Doa Mama Sa’ida

Doa Mama Sa’ida.    Rabu ini, saya memutuskan berangkat ke Fez bersama rombongan dosen IAIN Sumut. Mereka datang ke Maroko dalam rangka menindaklanjuti MoU antara IAIN Sumut dan Universitas Qarawiyyin, Fez. Ini adalah hari ke-20 mereka berada di Maroko, dan hari ini dijadualkan akan ada pertemuan dengan pihak kampus. Saya memaksakan diri untuk ikut sebab belum pernah berkunjung ke kampusnya. Sekaligus ingin berkunjung ke Universitas lain di Fez, yaitu Universitas Sidi Muhammad ben Abdullah.

Saya pernah mengunjungi Fez sekitar 5 bulan silam bersama Istri saya untuk riset dan acuan menulis Buku honeymoon Backpacker kami (mudah-mudahan cepat selesai bukunya, amin..) Proyek penulisan buku ini telah lama kami rancang. Idenya bahkan telah muncul sejak awal kami menikah.

Selain untuk proyek penulisan, kami juga ingin menyambung silaturahim dengan salah satu keluarga lokal di Fez yang dulu pernah berbaik hati berkenalan dan menerima Istri saya berkunjung dan menginap beberapa malam di rumahnya. Saat itu saya belum menikah.

“Nanti kalau sudah menikah, bawa suami kamu kesini dan kenalkan pada Mama ya.” Pesan Mama Saiedah ketika ima berpamitan pulang, 2010 silam.

“Insya Allah, Mama.”

Dan lima bulan yang lalu, setelah 2 tahun lebih usia pernikahan kami, Istri saya bersemangat menelpon Mama Saidah setiba kami di Maroko.

“Assalamu’alaikum, Mama, ana fil magrib al-an ma’a zaujy. Saya sekarang di Maroko bareng suami.”

“wa’alaikom salam, barakallahu fik ya binti wa waladii..nurahhibukum fi baiti..asytsqu mink jiddan jiddan. Mudahan Allah memberkahimu anak-anaku. Saya sangat merindukanmu.”

Kami menuju Fez dari Casablanca dengan berkereta ONCF. Berangkat dari stasiun casa Luiz, tiketnya 110 Dirham kalau tidak salah. Karena Jadual kereta yang ada saat itu sore, maka diperkirakan sampai Fez tengah malam.

Sesampai Fez, kami dibalut haru.

Ternyata Mama menjemput kami di stasiun. Ditemani Maryam, anak sulungnya, Kamal, suaminya, dan Syama, cucunya. Mereka ceria menyambut kami, padahal sudah tengah malam.

Mama memeluk Istri saya erat.

“Ahlan wa sahlan ya binti. Selamat datang anakku.”

Di sudut matanya perlahan tampak buliran air mata rindu, haru, dan seolah tidak percaya dapat bertemu kembali sesuai pesan Mama kala itu.

Hampir seminggu kami menginap di rumah Mama. Merenda jalinan silaturahim, memupuk kedekatan batin bersama keluarga mereka yang ramah. Hingga tiba saatnya kami pulang.

Selesai berfoto bersama; saya, Istri, Mama Saiedah, suaminya, Sara (putri keduanya yang kini baru dua minggu menikah), syama, kami dianter sampai terminal bis Medina. Old Town.

Kami berpamitan. Berpelukan.

Mama berpesan, “Nanti kalau kalian sudah punya baby, bawa juga kesini ya, Mama pengen gendong cucu Mama dari Indonesia.”

Kami berbisik dalam hati…

Amin. Insya Allah!
Fez, 13/11/13

A Good Man

A Good Man  

Siang itu (14/11/13) saya memutuskan untuk kembali ke penginapan saja. Tidak jadi ikut mengantar para dosen menjelajah kota tua Fez; mesjid bersejarah Al-Qarawiyyin, pabrik dan penyamakan kulit, ziarah makan Ibnu Al-Arabi–penulis kitab tafsir Ahkaam Alquran, dan beberapa tempat jelajah lain di sekitarnya.

Disamping sudah tidak kuat ingin ke toilet, saya punya janji menyelesaikan rancangan powerpoint untuk istri dan mengirimkannya via email hari itu juga, karena akan dipresentasikan besok pagi waktu Indonesia.

