Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Image

SIWA MATROUH IN LOVE!
Jabal Dakrur-Siwa,
Hanya berdua,
Tiada bunyi, tiada gema,
Selain belahan jiwa
Membisik cinta…

Angin tak sekadar terasa,
bahkan berkesiut suara
membisiki telinga
tentang anugrah cinta
akan selalu ada
jika dipelihara
segenap rasa

RN
17 April 2013

***

Image

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Pantai Ageeba sungguh ajaib sesuai namanya. Sepi, senyap, kosong tak berpenghuni.

Sepanjang musim dingin keindahan pantai ini ternyata tak berhasil menarik minat turis lokal dan mancanegara untuk bertandang. Berbeda kala musim panas memanggang bumi Mesir, Ageeba beach tumpah-ruah dikerumuni, laksana sepotong gula merah dikerubungi semut-semut kelaparan.

Saat kami tiba di sana (18 April 2013), angin siang itu bergulung kencang. Menyelusup masuk hingga seluruh sendi terasa linu. Gerimis yang mengiringi sejak pagi hari di Marsa Matrouh terus merintik-menetes, semakin mengusir selera dan rencana Aa, meloncat ke dalam turqoise-nya warna laut yang bening mengundang.

Supir angkot yang membawa kami dari Matrouh  menuju Ageeba beach bercerita, “Sepanjang Januari hingga April tahun ini, di sini sepi tak ada kehidupan, ibarat kota mati saja, makanya saya tidak membawa angkot sampai ke sini. Hari ini khusus untuk kalian berdua saja. Keadaan seperti ini sangat berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan musim panas. Ribuan manusia datang ke sini saban hari,” ujarnya bersemangat sambil mengurai senyum hangat.

Kami saling berpandangan. Saling melempar senyuman.

Betapa baiknya supir asli Matrouh ini.
Betapa bersekongkolnya penghuni langit, memberikan kita kesempatan, menikmati pantai Ageeba seakan pantai indah ini hanya milik kita pribadi.
Resort ‘pribadi’ hadiah dariNya.

Sungguh, semesta merestui ‘honeymoon backpacking’ kita ya, A. 🙂

Sang supir angkot menurunkan kami di tepi gerbang menuju Ageeba beach, kami menyepakati janji, akan dijemput setengah jam lagi.

Saat deru mobil semakin menjauh, kita saling mengaitkan jemari, melangkah perlahan menuju keindahan yang membentang.

Di depan kami, sejauh mata memandang, horison biru bertemu langit biru muda. Mereka berdansa begitu sempurna! Sedang biru turquise-nya pantai Ageeba menyaksi kemesraan mereka. Subhanallah, indahnya lukisan Sang Maha Cinta!

Sesekali, udara tak bersahabat menyapa, meniupkan dingin menggigit, aku kerap menciut dalam balutan jaket hitam tebalku, di pertengahan April yang masih sangat gigil.

Kala kita hanya berdua, aku yang gemeletuk di antara demam sisa semalam engkau hangatkan dalam pelukan. Engkau mengajakku menikmati suasana bening, hening dan sesekali memecahnya dengan canda, mengundang sungging di bibirku 🙂

“Aa, ada tripod mungil kita kan?”

“Iya yah, kenapa tak kita abadikan saja?”

Aku tersenyum melihat engkau meloncat-loncat riang, serupa anak kijang kala berlomba mendahului kecepatan cahaya, agar sempat diabadikan oleh kamera mungil kita 🙂

“Aa, I love you, more and more, insyaAllah for the rest of our life!”

“Me too my dear,” sahutmu lembut.

Dan genggaman tangan kita, diabadikan cahaya!

Biru dan anggunnya pantai Ageeba-Matrouh, menjadi saksi perasaan terdalam kita. Mudahan abadi hingga surga!

***

IZ, 24 April 2013

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Kota kuno bernama Siwa ini menjadi highlight 1.5 bulan pengembaraan pengantin kelana di Mesir. Kami terpesona dengan keheningan gurun pasir keemasan yang terbentang sejauh mata memandang. Kami juga terkagum-kagum dengan keramahan penduduknya.

