KEBETULAN?

Saya menatap masa depan di Masjid Hasan II yang berdiri gagah di tepi laut Atlantik, Casablanca, Maroko.

KEBETULAN?

Tanggal 4 – 5 Desember kemarin kami kedatangan tamu dari kota tetangga.

Adik mahasiswa program master yang sedang galau dengan program kuliahnya yang belum jua dimulai -karena memang urusan administrasi di Maroko memang lamban bukan main-dan beberapa kemungkinan masa depannya.

Karena si adik terbuka menceritakan masalahnya, kami pun nyaman sharing pengalaman hidup kami berdua. Terutama fragmen-fragmen saat menuntut ilmu.

Semoga bisa diambil sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan si Adik tuk memutuskan langkah-langkah masa depannya.

Andai masa depan bukanlah sebuah rahasia, tentu manusia bisa bergerak sesuai gambaran masa depannya.

Semua ‘diprogram’ ibarat robot yang sudah jelas diciptakan manusia untuk melakukan kerja tertentu.

Tapi manusia bukanlah robot.

Manusia makhluk cerdas yang dibekali otak dan hati. Namun tak dititipi kemampuan menerawang masa depan.

Manusia harus berusaha (ikhtiar) dan melibatkan doa pada penguasa langit dan bumi.

Karena masa depan yang tak bisa diprediksi juga, manusia bergerak optimis, diliputi harap dan setitik cemas.

Karena inilah manusia menjadi sangat manusiawi bukan?

Diliputi impian, segudang harapan dan kesadaran ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Yaitu Sang Penentu Masa Depan. Allah penyipta umat manusia.

Dengan ketidak-tahuan akan masa depan, manusia menyadari ‘lemahnya’ diri.

“Manusia boleh berencana, namun Allah jua yang menentukan!”

Keyakinan akan keniscayaan ini membuat setiap orang yang beriman semakin rajin menegakkan ikhtiar.

Semakin bersemangat mengejar mimpi.

Dan di saat bersamaan semakin menyadari, betapa masa depan adalah kumpulan kerja keras, fokus pada mimpi dan doa tak putus padaNya.

Kembali ke kisah adik tadi.

Saya banyak berbagi potongan kisah saat menuntut ilmu di Inggris. Khususnya di kota Leeds.

Pergulatan batin dan masalah demi masalah yang harus dipecahkan satu persatu hingga akhirnya kenangan saya tersentak pada kata, Seville Road 37.

Alamat rumah yang saya sewa sepanjang tinggal di sana.

MasyaAllah!

12 tahun kemudian saya dan Aa ternyata sudah dua kali bolak-balik mengunjungi Sevilla di Spanyol!

Kata, Sevilla sangat mirip dengan kata, Seville bukan?!

Luar biasa…

Sungguh tak ada KEBETULAN di dunia ini!

Ada grand scenario dari Sang Maha.

Hanya kita manusia kerap tak sabar membaca tanda-tanda.

Di kasus saya, butuh 12 tahun kemudian saya menyadari ‘kebetulan’ yang ternyata bukanlah sebuah kebetulan belaka!

Mana pernah saya bayangkan sebelumnya, visa schengen yang kami dapat saat #dakwahbackpacking di Ramadhan 2015 dan berlaku tiga tahun ke depan memungkinkan kami bersilaturahmi mengunjungi kenalan kami di kota Sevilla

Mengunjungi mereka sepanjang tahun 2016 di bulan Maret dan bulan September lalu.

Entah tahun depan.

Barangkali dengan ‘kebetulan’ kemiripan nama ini kami ada kesempatan menjejak tanah Inggris kembali?

Begitu juga dengan perjalanan lahir, merangkak dan tumbuhnya Kelana Cahaya Tour yang kami lahirkan berdua.

Bukanlah sebuah kebetulan. Ada grand scenario dariNya. 

InsyaAllah pelan tapi pasti mengarah sebagai social entrepreneurship di masa depan.

Tujuan detil silahkan intip di ‘Mimpi Kelana‘.

35 peserta Maroko Trip by Kelana Cahaya Tour foto bersama dengan saya dan Aa ๐Ÿ™‚

Mungkin bersama program #KelanaCahayaTour atau kemungkinan kerjasama dengan pihak lainnya?

We will see! ๐Ÿ™‚

Maha Suci Ia yang merahasiakan masa depan manusia.

Sehingga sampai detik ini saya dan Aa selalu bersemangat meniti hari, mengeja mimpi, menempa diri.

