Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 €! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan! 🙂

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima! 🙂

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.

Advertisements

Kelana Cahaya Tour, Bermula Dari Mimpi

Rasanya masih mimpi, bisa sampai di titik ini.

We’re totally living our dream!

Sejak berani berjualan kue-kue basah di pesantren saat usia saya menginjak 15 tahun (karena kekurangan dana untuk membayar SPP dan uang asrama), sejak itu saya bermimpi ingin memiliki bisnis sendiri. Suatu ketika, saya akan utuh berdiri di atas kaki sendiri.

Butuh 37 tahun jatuh bangun menjalani hidup dan hampir seperempat usia saya habiskan dengan berkelana seorang diri.

Alhamdulillaah sekarang tak sendiri. Ada Aa yang mendampingi. Mengembara bersama sepenuh hati.

Belajar Bisnis Travel and Tour: Kelana Cahaya Tour!

Secara alami, kami sekarang mengelola bisnis travel kecil-kecilan bersama suami tercinta yang sedang fokus menuntut ilmu.

Jika ada libur atau jadual kuliah sedang senggang, sesekali Aa ‘kabur sejenak’ dari tugas kuliah, menemani istri mengantar tamu kesana kemari jelajah Maroko dan Eropa.

Semua dimulai dari mimpi

2011 kami menikah. Modal harta nol. Hanya dimodali niat baik, ingin berjalan bersama, bergenggam tangan arungi bahtera kehidupan dalam suka dan duka.

Awal pernikahan kami mulai dengan berjualan brownies kukus, bolu mekar gula jawa dkknya.
Keuntungan harian sekitar 15 ribu perak. Sungguh kecil tapi bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tentu kebutuhan paling dasar, semacam beli tahu tempe, sedikit sayur dan beras. Jika diingat-ingat, dengan omzet harian semungil itu, Alhamdulilah kami bisa bertahan hidup dan tetap tertawa bahagia. Asal ada cinta tulus dari si dia. 🙂

Aa juga fokus menerima orderan menerjemah. Satu kitab tebal diselesaikan dalam dua – tiga bulan.

“Pegal punggungku, Yang.”

Keluh Aa yang duduk berjam-jam di depan komputer. Lalu saya pijiti segenap sayang.

Jelang Ramadhan kami memberanikan diri mulai menerima order jualan pempek sehat ala Imazahra. Tetap dipasarkan secara online.

Pempek kami pempek istimewa. Diolah dengan hati dari dapur sendiri. Non MSG non kimiawi apapun.

Alhamdulillaah omzet meledak buat ukuran home industry pemula. Kalau tidak salah pendapatan sebulan kala itu sekitar 5 juta.

Mungkin kecil di matamu, Kawan, tapi sungguh besar bagi kami yang biasa jualan kue dengan omzet sebesar 40 ribu perak / hari.

2011 pertengahan Aa mulai mengajar di lembaga bahasa Arab Al Imarat Bandung. Otomatis menerima gaji bulanan. Tak besar tapi Alhamdulilah cukup dengan berhemat dan apik mengelola uang. Total gaji bulanan Aa saat itu tak lebih dari satu setengah juta rupiah.

Sumbangan Besar Muslimah Backpacker

2011 akhir saya membentuk komunitas Muslimah Backpacker. Langsung melejit dengan keinginan anggota untuk trip jelajah Indonesia.

2012 Muslimah Backpacker jelajah Garut Selatan, disusul jelajah Kalimantan Selatan, dilanjutkan jelajah Bromo dan Malang.

2013 pecah telur. Muslimah Backpacker memberanikan diri bawa rombongan 16 perempuan 2 laki-laki ke Mesir.

Jelajah Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki gunung Sinai.

image

MB dan Kelana Cahaya Tour Jelajah Mesir

Subhanallah, 11 hari yang menantang dan membuat kami belajar banyak tentang bisnis jasa ‘bersenang-senang sambil traveling’ ini.

Tanpa lahirnya komunitas Muslimah Backpacker, saya yakin seratus persen, saya tidak akan pernah punya keberanian untuk memulai bisnis bernama Kelana Cahaya Tour. Saya berhutang banyak pada Komunitas Muslimah Backpacker sebagai pendidik saya.

Belajar Fokus

Semenjak Mesir Trip, saya mulai berpikir tentang menumbuhkan bisnis baru ini dengan serius dan tentu saja fokus.

Pelan-pelan saja. Semampu saya dan Aa. Sebab jelas belum memungkinkan untuk buka kantor atau memiliki rumah dua tingkat dan kantor travel diletakkan di lantai dasar sepanjang kami masih berkelana seperti saat ini.