Rencananya, kami akan menceritakan beragam kisah perjumpaan dengan penduduk lokal di Siwa. Sebuah kota kecil yang dibangun 12 abad lampau, berbatasan langsung dengan negara Libya.

Untuk kisah pertama, kami akan menceritakan sosok tukang rumput bernama Mahmud.

Mahmud Siwi; Tukang Rumput Soleh

(17/4/2013) Dia kami temui kala sinar matahari laksana permadani membentang di atas kepala. Saat itu kami menuruni lereng Gunung Dakrur yang terbakar matahari dan asik berfoto di atasnya. Dakrur adalah nama salah satu gunung mati (serupa dengan Jabal Mauta) yang terletak beberapa kilometer dari terminal utama bis antar-kota, Siwa—salah satu wilayah terjauh dan berbatasan dengan Libya, sekaligus merupakan bagian dari Propinsi Mathruh. Jaraknya 592 km dari Alexandria.

berdua di jabal dakrur

Tiada kehidupan sama sekali di gunung Dakrur. Kendati banyak rumah dibangun di sekitar gunung tersebut, namun hanya ramai dihuni 3 hari selama satu tahun. Tepatnya bulan Oktober, saat penduduk Siwa merayakan perdamaian antar kabilah. Gunung ini menjadi saksi bisu sejarah pertumpahan darah antar kabilah di Siwa bertahun-tahun lamanya hingga dibuatnya kesepakatan perdamaian. Di luar hari perayaan perdamaian tersebut, Dakrur sepi tak berpenghuni. Gunung mati!

dakrur-death

alone

from up

Ketika suara motor terdengar menggerung dari kejauhan, kami gegas menghambur ke pinggir jalan. Menunggu pengendara ini lewat di hadapan kami. Kami hanya ingin menumpang sampai pasar. Tempat kami pertama kali datang dari Kairo.

Sembari menunggu dia mendekat, kami menyiapkan uang. Menurut perhitungan kami, sepuluh pond cukup untuk jarak tempuh yang telah kami lalui saat datang ke Dakrur ini.

Deru motor kian nyaring dan mendekat.

Waduh. Sepertinya motor roda tiga. Supirnya bergamis abu-abu. Terlihat sangat lusuh. Perawakannya kurus. Wajahnya mengukir gurat kelelahan. Yang paling mengejutkan, bak motor belakangnya dipenuhi tumpukan rumput sejenis alang-alang. Tumpukannya tinggi menjulang. Ini sayuran khas Siwa kah?

‘Assalamu’alaikum.” Saya menyapa setengah berteriak.

‘Wa’alaikum salam warahmatullah.”

Bapak yang akhirnya kuketahui bernama Mahmud Siwi (35 th, beranak empat) mengiringi salam dengan senyuman tulus. Dia menyetop motornya. Menyambut sapaan kami dengan sangat ramah. Laiknya semua penduduk asli Siwa yang kutemui selama perjalanan di kota kecil tersebut.

Setelah mengobrol sedikit, saya langsung ‘nodong’,

“Lau samahta, mumkin narkab ma’ak?” Bolehkah kami menumpang?

“Kemana?”

Kemana ya? Ha ha. Kami juga tidak tahu tempatnya dimana dan arahnya kemana. Saya terdiam beberapa jenak. 

“Hadhratak tamsyi fen?” Memangnya Tuan mau kemana?

“Saya mau ke pasar, jual rumput ini.”

“Hm, dekat terminal gak?”

“Lumayan.”

“Ya sudah, kami nebeng ke pasar aja bareng Tuan.”

Heu heu heu.  Benar-benar kami sedang berada di tempat antah berantah dan tidak tahu mau ke antah berantah yang mana lagi J

Ia mengangguk dan tetap menyunggingkan senyuman. Kemudian turun dari motornya. Ekspresi wajahnya tampak kebingungan, mau disimpan di mana kami berdua ini. Bak sudah penuh. Di depan hanya ada satu jok, yaitu tempat dia duduk itu.

“Ihna wa’qifin wara bas. Mafisy  masyakil. Kida.”Kami berdiri begini saja di belakang, tidak apa-apa!

“La la…” Jangan!