Tentu saja tak lupa memohon kasih sayangNya menyertai usaha dan mimpi sepanjang usia hingga menutup mata nanti.

Amin.

~~~~~

Ps.

Ada yang tertarik ikutan Maroko + Spanyol Trip bersama Kelana Cahaya Tour di bulan Maret 2017?

Kontak saya di wa: +62 819 5290 4075.

Doa Mama Sa’ida

Doa Mama Sa’ida. ย  ย Rabu ini, saya memutuskan berangkat ke Fez bersama rombongan dosen IAIN Sumut. Mereka datang ke Maroko dalam rangka menindaklanjuti MoU antara IAIN Sumut dan Universitas Qarawiyyin, Fez. Ini adalah hari ke-20 mereka berada di Maroko, dan hari ini dijadualkan akan ada pertemuan dengan pihak kampus. Saya memaksakan diri untuk ikut sebab belum pernah berkunjung ke kampusnya. Sekaligus ingin berkunjung ke Universitas lain di Fez, yaitu Universitas Sidi Muhammad ben Abdullah.

Saya pernah mengunjungi Fez sekitar 5 bulan silam bersama Istri saya untuk riset dan acuan menulis Buku honeymoon Backpacker kami (mudah-mudahan cepat selesai bukunya, amin..) Proyek penulisan buku ini telah lama kami rancang. Idenya bahkan telah muncul sejak awal kami menikah.

Selain untuk proyek penulisan, kami juga ingin menyambung silaturahim dengan salah satu keluarga lokal di Fez yang dulu pernah berbaik hati berkenalan dan menerima Istri saya berkunjung dan menginap beberapa malam di rumahnya. Saat itu saya belum menikah.

“Nanti kalau sudah menikah, bawa suami kamu kesini dan kenalkan pada Mama ya.” Pesan Mama Saiedah ketika ima berpamitan pulang, 2010 silam.

“Insya Allah, Mama.”

Dan lima bulan yang lalu, setelah 2 tahun lebih usia pernikahan kami, Istri saya bersemangat menelpon Mama Saidah setiba kami di Maroko.

“Assalamu’alaikum, Mama, ana fil magrib al-an ma’a zaujy. Saya sekarang di Maroko bareng suami.”

“wa’alaikom salam, barakallahu fik ya binti wa waladii..nurahhibukum fi baiti..asytsqu mink jiddan jiddan. Mudahan Allah memberkahimu anak-anaku. Saya sangat merindukanmu.”

Kami menuju Fez dari Casablanca dengan berkereta ONCF. Berangkat dari stasiun casa Luiz, tiketnya 110 Dirham kalau tidak salah. Karena Jadual kereta yang ada saat itu sore, maka diperkirakan sampai Fez tengah malam.

Sesampai Fez, kami dibalut haru.

Ternyata Mama menjemput kami di stasiun. Ditemani Maryam, anak sulungnya, Kamal, suaminya, dan Syama, cucunya. Mereka ceria menyambut kami, padahal sudah tengah malam.

Mama memeluk Istri saya erat.

“Ahlan wa sahlan ya binti. Selamat datang anakku.”

Di sudut matanya perlahan tampak buliran air mata rindu, haru, dan seolah tidak percaya dapat bertemu kembali sesuai pesan Mama kala itu.

Hampir seminggu kami menginap di rumah Mama. Merenda jalinan silaturahim, memupuk kedekatan batin bersama keluarga mereka yang ramah. Hingga tiba saatnya kami pulang.

Selesai berfoto bersama; saya, Istri, Mama Saiedah, suaminya, Sara (putri keduanya yang kini baru dua minggu menikah), syama, kami dianter sampai terminal bis Medina. Old Town.

Kami berpamitan. Berpelukan.

Mama berpesan, “Nanti kalau kalian sudah punya baby, bawa juga kesini ya, Mama pengen gendong cucu Mama dari Indonesia.”

Kami berbisik dalam hati…

Amin. Insya Allah!
Fez, 13/11/13

Smart Backpacking: Thinking Out of The Box!

Belakangan, banyak sekali orang yang meng-add facebook saya, lalu mengirimi message semacam di bawah ini:

“Mbak Ima kaya banget ya? Kok kerjaannya backpacking melulu? Duitnya berapa banyak? Kerja apa sih, Mbak?”

Dstnya, dstnya dan biasanya saya jawab singkat, seperlunya.

Misal, “Wah, kamu bakalan kaget kalau mengetahui penghasilan bulanan kami berdua. Kecil loh! Lagian, backpack ke Eropa ini kami sempat meminjam uang teman segala, sebagai ‘modal’ membeli tiket pesawat one way!”

