Berkelana!

Berkelana!

Saya pernah terluka…
Sangat nganga, terpuruk, terhina.

Saya sempat tidak keluar kamar berhari-hari,
enggan bertemu orang banyak,
dan menganggap dunia sudah berakhir.

Saya menangis,
hingga sembab, hingga bengkak,
saya putuskan menghabiskan seluruh rasa,
yang mengalir melalui kedua mata,
agar tak bersisa,
rasa sakit yang mendera…

Setelah berminggu-minggu,
saya ingin keluar kamar,
berjalan-jalan,
menghirup udara yang berbeda,
bersua kenalan baru,
menyapa kawan lama,
meraih energi positif yang melimpahi mayapada.

Sebulan,
dunia begitu muram di mata saya…

dua bulan,
dunia tak ramah pada saya…

tiga bulan,
dunia bukan tempat tinggal yang nyaman untuk saya!

Saya memutuskan pergi,
meninggalkan Indonesia,
nekad menghabiskan seluruh tabungan yang ada,
membeli tiket pesawat ke negeri yang jauh,
setengah tak bersemangat,
hanya ingin pergi sejauh mungkin,
dan berharap ribuan langkah berjalan,
akan menghapus jejak-jejak luka,
agar lupa sakit yang bersarang di dada.

Saat itu saya tak berharap banyak,
hanya ingin mengembara seorang diri,
menjelajah tiga negeri…

Pada akhirnya…,
tiga bulan berkelana seorang diri di tanah asing mengajarkan saya banyak hal;

Bahwa berkelana mengobati luka,

bahwa berkelana mengembalikan percaya,

bahwa berkelana menumbuhkan rasa berharga,

bahwa berkelana melahirkan ribuan kata,

bahwa berkelana pertemukan kita dengan keindahan semestaNya,

bahwa berkelana membuka pintu-pintu bahagia,

dan berkelana, di ujung cerita,
mempertemukanku dengan belahan jiwa!

Usah luka terlalu lama,
berjalanlah,
sembari merenung,
hitung nikmat-nikmat kecil,
keajaiban sehari-hari,
dan limpahan kasihNya,
dan akan engkau sadari,
perjalanan mengutuhkan kembali keping-keping dirimu dengan sempurna.

Berkelana itu melahirkan dirimu kembali!
***

PS.
Berkelana di sini benar-benar berjalan dengan gaya sederhana, ala musafir!

Bukan berjalan ala turis ya, kemana-mana sudah ada yang mengatur, tidur di hotel berbintang dan seterusnya.

Dan berkelana ini butuh waktu pengembaraan yang tidak bisa sebentar ya, minimal dua minggu lah, supaya ada ruang dan waktu untuk banyak merenung dan berpikir mendalam.

Coba deh! πŸ™‚

Advertisements

Selamat Jalan Handuk Pink!

Mencari Handuk Pink

Seharian kemarin saya uring-uringan.

Awalnya bersemangat ingin segera mandi. Tentu segar dan nyaman untuk memulai menulis sebuah naskah untuk majalah / koran yang menjadi target kami.Β Akan tetapi semangat saya lindap seketika, kala mencari si handuk pink kemana-mana akan tetapi tak kunjung berhasil ditemukan!

Saya sempat mencarinya di selasar lantai dua rumah ini. Berharap ia saya jemur di pagar di depan kamar adik-adik mahasiswa, kala kemarin lusa gegas siap-siap mengisi pelatihan menulis ‘Creative Non Fiction Writing Class’ untuk ibu-ibu DWP KBRI Tunis.

Saya juga sibuk membongkar lipatan pakaian di pojok kamar. Ya, kami tidak memiliki lemari di tempat ini. Ruangan yang kami tempati sebetulnya adalah common room adik-adik mahasiswa Zaitouna University πŸ™‚

Emosi Melambung

Saya mulai mengomel.
Kesal karena handuk pink mungil itu belum jua berhasil saya temukan.
Aa diam saja. Asik dengan bacaan atau tulisan atau entah apa, duduk mencangkung di depan laptop kami.