Dilarang berdiri, atau dilarang ikut ya? Saya mulai khawatir kami tidak diangkut 🙂

Pas saya mencoba berdiri di belakang bak, ternyata hal itu tidak mungkin dilakukan.

Di sela kebingungan kami, dia menyodorkan karpet biru kecil. Cukup untuk dua orang. Jadi, kami diizinkan menumpang nih?!

Alhamdulillah.

motor

Meski kami harus duduk di atas tumpukan rumput menjulang, tidak apa… Wuih! Tentu menegangkan, tapi daripada jalan kaki berkilo-kilo jauhnya di bawah sengatan matahari pukul 12 siang, mending kami ikut saja.

Anggap saja sedang syuting film pengantin India sedang honeymoon di desa, hahaha 😀

“Yalla, irkab.” Yok, naik!

Gimana caranya? Apa kami nanti akan terjungkal? He he, si petualang mulai mencemaskan diri sendiri.

“Aa naik duluan, nanti tarik aku. Percaya saja sama dia, pasti dia sudah memperhitungkan keamanannya.” Ujar istri saya meyakinkan.

“Siap!” Jawab saya kian mantap.

Segera saya injakkan kaki ke beberapa rangkaian besi motor. Tiga langkah saja saya sudah berada di atas tumpukan rumput menjulang yang kini dilapisi karpet kain kecil milik Mahmud Siwi.

Hap hap hap!
Kini giliran sang istri saya tarik perlahan. Cukup berat, karena meski menumpuk, beban rumput terlalu ringan dan tidak padat.

Yes…, akhirnya kami berhasil duduk manis di atas bak penuh tumpukan rumput.

“Musta’id?” Siap?

“Yalla, ihna musta’iddun.” Yuk, kami sudah siap.

Motor pun menggerung dan siap melaju.

“Bismillah.”

Yiihaaaaah. Setengah berteriak, saya membuka kantong kamera. Bersiap merekam jejak berkesan ini. Kendati akhirnya saya tidak maksimal memotret, karena goncangan keras kerap terjadi.

mahmud s

Teriakan kami kian seru. Campur aduk antara takut terpelanting karena beberapa kali melewati jalan bergelombang—maklum bukan jalan aspal—namun senang karena mengalami kejadian tak terduga dan tak  terbayangkan sebelumnya. Seperti saat ini.

Sesekali saya tatap wajah istri. Wajahnya bersinar-sinar, memancarkan raut senang 🙂

Backpack seperti inilah yang aku inginkan, A. Merasakan sendiri hal-hal unik di sepanjang perjalanan, mengalami hal-hal tak terduga, dan menikmati kehidupan penduduk lokal dari dekat. Perjalanan kita menjadi tak biasa dan sangat hidup! Live up our life!

Sepakat!
Saya mengangguk-angguk! 🙂

***

Obrolan Di Atas Guncangan

Meski motor bergoncang tanpa henti, namun saya tetap menanyakan sejumlah hal ke Mahmud. Tentu dengan sedikit berteriak, karena suara kami bercampur dengan gerungan suara motor besar merk Cina! Ya, barang-barang Cina juga menyerbu hingga pelosok Siwa.

Posisi Mahmud sebagai pengemudi berada di depan. Tepat di bawah kaki kami yang menjuntai. ‘Kelakuan’ kami tidak sopan sekali ya. Sudah dikasih tumpangan, tapi kaki-kaki kami menjuntai tepat di atas kepala Mahmud. Maafkan kami! Soalnya untuk menjaga keseimbangan kami yang terguncang-guncang ini, khawatir terjungkal! He he he 🙂

love in siwa

Mahmud mulai membuka diri, “Ana kuntu fi Su’udiyyah, sanatain. Alasyan Syughl.” Saya pernah bekerja di Saudi, selama dua tahun.

Hm, iseng saya bertanya, bekerja apa.

“Ya, serabutan aja. Kalau enggak mengemudi, buruh. Tapi saya senang, karena saya bisa menunaikan dua kali ibadah haji selama dua tahun itu. Umroh pun beberapa kali. Dua hal itu sudah cukup menyenangkan bagi saya. Saya pun bisa sedikit menabung untuk kebutuhan hidup keluarga.”

