Sewa Rumah di Rabat

Akhirnya sampai pada titik harus segera meninggalkan kamar kos di sudut ibukota Maroko.

Besok InsyaAllah, atap pertama kami yang jadi saksi sepanjang memancangkan niat dan ikhtiar mendaftar kuliah si Aa di negeri senja akan ditinggalkan.

Seharian tadi kami semangat mencuci rumah (seperti adat orang Maroko dalam bersih-bersih rumah).

Sejenak terlintas haru saat menatap kamar kos. Kamar yang telah merekam semangat, rinai doa di sepertiga malam, keputusasaan, kesedihan, kebahagiaan kecil, turbulensi rasa, lonjakan harapan, tetes airmata, romansa sepasang jiwa hingga drama bertetangga dalam satu apartemen. Pengalaman pertama yang lengkap!

Masa sewa kamar luas dan panjang berukuran 3.5 X 6.5 meter yang telah kami huni sejak 28 Agustus 2015 ini berakhir besok.

Kami sengaja bayar bulanan, agar mudah angkat kaki jika memang situasi menuntut seperti itu.

Sejak awal memutuskan berjuang mendaftarkan kuliah si Aa, kami sudah diperingatkan beberapa orang tentang panjangnya proses pendaftaran kuliah di Maroko.

Jangan bayangkan proses pendaftaran kuliah program master dan doktoral sesederhana proses mendaftar di Eropa atau Amerika ya.

Berdasar pengalaman saya mendaftar kuliah master di Inggris pada tahun 2004, saya cukup mengirimkan beberapa email ke univeritas target yang saya inginkan, berkomunikasi dengan professor untuk membimbing tesis saya nantinya dan bersamaan dengan itu memulai proses pendaftaran online.

Yup! Dua belas tahun lalu di bumi Eropa sudah bisa mendaftar kuliah secara online. Semua berkas cukup discan lalu dikirimkan by email. Jika diterima, kampus akan mengeluarkan ‘Letter of Acceptance’ dari departemen / fakultas yang kita tuju.

LoA ini adalah surat sakti yang bisa digunakan untuk apply visa sekaligus. Jika visa granted, maka mahasiswa dipersilahkan menuju kampus yang dituju. Hassle-free!

Simpel, ringkas, mudah dan tidak membuang biaya belasan hingga puluhan juta. (Pesawat, sewa rumah atau kamar, biaya hidup selama proses mendaftar dan seterusnya!)

Jangan harapkan kenyamanan serupa di negara-negara Arab. Meski Maroko secara geografis letaknya di ujung Afrika Utara dan sudah sangat dekat dengan Eropa Selatan, attitude mereka tetaplah ‘Arab’!

Bersiaplah untuk sabar bolak-balik mengurus surat pengantar ke KBRI Rabat.

Setelahnya hunjamkan kembali rasa sabar mengecek berkas di AMCI (Aa sendiri menjalani 16 kali bolak-balik). Belum selesai!

Panjangkan lagi sabarmu mengecek berkas ke Ta’lim Aliy (Dikti Maroko) untuk memastikan berkas tidak lenyap di tengah jalan(Aa bolak-balik 7 kali hingga dipastikan berkas sudah terkirim ke kampus yang dituju).

Sudah selesai?

Belum. Terus lah bersabar mengawal berkas ke rektorat kampus tujuan, kawal terus berkas saat berjalan ke kepala dekan, ketua jurusan lalu kembali ke Rektorat.

Sudah?

Belum. Sabar, sabaaar! 🙂

Tambahkan kembali si sabar saat berkas masuk lagi ke Ta’lim Aliy.

Terus pupuk sabar hingga akhirnya keluar surat sakti bernama Rukhshah dari AMCI (lembaga bentukan Kemlu Maroko khusus mengurusi mahasiswa asing). Dengan rukhshah inilah si Aa nantinya membawa ke kampus untuk meminta diterbitkannya nomor registrasi mahasiswa ‘paling’ resmi!

Sudah kah Aa dapat rukhshah?
Belum juga dear pembaca.

Doakan ya supaya rukhshah si Aa secepatnya keluar karena musim ujian telah menjelang!

Sebelum hidup di Maroko dengan tujuan menuntut ilmu, kami tak pernah menyangka jika urusan mendaftar saja memakan waktu berbulan-bulan. Dua kali menjejak Maroko kami bahagia. Pasalnya kami adalah backpacker yang tak berurusan dengan birokrasi. Kami sekadar menikmati keindahan warisan budaya Islam klasik dan artefak sejarah padang pasir. Selebihnya kami miskin pengalaman hidup di Maroko!

Beberapa kasus pendahulu kami yang berburu ilmu, mereka malah menjalani proses setahun lebih. Datang ke Maroko, terlunta-lunta dalam birokrasi yang tak ramah hingga dipaksa keadaan pulang ke tanah air lalu kembali lagi setelah mendapatkan kuota departemen agama di Indonesia. Kapan-kapan si Aa ceritakan ya.

Jika proses pendaftaran kuliah di Maroko belum tuntas, kenapa kami pindah?

Kami bukan pasangan yang mudah bosan. Kami terbiasa prihatin, menekan rasa dan bertenggang hati dengan tetangga kamar. Buat kami prihatin wajib dalam masa mendaftar dan beasiswa juga belum turun.

Kami hanya sanggup sewa satu kamar di ibukota Rabat karena saking mahalnya sewa rumah di Rabat!

Sepanjang hasil penelusuran kami berkali-kali hunting rumah di area tak jauh dari kampus Muhammad V University (seputar Agdal, Madinah dan sekitarnya) sewa rumah di Rabat dimulai dari 6500 dirham hingga 18000 dirham per bulan. Bukan per tahun ya!