Saya makin kesal.
Aa kok santai sekali. Padahal saya ingin diperhatikan sekaligus dibantu!

Bagi saya, si handuk pink lenyap ini sama pentingnya dengan lenyapnya kepedulian negara-negara Arab tetangga pada Syria yang sedang terus-menerus diobok-obok media jahat USA, agar mereka berhasil memborbardir Syria seperti dahulu mereka membombardir Libya! Eh, persamaan yang ini terlalu lebay ya? πŸ™‚

Saya sempat bertanya, “Aa lihat si handuk pink?”

“Kemarin bukannya sekalian kamu cuci?”

“Iya, aku cuci! Tapi kan Aa yang bantu jemurin.”

“Nah kemarin kamu angkat handuk itu gak?”

“Enggak. Aku gak lihat handuk itu sama sekali, A!”

“Yah, hilang mungkin. Jatuh atau terbang…” Mata Aa tetap asik ke laptop kami. Hhhh!

Saya semakin merasa kesal. Jujur saya kurang senang berbagi handuk meski dengan pasangan. Bagi saya handuk adalah salah satu barang paling privat! Bagaimana ceritanya jika akhirnya kami harus terus-menerus berbagi handuk?

Lagian handuk-handuk kami berukuran kecil dan tipis. Kalau dipakai bersama-sama, artinya akan cepat basah dan sial bagi si pemakai kedua, handuknya akan basah kuyup bahkan sebelum dilap ke tubuh yang basah.

Ah, I don’t like this!
Saya tahu, wajah saya mulai cemberut.

Mengail Handuk!

Saya memutuskan naik ke atap kembali. Siapa tahu mata saya kurang awas. Siapa tahu cuma ketelingsut?

Rumah yang kami tempati tipikal rumah lama, bertingkat dua hingga tiga. Lantai teratas adalah atap datar dari semen, sekaligus dijadikan tempat untuk meletakkan jemuran dan parabola.

Deg!
Saya seketika merasa lemas kala sampai di atas.

Angin menampar-nampar tubuh. Jilbab saya berulang menutup wajah. Berkibar ke segala arah, padahal saya sedang mengenakan jilbab kaos cukup tebal dan berat.

Kemungkinan besar handuk itu lenyap ditiup angin kala kami menjemur sehari sebelumnya.
Bukankah tadi malam angin bertiup sangat kencang? Bahkan tubuh kami saja seperti didorong angin bahkan saat tidak melangkah. Angin di pesisir Mediterania memang bukan main kencangnya!

Saya mencoba melompat-lompat ke setiap sisi tembok. Berusaha menemukan si handuk, kemana ia diterbangkan oleh sang bayu?

Setelah melompat-lompat di beberapa sisi tembok dan si handuk tidak kunjung saya temukan, saya terdiam cukup lama. Merasa resah sekaligus heran, kenapa saya bisa sebegininya kehilangan selembar handuk tipis dan sudah berumur?

Cukup masuk akal kah saya bersikap seperti ini?

Saya terduduk…
Lemas rasanya…

Kenapa saya bisa sesedih ini kehilangan selembar handuk tipis sederhana?
Padahal kami bisa membelinya di sini, meski mungkin kami harus mengalah untuk tidak masuk restoran manapun setelahnya. Bagaimanapun, backpack kami sejak semula memang sangat hemat! Dana kami terbatas, sedang negara yang ingin kami kunjungi tak berbatas!

Sejak dari Indonesia, kami hanya membawa beberapa potong pakaian, agar kami tidak direpotkan dengan barang bawaan, ditambah postur mungil tubuh kami masing-masing, yang tentu saja akan kelelahan jika harus menggendong ransel berukuran besar.