Satu buah rumah pun belum resmi kami miliki. Masih menyicil pada seorang sahabat. Alhamdulillaah tanpa bunga, tanpa riba.

Muslimah Backpacker dibiarkan tetap sebagai komunitas dan saya lebih tertantang belajar membangun bisnis travel.

Selangkah demi selangkah. Bata demi bata. Perlahan-lahan.

Dengan pikiran seperti ini, saya memutuskan memisahkan Komunitas Muslimah Backpacker dengan lini bisnis baru, yaitu melahirkan Kelana Cahaya Tour.

Kelana Cahaya Tour adalah saudara kandung Komunitas Muslimah Backpacker. Alhamdulillaah.

2014 awal Kelana Cahaya Tour nekad memberangkatkan 18 jamaah umrah bersama salah satu travel partner yang berkantor di Jakarta.

Partner saya dapat 10 jamaah, sedang kami memeroleh 8 jamaah.

Alhamdulillaah ada sedikit keuntungan.

Keuntungannya (plus ditambah uang pribadi sekian juta) Alhamdulilah bisa memberangkatkan Mama mertua. Guru ngaji bersahaja yang diliputi cahaya syukur karena diberangkatkan anaknya sendiri. Alhamdulillaah.

Saya tidak akan berhenti. Meski saat ini posisi kami sedang di Maroko, tidak ada halangan untuk terus melanjutkan proses belajar.

Tanggal 27 Maret hingga 4 April lalu kami baru saja mendampingi 39 tamu jelajah Eropa Timur yang cantik. Yaitu Innsbruck, Salzburg, Wina, Hallstatt, Bratislava, Budapest dan Praha. Bukan main menantang mengingat kami harus mengelola banyak kepala, keinginan personal dan rupa-rupa kejadian. Seru! 🙂

image

Cantiknya Hallstatt dan tamu-tamu kami

image

Kelana Cahaya Tour jelajah Eropa Timur

image

Kegiatan tour leaders dan dua bus drivers, mengecek lokasi berikutnya

Bisnis travel dan tour leader adalah bisnis yang sangat luwes dan cair. Bisa dikerjakan di mana saja. Asal ada internet, peluang waktu, calon klien dan destinasi, InsyaAllah bisa dikerjakan.

Menurut hemat saya, bisnis travel khususnya tour leader adalah bisnis yang menuntut keseriusan tingkat tinggi saat kita sedang bersama klien. Meski tampak asik bisa jalan-jalan ‘gratis’ kesana kemari, tapi sungguh tidak mudah.

Kita dituntut terus-menerus berjalan bersama klien dalam kurun waktu yang telah disepakati bersama. Tidak boleh mengeluh meski berpeluh.

Profesionalitas kerja diukur dari tangan yang banyak bekerja dalam diam dan ketenangan sikap. Untuk ini saya masih harus belajar banyak pada Aa.

Ada komitmen moral untuk melakukan yang terbaik karena pada akhirnya bisnis travel and tour adalah bisnis jasa.

Kekuatan marketing bisnis jasa sesungguhnya terletak pada kepuasan klien. Kalau klien puas, siap siaplah pada efek ‘iklan dari mulut ke mulut’ yang aduhai dampak viralnya!

Ada bebatan emosi yang harus dijaga agar tidak pecah di tengah perjalanan. Butuh partner berjalan dengan hati seluas samudera. Dan Alhamdulilah partner terbaik saya adalah Aa. 🙂

Selama Kelana Cahaya Tour dilahirkan, saya dan Aa sudah dipercaya lima klien untuk terbang ke luar Indonesia. Menjelajah dunia. Satu kali umrah. Tiga kali jelajah Maroko dan satu kali jelajah Eropa Timur.

Semoga kami berdua terus dipercaya. Karena kami butuh banyak jam terbang dan ruang untuk belajar.

Apalagi ada cita-cita besar yang ingin kami wujudkan dari bisnis ini, menjadi income generator bagi pesantren dhu’afa yang kelak ingin kami dirikan!

Ya, kami ingin membesarkan bisnis travel ini menjadi gerakan social entrepreneurship.

Keuntungan terbesar niatnya akan digunakan untuk membangun bata demi bata Rumah Kelana dan Pesantren Kelana.

Semoga Allah mampukan. InsyaAllah, janji Allah pasti untuk hamba yang mau bekerja keras!