Kami harus bekerjasama secara ketat soal file dan data ini, sebab saya yang memegang laptop si doi. Ingin hati bukan hanya laptopnya yang menemaninya saya, tapi situasinya belum memungkinkan.

“Saya pamit ya pak,” Ucap saya pada Pak Taufik. Leader rombongan.

“Syukran ya Hadi, mohon maaf belum bisa ikut menemani antum”, ujar saya pada Hadi, mahasiswa Indonesia di Fez.

Sesampai penginapan, saya hanya bertahan setengah jam di depan laptop. Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba leher serasa kepelintir. Pinggang sebelah kiri terasa sakit. Sementara jari tangan masih di atas keyboard laptop. Ternyata saya tadi tertidur dengan posisi tidak jelas saking mengantuk. He he

Sekitar dua jam saya selesaikan urusan, perut melilit kelaparan. Agaknya sarapan roti plus syai bil halib traktiran rombongan dosen jam 8 pagi tadi tidak cukup kuat menahan keinginan perut untuk ‘diisi ulang’ sampai sore.

Saya segera tunaikan shalat jamak. Lalu siap-siap hunting makan. Tiada teman selain bayang-bayang istri. Allah, miss her so much!

Saya gendong ransel hijau berisi laptop dan barang penting lain. Kendati penginapan dirasa aman, tetap saja kita mesti waspada. Jangan meninggalkan laptop dan barang berharga di kamar. Demikian pesan Istri suatu ketika.

Meskipun di dekat penginapan tersedia banyak warung makan khas Maroko, namun saya lebih memilih berjalan agak menjauh sedikit dari jejeran warung itu, kurang lebih 200 meter ke sebelah timur. Biasanya kalau agak jauh dari keramaian, harganya tidak terlalu mahal.

Alhamdulillah akhirnya saya temukan warung sederhana. Aneka daging bakar. Satu porsinya tertulis 15 dirham. Saya perhatikan tulisan itu baik-baik.

“Satu paha ayam bakar ini 15 dirham kan?” Tanya saya memastikan.

“Betul.”

Sekalian saya menunjuk dan menanyakan satu persatu menu yang tersedia berikut harganya. Tidak apa-apa banyak bertanya untuk meminta kejelasan. Bertanya lebih baik daripada menerima begitu saja dalam keraguan atau ketidakpastian.

“Baiklah, saya pesan satu paha bakar ya.”

Letak warung ini berhadapan langsung dengan warung daging bakar serupa yang lebih besar, Namanya Gunto. Saya tidak memilih warung Gunto, tampak terlalu mewah.

Saya mengakrabkan diri lewat senyum, salam, menanyakan kabar, dan mendoakan keberkahan untuk usaha yang dia jalani. Tentu dengan bahasa Arab.

Dia terlihat senang dan saya dipersilahkan duduk. Meski sederhana, tapi tempat duduknya enak dan suasananya nyaman.

Tiba-tiba seorang lelaki menghentikan motor sepedanya di depan warung.

Derum..Derum…cekiiit.

“Assalamu’alaikum.” Dia menyapa penjual.

Rupanya dia mau makan juga di tempat ini.

“wa’alaikom salam.” Saya turut membalas salamnya.

Dia hanya melirik saya singkat. Kemudian dia mengobrol ke sana kemari dengan penjual. Saya bangkit dari kursi, melihat-lihat bagian dalam warung. Saya melihat ada jejeran gelas berisi daun mint siap seduh, ada tumpukan teh seduh, dan lain-lain.

“Ini dagangan kamu juga?”

“Iya, itu juga milik saya. Cuma yang memegang tugasnya si teteh itu.”

Si Teteh Maroko melirik dari dalam dan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Saya tidak tahu ternyata ada orang di dalam hehe.

Saya kembali ke tempat duduk saya yang kini posisinya bersebelahan dengan kursi bapak pengendara motor tadi.

Assalamu’alaikum.” Saya duluan tersenyum dan menyapa.

Wa’alaikom salam.” Jawabnya, sedikit cuek.

Saya juga tidak peduli jika dia cuek. Bukan urusan saya. Toh saya disini hanya mau makan kok.

Saya menyender lebih santai di atas kursi. Merenggangkan otot yang tadi sempat sakit. Mencoba memancing ide dan inspirasi. Ah, nikmat sekali.

