Akhirnya Dapat Visa Schengen Setelah Dua Kali Ditolak!

Perjalanan Panjang Pengajuan Visa Schengen

Senja ibukota diguyur hujan seluruh penjuru…
Kami berdua dibalut haru…

Jika mengingat semua yang sudah terjadi, masyaAllah, begitu banyak yang harus kami ‘korbankan’ dan begitu banyak waktu yang kami curahkan, demi mendapatkan selembar visa Schengen yang ditempelkan di paspor kami.

Setelah membatalkan niat nekad mengajukan visa di Konsulat Belgia di Casablanca, Maroko dan memutuskan kembali ke Indonesia demi mengajukan aplikasi visa di tanah air, sejak itu pula kami memeluk harap sekaligus cemas; akankah visa kami di-approved oleh kedutaan Belanda?

Paspor saya memiliki catatan kelam sepulang dari UK awal tahun 2007. Sepanjang 2007 hingga pertengahan 2009 saya mencatat empat ‘kegagalan’; 2 kali penolakan visa UK, 1 kali penolakan visa Schengen melalui pintu Belanda dan 1 kali penolakan visa Schengen melalui pintu Jerman.

Continue reading

Advertisements

Good Bye Egypt, Hello Tunis!

Meninggalkan Cairo Kala Senja

Kemarin siang, hujan debu kembali mengguyur Cairo, sama persis seperti 22 Maret 2013, kala kamiΒ landingΒ di kota Cairo. Kami seakan disambut sekaligus diantar pulang oleh kekuatan semesta! Perasaan dramatis seketika melingkupi kala saya saksikan langit Cairo berubah warna debu, coklat-orange-kemerahan! Luar biasa dramatis!

Setelah hujan debu berakhir dan udara kembali bersih, kami memutuskan berpamitan pada Adinda Eva. Menyalami dan memeluknya sembari mengucap doa, “Mudahan Allah pertemukan kita di lain kesempatan, InsyaAllah!”

Matahari semakin condong ke barat kala taksi yang kami tumpangi memasuki Cairo International Aiport. Bandara yang sanggup menampung jutaan penumpang mancanegara ini tampak lengang, sepertinya hujan debu yang cukup lama berlangsung tadi siang membuat orang-orang enggan keluar-masuk bandara.

Sinar matahari yang condong ke barat dan warna langit jingga menghadirkan rasa ngelangut dalam hati, rasa enggan menemukan wajah dramanya, dalam panggung senja!

Saya dan Aa bergantian saling jepret, lalu Aa menjauh mendatangi salah satu departure hallΒ untuk memastikan di mana check in Tunis Air berada, mengingat bandara ini cukup luas untuk membuat kita salah masuk departure hall.Β πŸ™‚

P1360400P1360402

P1360399

moment berdua kala senja di Cairo International Airport

Wajah sahabat-sahabat terbaik dan maha menolong tampil bergiliran dalam benak saya; Kang Cecep, Ahmad Kohla, Mahmud Siwi, Haji Umar (those are Egyptians), Bang Syamsu, Pipit, Mbak Elly, Mas Ismail, Adik Iqsas, Eva, Abang Rohmat, Shohib, Furqon, Linggha, Mush’ab, Dana, Mbak Anis, Mang Pian dan lain-lain.

Ah, mereka adalah harta terbaik kami selama di Mesir!
Sepertinya, kehadiran merekalah yang membuat kami feel at home dan berat hati meninggalkan Cairo πŸ™‚

We owe you, guys!

Jika orang lain menikmati perjalananΒ dengan mendatangi sebanyak-banyak tempat, maka kami tak sekadar menikmati destinasi, kami jauh lebih menikmati destinasi yang diperkaya interaksi!

Perjalanan kami selama 1.5 bulan di Mesir terasa begitu kaya sekaligus ‘sempurna’, karena dikelilingi teman lama dan baru yang berinteraksi dengan kami bagaikan saudara kandung mereka sendiri!