Mohon support doanya ya, Kawan! 🙂

***

Bagi teman-teman yang ingin merasakan jasa pengelolaan perjalanan, umrah berkualitas, atau pun tour leader penuh semangat mengawal klien travel anda, silahkan kontak kami di:

Email: imazahra@gmail.com
Whatsapp: +62819 5290 4075

Tips Hunting Tiket Pesawat

image

Salah satu tips hunting tiket pesawat murah adalah dengan mengombinasikan harga dan tanggal penerbangan dari beragam website

Semenjak travel Bandung menghubungi kami pada 9 Maret lampau, yaitu menawarkan kerjasama mendampingi mereka menjelajah East Europe (Jerman Selatan, Austria, Bratislava, Slovakia dan Czech Republic) mulai tanggal 27 Maret hingga 4 April nanti, sejak itu pula saya menyicil browsing tiket pesawat Maroko – Eropa PP.

Tak terhitung total akumulasi saya duduk di depan laptop atau browsing apps semacam Skyscanner, Ryanair, Vueling, Jetairfly, Maroc Air, EasyJet, dkk.

Karena proyek satu ini, Xiomi mendadak saya penuh dengan aplikasi ragam moda transportasi, hahaha.

Meski sudah cek banyak sekali website yang mengaku ‘low budget flight’, tetap saja harganya bikin kepala mumet.

Walau margin tiket masih memenuhi pagu yang didanai travel, tapi ada rasa gemas kalau tidak bisa dapat harga promo (best fare)!

Apa daya liburan Paskah yang menjelang dan hunting mepet hari H menjadi kombinasi menyulitkan untuk mendapatkan harga terbaik.

Telat eksekusi maka harga akan terus melambung. Apalagi tidak ada penerbangan langsung dari Maroko menuju kota tujuan pertama yang masuk budget!

Gemas saat melihat harga tiket pesawat dari Casablanca Airport ke Munich International Airport dibanderol € 1000 / orang.

Adedeuuuh.

Jadilah siang malam begadang hunting tiket yang masuk budget yang diberikan travel.

Sudah sangat bersyukur dibiayai dari Maroko to Munich and Praha to Maroko kembali.

Tidak ada alasan tidak mendapat harga terbaik diantara mahalnya harga tiket saat ‘holiday season’ selama dua minggu ke depan.

Beberapa hari lalu, saat saya mulai keliyengan, batuk pilek srot srooot, Aa memaksa saya untuk tidur.

Aa ternyata mengerjakan kewajiban saya disambi-sambi baca diktat kuliah dalam laptop.

Hasilnya adalah tulisan tangan beliau ini. Rapi dan memudahkan proses pencarian harga terbaik.

Duh!
Asli terharu biru.

Ini yang namanya cinta dalam sepotong kertas.

Benar ya, bukti cinta tak melulu perhatian verbal. Justru yang ‘kecil-kecil’ tapi manis seperti ini membuat hati meleleh. Berujung pada rasa syukur.

Allah telah mengirimkan pasangan tepat untuk istri penyuka backpacking ini.

Alhamdulillaah.

I love you more, Aa!

***

Tips Hunting Tiket Pesawat ala Honeymoon Backpackers

Jadi, kalau kami ditanya apa saja tips hunting tiket pesawat murah meriah ala kami?

Simpel saja. Ini diantaranya:

1. Pesan tiket jauh-jauh hari. Gunakan aplikasi Skyscanner dan yang sejenisnya.

2. Sediakan waktu.

Untuk buka mata, buka telinga, buka debit card saat menemukan harga murah. Sikat tanpa ragu.

Kadang-kadang kami juga membeli tiket sangat murah meski belum yakin akan bepergian ke tempat tersebut. Tahu-tahu ada saja undangan berbagi untuk Aa atau saya yang pas dengan tiket yang sudah kami beli. Alhamdulillaah, pucuk dicinta ulampun tiba!

Tiket pesawat kami ke Madrid tanggal 8 Maret lampau hanya dibanderol € 13 including tax. Kurang lebih 188 ribu rupiah sudah pindah negara. Sedaaap ya!

Bandingkan dengan rute darat + laut saat kami kembali ke Maroko.

Kami harus menyiapkan ongkos ongkos naik bis Seville to Tarifa Port (Spanyol paling Selatan) lalu disambung naik kapal ferry menyeberangi Selat Gibraltar, dan masih harus diteruskan naik bis Tangier to Rabat.

Rute darat + laut bernama ‘membeli pengalaman’ ini menyedot sekitar total € 60.