Kenapa kami tidak membawa koper tarik saja? Muat lebih banyak dan praktis kan. Saya waktu itu merayu Aa untuk tidak membawanya, karena akan merepotkan saja, terutama kala harus berlari dan melompat masuk ke dalam tubuh kereta. Terbukti terjadi, kala kami harus menjemput sebagian koper teman-teman peserta “MB Egypt Trip” tempo hari. Ransel lebih mudah dilempar, tapi koper akan rusak kalau dilempar-lempar!

Tahu-tahu Aa sudah berdiri tegak di sisi saya.
Saya merasa speechless. Kehilangan kata-kata!

Saya akhirnya berucap lirih, entah Aa mendengar atau tidak.

“Aku sayang handuk itu, A. Dia menemani kita dua bulan terakhir ini. Barang kita tidak banyak. Aa hanya membawa 4 lembar kaos dan 2 celana, sedang aku hanya membawa 5 tunik dan 2 celana. Handuk pink dan kuning adalah penyempurna bawaan kita. Si pink baru saja aku cuci kemarin, sekarang dia sudah hilang entah kemana…”

Aa menyahut, “Handuknya jatuh ke rumah sebelah tuh!”

Eh, apa?
Berarti masih ada harapan untuk diambil?

“Di mana A?”

Santai Aa menunjuk ke arah tembok sebelah. Telunjuknya agak turun. Saya segera menuruni anak tangga, mengira si handuk jatuh ke lantai dua.

“Maksudnya di mana sih?” Saya mendongak dan berteriak tak sabar. Gusar.

Aa mengajakku naik ke lantai 3 kembali.

Mataku akhirnya menemukan handuk itu.
What a big relief!
Rupanya si handuk terjun bebas dari lantai 3 tempat kami menjemur pakaian ke atap rumah tetangga sebelah. Angin kemarin lusa luar biasa kencang. Rasanya menyesal tidak menjemur cucian di dalam ruangan tanpa pintu di sudut atap ini! 😦

Aku langsung ribut turun ke lantai bawah, meminjam hanger besi pada Ridho, salah satu adik mahasiswa. Aa mencari tali serupa tali kail, kemudian hanger besi diikatkan di ujungnya.

Handuk pink itu terlihat pasrah tergeletak di atas atap sebuah rumah tua tanpa penghuni.

Aa mulai beraksi, mencoba mengais-ais si handuk agar mendekat dan aku sibuk berdoa.

Handuk sempat mendekat, tapi angin tadi siang terlalu kencang! Handuk akhirnya justru semakin menjauh dari jangkauan dan…,Β tlek! Tahu-tahu si hanger besi juga lepas dari tali. 😦

Rasanya ada yang mencelos, lepas dari genggaman.
Entah kenapa saya bisa merasa sesedih ini.
Rupanya saya merasa begitu terikat pada barang-barang yang kami bawa, meski sesederhana apapun barang tersebut.

Ah, padahal saya pernah berujar di salah satu percakapan di socmed, “Kami adalah petualang yang belajar untuk berjalan tanpa berbagai kenyamanan.

Kami belajar melepaskan diri dari seluruh benda keduniawian.

Bukankah berjalan meninggalkan rumah secara fisik artinya belajar melepaskan kecintaan pada seluruh kebendaan?

Ketika berjalan, raga dan jiwalah yang akan tetap bersama kita. Rumah, kendaraan, perhiasaan dan seluruh benda-benda semuanya tidak akan kita bawa karena akan memberatkan ransel kita.

Bukankah jendela hati dan pikiran akan ringan terbuka kala kita kosongkan beban diri? Ibarat gelas, kosongkan ia, agar bisa menampung banyak airmata hikmah di sepanjang perjalanan nanti.

Bukankah semesta asing akan mudah kita serap, adaptasi dan cerna kala kita tidak banyak membawa dugaan, sterotype dan asumsi-asumsi?”

Ah Ima!
Rupanya kamu belum naik kelas dalam perjalanan ini.