Ayam bakar sudah terhidang. Tapi Si pelayan meletakkan hidangannya di antara dua meja, saya dan si bapak. Dia terlihat buru-buru dan tidak menyebutkan untuk siapa.

Karena saya merasa memesan terlebih dahulu, saya geserkan piring berisi ayam itu seraya bertanya,

“A hadza laka am liyya. Apakah ayam ini untukmu ataukah untukku?”

Mengetahui saya bisa bahasa Arab, dia mulai tersenyum dan menjawab,

“Hadza diyalak, mayakunsy diyally..Itu punyamu, bukan punyaku.”

Wakha. Oke.” Saya buru-buru menarik piring lebih dekat.

“Mari makan.” ajak saya.

“Silahkan, selamat menikmati.”

Tak lama kemudian, si pelayan datang menghidangkan pesanan si bapak.

“Syukran, hadza rajulun thayyeb. A good man.” Dia berujar pada pelayan sembari menunjuk diriku. Kenapa dia menyimpulkan saya orang baik, padahal baru saja bertemu. Aneh sekali.

Anta athyabu wa ahsan.” Saya langsung membalas ucapannya segera. Biasanya mereka berbasa-basi atau berupaya mengakrabkan diri dengan cara itu.

“Anda darimana, Mister?” Dia mulai membuka pembicaraan.

“Indonesia, negeri di Asia Tenggara sana.”

“Do you speak English?” Tanya dia.

“Yes, just a little. And you?” ujar saya.

“I do, but I learnt it 20 years ago. So I forget some words.”

Kami mengobrol campur aduk antara bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa darijah dan amiyyah. Malah sesekali saya masukkan bahasa sunda saat menyebut kondisi bagian bawah ayam ini gosong.

“It’s so tutung wa gosong ya basya..”

Herannya, dia manggut-manggut seperti mengerti. Ha ha ha. Kelakuannya mirip saya saat dia ngomong darijah dan saya manggut-manggut, “oo…, na’am…”

Saya bercerita banyak hal tentang Indonesia, terutama sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Maroko awal-awal kemerdekaan yang dibangun oleh presiden Soekarno dan Raja Muhammad V. Salah satu hasil yang masih dinikmati sampai sekarang, yaitu berupa bebas visa entry selama tiga bulan untuk masing-masing warga negara.

“Hm..Apakah disini ada tukang ikan bakar terdekat, kami sangat doyan ikan. Negeri kami dikelilingi banyak lautan lho?” Saya bertanya karena teringat rombongan bapak ibu dosen ingin makan malam dengan menu ikan bakar.

La. Disini jarang. Bukan daerah pantai.”

Dia menjelaskan.

“O ya, kamu beli saja di pasar, nanti minta dibakar di sini.”

Dia langsung memanggil tukang ayam bakar, menanyakan mungkinkah nebeng bakar ikan.

Hebat sekali ini bapak, usulan dan aksi konkrit! Tapi sayang, tukang ikan keberatan.

Kami asik makan dan ngobrol, dia terlihat lahap sekali. Bahkan sampai nambah satu porsi lagi. Mungkin sedang lapar-laparnya dan lagi dapat rezeki kali ya.

Dia menghabiskan dua porsi, sementara saya masih berkutat dengan makanan saya. Dia mendekati tukang ayam itu, mengobrol ke sana kemari, seraya mengambil satu bungkus plastik. Adapun saya kembali menghabiskan sisa roti.

Tiba-tiba dia mengagetkan saya,

“Hakeem, selamat menikmati, khalish.”

“Maksudnya?”

“Kau tidak usah bayar, saya sudah membayarkannya untukmu.”

“lho, tidak usah. Saya bayar sendiri.”

“Sudah saya bayar, karena kamu Rajul Thayyib. Kamu tamu saya sekarang!” Dia tersenyum sambil ngeloyor pergi menuju sepeda motornya, memasang helm, dan beranjak pergi.

Saya masih melongo.

Jazakallah khairan. Bal Anta aidhan rajulun thayyib. Anda memang a good man. Bahkan athyabu. Lebih dari yang saya kira.”

Catatan dari Fez

Smart Backpacking: Thinking Out of The Box!