3. Coba utak-atik tanggal dan rute.

Seringkali kami temukan rute ‘super murah’ di jalur tak biasa alias jalur sepi peminat. Dari sana kami meneruskan perjalanan ke negara tujuan.

Contoh paling hits adalah harga tiket pesawat kami dari Kuala Lumpur menuju Paris Charles de Gaule tahun 2014 yang kami dapat. ‘Hanya’ 5 juta rupiah untuk berdua. Amboi tak! 🙂

Silahkan coba tiga komposisi ini, saya berani jamin teman-teman juga bisa dapat harga tiket pesawat murah meriah seperti kami.

Salam backpacking dari sudut kota Rabat!

Keutamaan Al-Quran

Keutamaan Al-Quran

Sehabis mengecek berkas di rektorat (riyasah), saya jumatan di Mesjid Asrama Kampus (Hayy Jami’i) Soussi Rabat untuk kedua kalinya selama tinggal di sini. Setelah sebulan lamanya mengendap di Ta’lim Aly, Alhamdulillah berkas sampai di rektorat dengan lengkap. Beberapa teman mengalami peristiwa sebagian berkas hilang, sampai harus dikirim ulang sisanya. La haula wa la quwwata illa billah.

Beberapa minggu lalu, saat menyimak ceramah sang khatib untuk pertama kali, saya langsung terpukau. Isinya berbobot dan menyentuh. Bahasa Arabnya fasih. Intonasinya tepat. Yang terpenting, beliau mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Quran dan hadis Rasulullah Saw. ke dalam fenomena sosial masa kini. Pantas saja, beliau adalah Dr. Jamal Saidi, ketua jurusan studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Mohamed V.

Dulu ceramah beliau bertema kemerdekaan. Sebab berdekatan dengan peringatan hari kemerdekaan Maroko. Intinya, beliau menegaskan bahwa adakalanya musuh menjajah bukan karena mereka kuat, melainkan karena kita sendiri menyia-nyiakan kekuatan dan harga diri kita.

Sementara ceramah beliau kemarin bertema Al-Quran. Ujarnya, Allah Swt. memuliakan Rasulullah Saw. dan umat Islam dengan Al-Quran. Melalui Al-Quran, umat Islam diangkat derajatnya. Untuk itu, selayaknya kemuliaan tersebut dipelihara dengan baik.

Caranya adalah dengan membaca (tilawah), menyimak (istima’), menelaah (tadabbur), memahami (fahm) dan mengamalkan isinya.

Jika belum bisa membaca dengan baik, minimal sering-sering mendengar dan menyimak lantunan ayat-ayat-Nya saat dibacakan.

Fenomena yang tampak di sebagian kita justru sebaliknya. Menyimaknya saja cenderung enggan, acuh, cuek, abai, malas, mengantuk, takut dicap konservatif, dan sebagainya. Terlebih di beberapa tempat, Al-Quran hanya dibaca pada acara-acara seremonial. Sedangkan Al-Quran bukan pembuka seremonial belaka. Ia mesti dibaca di saat senang-sedih, suka-duka, dan segala suasana. Ia selayaknya disemarakkan di dalam mobil, rumah, café. Dilantunkan lewat hp, radio, televisi, dan sebagainya. Bukan justru dijejali alunan yang melenakan.

Sepanjang pengalaman kami #honeymoonbackpacker di Maroko, dari dalam taksi kerap terdengar lantunan ayat-ayat Al-Quran dari radio Al-Quran yang disetel supir taksi. Terutama di waktu dhuha.

Di wilayah tempat tinggal, saya pernah menyaksikan bapak paruh baya menggumamkan akhir surat Az-Zumar saat berjalan menuju halte bus, kala berangkat ke tempat kerja di pagi buta. MasyaAllah

Dari kejauhan, saya kira orang mabok, astagfirullah. Su’uzhan.

Agaknya mereka terinspirasi hadis yang menyatakan bahwa Al-Quran akan menjadi penolong (syafi’an) bagi ashhabul Quran (orang yang membaca, menyimak, hafal, dsb)

عن أبي أمامة الباهلي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعاً لأصحابه

حديث صحيح رواه مسلم 

Dari Abu Umamah Al-Bahili ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Bacalah Al-Quran, sebab kelak ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi orang yang membacanya.” (HSR Muslim)

Bagaimana Al-Quran akan mengulurkan pertolongannya kelak, kalau kita sendiri saat ini tak betah bermesraan dengannya. Sepertinya demikian yang muncul di benak kita.