Hanya karena masalah sangat sepele mood saya dropped. Saya akhirnya batal menulis naskah perjalanan untuk koran. Saya bahkan sempat marah pada Aa yang tidak gegas mengangkat jemuran (sebelum badai angin mengamuk tadi malam).

Selembar handuk tipis -seharga delapan belas ribu rupiah yang dibeli Aa di Alfamart Cipanas, nyaris setahun lalu- melayang ditiup angin Tunis yang sangat kencang dan berhasil menghilangkan kejernihan berpikirku!

***

Saat kisah ini saya tuliskan, saya sudah bisa berdamai dengan diri dan menertawakan sikap emosional saya tadi siang πŸ™‚

Hikmahnya saya bisa menulis sepanjang ini, lega rasanya.
Ini semacam solilokui untuk si handuk pink.

Sayonara pinky! πŸ™‚

Menunggu dari Cairo!

Alhamdulillah, sebagian Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria, gunung Sinai, Siwa dan Matrouh telah kami jelajahi. Akan tetapi, Allah memberi kami begitu banyak waktu di negeri ini. Di satu sisi, saya dan Aa begitu senang diberi tambahan waktu ‘illegal‘, namun di sisi lain, hati menjadi tak tenang!

Ketenangan hati adalah salah satu kunci utama keberhasilan perjalanan ‘honeymoon backpacker‘ ini πŸ™‚

Saat ini kami masih memupuk harap, visa Tunis kami segera keluar, di rentang masa menunggu dalam ketidakpastian. Kami mengajukan aplikasi 11 April lalu, sampai blog ini ditulis, terhitung sudah 15 hari kami menunggu dalam ketidakpastian! 😦

Menunggu dan serba tidak pasti itu adalah sepasang kata sifat yang sangat tidak menyenangkan untuk disandingkan bersama-sama, kemudian dikudap dalam waktu yang tidak ditentukan!

Apalagi visa Mesir kami telah berakhir sejak 23 April lalu. Dengan bumbu rasa khawatir, kami mengecek ke KBRI, Alhamdulillah ternyata ada masa tenggang 1 bulan tanpa visa, tapi kami akan dikenai denda di bandara sebesar 150 LE/orang.

Barangkali ada yang bertanya, kenapa tidak memperpanjang visa?

Kami sangat ingin memperpanjang visa Mesir kami di ‘mogamma’ (bagian imigrasi Mesir), akan tetapi paspor kami masih ‘tertahan’ di kedutaan Tunisia, tentu perpanjangan visa kami juga tidak bisa diproses tanpa paspor. Ahad nanti kami akan ke kedutaan Tunis kembali, untuk mengambil sebuah keputusan!

Mona -salah satu petugas konsuler di kedutaan Tunis rajin berujar, “Come back on Thursday, we will see…”

Faktanya sungguh mengesalkan. Hari kamis kemarin adalah hari pembebasan Sinai (dari cengkeraman tentara Israel), tentu saja tanggal Merah di negeri ini! Arrgh! Jum’at Sabtu adalah weekend di sini, serupa Sabtu Ahad di Indonesia! Duh, we have no choice, we have to back not on last Thursday, but Monday or Sunday! 😦

Di sisi lain, saat ini Aa terbaring sakit (sepertinya ketularan virus dari saya). Semula hanya jerawat kecil di atas bibir, lama-kelamaan bibir bagian atas ‘mengembang’, hingga maju sekian senti, Aa bilang, “Sudah kayak Suneo saja, Shizuka masih mencintai Suneo inikah?”

Ah Aa, sedang sakit saja masih bisa bercanda πŸ˜€

Kasihan Aa, suhu tubuh kerap meninggi diiringi feeling guilty beliau, “Sakitku memaksa kita menghentikan backpack untuk sementara waktu. Maafkan aku ya, Sayang.”