Terima kasih untuk kalian semua, terima kasih wahai Maha Perekat Hati, Engkaulah yang memungkinkan ini semua!

Jujur, saya dan Aa meninggalkan Cairo dengan hati bergelombang!

Bukan hanya karena terpautnya hati kami pada sahabat yang kami sebutkan di atas, akan tetapi memang terasa berat berpisah dengan kota sarat sejarah Mesir kuno dan Islam klasik ini.

Hati kami terbuhul pada seluruh paradoks di negeri berdebu ini.
Mesir adalah panggung anak cucu Fir’aun sekaligus Musa!
Mesir adalah rumah raksasa nan riuh yang kerap menimbulkan rasa kesal, sekaligus dirindukan kala kita pulang ke rumah kita sendiri.

Benci-benci rindu, rindu-rindu benci, ekspresi yang tepat rasanya disematkan untuk negeri ini πŸ™‚

Saya pribadi merasakan rindu dan sedikit benci menyublim dalam jiwa kala membincang paradoksal negeri ini, terutama saat teringat kelakuan para lelaki Mesir tak berpendidikan, yang kencing di sembarang tembok, seakan seluruh tembok yang ada di negeri ini adalah WC raksasa πŸ™‚

Masih banyak lagi hal paradoks yang biasa kami temui dan ajaibnya justru menyempurnakan ‘ketidaksempurnaan’ negeri tua ini! πŸ™‚

Aa bahkan sempat menulis status di Facebook seperti ini,

Alhamdulillah, setelah melewati lika-liku yang panjang; sempat disuruh datang lagi bukroh karena terlambat–padahal hari itu Kamis. Jadilah ba’da bukroh (lusa)–; sempat sakit radang tenggorokan plus demam beberapa hari hingga tidak bisa kembali ke mogamma segera, akhirnya perpanjangan visa mesir yang kami ajukan Ke Mogamma 2 Mei silam, kini telah selesai.

Rasanya campur aduk…

Senang, karena urusan birokrasi-administrasi (terutama visa sebagai legalitas izin tinggal) dengan Mesir telah usai.

Sedih, karena lagi-lagi nuansa keagamaan yang kental, kesederhanaan yang mengakar, sumber dan tradisi keilmuan yang semarak, dan keramahan sebagian besar penduduk lokal –terutama yang kami temui secara dekat– di Bumi Kinanah ini selalu memesona hati kami. Hingga seolah derap kaki ini enggan beranjak melangkah berpisah.

Terlebih jika sudah berjalan menyusuri lorong-lorong toko buku belakang Al-Azhar seperti yang saya lakukan siang tadi. Aura pesona buku-bukunya yang bergerak rutin dan dinamis membuat raga enggan berpindah.

Namun, di manapun berada, eksistensi kita (sejatinya) adalah fana, selama ada di kolong langit dunia, karena kita adalah pengembara (‘abirussabil) saja.

‘Kun fiddunya kaanaka ghariib, aw ‘abiru sabiil’.

Jadilah kamu di dunia ibarat orang asing atau pengembara. Jika kamu berada waktu pagi, sekali-kali jangan menunggu waktu sore. Jika berada waktu sore, jangan pula menunggu waktu pagi. Manfaatkanlah masa sehatmu untuk bekal masa sakitmu, dan masa hidupmu untuk bekal matimu.’ Demikian pesan Umar bin Khattab ra.

Berat meninggalkan Mesir, tapi kami harus terus melangkah, jika ingin terus belajar pada semesta!

Kami tidak boleh merasa terlalu nyaman di satu tempat, sehingga perjalanan kami terhenti. Honeymoon BackpackerΒ sejak semula memang direncanakan mendatangi 4-5 negara berdekatan (supaya lebih hemat).