Di dunia saja, tiada manusia yang dapat lepas dari pertolongan sesamanya. Kendati tak semua orang mau menolong sesama.

Tidak berinteraksi dengan Al-Quran menyebabkan manusia lalai, lengah, dan lupa pada Allah dan kehidupan akhirat. Berjibaku dengan urusan dunia tanpa merasa puas. Tangannya menggenggam gemerlap dunia, tapi jiwanya kosong, hampa, rapuh tak mengenal hakikat bahagia karena jauh dari Al-Quran. Sementara bahagia bermula dari Al-Quran.

Orang yang di rongga dadanya tiada secuil pun Al-Quran, ibarat rumah kosong tak berpenghuni. Rumah tak berpenghuni cenderung rusak. Udara tidak lagi segar. Suram. Kotor. Tak terawat. Sejumlah binatang sejenis rayap pun betah berkerumun di sana. Itulah gambaran jiwa yang kosong dari Al-Quran. Na’udzubillah

Laiknya istigfar, Al-Quran akan menjadi dzikir pengingat diri. Orang baik bukan yang tak pernah jatuh pada lembah kesalahan, namun yang segera sadar lalu beristigfar dan cepat kembali pada jalan yang benar. Jangan pernah meninggalkan istigfar jika segenap kesalahan kita ingin diampuni.

Rasulullah Saw. manusia yang gemar istigfar, kendati dosanya telah Allah Swt. ampuni. Ironisnya, kita berharap besar Allah mencurahkan ampunan-Nya pada kita. Namun menggerakkan bibir untuk mengucap istigfar saja kita enggan dan merasa berat.

Orang yang gemar berkumpul untuk tilawah dan mengkaji Al-Quran, namanya akan disebut-sebut di kalangan penghuni langit, walau di dunia tak dikenal banyak orang.

Menyimak paparan khatib tentang Al-Quran tersebut, sekonyong-konyong diri ini merasa kecil. Sembari hati bertanya, sudah sejauh mana interaksi kita dengan Al-Quran?! Saya hela nafas, lalu memanjatkan harap.

Rabb, jadikan Al-Quran sebagai penolong kami. Dunia dan akhirat kami. Bimbing kami menuju ahlul Quran wa ashhabuh. Amin

Dari pojok Rumah Kelana

Rabat, 19 Rabi’ At-Tsani 1437 H/ 30 Januari 2016

 

 

Sewa Rumah di Rabat

Akhirnya sampai pada titik harus segera meninggalkan kamar kos di sudut ibukota Maroko.

Besok InsyaAllah, atap pertama kami yang jadi saksi sepanjang memancangkan niat dan ikhtiar mendaftar kuliah si Aa di negeri senja akan ditinggalkan.

Seharian tadi kami semangat mencuci rumah (seperti adat orang Maroko dalam bersih-bersih rumah).

Sejenak terlintas haru saat menatap kamar kos. Kamar yang telah merekam semangat, rinai doa di sepertiga malam, keputusasaan, kesedihan, kebahagiaan kecil, turbulensi rasa, lonjakan harapan, tetes airmata, romansa sepasang jiwa hingga drama bertetangga dalam satu apartemen. Pengalaman pertama yang lengkap!

Masa sewa kamar luas dan panjang berukuran 3.5 X 6.5 meter yang telah kami huni sejak 28 Agustus 2015 ini berakhir besok.

Kami sengaja bayar bulanan, agar mudah angkat kaki jika memang situasi menuntut seperti itu.

Sejak awal memutuskan berjuang mendaftarkan kuliah si Aa, kami sudah diperingatkan beberapa orang tentang panjangnya proses pendaftaran kuliah di Maroko.

Jangan bayangkan proses pendaftaran kuliah program master dan doktoral sesederhana proses mendaftar di Eropa atau Amerika ya.

Berdasar pengalaman saya mendaftar kuliah master di Inggris pada tahun 2004, saya cukup mengirimkan beberapa email ke univeritas target yang saya inginkan, berkomunikasi dengan professor untuk membimbing tesis saya nantinya dan bersamaan dengan itu memulai proses pendaftaran online.

Yup! Dua belas tahun lalu di bumi Eropa sudah bisa mendaftar kuliah secara online. Semua berkas cukup discan lalu dikirimkan by email. Jika diterima, kampus akan mengeluarkan ‘Letter of Acceptance’ dari departemen / fakultas yang kita tuju.

LoA ini adalah surat sakti yang bisa digunakan untuk apply visa sekaligus. Jika visa granted, maka mahasiswa dipersilahkan menuju kampus yang dituju. Hassle-free!