Belakangan, banyak sekali orang yang meng-add facebook saya, lalu mengirimi message semacam di bawah ini:

“Mbak Ima kaya banget ya? Kok kerjaannya backpacking melulu? Duitnya berapa banyak? Kerja apa sih, Mbak?”

Dstnya, dstnya dan biasanya saya jawab singkat, seperlunya.

Misal, “Wah, kamu bakalan kaget kalau mengetahui penghasilan bulanan kami berdua. Kecil loh! Lagian, backpack ke Eropa ini kami sempat meminjam uang teman segala, sebagai ‘modal’ membeli tiket pesawat one way!”

Lama-lama tidak saya jawab lagi, sekadar saya intip saja 🙂

Bukan tidak mau menjawab, akan tetapi pertanyaan mereka adalah pertanyaan sangat ‘standar’, padahal saya dan suami bisa backpack keliling dunia dengan cara sangat tidak ‘standar’.

Image

Setelah sekian lama merenung, saya memutuskan untuk berbagi hal-hal tidak ‘standar’ dalam upaya kami mewujudkan perjalanan menjelajah Mesir, Tunisia, Maroko dan sekarang berada di bumi Eropa. Total, sudah hampir 6 bulan kami berkelana menjelajah dunia. 🙂

Baiklah, pertanyaan sejenis di atas akan saya jawab saat ini.

Pertama, berpikirlah ‘out of the box‘!

Bahwa bisa keliling dunia tidak mesti harus menunggu kaya dulu, atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, atau menunggu sudah punya rumah dan mobil dahulu, dstnya dstnya!

Kalau menunggu sangat kaya dahulu dan atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, umur kita biasanya keburu terlalu tua untuk ‘backpacking‘! Ingat ya, definisi kata backpacking sangat berbeda jauh dengan definisi kata traveling sejauh yang saya pahami selama ini.

Traveling mengandaikan kenyamanan paripurna (sebanyak uang yang kita punyai dan mau kita belanjakan), sedang backpacking justru berjalan sejauh mungkin dengan biaya sehemat mungkin -tentu saja mengurangi beberapa kenyamanan. Kalau sudah terlalu tua, tentu fisik kita sendiri sudah tidak sanggup backpacking dengan cara menghemat sangat ekstrim, misalnya tidur di stasiun lalu dikunci petugas dari luar stasiun, seperti yang kami alami di stasiun Soussa, Tunisia 🙂

Image

Ini foto kala stasiun dibuka kembali, sekitar pukul 3 dinihari.
Saya bisa tidur sekitar 2.5 jam, menunggu semua lampu dimatikan 🙂

Kok bisa keliling dunia dengan biaya sehemat mungkin?
Bukankah tiket pesawat ke luar negeri itu mahal?
Bukankah mata uang rupiah itu ‘nyungsep’ jika dikurs ke mata uang euro atau dolar bahkan poundsterling?

Bukankah backpacking ke luar negeri hanyalah aktifitas si orang kaya?

Waah waaah!
Ini dia yang membuat kamu tidak bisa berjalan lebih jauh!
Pikiran negatifmu memenjara kreatifitasmu!
Akhirnya momen thinking out of the box tidak terbit dari batok kepalamu!
Jadi begini ya, menurut hemat saya betapa tidak fair hidup di dunia ini jika backpacking ke luar negeri hanya mampu dilakukan orang kaya saja! 🙂

Backpacking ke manapun (hingga ujung kutub utara sekalipun, bisa kok dilakukan siapapun asal mau berusaha)!

Ya, kamu bisa!
*aku menunjuk ke dirimu kok!* 🙂

Caranya?

Ada banyak cara.
Ada ribuan cara!
Ada milyaran cara, sebanyak milyaran otak yang  berada dalam batok kepala penduduk bumi ini! 🙂

Bukankah dahulu banyak sekali sahabat Nabi SAW yang backpacking (safar) berjalan sangat jauh melintasi gurun sahara untuk menemukan sepotong hadis!?

Bukankah banyak sekali penjelajah ternama yang bepergian sangat jauh hingga berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya untuk menemukan benua baru?

Kenapa mereka bisa bepergian begitu lama dan sangat jauh, padahal pesawat terbang saja belum ditemukan?