Kalikan 1500 rupiah. Kisaran 9.750.000 – 27.000.000 rupiah! MasyaAllah, bukan main mahalnya sewa rumah di Rabat ya. 😦

Sungguh angka sewa rumah bulanan yang fantastis bukan!

Pertama tiba di sini kami juga shock bukan main. Akhirnya kami putuskan tinggal di pinggiran ibukota. Agar sanggup membayar bulanan sewa kamar. Sekali lagi bukan sewa satu buah rumah utuh ya! 🙂

Dengan kondisi beasiswa Aa yang belum turun sama sekali, kami hanya mampu sewa satu kamar di pinggiran kota Rabat. Uang sewa lima bulan terakhir kami dapatkan dari ‘tabungan’ – lebih tepatnya hasil jualan pempek di Eropa sepanjang Ramadhan-Dakwah backpacking 2015- yang tersisa.

Tentu saja kami harus hidup sangat sangat sederhana, kalau tidak dikatakan ala kadarnya.

Sungguh kami berhemat sebisa mungkin.

Juga menahan keinginan tuk berkelana ke kota-kota lain, karena itu akan menyedot tabungan kami yang juga tak seberapa.

image

Kamar kos di Rabat

Alhamdulillaah kami cukup puas dengan satu kamar dan dapur mungil berjendela.

Yang utama, kami diliputi syukur karena tetangga kamar adalah satpam yang tidur sepanjang siang lalu pergi jelang Maghrib hingga esok pagi.

Sampai kemudian awal bulan lalu landlady protes pada penggunaan listrik kami. Kata Aisha bayar listrik bulan Desember meroket! “Ghaaliy bidz zhoof!”

Kami tersentak. Rasanya pemakaian listrik kamar kami paling hemat dibandingkan pemilik rumah dan adik si pemilik rumah.

Mereka menyalakan TV nyaris 12 jam sehari, kulkas 24 jam, laptop, dkknya kali dua rumah dengan empat titik lampu.

Sementara kami hanya menyalakan laptop saat dibutuhkan, pemanas air saat ingin minum air panas dua buah titik lampu (satu di kamar dan satu di dapur) saat malam hari saja.

Bahkan ruang tengah yang kosong berbatasan dengan kami dibiarkan gulita tak diberi lampu. Juga tangga ke lantai dua tak pernah dinyalakan jika sedang tidak melintasi.

Rasanya muntab mendengar kata-kata, “Ghaaliy bidz zhoof” tersebut sementara kami menjaga pemakaian listrik.

Kami memang sempat menyalakan heater (pemanas ruangan) yang dipinjamkan seorang Kakak di Belgia. Tapi hanya kami pakai sesekali terutama saat temperature udara sangat rendah dan tak kuat menahan dingin.

Di sisi lain, kami pernah meninggalkan kamar menuju Belgia untuk perbaharui free visa selama dua minggu lebih. Artinya biaya heater yang kami nyalakan bisa dimasukkan ke situ.

Kami pikir Aisha sudah bersikap berlebihan, sementara kami pernah mengintip surat tagihan listrik dan air. Hanya 300-an dirham untuk empat lantai dan tiga kamar kos di basement.

Saya pribadi juga sudah bersabar rutin mendengar teriakan kasar Umar pada istrinya, bersabar atas sikap Aisha yang selalu mengecek penggunaan listrik khususnya perebus air elektrik milik kami, bersabar atas larangan berisik – seakan kami sepasang anak kecil- karena akan membangunkan Pak satpam (tapi 5 bulan bertetangga Pak satpam tak pernah protes pada kami) dan bersabar menemukan ‘harta karun’ Pak satpam di toilet bersama. Duuuuh!

Ini seperti tanda-tanda semesta, agar kami mengakhiri kos di sini.

***

Pucuk Dicinta Ulampun Tiba kah?

Saat mengantarkan risoles untuk Vera dan Mas Syamsul tetangga kami beberapa blok pada tanggal 19 Januari, akhirnya terlontar curahan hati tentang landlady kami. “Sepertinya kami sudah saatnya pindah, Mas…”

“Wah iya, Mbak. Kalau kayak gitu pindah saja. Kebetulan Mas W sudah selesai sewa rumah dekat pasar, Mbak. Apa Mbak tertarik lihat rumahnya?”

“Mau banget, Mas. Kapan bisa antar kami?”

Singkat cerita, di hari yang sama kami memutuskan melihat rumah itu ditemani beliau.

More than excited. Deg-degan. Apalagi Mas Syamsul bilang rumahnya bagus dan terawat.

Saat tiba di pintu rumah itu rasanya biasa saja. Tampilan luar sangat biasa cenderung kurang bagus. But don’t judge a book by its cover!

Begitu gerbang masuk utama dibuka, saya takjub pada bersihnya rumah yang akan disewakan!

Secara keseluruhan rumahnya sederhana. Standar kelas menengah ibukota Rabat.

Yang istimewa adalah kamar mandinya. Tak sekadar full keramik, tapi komplit dengan wastafel, toilet duduk dan shower!

image

Toilet bersih apik

Setelah lima bulan hanya menggunakan toilet jongkok sekaligus sebagai kamar mandi sempit (menggunakan ember milik sendiri) toilet seapik itu menjebol hati.

Dapur juga luas dengan jendela lebar.

Belum ruang jemur tepat di sebelah dapur. Spacious and bright! 🙂

image

Sewa rumah di Rabat

Felt in love suddenly!