Simpel, ringkas, mudah dan tidak membuang biaya belasan hingga puluhan juta. (Pesawat, sewa rumah atau kamar, biaya hidup selama proses mendaftar dan seterusnya!)

Jangan harapkan kenyamanan serupa di negara-negara Arab. Meski Maroko secara geografis letaknya di ujung Afrika Utara dan sudah sangat dekat dengan Eropa Selatan, attitude mereka tetaplah ‘Arab’!

Bersiaplah untuk sabar bolak-balik mengurus surat pengantar ke KBRI Rabat.

Setelahnya hunjamkan kembali rasa sabar mengecek berkas di AMCI (Aa sendiri menjalani 16 kali bolak-balik). Belum selesai!

Panjangkan lagi sabarmu mengecek berkas ke Ta’lim Aliy (Dikti Maroko) untuk memastikan berkas tidak lenyap di tengah jalan(Aa bolak-balik 7 kali hingga dipastikan berkas sudah terkirim ke kampus yang dituju).

Sudah selesai?

Belum. Terus lah bersabar mengawal berkas ke rektorat kampus tujuan, kawal terus berkas saat berjalan ke kepala dekan, ketua jurusan lalu kembali ke Rektorat.

Sudah?

Belum. Sabar, sabaaar! 🙂

Tambahkan kembali si sabar saat berkas masuk lagi ke Ta’lim Aliy.

Terus pupuk sabar hingga akhirnya keluar surat sakti bernama Rukhshah dari AMCI (lembaga bentukan Kemlu Maroko khusus mengurusi mahasiswa asing). Dengan rukhshah inilah si Aa nantinya membawa ke kampus untuk meminta diterbitkannya nomor registrasi mahasiswa ‘paling’ resmi!

Sudah kah Aa dapat rukhshah?
Belum juga dear pembaca.

Doakan ya supaya rukhshah si Aa secepatnya keluar karena musim ujian telah menjelang!

Sebelum hidup di Maroko dengan tujuan menuntut ilmu, kami tak pernah menyangka jika urusan mendaftar saja memakan waktu berbulan-bulan. Dua kali menjejak Maroko kami bahagia. Pasalnya kami adalah backpacker yang tak berurusan dengan birokrasi. Kami sekadar menikmati keindahan warisan budaya Islam klasik dan artefak sejarah padang pasir. Selebihnya kami miskin pengalaman hidup di Maroko!

Beberapa kasus pendahulu kami yang berburu ilmu, mereka malah menjalani proses setahun lebih. Datang ke Maroko, terlunta-lunta dalam birokrasi yang tak ramah hingga dipaksa keadaan pulang ke tanah air lalu kembali lagi setelah mendapatkan kuota departemen agama di Indonesia. Kapan-kapan si Aa ceritakan ya.

Jika proses pendaftaran kuliah di Maroko belum tuntas, kenapa kami pindah?

Kami bukan pasangan yang mudah bosan. Kami terbiasa prihatin, menekan rasa dan bertenggang hati dengan tetangga kamar. Buat kami prihatin wajib dalam masa mendaftar dan beasiswa juga belum turun.

Kami hanya sanggup sewa satu kamar di ibukota Rabat karena saking mahalnya sewa rumah di Rabat!

Sepanjang hasil penelusuran kami berkali-kali hunting rumah di area tak jauh dari kampus Muhammad V University (seputar Agdal, Madinah dan sekitarnya) sewa rumah di Rabat dimulai dari 6500 dirham hingga 18000 dirham per bulan. Bukan per tahun ya!

Kalikan 1500 rupiah. Kisaran 9.750.000 – 27.000.000 rupiah! MasyaAllah, bukan main mahalnya sewa rumah di Rabat ya. 😦

Sungguh angka sewa rumah bulanan yang fantastis bukan!

Pertama tiba di sini kami juga shock bukan main. Akhirnya kami putuskan tinggal di pinggiran ibukota. Agar sanggup membayar bulanan sewa kamar. Sekali lagi bukan sewa satu buah rumah utuh ya! 🙂

Dengan kondisi beasiswa Aa yang belum turun sama sekali, kami hanya mampu sewa satu kamar di pinggiran kota Rabat. Uang sewa lima bulan terakhir kami dapatkan dari ‘tabungan’ – lebih tepatnya hasil jualan pempek di Eropa sepanjang Ramadhan-Dakwah backpacking 2015- yang tersisa.

Tentu saja kami harus hidup sangat sangat sederhana, kalau tidak dikatakan ala kadarnya.