Lama-lama tidak saya jawab lagi, sekadar saya intip saja ๐Ÿ™‚

Bukan tidak mau menjawab, akan tetapiย pertanyaan mereka adalah pertanyaan sangat ‘standar’, padahal saya dan suami bisa backpack keliling dunia dengan cara sangat tidak ‘standar’.

Image

Setelah sekian lama merenung, saya memutuskan untuk berbagi hal-hal tidak ‘standar’ dalam upaya kami mewujudkan perjalanan menjelajah Mesir, Tunisia, Maroko dan sekarang berada di bumi Eropa. Total, sudah hampir 6 bulan kami berkelana menjelajah dunia. ๐Ÿ™‚

Baiklah, pertanyaan sejenis di atas akan saya jawab saat ini.

Pertama, berpikirlah ‘out of the box‘!

Bahwa bisa keliling dunia tidak mesti harus menunggu kaya dulu, atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, atau menunggu sudah punya rumah dan mobil dahulu, dstnya dstnya!

Kalau menunggu sangat kaya dahulu dan atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, umur kita biasanya keburu terlalu tua untuk ‘backpacking‘! Ingat ya, definisi kata backpacking sangat berbeda jauh dengan definisi kata traveling sejauh yang saya pahami selama ini.

Traveling mengandaikan kenyamanan paripurna (sebanyak uang yang kita punyai dan mau kita belanjakan), sedang backpacking justru berjalan sejauh mungkin dengan biaya sehemat mungkin -tentu saja mengurangi beberapa kenyamanan. Kalau sudah terlalu tua, tentu fisik kita sendiri sudah tidak sanggup backpacking dengan cara menghemat sangat ekstrim, misalnya tidur di stasiun lalu dikunci petugas dari luar stasiun, seperti yang kami alami di stasiun Soussa, Tunisia ๐Ÿ™‚

Image

Ini foto kala stasiun dibuka kembali, sekitar pukul 3 dinihari.
Saya bisa tidur sekitar 2.5 jam, menunggu semua lampu dimatikan ๐Ÿ™‚

Kok bisa keliling dunia dengan biaya sehemat mungkin?
Bukankah tiket pesawat ke luar negeri itu mahal?
Bukankah mata uang rupiah itu ‘nyungsep’ jika dikurs ke mata uang euro atau dolar bahkan poundsterling?

Bukankah backpacking ke luar negeri hanyalah aktifitas si orang kaya?

Waah waaah!
Ini dia yang membuat kamu tidak bisa berjalan lebih jauh!
Pikiran negatifmu memenjara kreatifitasmu!
Akhirnya momen thinking out of the box tidak terbit dari batok kepalamu!
Jadi begini ya, menurut hemat saya betapa tidak fairย hidup di dunia ini jika backpacking ke luar negeri hanya mampu dilakukan orang kaya saja! ๐Ÿ™‚

Backpacking ke manapun (hingga ujung kutub utara sekalipun, bisa kok dilakukan siapapun asal mau berusaha)!

Ya, kamu bisa!
*aku menunjuk ke dirimu kok!* ๐Ÿ™‚

Caranya?

Ada banyak cara.
Ada ribuan cara!
Ada milyaran cara, sebanyak milyaran otak yang ย berada dalam batok kepala penduduk bumi ini! ๐Ÿ™‚

Bukankah dahulu banyak sekali sahabat Nabi SAW yang backpacking (safar) berjalan sangat jauh melintasi gurun sahara untuk menemukan sepotong hadis!?

Bukankah banyak sekali penjelajah ternama yang bepergian sangat jauh hingga berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya untuk menemukan benua baru?

Kenapa mereka bisa bepergian begitu lama dan sangat jauh, padahal pesawat terbang saja belum ditemukan?

Para musafir berabad lampau kerap hanya membawa barang alakadarnya, belum ada kompas, mobile phone, wifi, apalagi google maps, loh! :p

Kenapa mereka bisa bertahan dalam perjalanan yang lama, berat, berbahaya sekaligus bersahaja?

Saya duga karena mereka memburu mimpi mereka!

Mereka melakukan itu semua karena mimpi ingin menemukan kebaikan dan kebaruan di negara asing yang mereka tuju!

Mereka memutuskan tidak membeku dalam situasi stagnan, rutinitas dan jumud!
Mereka ingin terus berjalan, belajar dan jika memungkinkan berbagi!