Kami saling pandang. Aa menganggukkan kepala.

Mas Syamsul membantu nego harga. Alhamdulillaah masuk budget kami meski tentu saja hampir dua kali lipat kamar kos kami.

Saatnya menyampaikan keinginan.

Mas Syamsul melobi dengan bahasa darijah. Beberapa jenak kemudian menoleh ke saya, “Mbak, rumah ini ternyata mau dilihat orang Maroko juga. Nanti agak sore katanya. Kalau si Maroko tidak jadi, maka rumah ini akan disewakan ke Mbak.”

Aiiiih, kenapa jadi menggemaskan begini!

Kami meninggalkan rumah impian dengan gregetan.

Akan kah rumah mungil bersih apik sahaja ini berjodoh dengan kami?

Aa istikharah. Saya mengikuti. Dua puluh empat jam terasa sangat lamaaa!

Esoknya saya whatsapp Mas S.
“Gimana Mas?”
“Alhamdulillaah Mbak, rumah itu bisa Mbak sewa.”

Seketika sujud sukur. Rebah ke bumi.

Terima kasih, Allah.
Karena kebaikanMu melalui Mas Syamsul kami tak perlu repot hunting rumah di seantero Rabat atau mendatangi makelar rumah.

Kami juga tak perlu kedinginan turun naik bis dengan ancaman dicopet.

Kami tak perlu berlelah-lelah. Manisnya kejutan dariMu, Allah.

Bismillah, we’re moving tomorrow! 🙂

Tunanetra Berhati Surga

Tunanetra Berhati Surga

Awal Perkenalan

Kedekatan saya dengan penghafal Al-Quran berdarah asli Sale-Rabat ini bermula tak sengaja. Ketika itu ia berdiri mematung di dekat meja resepsionis sebuah acara seminar sehari tentang hari Bahasa Arab se-dunia (18/12) Sementara ratusan peserta—mayoritas mahasiswa Jurusan Studi Islam Fakultas Adab dan Humaniora dari jenjang s1 hingga s3—berseliweran dan bergantian mengisi daftar hadir.  Acara ini dihitung kuliah umum wajib.

“Assalamu’alaikum, ya akhi Muhammad.” Saya menyapanya terlebih dahulu. Mendekatkan suara pada telinganya.

“Wa’alaikum salam. Ahlan wa marhaban bik ya akhi.” Jawabnya ramah dan tegas.

“Labaas..?

“Labaas, alhamdulillah.”

“Man hadza. Siapa ini?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan yang kerap saya dengar jika bertemu orang baru atau belum lama dikenalnya. Memang sejak lebih dari sepuluh tahun, dia hanya mengandalkan pendengaran.

Dia satu kelas dengan saya, namun tidak pernah mengobrol. Bertemu hanya saat sama-sama mendengarkan kuliah atau shalat berjamaah di mushalla.

“Ana Risyan Nurhakim, Anduuniisi.”

“Kenapa masih berdiri di sini?” Tanya saya.

“Teman-temanku tidak kembali menjemputku. Mereka bilang mau mengisi daftar hadir dan ke toilet. Tapi sudah 10 menit belum balik-balik.” Ujarnya.

“Mereka jahat sekali padaku. Huh! Habis membubuhkan tanda tangan di daftar hadir, satu persatu mereka meninggalkanku.” Lanjutnya dengan nada setengah bercanda, setengah tertawa.    

“Ha ha ha…” Saya ikut tertawa.

“Mari ikut saya kalau begitu. Kita masuk ke aula.” Saya menggandeng tangannya sembari tertawa renyah.

Aula Al-Idrissy

Depan Aula Al-Idriisiy

Fakultas Adab dan Humaniora Muhammad V ini memiliki beberapa aula. Ada aula Ibnu Khaldun untuk kuliah umum bagi Mahasiswa. Aula Hajji untuk sidang tesis atau disertasi. Aula ‘Abid Al-Jabiri untuk pertemuan para dosen dan dekanat. Sementara aula Al-Idriisy, aula antik dan besar ini khusus untuk acara seminar besar. Seperti seminar bahasa Arab waktu itu.

“Tunggu.” Cegah dia.

“Ada apa?”

“Kamu jangan pegang aku seperti itu. Cukup kamu berjalan di depanku saja namun agak samping. Nanti satu tanganku memegang pundakmu.” Paparnya menjelaskan cara menuntun tunanetra yang benar.

Aula sudah penuh dengan peserta. Bahkan banyak yang berdiri berdesakan di pintu masuk. Sementara di jejeran kursi terdepan masih tampak beberapa yang kosong. Namun sudah booked untuk para dosen dan pejabat kampus, kata panitia. Saya memutar pandangan sampai mentok di pojok kanan. Di situ ada dua kursi tambahan.

“Cari tempat duduk paling depan saja.” Pintanya.

Shaafii. Baiklah.”

Saya melangkah perlahan menerobos ke dalam aula. Hampir semua pandangan mata peserta yang tengah duduk tertuju pada Muhammad ini. Saya yang menuntunnya pun jadi objek sorot mata mereka. Mirip bintang yang berjalan di atas karpet merah dan disaksikan ratusan pasang mata. Tap tap tap…!

“Hati-hati ya, jalannya menurun dengan beberapa tangga pendek di depan kita.” Pesan saya.

“Saya tahu.” Ia menanggapi sambil senyum.

“Hah, tahu darimana?” Tanya saya penasaran.

“Dari pundakmu yang saya pegang. Ketika saya merasakan badanmu sedikit turun, berarti kamu melangkah turun menapaki tangga.” Urainya.