Para musafir berabad lampau kerap hanya membawa barang alakadarnya, belum ada kompas, mobile phone, wifi, apalagi google maps, loh! :p

Kenapa mereka bisa bertahan dalam perjalanan yang lama, berat, berbahaya sekaligus bersahaja?

Saya duga karena mereka memburu mimpi mereka!

Mereka melakukan itu semua karena mimpi ingin menemukan kebaikan dan kebaruan di negara asing yang mereka tuju!

Mereka memutuskan tidak membeku dalam situasi stagnan, rutinitas dan jumud!
Mereka ingin terus berjalan, belajar dan jika memungkinkan berbagi!

Barangkali kamu akan menjawab, “Aaah! Itu kan orang-orang jaman dulu! Kita kan hidup di masa kini. Apply visa saja mahal dan susahnya minta ampun! Belum lagi kalau ditolak!”

Oh ya…?
Belum apa-apa engkau tidak mau berpikir positif dan berusaha! 🙂
Soal Schengen visa yang menurutmu susah, silahkan baca kisah kami memperjuangkan untuk mendapatkannya di sini ya. 🙂

Kalau kamu butuh contoh penjelajah tangguh masa kini, seketika saya bisa memberikan contoh nyata!

Apa yang beliau lakukan saat itu sangat murah dan bisa dilakukan siapa saja! Di masa mudanya, Mas Gola Gong pernah backpacking keliling Asia Tenggara dengan bersepeda! 🙂

Saat membaca buku Mas Gola Gong yang berjudul ‘From Jakarta to Himalaya‘ di awal-awal kuliah S1 di sudut kota Jogjakarta, saya tersulut bara seketika.

“One day, I’ll follow his idea to travel cheap with my own style!”

Bara itu menyala sejak bertahun-tahun lalu dan terwujud perlahan kala saya mendapatkan beasiswa S2 di Leeds University di rentang tahun 2004-2007.

Tahap awal, otak sederhana saya hanya memikirkan satu hal, fokus mengejar beasiswa!

Setelah beberapa kali apply beasiswa, akhirnya saya berhasil memeroleh beasiswa Ford Foundation dan terbang gratis menuju Inggris. Sejak liburan summer pertama di Inggris, saya belajar apa itu backpacking dan bagaimana menyiasati perjalanan murah meriah bahkan gratisan. Sepanjang rentang di Inggris pula, saya berhasil menjejak 20 negara. 🙂

Kisah detil bagaimana saya berjuang mendapatkan beasiswa S2 ke Inggris, bisa teman-teman baca di buku antologi yang saya susun dengan judul, “Kuliah Gratis ke Luar Negeri 2, Mau?” diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House. Ebook-nya sudah bisa teman-teman beli online di website MIZAN.

Tahun 2007 Inggris saya tinggalkan dan saya masih menyimpan bara yang sama di dalam dada. Suatu hari nanti saya akan kembali ke Eropa bersama belahan jiwa, bagaimanapun ajaib caranya! 🙂

***

Berpikir out of the box ini tidak susah kok, asal kita mau banyak ‘membaca’! Tidak sekadar membaca buku, tapi juga membaca kesempatan dan peluang.

Seperti yang sudah saya tulis di jurnal terdahulu, saya dan Aa menangkap bola yang dilempar Kak L!

Beliau menawari Aa menjadi da’i selama bulan Ramadhan di Eropa!

Bola itu kami sambut dengan sama-sama mengirimkan CV sefokus dan sebagus mungkin, bahwa komunitas Muslim Indonesia di Belgia tidaklah akan merugi jika mengundang kami ke sana. Aa biasa menjadi khatib, penceramah berbagai acara sekaligus menjadi imam dan guru tahsin al Qur’an yang baik.

Saya bisa berbagi ilmu kepenulisan yang saya miliki atau bahkan berjualan makanan! Sehingga insyaAllah tidak akan terlalu menjadi beban host karena kami bisa mencari uang untuk biaya transportasi kami sehari-hari.

Alhamdulillah CV kami berdua diterima dengan baik dan invitation letter dari KBRI Belgia masuk ke dalam email kami.

Dengan modal nekad dan keberanian terbang ke Eropa tanpa uang euro selembar pun, setelah visa Schengen kami dapatkan dari kedutaan Belanda, kami memutuskan berangkat secepatnya, tepatnya 17 Juli 2013 lalu.