Alhamdulillah. Saya dan istri saling pandang. Kami senang mendengar uraiannya saat menjelaskan dirinya bisa menunaikan ibadah dengan baik, tapi tidak lupa mencukupi kebutuhan keluarganya. Mencukupi kebutuhan keluarga juga termasuk ibadah yang tidak pantas diabaikan.

Obrolan kami sesekali terhenti saat melewati beberapa orang yang tengah duduk di beranda rumah penduduk dan Mahmud Siwi menyapa mereka. Kami tak ketinggalan melambaikan tangan, melempar senyuman, dan setengah berteriak, “Assalamu’alaikum!”

Rupanya Mahmud ini sudah cukup dikenal. Atau karena penduduk Siwa sangat sedikit ya? 🙂

Beberapa orang sempat mengobrol singkat dengannya, menanyakan pesanan rumput, bahkan beberapa orang lagi bergurau, apa kami ini dijual juga? Alamak! Hahaha 😀

Sembari menjawab salam kami, senyuman orang-orang pun kian melebar. Entah, apa karena merasa lucu melihat sepasang makhluk aneh didudukkan di atas tumpukan rumput, seakan-akan mau dijual bersama rumput di pasar, atau memang senang karena disapa dengan sapaan khas Islam. Ah kami tidak peduli. Yang penting kami senang.

Kami sempat membayangkan bagaimana Nabi Yusuf kecil dijajakan untuk dijual di Mesir setelah ditemukan di salah satu sumur oleh penjual. Apakah adegannya seperti kami ini? 🙂

Di atas motor, kami mengobrol beberapa hal; tentang pohon kurma yang banyak tumbuh di daerah padang pasir seperti Siwa dan akan berbuah di bulan Agustus-an; keadaan cuaca Indonesia yang selalu sejuk karena sering hujan dan tidak ada musim dingin atau panas; tentang Siwa yang terberkahi meski tidak dilewati aliran sungai Nil, namun produksi air mineral yang bersih justru banyak dikemas dari Siwa, di sini ditemukan banyak sumber mata air oase (wahah).

kebun kurma

bukan nil

Ciittt!

Mahmud menghentikan motornya.

“Nanzil huna?” turun di sini?” Saya spontan bertanya.

“Jangan, tetap di tempat. Saya mau melayani pelanggan yang beli rumput saya dulu.”

Dia menarik satu ikat rumput dari bagian tumpukan belakang. Dudukan kami ikut bergoyang seolah akan melorot ke belakang. Tapi dia lagi-lagi menenangkan kami.

“Tenang, cuma satu ikat yang ditarik.” Satu ikat, tapi besar! Pikir saya cemas!

Mahmud kembali menjalankan motornya.

“Inta tigi hina alasyan leh? Syughl wala siyahah?” Kalian datang kesini untuk apa? Bekerja atau berkunjung?

Dia mulai menyelidiki tujuan kami datang ke Mesir. Mulailah saya bercerita,

“Ana Kuntu Thalib fil Azhar fil qahirah qabla tsalats tsanawat. Dulu saya mahasiswa Al-Azhar.”

Begitu mendengar kata Al-Azhar, dia terlihat sangat menyambut dan senang. Persis seperti ekspresi H. Umar, kuncen Mesjid Tsabah yang terletak di belakang Ma’had Al-Azhar  saat kami mengatakan hal sama ketika hendak shalat zuhur di mesjid itu. [cerita serunya diundang jamuan makan siang dengan Hajj Umar, menyusul ya]

“Saya ke sini berkunjung, sekaligus mau bulan madu dengan menjelajah kota yang belum pernah kami datangi. Istri saya hobi menjelajah.”

Istri saya menyahut, “Ka mitsli Ibnu Batutah!”

“Aaa, Ibnu Batutah!” Mahmud mengangguk-angguk tanda mengerti 🙂

Sepertinya mendukung pilihan perjalanan ala kami, hehehe, saya merasa PD menduga seperti itu 🙂

 Kami sempat menjelaskan bergantian, kami kagum sekaligus terinspirasi oleh semangat sejumlah ulama besar yang tidak pernah lama menetap di satu tempat, sepanjang hidup mereka berkelana untuk mencari pengalaman, ilmu, maupun hadis-hadis dari manapun—Meskipun kami baru bisa meniru berjalan dan memetik secuil ilmu dari perjalanan saja.