“O ya ya, ini ilmu baru bagi saya.” Gumam saya dalam hati.

Berdasarkan data statistik tahun 2011, dari 39 juta jiwa tunanetra dunia ini (www.npbc.org.sa/numbers.htm), 90% di antaranya adalah warga negara berkembang (www.skynewsarabia.com/web/article/312318). 12% dari mereka penduduk timur tengah dan Maroko.

Kala jalan-jalan ke pusat kota (Medina), beberapa kali saya menemukan banyak tunanetra mengemis. Walau masih muda, mereka duduk mematung dan menengadahkan tangan memegang kardus atau plastik sumbangan. Terutama di dekat Bank Magrib yang sampai kini masih renovasi. Tak jauh dari bunderan Rue Soekarno-Rabat Mereka duduk terpencar hampir tiap seratus meter. Bahkan Rabu silam (6/1) saat berlari ke Medina, sekitar seratusan tunanetra berkumpul untuk berdemo di depan Gedung Parlemen Maroko. Entah apa yang mereka suarakan kepada pemerintah. Saya tidak begitu memperhatikan dengan baik, karena sedang ada misi pengejaran copet bis kota.

Jika mereka mengemis, teman saya ini sama sekali tidak.

***

Alhamdulillah, meski di pojok, akhirnya kami duduk berdampingan di jejeran kursi terdepan. Beberapa dosen jurusan Islamic Studies duduk di samping kami.

Karena acara belum dimulai, saya mulai mengobrol dengan Muhammad El-Wadhdhah. Kalau di kampungnya biasa dipanggil Al-Habib.

“Aina taskunu ya Nour Hakim?”

“Saya tinggal di Nahdha 2th. Wa inta?”

“Saya di Sale (baca: Sela) kamu tahu Sela?

“Ya, terakhir kami ke Sale-Rabat Airport, awal Desember lalu. Rumahmu dekat dari situ?”

“Dekat atuh (kalau kata, atuh, itu dari saya ya he he). Kurang lebih 2-3 km.”

“Dari Medina ke rumah saya naik Tram line-2.” Dia melanjutkan.

“Caranya, dari Bab Rewah Station dekat kampus ini naik tram Line-1 sampai Bab Joulan Station, turun di situ. Lalu pindah ke Bab Joulan 2, naik Tram line-2. Atau turun di La Marisa, lalu pindah ke Tram Line-2. Pokoknya kata kuncinya, Line-2 Tramway, turun di station terakhir. Pergantian line tidak perlu bayar lagi kok.”

“Kalau kamu mau ke bandara lagi, naik tram Line-2 itu saja. Nanti turun di station paling akhir (Hassan II). Dari situ kontak saya, nanti teman saya akan mengantarkan sampai bandara pakai mobil.”

Hah? baru saja ngobrol sebentar sudah menawarkan segala rupa. Saya tidak begitu menanggapi terlalu serius, karena beberapa kali saya berinteraksi dan mendapat tawaran baik dari orang Maroko, tapi rupanya hanya basa-basi.

Teringat di awal menemukan rumah kontrakan di Nahdha 2, teman Umar (anak tuan rumah) berjanji mengantar kami ke Taqaddum (nama pasar besar tradisional terdekat) untuk belanja kebutuhan kamar, seperti kasur, dan lain-lain. Kami saling tukar nomor hp, bersepakat berangkat sama-sama ke taqaddum jam 10 pagi besoknya. Start dari depan rumah tuan rumah kami.

“Kamu harus bareng dia, lalu biarkan dia yang beli dan menawar. Karena kalau pedagang tahu orang asing yang beli, harganya akan dinaikin.” Terang Umar.

Apa yang terjadi besoknya? Boro-boro jam sepuluh. Bahkan jam sebelas siang kami telpon, berkali-kali tidak diangkatnya. Baru diangkat setelah tiga kali kami bolak-balik telpon.

Hisyam? Kaifa haluk? Aina anta?

“Hm…hoam. Ana fil gurfah. Kalian mau jalan?”

La haula wa la quwwata illa billah!

Ternyata dia baru bangun. Padahal kami sudah siap segala rupa. Kami lupa, bahwa kini kami ada di tanah Arab. Secara umum, ngaret adalah hal lumrah.

Itu pengalaman pertama setelah dua bulan cukup terbiasa (atau terpaksa) hidup di Eropa yang strict dengan masalah waktu.

***

“Sudah menikah?” Tanya Muhammad melanjutkan obrolan menjelang dimulai acara.

“Alhamdulillah, lima tahun silam.”

“Wah sudah lama. Sudah punya anak?”

Ah, pertanyaannya kok privasi banget.

“Belum ditakdirkan. Saya mohon doanya ya. Mudahan segera dipercaya oleh Allah. ”

Kalau menjawab pertanyaan demikian, saya selalu sekalian memohon doa. Kita tidak tahu dari mulut orang saleh mana doa terkabul.

“Oh, sama. Saya juga belum punya anak. Bahkan saya sudah tujuh tahun menikah belum dikaruniai keturunan.”

O ow. Saya perhatikan wajah dia lebih serius, lalu melanjutkan obrolan. Apa saja yang diobrolkan? Sssst. Ini urusan laki-laki ya ha, ha, ha.

Dia menyarankan minum madu, habbah sauda (jinten hitam), terapi sengat lebah, bekam, dan sejumlah terapi alternatif lain. Saya balik menyarankan dia menerapkan foodcombining dan olahraga rutin biar segala hormon normal. Sebenarnya lucu, di acara seminar ini kami malah mengobrolkan masalah terapi alternatif. Lucunya lagi, masing-masing dari kami menawarkan terapi yang sudah dijalani.