“Aa gak boleh bicara seperti itu. Kemarin aku sakit mulai 17 April lalu, hampir seminggu kemudian baru sembuh. Aa telaten dan sabar merawatku, hiks… Sekarang ‘giliran’ Aa yang sakit, insyaAllah Aa akan segera sembuh, asal minum obat teratur, istirahat yang cukup dan tidak memikirkan hal-hal negatif segala rupa!” Aa kupeluk.

Kami saling memeluk.
Jauh di negeri orang, diuji beberapa hal sekaligus dan bergantian sakit, sungguh mendekatkan kami sedekat-dekatnya. Honeymoon backpacking ini terasa begitu komplit dan ‘sempurna’ dalam ketidaksempurnaan.

Bukankah ketulusan dan cinta sejati bisa dirasakan dalam situasi paling tidak menyenangkan bagi sepasang jiwa?

Begitu banyak yang Aa korbankan hingga kami bisa memulai ‘Honeymoon Backpacker‘ ini. Alangkah naifnya jika hanya karena sakit beberapa masa dan masalah visa Tunis yang tak jelas kapan selesainya ini kemudian membuat semangat kami berdua melemah dan terbetik pikiran untuk menyerah, kembali ke tanah air saja?

Aku kasihan melihat Aa yang lemah.
Saat ini berbaring tak berdaya.
Kerap kuusap kepalanya, sekadar meringankan rasa pusing yang membebat kepala.
Biasanya Aa paling suka kupijat, namun kali ini menjerit kesakitan dengan pijatan selembut apapun 😦

Berharap Allah segera menyembuhkan beliau -selain royal jelly, madu, antibiotik dan parasetamol yang terus diminum untuk meringankan rasa sakit.

Bagaimanapun, kami harus segera mengambil sikap tegas dan kembali berjalan -setelah Aa sembuh tentu saja- meski visa Tunis tidak berhasil kami dapatkan.

Buat kami, masih banyak negara lain yang juga layak dieskplorasi selain Tunisia, yang terkesan jual mahal saat ini. Bayangkan, surat sakti bernama ‘diplomatic calling visa‘ yang dibuatkan untuk kami berdua (oleh Indonesian Embassy in Tunis) bisa mereka abaikan! Hubungan diplomatik macam apa yang sebetulnya ingin dibangun kedutaan Tunisia di Cairo dengan Indonesian Embassy di Tunisia?

Di sisi lain, kami sangat berterima kasih atas bantuan Abang Zulfikar, Kang Dede dan istri serta staf KBRI Tunisia yang sudah bahu-membahu terlibat dalam ‘melahirkan surat sakti’ untuk kami.

Jujur kami sangat terharu, mengingat kami bukan siapa-siapa. Hanya sepasang musafir kelana yang ingin melihat lebih banyak, belajar lebih banyak dan berbagi lebih banyak.

Teman-teman di Tunisia, mohon maafkan kami jika akhirnya nanti kami harus memutar haluan tidak jadi ke Tunis 😦
Kami tidak mungkin bertahan terus-menerus dalam situasi penuh ketidakpastian ini 😦

Saya dan Aa sudah memutuskan, kami akan menunggu visa Tunis sampai hari Senin besok, jika kedutaan Tunis tetap tidak bisa memberikan jawaban (dengan alasanΒ Waaziratud dukhuul belum memberikan jawaban atas aplikasi visa kami), kami akan mundur dan terbang menuju negara lain saja.

Pada akhirnya, kami tidak nyaman tinggal di Mesir berlama-lama tanpa visa. Kami harus kembali bergerak, melanjutkan perjalanan ini, meski harus kehilangan tiket pesawat Cairo-Tunis-Casablanca (termasuk sejumlah denda di Cairo Intl Airport nanti).

Welcome to this unpredictable country, Ima!

Anyway, we’re honeymoon backpackers!
We wont ruin our own honeymoon, whatever happened in front of us, we will continue our honeymoon journey!

Bismillah, insyaAllah…!