“Bukankah Imam Syafi’i gemar mencari ilmu kemana-mana. Beliau bahkan pernah bersyair, “Ma fil Muqaami lidzi ilmin fa dzi adabin min raahatin, fa da’ al-authana waghtaribi.  Wa safir fa saufa tajid iwadhan amman tufariquhu.” Bagi yang memiliki budaya luhur dan ilmu tinggi, berdiam diri itu tidak nyaman. Tinggalkan sejenak negeri dan berkelanalah. Merantaulah, engkau akan memperoleh ganti dari apa yang engkau tinggalkan.

Aku melanjutkan, “Imam Syafi’i di Mesir masyhur ya?”

“Sangat.” Jawab dia tegas.

“Madzhabnya menjadi satu madzhab yang dipelajari di Al-Azhar.” Tambahnya.

Tak terasa kami berhenti untuk kedua kalinya.

“Turun di sini?” Tanya kami.

“Jangan. Tunggu sebentar.” Dia agak berlari meninggalkan kami. Masuk ke lorong rumah-rumah tua dari tanah dan batu.

***

“Maaf, tadi saya ganti baju dulu. Ini baju khusus untuk ke pasar. Baju tadi khusus untuk ke kebun.”

Pantas saja tampak lusuh dan kotor. Penampilan keduanya ini terlihat meyakinkan. Gamis putih ditemani sorban merah khas Saudi dililitkan di kepalanya.

“Hayya namsyi!” Mari kita teruskan perjalanan.

Sejenak kemudian saya langsung iseng bertanya,

“Hafizhtal Quran?” Kamu hafal Al-Quran?

 “Alhamdulillah.

“Semua? 30 Juz? “ Tambahku penasaran.

“Iya, semuanya.”

Wow!

“Sejak kapan mulai menghafal Al-Quran?”

“Sejak usia saya 20 tahun, saya mulai fokus menghafal. Alhamdulillah, di usia saya sekarang, 30 juz sudah berhasil saya hafal.”

Saya dan istri saling pandang. Kagum.

“Wa Anta hafizhtal Quran?”

Jreng. Pertanyaan mulai menohok batin saya 🙂

“Alhamdulillah.”

Dia langsung menyahut, “Masya Allah.”

“Tapi belum semua,” Segera kususul jawabanku tadi.

Tawa kami menghambur di udara.

Istriku menyahut dan membaca ayat andalannya, “Saya hafal ayat ini, Ya ayyuhannasu inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaa’ila li ta’aarafuu. Inna akramakum ‘indallahi atqaakum…(QS Al-Hujurat [49]: 13)

“Benar sekali. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa. Tanpa peduli apa dia orang Arab, non Arab, kabilah terpandang ataupun tidak. Semua sama, kecuali dengan takwa.”

Rupanya dia benar-benar menghayati ayat tersebut. Kami diliputi haru, bertemu Mahmud si Siwi sekaligus penghafal al-Qur’an.

***

“Aha, hadzal huwal makan alladzi nanthaliqu minhu.” Nah, ini tempat kami pertama berangkat tadi, Mahmud! Berarti kita sudah sampai! Seketika saya berucap kala mengenali lokasi saat kami pertama kali sampai di kota kecil ini.

“Mau saya antar sampai terminal?”

“Ga usah, saya mau shalat zuhur dulu.”

“Waktu Zuhur belum tiba.” Tukasnya.

“Enggak apa-apa, kami ingin wudlu, istirahat sejenak, dan shalat di mesjid.”

Kami diantarkan ke mesjid Al-Faruq. Kami lihat bagian depannya hitam pekat karena terbakar. Saya pikir karena pernah dibakar massa. Ternyata  katanya mesjid tersebut terbakar karena berseberangan dengan pom bensin yang pernah meledak.

Ooo.

“Mesjidnya masih tutup. Kita cari mesjid lain aja ya?”

“Masyi.” Oke.