Paparan berikutnya ini yang membuat saya tercenung haru.

“Tapi saya punya Kuttab Qurani (Sekolah Al-Quran) Muridnya sekarang 120 anak didik. Beberapa generasi sudah ada yang hafal Al-Quran. Bukan mesjid, tapi rumah yang saya jadikan langgar Al-Quran. Sudah lebih dari sepuluh tahun berdiri. Tiap jam 2 sore anak-anak datang sampai magrib. Gelombang kedua, dari magrib sampai kira-kira jam 9 atau jam 10. Pada setiap pertemuan, mereka harus menghafal satu halaman ayat yang mereka tulis sendiri di lauhah (kayu tulis khusus). Ini metode tradisional ala Maroko dalam menghafal Al-Quran.”

Dia menjelaskan panjang lebar tentang langgarnya.

“Kapan kamu ada waktu untuk berkunjung ke langgar saya? Tentukan saja harinya. Sabtu, Ahad, atau Senin, pas tidak ada jadual kuliah. Biar kamu lihat aktifitas kami.”

Saya yang terpesona dengan paparan dia langsung terperanjat mendengar ajakannya. Ini ajakan orang saleh. Berkali-kali dia mengajak.

“Kalau hari Sabtu ba’da magrib, ada Syaikh yang menyampaikan pelajaran kaidah tajwid.”

“Bawa istri kamu sekalian. Dia bisa bahasa Arab ‘kan?”

“Bisa.”

“Nah, biarkan dia nanti ngobrol sama istri saya.” Tegasnya.

Tadinya berburuk sangka (astagfirullah), sekarang tidak. Dari ceritanya saya merasakan kejernihan dan ketulusan hatinya. Benar kata Umar bin Abdul Aziz bahwa ucapan yang terungkap dari hati akan meresap sampai ke hati.

Jika satu dari 4 lantai rumah dia wakafkan untuk langgar anak-anak menghafal Al-Quran dengan tanpa bayaran, apalagi langgar itu didirikan di lingkungan yang katanya dikenal zona hitam, maka dia bukan orang biasa-biasa di mata para penghuni langit. Dia berhati surga walau tunanetra.

“Saya ingin mengubah kampung ini dengan cahaya Al-Quran.” Ucapnya ketika kami berkunjung ke sana. (Ceritanya akan ada di seri berikut) 

Terharu rasanya.

Ceritanya itu menguatkan kembali cita-cita kami berdua sepulang merantau nanti, yaitu mendirikan Rumah PINTAR (pusat belajar Al-Quran, baca gratis, kelas bahasa asing, homestay musafir, dan sebagainya)

Mendengar untaian kata yang mencerminkan ketulusan hati, kebersihan niat, dan kebeningan nuraninya, saya teringat sosok Abdullah bin Umi Maktum. Seorang tunanetra sahabat Nabi Saw. yang diangkat menjadi salah seorang muadzdzin (petugas adzan) Rasulullah Saw.

Dia semangat mencari ilmu, mengais nasehat, dan menyerap petuah beliau Saw. Saking semangatnya, Abdullah bin Umi Maktum datang kepada Rasulullah Saw. dan memohon nasehat beliau ketika sedang mendakwahi pembesar-pembesar Quraisy. Pantas saja oleh Nabi Saw. diabaikan. Tapi beliau Saw. ditegur oleh Allah lewat surat Abasa (QS Abasa [80]: 1-10)

1. “He frowned and turned away,”
2. “Because there came to him the blind man.”
3. “And what would make you know that he might (spiritually) purify himself,”
4 “Or become reminded so that the reminder might profit him?”
5. “As to one who regards himself self‑sufficient,”
6. “To him do you address yourself!”
7. “Though it is no blame on you if he would not (spiritually) purify himself.”
8. “But as to him who comes to you striving hard,”
9. “And he fears (Allah in his heart),”
10. “Of him wast thou unmindful.”

Ya Rabb, bersihkan niat kami, kabulkan cita-cita kami mewujudkan rumah Pintar untuk mencetak generasi Qurani. Restui langkah kami seperti langkah sosok tunanetra berhati Surga ini.

Amin ya mujibassa’ilin.

Rabat, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H/10 Januari 2016

Copet Dalam Bis Kota

COPET BIS KOTA

Pada akhirnya, tiap yang ada di kolong langit ini fana. Lenyap, hancur, rusak, sirna, raib, hilang, tiada. Harta, jabatan, bahkan jiwa.

Tak seperti biasa, bis 57 muncul secepat itu saat saya berdiri membelakangi halte Jami’ Badr-Agdal. Usai pulang cek berkas di Ta’lim ‘Aly dengan jawaban yang sama dengan 3 minggu silam, Usbu’ muqbil “Silahkan kembali minggu depan!”

Saya langsung pulang setelah menunaikan shalat Ashar di mesjid Badr.

Saya loncat secepat kilat membuntuti 5 penumpang lain. Tanpa sadar memasukkan si putih mungil ke saku celana depan.

“Assalamu’alaikum. Tafadhdhal, wahid!”

Hanya beberapa detik setelah naik dan bayar tiket, saya bergeser dan berdiri di tempat kosong di belakang kursi kondektur. Setau saya sepanjang turun naik bis, tempat aman di bis adalah dekat kondektur atau lorong bagian belakang yang jarang dilalui orang turun naik. Khusus bis 57 jurusan rumah di nahdha, saya kerap mencari tempat paling belakang. Karena saya turun di halte terakhir.

Niat men-cek hp, saya merogoh saku satu persatu.

