.

***

Pucuk Dicinta Ulampun Tiba kah?

Saat mengantarkan risoles untuk Vera dan Mas Syamsul tetangga kami beberapa blok pada tanggal 19 Januari, akhirnya terlontar curahan hati tentang landlady kami. “Sepertinya kami sudah saatnya pindah, Mas…”

“Wah iya, Mbak. Kalau kayak gitu pindah saja. Kebetulan Mas W sudah selesai sewa rumah dekat pasar, Mbak. Apa Mbak tertarik lihat rumahnya?”

“Mau banget, Mas. Kapan bisa antar kami?”

Singkat cerita, di hari yang sama kami memutuskan melihat rumah itu ditemani beliau.

More than excited. Deg-degan. Apalagi Mas Syamsul bilang rumahnya bagus dan terawat.

Saat tiba di pintu rumah itu rasanya biasa saja. Tampilan luar sangat biasa cenderung kurang bagus. But don’t judge a book by its cover!

Begitu gerbang masuk utama dibuka, saya takjub pada bersihnya rumah yang akan disewakan!

Secara keseluruhan rumahnya sederhana. Standar kelas menengah ibukota Rabat.

Yang istimewa adalah kamar mandinya. Tak sekadar full keramik, tapi komplit dengan wastafel, toilet duduk dan shower!

image

Toilet bersih apik

Setelah lima bulan hanya menggunakan toilet jongkok sekaligus sebagai kamar mandi sempit (menggunakan ember milik sendiri) toilet seapik itu menjebol hati.

Dapur juga luas dengan jendela lebar.

Belum ruang jemur tepat di sebelah dapur. Spacious and bright! 🙂

image

Sewa rumah di Rabat

Felt in love suddenly!

Kami saling pandang. Aa menganggukkan kepala.

Mas Syamsul membantu nego harga. Alhamdulillaah masuk budget kami meski tentu saja hampir dua kali lipat kamar kos kami.

Saatnya menyampaikan keinginan.

Mas Syamsul melobi dengan bahasa darijah. Beberapa jenak kemudian menoleh ke saya, “Mbak, rumah ini ternyata mau dilihat orang Maroko juga. Nanti agak sore katanya. Kalau si Maroko tidak jadi, maka rumah ini akan disewakan ke Mbak.”

Aiiiih, kenapa jadi menggemaskan begini!

Kami meninggalkan rumah impian dengan gregetan.

Akan kah rumah mungil bersih apik sahaja ini berjodoh dengan kami?

Aa istikharah. Saya mengikuti. Dua puluh empat jam terasa sangat lamaaa!

Esoknya saya whatsapp Mas S.
“Gimana Mas?”
“Alhamdulillaah Mbak, rumah itu bisa Mbak sewa.”

Seketika sujud sukur. Rebah ke bumi.

Terima kasih, Allah.
Karena kebaikanMu melalui Mas Syamsul kami tak perlu repot hunting rumah di seantero Rabat atau mendatangi makelar rumah.

Kami juga tak perlu kedinginan turun naik bis dengan ancaman dicopet.

Kami tak perlu berlelah-lelah. Manisnya kejutan dariMu, Allah.

Bismillah, we’re moving tomorrow! 🙂

Advertisements

Menunggu Surat Cinta dari KBRI

Izinkan saya berbagi resah yang mendera.

Kali ini ingin membincang keberadaan KBRI di luar negeri, karena kami sedang mengajukan hajat pada salah satu KBRI.

Backpacker seperti kami sebetulnya enggan berdekatan dengan ‘kekuasaan’.
Kami sepasang pengantin kelana mandiri. Akan tetapi, ada kalanya kami mesti bersinggungan dengan KBRI di negara yang kami datangi.

Kalau kami akan ‘menetap’ minimal satu bulan di suatu negara, secara alami saya dan suami senang hati lapor diri ke KBRI setempat.

Rasanya lega jika sudah ‘kolunuwun’ ke perwakilan pemerintah Indonesia di negeri asing yang kami jejak.

Jika ada apa-apa di tengah perjalanan (na’udzubillaah), ke mana kami bisa minta bantuan kalau bukan ke KBRI?

Secara umum, kami selalu merasa nyaman dengan atmosfer kekeluargaan yang dibangun oleh petinggi KBRI di negara-negara yang pernah kami sambangi.

Meski untuk urusan administrasi nanti dulu, karena fakta di lapangan ternyata sangat beragam.

Berdasar pengamatan kami, tidak semua KBRI lincah membantu warga Indonesia di luar negeri yang sedang memerlukan ayoman dan uluran tangan.

Beberapa KBRI tampil birokratis dan kaku. Tampaknya dipengaruhi gaya kepemimpinan sang dubes yang dipilih presiden berkuasa.

Kesimpulan ini saya ambil setelah bersua dan berbincang dengan sekian dubes sepanjang pengembaraan sepuluh tahun terakhir.