Karena kami tidak memiliki uang yang cukup, kami berdua nekad terbang hanya dengan one way ticket alias tiket pesawat untuk masuk Eropa saja.

Beberapa suara sumbang muncul kala saya menulis status terkait one way ticket ini, akan tetapi doa -yang saya harapkan muncul setelah menulis status minta didoakan agar bisa masuk Eropa dengan one way ticket– dari banyak pihak akhirnya memuluskan kami memasuki bumi Belgia nyaris tanpa masalah, setelah sebelumnya diinterogasi pihak imigrasi Belgia berbelas menit lamanya.

Kisah diinterogasi pihak imigrasi Belgia ini bisa menjadi satu judul tersendiri karena situasinya menegangkan dan memacu adrenalin. Kami harus siap mental jika akhirnya dideportasi kembali ke Indonesia tanpa pernah berhasil keluar dari bandara Brussels Intl. Airport, which is not funny at all!

Sesampai di Eropa -dan tentu saja berhasil melewati pintu imigrasi Belgia- hanya istirahat satu hari saja, Kak L langsung mengajak saya membeli bahan pempek di Aldi Supermarket.

Waktu itu kami mencoba ikan Pangasius -murni karena alasan harga yang murah, sekitar 3 euro sekian- dan segera saya sadari, ikan ini tidak cocok untuk membuat pempek karena rasa ikannya tidak muncul sama sekali. Pempek perdana saya buat dari 700 gram ikan pangasius dan menghasilkan 35 buah kapal selam yang tidak memuaskan hati saya akan tetapi justru ludes seketika disantap ke empat anak Kak L 🙂

They said, “Your pempek is delicious, Tante Ima!”

Perburuan bahan pempek yang mendekati rasa ideal menurut ukuran saya belum berakhir.

Saya dan Kak L meluncur ke Makro, salah satu supermarket terbesar di Belgia. Saya disarankan Kak L untuk membeli ikan Roodbars frozen.

Saya menyetujui dan membeli ikan tersebut.

‘Ada harga-ada rasa’ tetap berlaku dimanapun jua. 🙂

Produksi pempek kedua ini sudah jauh lebih terasa ikannya, akan tetapi jangan pernah membandingkannya dengan si ikan tenggiri atau belida ya, those are resulting an amazing pempek’s taste! 🙂

Singkat cerita, saya masih hunting rasa ikan terbaik dan paling cocok dijadikan bahan pempek.

Setelah perburuan berakhir, pempek made in Imazahra perlahan mulai didengungkan Kak L kemana-mana 🙂 Termasuk ‘diiklankan’ di kalangan ibu-ibu yang mengikuti pengajian mingguan yang diampu Ustadz Risyan Nurhakim Lc. 🙂

Alhamdulillah, lembaran 5 euro perlahan mulai kami kumpulkan dan puncaknya adalah 17 Agustus lalu.

Kak L memiliki ide gila sejak pertama kali kami landed di Brussels International Airport, “Ima ikutan bazaar 17 Agustusan ya!”

“Eh, kalau tidak laku bagaimana, Kak?”

“Ah, pasti laku. Pempek Ima dan masakan lainnya enak-enak kan? Bismillah saja.”

“Tapi kami tidak punya uang euro sama sekali, Kak!”

“Nanti Kakak yang bayar!”

Saya dan Aa saling pandang.
Mata kami mengandung masygul dan kekhawatiran, bagaimana jika pempek kami tidak laku? Bagaimana jika jualan kami tak satupun dilirik pembeli? Bagaimana jika ini dan jika itu!

Kak L sungguh perempuan baik hati sekaligus futuristik. Beliau mendukung saya sejak  mulai berjualan pertama kali dan membantu promosi pempek made in Imazahra dari mulut ke mulut.

Kekuatan rasa dan mouth to mouth advertisement ini rupanya iklan sangat ampuh yang berhasil meludeskan jualan pempek, siomay dan otak-otak ikan roodbars kami kala 17 Agustus lalu!

Sekelar jualan dan tiba di rumah Kak L, saya dan Aa tenggelam dalam sujud syukur sangat panjang, Alhamdulillah!