Hah? Hp tidak ada. Padahal sebelum naik saya masih membaca beberapa obrolan di WA. Saya ulangi mengecek semua saku seiring rasa panik yang mulai naik.

Astaghfirullah. Saya mengulang – ngulang Istigfar.

Saya bergerak beberapa langkah dan bertanya pada ibu-ibu yang sedang duduk, apa mereka melihat hp putih saya jatuh. Mereka berdua geleng kepala. Lalu saling membicarakan kehilangan hp saya.

Saya mendekati kondektur dan mengadu. Tapi tak digubrisnya karena masih asik menelepon. Belum selesai saya berjalan ke tengah, bus keburu berhenti di halte. Saya berpikir cepat, bahwa saya harus turun di halte ini, karena kalaupun dicopet, copetnya pasti turun di sini. Mereka tidak akan berlama – lama di bis setelah berhasil menggondol hp.

Cepat saya menerobos beberapa penumpang yang berdesakan. Sambil mengarahkan pandangan pada satu orang tinggi besar. Dia dua kali berpapasan mata dengan saya saat sadar hp hilang. Meski saya belum yakin dia pelakunya, karena dari awal dia berada di depan saya. Tapi biar lah. Yang penting saya harus dapat satu orang yang saya duga, daripada tidak sama sekali. Rupanya rasa takut saya hilang sama sekali. Kalah sama bayangan data di memori si putih mungil.

Ketika turun, saya langsung mengejar pria besar yang sudah menyebrang. Saya dekati dan langsung menodongnya. Mana hp putih saya. Dia pasrah. Tidak tahu apa-apa. Dia membuka-buka jaketnya. Lalu saya disuruh menggeledahnya. Hm. Saya cek sebentar. Dari tadi sih orang ini memang berdiri terhalang 3 orang di depan saya. Dan sejak di bis raut wajahnya menatap ke luar dengan tatatapan kosong.

Sesuai dugaan, saya salah orang.

Segera saya tinggalkan dia menuju halte, mencari wajah lain yang saya lihat tadi turun dari bis. Tapi telat. Sudah tidak ada.

Saya benar – benar panik dan bingung ketika itu. Ditambah kalau mengingat data penting di dalamnya. File catatan kuliah, rekaman ceramah di kelas, kontak-kontak penting, dan foto-rekaman moment berkesan sepanjang perjalanan setahun terakhir lebih.

Sekarang saya harus memikirkan cara mengontak 2 nomor di hp itu. Tapi malangnya, saya belum hafal. Kalau hafal lain cerita. Saya optimis akan ada orang menolong menelponkan.

Yang terpikir kemudian adalah saya mengejar kembali bis yang saya tumpangi tadi. Saya sudah tidak peduli orang sekitar. Saya terus berlari sampai kecapekan sendiri di halte pertama sebelum bunderan dekat forest Ibn Sina.  Antara sadar dan tidak, saya naik taksi sampai mini park karena uang tidak cukup. Dari situ hanya bisa nyambung naik bis kembali sampai rumah.

Di rumah saya langsung ambil hp istri dan berlari ke tukang pulsa untuk mengisi pulsa 10 dh. Sekadar cukup untuk menelpon si putih mungil. Tapi terlambat. Mailbox terus pertanda dua kartu sudah dibuangnya.

Lemas sudah. Berjalan menuju rumah seraya melayang. Hanya zikir dan istigfar yang terus saya ulang-ulang. Data-data penting tak terperi terus terbayang-bayang. Semua kini hilang.

Astaghfirullah. La haula wala quwwata illa billah.

Istriku bilang nyesek. Sangat. Tapi mau gimana lagi.

Yang membuat nyesek bukan fisik hp-nya yang dibeli 2 tahun lalu. Harganya tidak sebanding dengan apa yang ada di dalamnya, jasanya menemani kebersamaan kami, membantu banyak merekam moment, memfasilitasi saya belajar, mengatur waktu jadual ceramah, menyimpan resume ceramah para ulama yang  saya temui, dan lainnya. Pergaulan kami sedekat itulah yang menorehkan kesan mendalam di hati.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un.

Pada akhirnya apa yang ada di dunia ini semua fana. Hancur, rusak, hilang, lenyap, berubah melemah, dan menuju pada tiada.

 

Misi pengejaran

Esoknya saya berlari dari rumah menuju pasar Medina. Saya niatkan berlari supaya fisik siap dengan segala resiko. Beeeuh! Saya masuk pasar hp dekat mesjid Sidi Gondour. Tak jauh dari Bab Elhad. Ribuan hp bekas maupun baru terpajang di sana. Mata saya fokus mencari si putih mungil LG. Dua balikan saya menyisiri semua lorong, si putih tidak saya temui. Entah belum sampai ke penadah. Atau memang dipakai sama si pelaku.

Akhirnya saya menyerahkan semua pada Allah.

Allahumma ajirni fi mushibati wakhluf liy khairan minha.

 

Mudahan si putih itu dapat memutihkan hati dan pikiran si copet. Murattal Al-Baqarah Syaikh Syuraim favorit saya—yang selalu setia menemani kala muraja’ah atau jelang istirahat—mampu menggetarkan hatinya untuk taubat. Surat Ibrahim bacaan Syaikh Shalah Budair bisa menyadarkan keburukan perilakunya. Video rekaman syaikh yang mengajarkan wudhu yang benar dengan  menggunakan air hanya satu gelas itu menjadikannya pandai berwudhu dan rajin shalat. Cuplikan ceramah  Imam dan Khatib mesjid Quba–yang menyatakan bahwa jika Allah mencintai hamba-Nya, akan diwafatkan dalam keadaan muslim–mengetuk hatinya untuk kembali pada jalan yang lurus sebelum dia wafat. Untaian pesan ceramah Dr. Jamal Sa’idi–yang di antaranya menyatakan bahwa kita diinjak-injak seenaknya oleh bangsa lain bukan karena mereka kuat, tapi karena kita sendiri yang meremehkan darah dan kehormatan kita. Kita sendiri yang tidak memiliki izzah (kemuliaan) di harapan mereka–meluluhkan hatinya.