Saya masih terkenang-kenang dengan kebaikan Doktor Marty Natalegawa sepanjang beliau menjadi dubes UK, terutama saat saya kuliah di sana.

Sikap tulus membantu pelajar dan mahasiswa seperti saya meninggalkan jejak indah di hati. Mengingat beliau adalah sekaligus melangitkan doa untuk kebaikan-kebaikan beliau sekeluarga. 🙂

Untuk Timur Tengah dan Afrika lain lagi ceritanya.

Sepanjang 2010 hingga 2013 saya pernah berurusan dengan dubes Mesir, dubes Jordan, dubes Tunisia dan dubes Maroko.

Alhamdulillaah semua dubes membantu segala hajat saya.

Yang paling mengesankan adalah silaturahim dengan dubes Mesir pada jelajah Mesir pertama kali di tahun 2010, yaitu Doktor Fachir (sekarang wakil Menlu). Beliau malah mengundang saya untuk dinner di rumah beliau dan membantu mewujudkan impian saya menjejakkan kaki hingga Jordania.

Bagaimana dengan pengembaraan kami tahun 2015 ini?

Sepanjang Ramadhan backpacking di Eropa tahun ini, kami tidak mampir ke KBRI manapun karena kebetulan Aa tidak diminta mengisi pengajian di lingkungan KBRI. Akan tetapi jejak kebaikan KBRI Belanda membuhul di benak kami.

Salah satu home staff KBRI Belanda membantu membuatkan invitation letter dan berbuah visa schengen multiple entry berlaku hingga 2017. Alhamdulillaah.

Menunggu Surat Pengantar dari KBRI Maroko

Sekarang kami kembali ke Maroko. Langsung terbang dari Belgia setelah Dakwah backpacking berakhir. Semata agar ngirit biaya dan waktu.

Seluruh pengeluaran direncanakan seapik mungkin, mengingat kami berdua sama-sama tidak bekerja dan beasiswa suami baru turun setelah mulai kuliah.

Dubes Maroko ternyata telah berganti.

Saya pernah bersua dengan dubes sebelumnya, yaitu Bapak Tosari Wijaya.
Beliau sosok yang hangat, kebapakan dan tidak mudah menghakimi seseorang.

Beliau ringan tangan mempermudah hajat orang banyak. Senang bergerak secara kultural dan merangkul seluruh lapisan.

Dubes sekarang saya masih mengamati. Alhamdulillaah sudah bersua beliau saat shalat Idul Adha di KBRI Maroko tanggal 24 September lalu.

Yang jelas, suami saya telah ke
KBRI Maroko pada tanggal 18 September untuk meminta surat pengantar ke Pensosbud KBRI Maroko.

Surat pengantar ini akan dibawa ke AMCI untuk menginisiasi proses pendaftaran sebagai calon mahasiswa di salah satu universitas di Maroko.

AMCI (lembaga yang mengurusi seluruh mahasiswa internasional di Maroko) mensyaratkan surat pengantar dari KBRI Maroko untuk melengkapi berkas pendaftaran mahasiswa mandiri seperti suami saya.

Untuk memastikan ini, Aa sudah mendatangi AMCI seorang diri pada hari Selasa lampau.

Sayangnya surat pengantar yang dibutuhkan suami saya belum dibuatkan KBRI Maroko hingga hari ini.

Entah berapa lama kami harus bersabar menunggu dibuatkannya selembar surat pengantar mendaftar kuliah di negeri ini?

Sangat banyak yang ingin saya ukir di sini, tapi saya harus menahan diri…

Kini, harapan kami tumpukan pada Allah sepenuhnya, semoga Ia permudah segala niat baik ini.

Amin.

Exciting Projects from Rabat

image

It has been exciting days for me nowadays.

From the beginning I decided to accompany my better half continuing his study in this desert land, I’ve been convincing my self that I could overcome the lonely feeling while he go to university or library.

From beginning I knew that I could do creative things with this ‘lonely’ feeling 🙂

Alhamdulilah, after several weeks handling my shock-feeling as living in this ‘unpredictable country’, next month I’ll have some challenging projects to be done creatively!

Some of them are:

One writing project with a famous novelist,

One co-networking with one bank in Indonesia,

One English-speaking group to be taught by me!

The last one is really drenched my fingers, since I’m not an English teacher at all.

I’m just trying to use english as my third language as much as possible but then some closed friends thought that I could teach them.

Oh my!
To be honest I don’t really like the ‘teaching’ word to be used in this kinda job.

At this stage, I’m not cleverer than my ‘students’. I’m just sharing what I’ve known so far.

Anyway, I’ve decided to accept those chances and I’m totally excited 🙂

Please make du’a for my forth coming projects ya 🙂

Also, would like to tell you my dear readers, from now on this blog will share many stories about our new life in Morocco.

Hope you don’t mind and still excited to follow our ‘backpacking and living stories’ around Morocco. 🙂

Ps.
If you found grammar mistakes in this piece of writing, please don’t be hesitate to let me know, I’ll be more than happy to accept your correction 🙂