Ini sedikit catatan kecil yang sempat saya bubuhkan di FB saya:

Kata pertama yang ingin kami ungkap adalah syukur Alhamdulillah, jualan kami sebanyak 85 buah pempek kapal selam, 40-an lenjer (sudah tidak dihitung detil karena sangat mengantuk, dinihari Sabtu pembuatannya), 120-an buah siomay dan 40-an buah otak-otak ikan tenggiri dibalut daun pisang ludes tak bersisa!

Laris manis tanjung kimpul!

InsyaAllah sepasang Honeymoon Backpackers jadi deh main ke Italia dan Spanyol! 😀

Berjualan pempek di negeri Eropa menyisakan banyak catatan dan peristiwa yang patut ditulis dan diabadikan melalui sebuah buku!

Ada kejadian sangat lucu dan pertama kali dalam hidup saya (sebagai penjual pempek) terjadi di arena bazaar, hehehe, nanti saja saya tulis di blog saja ya 🙂

Kami mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh pembeli yang membeli pempek, siomay dan otak-otak produksi kami.

Terima kasih pula untuk seluruh kontak saya di facebook yang sudah mendoakan agar dagangan kami habis sekaligus menemani saya *secara online dan jarak jauh* kala saya benar-benar deg-degan mengolah semua bahan makanan, hanya dengan dua tangan dan waktu yang saling berkejaran. FYI, saya baru memproduksi semuanya mulai Kamis malam dan harus menjualnya di Sabtu pagi!

Terima kasih tak terhingga atas ide kreatif Kak L sebagai host utama kami 🙂

Beliau memercayai kemampuan saya padahal belum pernah mencicipi pempek saya, hanya percaya berdasarkan testimoni yang berdatangan di fanspage Pempek & Bolu Kukus kami. 

Terima kasih atas seluruh support moril dan materiil -beliau yang membayarkan sewa tenda kami dan sungguh tidak murah!- yang sudah diberikan kepada kami. Karena beliaulah, kami sempat nekad meminjam sebagian uang pada salah satu teman untuk terbang all the way ke negeri Belgia ini.

What a journey after all! 

Sangat layak untuk kami kenang seumur hidup kami dan mudahan bisa direkam dalam buku kami.  🙂

Sekali lagi, terima kasih tak terhingga untuk semua yang sudah mendukung ide Honeymoon Backpackers mencari dana backpacking melalui jualan pempek, at the end, it worked nicely.

Segala puji milik Allah!

Kedua, bangun jaringan silaturahmi internasional!

Saya menjadi blogger dimulai di tahun 2005, di sebuah fasilitas blog dengan konsep berjejaring, namanya Multiply dan sudah ‘tewas’ sejak awal tahun ini.

Di Multiply ini saya rutin mengisi blog. Awal mulanya sekedar ingin membaca tulisan-tulisan Mbak Helvy Tiana Rosa, lama-kelamaan terbawa ingin berbagi kehidupan di Inggris -kaya saya menempuh pendidikan S2- hingga akhirnya saya memberanikan diri alih profesi menjadi penulis amatir sekaligus backpacker 🙂

Di Multiply saya bertemu dengan banyak perempuan smart, sholehah sekaligus senang bersilaturahim.

Pertengahan 2005 saya melempar ide ingin Solo Backpack -untuk pertama kalinya menjelajah Eropa- di blog Multiply saya, satu persatu teman-teman Multiply di Eropa menawarkan diri menjadi host saya, alias berkenan menyediakan ruang tamu atau salah satu kamar mereka menjadi rumah sementara saya untuk beberapa hari. 🙂

Dari solo backpack 2005 tersebut saya menyadari, backpacking nyaman bisa diusahakan, sepanjang jejaring silaturahmi kita kuat dan sosok kita dipercaya sebagai pribadi yang amanah, mampu menjaga kebersihan dan siap membantu-bantu tuan / nyonya rumah jika diperlukan. 🙂

Justru dari aksi ‘tumpang-menumpang’ di rumah host inilah saya menemukan banyak sekali kakak ketemu gedhe! Rasanya bahagia sekali, mengingat saya adalah anak pertama dan memiliki 7 adik. Jika akhirnya dianggap adik oleh seseorang, rasanya senang luar biasa. It’s a priceless honour for me! 🙂

Sudah dulu ya, nanti di kesempatan lain saya akan menulis kembali, tips trick smart backpacking ala honeymoon backpackers! 🙂