 

Semoga data-data yang ada di dalamnya bisa mengantarkan si copet pada jalan hidayah, dan tidak ada yang disalahgunakan.

 

Wallahu Al-Muwaffiq ila Aqwami At-Thariq

 

Catatan:

– Copet tidak sendirian. Minimal berdua dan mereka biasanya beraksi dekat pintu masuk. Kata madam kondektur bis, saksi saat kejadian.

– Biasanya berdiri dekat pintu naik. Waspada dan perhatikan wajah dan gerak-geriknya.

– Saat berhasil mencopet, mereka dipastikan turun di halte berikutnya.

 

Tips dari saya:

– Berteriak Syaffar saat merasa dicopet.

– Jika berani, minta supir menghentikan bis tanpa membuka pintu, menggeledah sebisanya, minimal penumpang yang berdiri dekat pintu.

– Pastikan menyadari letak dan keberadaan hp.

– Jika sadar hp hilang, perhatikan para penumpang yang turun di halte berikutnya. Salah satu dari mereka pasti copetnya.

 

Exciting Projects from Rabat

image

It has been exciting days for me nowadays.

From the beginning I decided to accompany my better half continuing his study in this desert land, I’ve been convincing my self that I could overcome the lonely feeling while he go to university or library.

From beginning I knew that I could do creative things with this ‘lonely’ feeling 🙂

Alhamdulilah, after several weeks handling my shock-feeling as living in this ‘unpredictable country’, next month I’ll have some challenging projects to be done creatively!

Some of them are:

One writing project with a famous novelist,

One co-networking with one bank in Indonesia,

One English-speaking group to be taught by me!

The last one is really drenched my fingers, since I’m not an English teacher at all.

I’m just trying to use english as my third language as much as possible but then some closed friends thought that I could teach them.

Oh my!
To be honest I don’t really like the ‘teaching’ word to be used in this kinda job.

At this stage, I’m not cleverer than my ‘students’. I’m just sharing what I’ve known so far.

Anyway, I’ve decided to accept those chances and I’m totally excited 🙂

Please make du’a for my forth coming projects ya 🙂

Also, would like to tell you my dear readers, from now on this blog will share many stories about our new life in Morocco.

Hope you don’t mind and still excited to follow our ‘backpacking and living stories’ around Morocco. 🙂

Ps.
If you found grammar mistakes in this piece of writing, please don’t be hesitate to let me know, I’ll be more than happy to accept your correction 🙂

Hikmah Semangkuk Harirah

Hikmah Semangkuk Harirah

Assalaamu’alaikum blogger semua 🙂

Saat ini saya dan istri berpisah untuk sementara karena pertimbangan ekonomis dan hal-hal teknis lainnya.

Singkat cerita, saya harus keluar dari Brussels karena Schengen Visa kami berdua sudah habis dan memutuskan saya mesti bertahan di Maroko (negara non visa bagi orang Indonesia 3 bulan lamanya), hingga keluarnya kepastian status studi saya di Tunisia.

Sedang istri saya tercinta kembali ke Indonesia, karena akan memproses aplikasi ‘visa dependent’ dari sana.

***

Cerita Semangkuk Harirah

Saat ini saya tinggal di ibukota Maroko, Rabat.

Kemarin Rabat mulai menggigil. Suhu turun ke angka 10 derajat Celsius. Menjelang magrib, angkanya terus turun hingga shalat magrib usai ditunaikan. Dingiiin bukan main!

Biasanya, saya tak beranjak meninggalkan mesjid sebelum ikut menyimak tadarusan Quran khas Maroko (qiraat warasy) rutin ba’da magrib atau subuh.

Mumpung masih berada di mesjid, kenapa tidak sekalian satu paket.

Terkadang agak malas-malasan membaca sendiri, apalagi kalau sudah kembali ke rumah. Toh tadarusnya hanya berlangsung sekitar 15-20 menitan. Tidak lama bukan?!

Tapi magrib kemarin dingin sekali.

Dingin yang menusuk kulit. Padahal sudah memakai baju kaos dua lapis ditambahi sweater, masih dilengkapi kaos kaki tapi tipis. Ternyata belum mampu menghalau dingin. Brrr!

Saya langsung terpikir memilih keluar mesjid, menuju kios harirah terdekat. Kenapa memilih harirah? Sebab baru sup panas jenis harirah-lah yang saya akrabi. Kalau sudah kedinginan dan menghangatkan perut, biasanya sup ini yang saya ingat. He he he. Harga semangkuknya sama dengan satu bungkus Indomie. Tapi kandungan sup harirah jelas lebih sehat.

harira400

Aah…, nikmatnya!
Alhamdulillah.
Dua sendok sup sudah saya seruput. Setidaknya hawa dingin dari dalam mulai tergusur, menyingkir perlahan. Sementara saya  tekun membuka kulit telur rebus, tiba-tiba seorang kakek tua mendekat. Dia selesai menyantap dan membayar supnya.