Sungguh kami berhemat sebisa mungkin.

Juga menahan keinginan tuk berkelana ke kota-kota lain, karena itu akan menyedot tabungan kami yang juga tak seberapa.

image

Kamar kos di Rabat

Alhamdulillaah kami cukup puas dengan satu kamar dan dapur mungil berjendela.

Yang utama, kami diliputi syukur karena tetangga kamar adalah satpam yang tidur sepanjang siang lalu pergi jelang Maghrib hingga esok pagi.

Sampai kemudian awal bulan lalu landlady protes pada penggunaan listrik kami. Kata Aisha bayar listrik bulan Desember meroket! “Ghaaliy bidz zhoof!”

Kami tersentak. Rasanya pemakaian listrik kamar kami paling hemat dibandingkan pemilik rumah dan adik si pemilik rumah.

Mereka menyalakan TV nyaris 12 jam sehari, kulkas 24 jam, laptop, dkknya kali dua rumah dengan empat titik lampu.

Sementara kami hanya menyalakan laptop saat dibutuhkan, pemanas air saat ingin minum air panas dua buah titik lampu (satu di kamar dan satu di dapur) saat malam hari saja.

Bahkan ruang tengah yang kosong berbatasan dengan kami dibiarkan gulita tak diberi lampu. Juga tangga ke lantai dua tak pernah dinyalakan jika sedang tidak melintasi.

Rasanya muntab mendengar kata-kata, “Ghaaliy bidz zhoof” tersebut sementara kami menjaga pemakaian listrik.

Kami memang sempat menyalakan heater (pemanas ruangan) yang dipinjamkan seorang Kakak di Belgia. Tapi hanya kami pakai sesekali terutama saat temperature udara sangat rendah dan tak kuat menahan dingin.

Di sisi lain, kami pernah meninggalkan kamar menuju Belgia untuk perbaharui free visa selama dua minggu lebih. Artinya biaya heater yang kami nyalakan bisa dimasukkan ke situ.

Kami pikir Aisha sudah bersikap berlebihan, sementara kami pernah mengintip surat tagihan listrik dan air. Hanya 300-an dirham untuk empat lantai dan tiga kamar kos di basement.

Saya pribadi juga sudah bersabar rutin mendengar teriakan kasar Umar pada istrinya, bersabar atas sikap Aisha yang selalu mengecek penggunaan listrik khususnya perebus air elektrik milik kami, bersabar atas larangan berisik – seakan kami sepasang anak kecil- karena akan membangunkan Pak satpam (tapi 5 bulan bertetangga Pak satpam tak pernah protes pada kami) dan bersabar menemukan ‘harta karun’ Pak satpam di toilet bersama. Duuuuh!

Ini seperti tanda-tanda semesta, agar kami mengakhiri kos di sini.

***

Pucuk Dicinta Ulampun Tiba kah?

Saat mengantarkan risoles untuk Vera dan Mas Syamsul tetangga kami beberapa blok pada tanggal 19 Januari, akhirnya terlontar curahan hati tentang landlady kami. “Sepertinya kami sudah saatnya pindah, Mas…”

“Wah iya, Mbak. Kalau kayak gitu pindah saja. Kebetulan Mas W sudah selesai sewa rumah dekat pasar, Mbak. Apa Mbak tertarik lihat rumahnya?”

“Mau banget, Mas. Kapan bisa antar kami?”

Singkat cerita, di hari yang sama kami memutuskan melihat rumah itu ditemani beliau.

More than excited. Deg-degan. Apalagi Mas Syamsul bilang rumahnya bagus dan terawat.

Saat tiba di pintu rumah itu rasanya biasa saja. Tampilan luar sangat biasa cenderung kurang bagus. But don’t judge a book by its cover!

Begitu gerbang masuk utama dibuka, saya takjub pada bersihnya rumah yang akan disewakan!

Secara keseluruhan rumahnya sederhana. Standar kelas menengah ibukota Rabat.

Yang istimewa adalah kamar mandinya. Tak sekadar full keramik, tapi komplit dengan wastafel, toilet duduk dan shower!

image

Toilet bersih apik

Setelah lima bulan hanya menggunakan toilet jongkok sekaligus sebagai kamar mandi sempit (menggunakan ember milik sendiri) toilet seapik itu menjebol hati.

Dapur juga luas dengan jendela lebar.

Belum ruang jemur tepat di sebelah dapur. Spacious and bright! 🙂

image

Sewa rumah di Rabat

Felt in love suddenly!