Barangkali kamu akan menjawab, “Aaah! Itu kan orang-orang jaman dulu! Kita kan hidup di masa kini. Apply visa saja mahal dan susahnya minta ampun! Belum lagi kalau ditolak!”

Oh ya…?
Belum apa-apa engkau tidak mau berpikir positif dan berusaha! ๐Ÿ™‚
Soal Schengen visa yang menurutmu susah, silahkan baca kisah kami memperjuangkan untuk mendapatkannyaย di sini ya. ๐Ÿ™‚

Kalau kamu butuh contoh penjelajah tangguh masa kini, seketika saya bisa memberikan contoh nyata!

Apa yang beliau lakukan saat itu sangat murah dan bisa dilakukan siapa saja! Di masa mudanya, Mas Gola Gong pernahย backpacking keliling Asia Tenggara dengan bersepeda! ๐Ÿ™‚

Saat membaca buku Mas Gola Gong yang berjudul ‘From Jakarta to Himalaya‘ di awal-awal kuliah S1 di sudut kota Jogjakarta, saya tersulut bara seketika.

“One day, I’ll follow his idea to travel cheap with my own style!”

Bara itu menyala sejak bertahun-tahun lalu dan terwujud perlahan kala saya mendapatkan beasiswa S2 di Leeds University di rentang tahun 2004-2007.

Tahap awal, otak sederhana saya hanya memikirkan satu hal, fokus mengejar beasiswa!

Setelah beberapa kali apply beasiswa, akhirnya saya berhasil memeroleh beasiswa Ford Foundation dan terbang gratis menuju Inggris. Sejak liburan summer pertama di Inggris, saya belajar apa itu backpacking dan bagaimana menyiasati perjalanan murah meriah bahkan gratisan. Sepanjang rentang di Inggris pula, saya berhasil menjejak 20 negara. ๐Ÿ™‚

Kisah detil bagaimana saya berjuang mendapatkan beasiswa S2 ke Inggris, bisa teman-teman baca di buku antologi yang saya susun dengan judul, “Kuliah Gratis ke Luar Negeri 2, Mau?” diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House. Ebook-nya sudah bisa teman-teman beli online di website MIZAN.

Tahun 2007 Inggris saya tinggalkan dan saya masih menyimpan bara yang sama di dalam dada. Suatu hari nanti saya akan kembali ke Eropa bersama belahan jiwa, bagaimanapun ajaib caranya! ๐Ÿ™‚

***

Berpikir out of the box ini tidak susah kok, asal kita mau banyak ‘membaca’! Tidak sekadar membaca buku, tapi juga membaca kesempatan dan peluang.

Seperti yang sudah saya tulis di jurnal terdahulu, saya dan Aa menangkap bola yang dilempar Kak L!

Beliau menawari Aa menjadi da’i selama bulan Ramadhan di Eropa!

Bola itu kami sambut dengan sama-sama mengirimkan CV sefokus dan sebagus mungkin, bahwa komunitas Muslim Indonesia di Belgia tidaklah akan merugi jika mengundang kami ke sana. Aa biasa menjadi khatib, penceramah berbagai acara sekaligus menjadi imam dan guru tahsin al Qur’an yang baik.

Saya bisa berbagi ilmu kepenulisan yang saya miliki atau bahkan berjualan makanan! Sehingga insyaAllah tidak akan terlalu menjadi beban host karena kami bisa mencari uang untuk biaya transportasi kami sehari-hari.

Alhamdulillah CV kami berdua diterima dengan baik dan invitation letter dari KBRI Belgia masuk ke dalam email kami.

Dengan modal nekad dan keberanian terbang ke Eropa tanpa uang euro selembar pun, setelah visa Schengen kami dapatkan dari kedutaan Belanda, kami memutuskan berangkat secepatnya, tepatnya 17 Juli 2013 lalu.

Karena kami tidak memiliki uang yang cukup, kami berdua nekad terbang hanya dengan one way ticket alias tiket pesawat untuk masuk Eropa saja.

Beberapa suara sumbang muncul kala saya menulis status terkait one way ticket ini, akan tetapi doa -yang saya harapkan muncul setelah menulis status minta didoakan agar bisa masuk Eropa dengan one way ticket– dari banyak pihak akhirnya memuluskan kami memasuki bumi Belgia nyaris tanpa masalah, setelah sebelumnya diinterogasi pihak imigrasi Belgia berbelas menit lamanya.