Menara mesjid yang lain mulai terlihat. Aku merasa makin mengenali tempat sekitarnya. Ma’had Al-Azhar tingkat SD-SMP-SMA. Ya, ini dia tempat yang sempat saya lihat pas tiba pertama kali di Siwa. Berarti udah dekat terminal juga. Hi hi. Kecil juga ya kota Siwa ini. Mungkin bisa dikelilingi hanya dalam setengah hari.

“Khalash, washalna.” Sudah sampai, teriakku.

Mahmud menghentikan motornya.

“Kami akan shalat di mesjid itu saja.” Tangan saya menunjuk masjid yang saya kenali sejak sampai di kota ini.

Saya turun duluan, ingin segera meloncat dan memotret! Di awal, saya belum sempat memotret seperti apa ‘penampakan’ kami kala berada di atas tumpukan rumput ini. Saya sempat ingin meminta tolong Mahmud memotretkan kami, tapi masih merasa sungkan. Biar saya sajalah memotret wujud istri di atas gunungan rumput.

Saya segera memotret istri. Dan inilah hasilnya. [foto1]

Istri akhirnya mengusulkan agar Mahmud memotret kami berdua, meskipun saya sudah turun dari gunungan rumput 🙂

Inilah hasilnya. [foto2]

Setiap pertemuan, selalu berujung pada perpisahan. Meski masih enggan untuk berpisah dan masih ingin menggali banyak hal pada sosok Mahmud yang santun, kami memutuskan untuk berpamitan. Khawatir nanti Mahmud merasa direpotkan dengan kehadiran kami yang ‘menginthil’ ini, hehehe…

Saya rogoh saku celana dan menyodorkan uang 10 pound untuknya. Mudah-mudahan jumlahnya dianggap tidak terlalu kecil.

“Tafadhdhal.” Silahkan.

Tangan Mahmud gegas menolak.

Saya kaget, kenapa dia menolak dengan tegas?
Sikap Mahmud adalah kebalikan sikap orang-orang Mesir di Cairo, hampir semua tidak pernah menolak pemberian, bahkan cenderung materialistik.

Saya memutuskan memaksa. Saya masukkan uang itu ke saku bajunya. Dia mengeluarkan lagi dan mengembalikannya kepada saya. Saya pun memasukkannya lagi ke sakunya. Begitu seterusnya, berulang-ulang sambil saling merayu, hehehe 🙂

Akhirnya dia menerima uang tersebut.
Saya lega.
Eh, ternyata lagi-lagi Mahmud memasukkan uang itu ke dalam tas istriku yang berada tepat di sampingnya.  

Hm, susah juga nih.  Apa artinya Mahmud benar-benar tidak mau menerima uang dari kami? Apa berarti dia murni menolong?!

“Ini buat anakmu.” Aku paksa untuk terakhir kali.

“Tidak!”

Akhirnya kami tidak kuasa memaksa lagi.

Rupanya, penduduk di sini rata-rata ramah, penolong dan menganggap kami sebagai tamu agung bagi tanahnya. Apalagi kami selalu lebih dahulu menyapa dengan sapaan Islam, berbincang soal Al-Quran dan Hadis. Dua kali kami naik motor bak, dua kali naik mobil omprengan bersama Ahmad Kohla di pagi hari dan H. Umar di siang hari juga sama sekali tidak ditagih ongkos.

Kesan Hati

Kami berpamitan dan saling bertukar nomor HP. Berkali-kali kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Terucap doa, Jazakallahu khairal jaza’ atas keramahan dan kehangatannya.

Hati kami mencatat kesan mendalam atas akhlak Mahmud Siwi, tukang rumput yang soleh dan hafal Quran. Dia bukan hanya hafal Al-Quran, tapi juga menghayati dan mengaplikasikan spirit Al-Quran dalam hidupnya. Dia menjaga shalat, mengagungkan tamu, menebar salam, bekerja keras untuk menghidupi keluarga, ramah, dan benar-benar ikhlas membantu dan berbagi.

Barakallahu fik wa fi Ahlik wa auladik! Semoga Allah selalu memberkahi kehidupanmu beserta keluarga dan anak-anakmu.

Shaqr Quraisy, jelang Magrib 19 April 2013

de sky

de up