“Di Indonesia, ma yakuun? Tidak ada ya sup seperti ini Indonesia?”
“Tidak ada.”
“Kenapa kamu tidak mencari tahu cara membuatnya, lalu nanti dibuat di sana?”
“Bahan-bahannya tidak semuanya ada. Terutama kacang hums, karafs, adas. Kalau tepung, garam, gula, insya Allah ada…” he he he…, saya ajak dia bercanda.
“Baiklah, selamat menikmati.” Ujarnya sambil pamit pergi. Terlihat ekspresi kenyang dari wajahnya, he he he…

Tak lama setelah itu, muncul bapak tua yang lain. Beliau berpakaian lusuh, bertopi, berjubah tebal. Tapi dia lumpuh, tangan kirinya dibalut kain tertutup. Yang mengkhawatirkan, dia berkursi roda dan menggeret kursi rodanya sendirian. Ya Allah. Di belakang kursi tergantung tas gendong yang juga lusuh dan agak robek.

Dia mendekat ke meja bundar saya. Terdiam. Nafasnya tersengal- sengal.

Saya memandangnya, mencoba melempar senyum. Tapi tak ada respon. Agaknya dia sangat lelah. Tidak memperhatikan selain kondisi dirinya.

Tiba-tiba ibu kantin datang membawa sepiring besar milwi dan semangkuk harirah. Tafadhdhal! Ternyata, dia satu meja dengan saya. Dekat sekali.

8115512708_cfe648c35a_b

ilustrasi: semangkok  harira sumber foto: internet 

Hm. Kasihan sekali si bapak tua ini. Dia hanya bisa menggunakan satu tangan saja untuk menyobek rotinya. Lambat sekali. Tapi saya perhatikan makannya lahap sekali. Terlihat sangat nikmat. Seperti tidak menemukan makanan seharian.

Sementara konsumen lain asik bercanda, mengobrol ke sana kemari di jejeran meja samping, bapak tua ini fokus melahap makanannya.

Saya berniat membayarkan bapak ini, cuma sayang sekali saya cuma membawa uang pas. Dan uangnya sudah saya bayarkan terlebih dahulu. Duh, ya Allah! Berikanlah kekuatan dan kesehatan kepada bapak ini. Engkau Maha Pemurah, Maha Pengasih. Gumam saya.

Ah, saya ajak ngobrol nanti ah. Mumpung dekat. Mudah-mudahan dia memahami bahasa Arab saya. Sebab biasanya orang sepuh di sini hanya faham bahasa Darijah, atau Perancis. Tidak nyambung kalau diajak bicara dengan bahasa Arab fusha (bahasa Arab sesuai grammar/akademis) atau bahasa Inggris.

Saya menunggu saat yang tepat, sambil sesekali menoleh ke arah makanan dan wajahnya. Tapi tetap saja, bapak itu lempeng fokus menikmati makanannya. Saya juga tidak berani juga menodong langsung dengan pertanyaan.

Lambat sekali makannya. Saya sudah mulai kedinginan lagi. Ya sudah, saya memutuskan menunggu di meja dekat oven roti milwi saja. Biar hangat he he. Tiga orang ibu-ibu penjaga kantin mulai curiga dan membicarakan saya. Rupaya saya jadi pusat perhatian mereka..*artis kali…, hihihi

“Aha, dia sudah selesai makan!”

Baru saja saya tuangkan air satu gelas, sengaja saya niatkan untuk dia. Ternyata dia mulai bergerak menjauh, memutar roda kursi roda, dengan satu tangannya yang bebas. Menjauh meninggalkan meja. Tanpa kata, tanpa sapa. Sejak datang, duduk, bahkan pergi.

Saya terheran-heran.

Beberapa saat, dua konsumen lain datang memesan sup. Mereka duduk dekat meja tadi. Ibu penjaga kantin siaga menghidangkan pesanannya. Aku mengikuti ibu itu.

Saat si ibu mengambil mangkok bapak tua tadi, dan mulai membersihkan meja, saya mendekatinya,

“Hm, madam, hal huwa dafa’al fulus?” Saya eja sembari menjelaskan maksud pertanyaan saya lewat gerakan tubuh.

“hm..madza..?”

Waduh, benar saja pertanyaanku belum dia pahami.

“Orang tua tadi, orang sakit tadi, selesai makan, tidak membayar ke ibu?”

Saya memperagakan sekali lagi.

“Ooo…, ya ya…”

Fyuuuh, saya harus belajar bahasa Perancis atau Darijah (Arab lokal) untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat lokal, seperti pedagang-pedagang kecil atau yang sudah sepuh.

Fi sabilillah…Kami meniatkan untuk sedekah di jalan Allah.”

Saya tertegun…

Subhanallah.

Di satu sisi, si bapak tua datang tanpa perlu berkata-kata, tanpa merengek, memaksa, atau mengemis kasih sayang. Si ibu kantin pun memberi tulus tanpa mengata-ngatai, basa-basi, menghina, mencaci, atau menampakkan sikap tak ikhlas.

“Barakallahu fik, Semoga Allah memberkahimu. “ Doa saya pada ibu kantin. Sembari pamit pergi.

Dada saya tersedak haru kala menembus dinginnya malam di kota Rabat.

Mata saya berkaca-kaca, mengingat kembali upaya keras bapak tua itu untuk tidak memaksa mengemis, sekaligus tergetar atas kelapangan hati dan kepedulian si ibu kantin. Padahal kantinya tampak kumuh dan sederhana.

Alhamdulillah, bertambah lagi satu hikmah yang bisa saya petik dari kantin sup harirah!

Jum’ah Mubarakah!

Taqabbalallahu shaliha a’malina wa niyyatina. Semoga Allah menerima amal dan niat baik kita. Amin