Kisah diinterogasi pihak imigrasi Belgia ini bisa menjadi satu judul tersendiri karena situasinya menegangkan dan memacu adrenalin. Kami harus siap mental jika akhirnya dideportasi kembali ke Indonesia tanpa pernah berhasil keluar dari bandara Brussels Intl. Airport, which is not funny at all!

Sesampai di Eropa -dan tentu saja berhasil melewati pintu imigrasi Belgia- hanya istirahat satu hari saja, Kak L langsung mengajak saya membeli bahan pempek di Aldi Supermarket.

Waktu itu kami mencoba ikan Pangasius -murni karena alasan harga yang murah, sekitar 3 euro sekian- dan segera saya sadari, ikan ini tidak cocok untuk membuat pempek karena rasa ikannya tidak muncul sama sekali. Pempek perdana saya buat dari 700 gram ikan pangasius dan menghasilkan 35 buah kapal selam yang tidak memuaskan hati saya akan tetapi justru ludes seketika disantap ke empat anak Kak L ๐Ÿ™‚

They said, “Your pempek is delicious, Tante Ima!”

Perburuan bahan pempek yang mendekati rasa ideal menurut ukuran saya belum berakhir.

Saya dan Kak L meluncur ke Makro, salah satu supermarket terbesar di Belgia. Saya disarankan Kak L untuk membeli ikan Roodbars frozen.

Saya menyetujui dan membeli ikan tersebut.

‘Ada harga-ada rasa’ tetap berlaku dimanapun jua. ๐Ÿ™‚

Produksi pempek kedua ini sudah jauh lebih terasa ikannya, akan tetapi jangan pernah membandingkannya dengan si ikan tenggiri atau belida ya, those are resulting an amazing pempek’s taste! ๐Ÿ™‚

Singkat cerita, saya masih hunting rasa ikan terbaik dan paling cocok dijadikan bahan pempek.

Setelah perburuan berakhir, pempek made in Imazahra perlahan mulai didengungkan Kak L kemana-mana ๐Ÿ™‚ Termasuk ‘diiklankan’ di kalangan ibu-ibu yang mengikuti pengajian mingguan yang diampu Ustadz Risyan Nurhakim Lc. ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah, lembaran 5 euro perlahan mulai kami kumpulkan dan puncaknya adalah 17 Agustus lalu.

Kak L memiliki ide gila sejak pertama kali kami landed di Brussels International Airport, “Ima ikutan bazaar 17 Agustusan ya!”

“Eh, kalau tidak laku bagaimana, Kak?”

“Ah, pasti laku. Pempek Ima dan masakan lainnya enak-enak kan? Bismillah saja.”

“Tapi kami tidak punya uang euro sama sekali, Kak!”

“Nanti Kakak yang bayar!”

Saya dan Aa saling pandang.
Mata kami mengandung masygul dan kekhawatiran, bagaimana jika pempek kami tidak laku? Bagaimana jika jualan kami tak satupun dilirik pembeli? Bagaimana jika ini dan jika itu!

Kak L sungguh perempuan baik hati sekaligus futuristik. Beliau mendukung saya sejak ย mulai berjualan pertama kali dan membantu promosi pempek made in Imazahra dari mulut ke mulut.

Kekuatan rasa dan mouth to mouth advertisement ini rupanya iklan sangat ampuh yang berhasil meludeskan jualan pempek, siomay dan otak-otak ikan roodbars kami kala 17 Agustus lalu!

Sekelar jualan dan tiba di rumah Kak L, saya dan Aa tenggelam dalam sujud syukur sangat panjang, Alhamdulillah!

Ini sedikit catatan kecil yang sempat saya bubuhkan di FB saya:

Kata pertama yang ingin kami ungkap adalah syukur Alhamdulillah, jualan kami sebanyak 85 buah pempek kapal selam, 40-an lenjer (sudah tidak dihitung detil karena sangat mengantuk, dinihari Sabtu pembuatannya), 120-an buah siomay dan 40-an buah otak-otak ikan tenggiri dibalut daun pisang ludes tak bersisa!

Laris manis tanjung kimpul!

InsyaAllah sepasang Honeymoon Backpackers jadi deh main ke Italia dan Spanyol! ๐Ÿ˜€

Berjualan pempek di negeri Eropa menyisakan banyak catatan dan peristiwa yang patut ditulis dan diabadikan melalui sebuah buku!

Ada kejadian sangat lucu dan pertama kali dalam hidup saya (sebagai penjual pempek) terjadi di arena bazaar, hehehe, nanti saja saya tulis di blog saja ya ๐Ÿ™‚