Backpacking kami harus dilanjutkan, senyampang berdekatan. Backpack dengan cara merambat -tidak meloncat zigzag insyaAllah akan jauh lebih murah untuk kami, daripada hanya mendatangi Mesir saja dan kembali ke tanah air, kemudian di tahun berikutnya pergi lagi ke negara Middle East atau Afrika lainnya!

P1360483

pemandangan malam Kairo dari angkasa

Bagi kami, perjalanan ini tidak sekadar menyegarkan pernikahan, tapi sekaligus belajar (banyak hal) dan berbagi sembari berjalan.

For us, backpacking is learning from Universe!

***

Leaving Egypt for Tunis!

Pagi kemarin kami agak tergesa kembali ke Saqr Quraisy, karena sehari sebelumnya kami masih menginap di rumah Mbak Ellys, bidadari padang pasir nan baik hati πŸ™‚

Untungnya barang kami tidak banyak!
Nikmatnya membawa HANYA dua ransel berukuran kecil dan sedang adalah, kami tidak kerepotan dan membutuhkan banyak waktu mengepak barang-barang. πŸ™‚

Alhamdulillah tidak hanya baju – 9 atasan, 3 celana dan pakaian dalam secukupnya- yang berhasil kami masukkan dalam ransel, saya dan Aa juga bisa membawa tahu titipan oleh-oleh Mbak Anis dan suami untuk Kang Dede dan kawan-kawan mahasiswa di sini πŸ™‚

Jujur, saya sempat membongkar ransel beberapa kali, karena bingung di mana harus menjejalkan si tahu ini. πŸ˜€

Setelah suami Mbak Anis memberitahukan bahwa tempo hari ada yang berhasil membawa tahu ke kabin pesawat dan melewati pemeriksaan di bea cukai Tunisia, saya bernapas lega, karena kami benar-benar tidak dicegat dan diizinkan melenggang kangkung memasuki Tunisia bersama si tahu made in Mang Pian.

Sepertinya nanti malam menunya gulai tahu nih! πŸ™‚

Menyesal tidak membawa sedikit kelapa kering ala Mesir, kalau tidak bisa segera membuat gulai tahu! πŸ™‚

Di Tunis sini ada yang jual kelapa kering atau santan tidak ya?
Di Mesir soalnya tidak ada santan instan sejenis Kara! πŸ˜€

***

AEROPORT DE TUNIS CARTHAGE!

Akhirnya, setelah proses berliku dan berminggu-minggu, melibatkan teman-teman PPI Tunisia, beberapa rekan staf di KBRI Tunisia dan KBRI Cairo, berkah semesta mendukung memungkinkan kami menjejak negeri asing satu ini. Sepertinya Tunisia juga sangat jarang dikunjungi pelancong Indonesia!

Bagaimana tidak asing untuk kami, informasi pariwisatanya saja susah ditemukan kala di-googling! Bahkan, seorang adik berujar, “Mbak mau lihat apa di Tunisia, Gak ada apa-apa loh di sana itu!”

Selain itu, informasi harga visanya saja berbeda-beda. Saya dibuat pusing karenanya! πŸ™‚

Jika bukan karena sudah terlalu jauh melangkah -dengan membeli tiket Tunis Air sejak di tanah air- dan uluran bantuan dari pihak KBRI Tunisia dan KBRI Cairo, kami nyaris memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Tunisia.

Makanya kami sempat syok kala mengetahui harga visa Tunis luar biasa mahal, mengalahkan visa Schengen! Satu buah visa Tunis dihargai 950 Le atau nyaris setara 150 US dollar! MasyaAllah, 2 harga visa Tunis semahal itu sebetulnya sebagiannya akan kami pergunakan untuk biaya backpack -beli bahan makanan, transportasi publik dan tiket masuk aneka destinasi- akan tetapi justru disedot habis untuk mendapatkan dua buah visa turis ke Tunisia, ckckck…