Kami mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh pembeli yang membeli pempek, siomay dan otak-otak produksi kami.

Terima kasih pula untuk seluruh kontak saya di facebook yang sudah mendoakan agar dagangan kami habis sekaligus menemani saya *secara online dan jarak jauh* kala saya benar-benar deg-degan mengolah semua bahan makanan, hanya dengan dua tangan dan waktu yang saling berkejaran. FYI, saya baru memproduksi semuanya mulai Kamis malam dan harus menjualnya di Sabtu pagi!

Terima kasih tak terhingga atas ide kreatif Kak L sebagai host utama kami ๐Ÿ™‚

Beliau memercayai kemampuan saya padahal belum pernah mencicipi pempek saya, hanya percaya berdasarkan testimoni yang berdatangan di fanspageย Pempek & Bolu Kukusย kami.ย 

Terima kasih atas seluruh support moril dan materiil -beliau yang membayarkan sewa tenda kami dan sungguh tidak murah!- yang sudah diberikan kepada kami. Karena beliaulah, kami sempat nekad meminjam sebagian uang pada salah satu teman untuk terbang all the way ke negeri Belgia ini.

What a journey after all!ย 

Sangat layak untuk kami kenang seumur hidup kami dan mudahan bisa direkam dalam buku kami. ย ๐Ÿ™‚

Sekali lagi, terima kasih tak terhingga untuk semua yang sudah mendukung ide Honeymoon Backpackers mencari dana backpacking melalui jualan pempek, at the end, it worked nicely.

Segala puji milik Allah!

Kedua, bangun jaringan silaturahmi internasional!

Saya menjadi blogger dimulai di tahun 2005, di sebuah fasilitas blog dengan konsep berjejaring, namanya Multiply dan sudah ‘tewas’ sejak awal tahun ini.

Di Multiply ini saya rutin mengisi blog. Awal mulanya sekedar ingin membaca tulisan-tulisan Mbak Helvy Tiana Rosa, lama-kelamaan terbawa ingin berbagi kehidupan di Inggris -kaya saya menempuh pendidikan S2- hingga akhirnya saya memberanikan diri alih profesi menjadi penulis amatir sekaligus backpacker ๐Ÿ™‚

Di Multiply saya bertemu dengan banyak perempuan smart, sholehah sekaligus senang bersilaturahim.

Pertengahan 2005 saya melempar ide ingin Solo Backpackย -untuk pertama kalinya menjelajah Eropa- di blog Multiply saya, satu persatu teman-teman Multiply di Eropa menawarkan diri menjadi host saya, alias berkenan menyediakan ruang tamu atau salah satu kamar mereka menjadi rumah sementara saya untuk beberapa hari. ๐Ÿ™‚

Dari solo backpack 2005 tersebut saya menyadari, backpacking nyaman bisa diusahakan, sepanjang jejaring silaturahmi kita kuat dan sosok kita dipercaya sebagai pribadi yang amanah, mampu menjaga kebersihan dan siap membantu-bantu tuan / nyonya rumah jika diperlukan. ๐Ÿ™‚

Justru dari aksi ‘tumpang-menumpang’ di rumah host inilah saya menemukan banyak sekali kakak ketemu gedhe! Rasanya bahagia sekali, mengingat saya adalah anak pertama dan memiliki 7 adik. Jika akhirnya dianggap adik oleh seseorang, rasanya senang luar biasa. It’s a priceless honour for me! ๐Ÿ™‚

Sudah dulu ya, nanti di kesempatan lain saya akan menulis kembali, tips trick smart backpacking ala honeymoon backpackers! ๐Ÿ™‚

[PhotoBlog] Silaturahmi ke el-Buhuts

image

Kali ini mengaku salah, kami berangkat menuju ‘mogamma’ kesiangan, meski sudah terburu-buru mengejar waktu, tetap saja ditolak untuk memproses ‘taslim’ (bagian dari aplikasi perpanjangan visa Mesir kami).

Sudahlah, kembali lagi saja Sabtu esok lusa ๐Ÿ™‚

Sekarang mari kunjungi teman lama kala aku di Inggris dahulu. Dia sekarang hidup berbahagia dengan suaminya yang sholeh di el Buhuts ๐Ÿ™‚

Aku berpose di petunjuk stop-an metro; Anwar Sadat sta – Opera – Dokki – lalu sampai ke tujuan kami.

Satu perhentian lagi, yuuk ๐Ÿ™‚