Terlanjur basah, kami memutuskan meneruskan perjuangan sampai titik darah penghabisan -si Ima mulai lebay- Alhamdulillah, tadi malam rupanya Allah memang menakdirkan kami untuk menjejakkan kaki di Aeroport Β De Tunis Carthage! πŸ™‚

***

Kesan Pertama Tentang Tunisia

Kala Tunis Air mendarat mulus, seluruh penumpang bertepuk tangan, riuh rendah! πŸ™‚ Seakan baru saja selesai menonton opera terbaik di akhir zaman πŸ™‚

Ya, rupanya tradisi bertepuk tangan saat pendaratan berjalan mulus ini memang selalu dilakukan penumpang dari Timur Tengah atau Afrika Utara, dan ini bukan yang pertama kalinya saya temui. Seperti itulah ekspresi tulus mereka menghargai pak pilot yang sudah bekerja keras mengemudikan pesawat! πŸ™‚

Ssst, kami akhirnya bisa membedakan penumpang asli Tunisia dengan penumpang bukan orang Tunisia -mungkin dari Mesir atau negara tetangga lainnya; perbedaan mencolok adalah fisik mereka!

Bentuk wajah orang Tunisia lebih tirus. Hidung mereka mancung dan bangir! Berbeda dengan hidung orang Mesir, cenderung besar. πŸ™‚

Tubuh para perempuan -tua sekalipun- cenderung ramping, langsing! Laki-lakinya juga berperut tidak gendut! Sedang para perempuan berusia senja tampak kokoh karena tidak kegemukan dan kepayahan, sangat berbeda dengan perempuan-perempuan Mesir yang sudah menikah, passtiii melebar kemana-mana, hehehe πŸ™‚

P1360509

Begitu kami keluar dari perut pesawat, kami mulai melihat perbedaan nyata bandara Tunis dengan bandara Cairo!

Jika di bandara Cairo, kita akan dirubung beberapa polisi dulu sebelum diizinkan melewati pintu pemeriksaan imigrasi dan keluar bandara, sedang tadi malam kami cukup mengisi kartu imigrasi dan menyelipkannya di dalam paspor berisi visa Tunisia. Hanya butuh beberapa menit pengecekan, kami diizinkan melewati pemeriksaan imigrasi. Sangat efisien, sebagaimana bandara-bandara negara maju lainnya πŸ™‚

Kami berjalan pelan-pelan.
Menikmati selimut keterasingan…

Perlahan, saya mulai menyaksikan sentuhan Eropa di sana sini. Arrival hall tampak simpel, modern, bersih. Bahkan lantai yang kami injak memantulkan cahaya lampu karena sangat mengkilat πŸ™‚

Saya memutuskan langsung ke kamar mandi. Ahai, kamar mandinya modern serba otomatis. Tidak ada ceceran sampah, apalagi bekas tinja, seperti yang biasa kita temui di toilet-toilet di Mesir. Intinya, kebersihan bandara secara umum di Mesir dan Tunisia berbeda 180 derajat!

P1360554

Membandingkan beberapa bandara internasional yang pernah saya kunjungi membuat saya menyimpulkan hal ini, tampaknya bandara utama setiap negara bisa dipakai untuk merepresentasikan karakter sebuah negara. πŸ™‚

Setelah melewati lorong bertuliskan ‘nothing to declare‘ karena kami memang tidak membawa benda-benda terlarang, kami melihat dua wajah khas Asia Tenggara! Meski saya tidak sedang menggunakan kacamata minus 2, saya bisa memastikan dua orang itu adalah teman-teman mahasiswa yang menjemput kami! πŸ™‚

“Aa, itu pasti Zulfikar dan Kang Dede!”

Kami berdua melambaikan tangan. Mereka menghampiri dan menguluk salam, “Assalaamu’alaikum. Selamat datang di Tunis, Mbak Ima dan Kang Risyan. Welcome to Tunis, Honeymoon Backpacker!

P1360556P1360564

***