Kami saling pandang. Aa menganggukkan kepala.

Mas Syamsul membantu nego harga. Alhamdulillaah masuk budget kami meski tentu saja hampir dua kali lipat kamar kos kami.

Saatnya menyampaikan keinginan.

Mas Syamsul melobi dengan bahasa darijah. Beberapa jenak kemudian menoleh ke saya, “Mbak, rumah ini ternyata mau dilihat orang Maroko juga. Nanti agak sore katanya. Kalau si Maroko tidak jadi, maka rumah ini akan disewakan ke Mbak.”

Aiiiih, kenapa jadi menggemaskan begini!

Kami meninggalkan rumah impian dengan gregetan.

Akan kah rumah mungil bersih apik sahaja ini berjodoh dengan kami?

Aa istikharah. Saya mengikuti. Dua puluh empat jam terasa sangat lamaaa!

Esoknya saya whatsapp Mas S.
“Gimana Mas?”
“Alhamdulillaah Mbak, rumah itu bisa Mbak sewa.”

Seketika sujud sukur. Rebah ke bumi.

Terima kasih, Allah.
Karena kebaikanMu melalui Mas Syamsul kami tak perlu repot hunting rumah di seantero Rabat atau mendatangi makelar rumah.

Kami juga tak perlu kedinginan turun naik bis dengan ancaman dicopet.

Kami tak perlu berlelah-lelah. Manisnya kejutan dariMu, Allah.

Bismillah, we’re moving tomorrow! 🙂

Tips Agar Smartphone Tidak Gampang Lowbatt

Jaman mobile masa kini, salah satu hal yang paling mengganggu buat kamu yang super aktif, banyak bekerja menggunakan smartphone atau bahkan sering traveling / backpacking ke negeri antah berantah di ujung dunia, adalah saat menjumpai baterai hapemu dalam kondisi lowbatt. Hadeeuh! Pasti gemes banget rasanya ya!

Kalo pas ada powerbank sih aman, tapi kalau sedang tidak membawanya atau saat  gak bisa nge-charge juga, gimana dong? Padahal, smartphone musti nyala karena lagi butuh buka Google map, atau sedang janjian sama host kamu di tengah jalan sementara saat itu suhu sedang minus, kamu sudah menggigil beku kedinginan  sementara baterai tinggal 5%. MasyaAllah! Pasti nyesek banget rasanya!

Saya berkali-kali mengalami situasi sejenis ini. Pingin gigit orang lewat deh!

Nah, supaya baterai smartphone awet, ini ada beberapa tips dari detekno.com, worth to try!

  1. Matikan Wi-Fi

Ternyata mematikan konektivitas Wi-Fi kalo lagi di luar ruangan itu pengaruh lho buat baterai. Soalnya, kalo gak dimatikan, smartphone akan terus mencari sinyal Wi-Fi terdekat, ini yang akan terus mengurangi daya baterai cukup besar secara otomatis. Jadi, kalo lagi di luar, mending memasang jaringan 3G atau 4G LTE, dan kalau sudah bisa memakai jaringan Wi-Fi, baru dipasang lagi.

  1. Matikan Live Wallpaper!

Iya sih, live wallpaper bikin tampilan smartphone jadi keren, tapiiiii… ini nih yang cepat sekali menyedot baterai sehingga daya tahan baterai akan berkurang. Jadi, sementara dalam perjalanan, dimatikan dulu deh wallpaper-nya ya!

  1. Non-aktifkan notifikasi

Tahu nggak, setiap notifikasi tidak penting seperti dari aplikasi atau game, rata-rata terhubung dengan internet, sehingga akan menyedot daya baterai secara signifikan. Coba ke menu setting, pilih Apps, terus pilih aplikasi atau game yang ingin dinon-aktifkan notifikasinya, dan hilangkan tanda centang “show notification” di bagian bawah.

  1. Turunkan kecerahan layar

Semakin terang layar, semakin besar energi yang disedot! Apalagi kalau layar smartphone-nya memiliki resolusi full HD. Jadi, biar baterai gak boros, ubah kecerahan layar jadi manual, terus atur waktu tampil layar (Sleep) dalam hitungan detik.

Terakhir, tips paling praktis versi pasangan honeymoonbackpacker.com adalah: ganti smartphone saja! Iyaaa, kalo smartphone mulai sering lowbatt, artinya baterainya memang mulai melemah.  Kalau kamu memang lagi cari smartphone baru yang daya tahan baterainya kuat, coba cek Huawei G8 deh.

Happy research ya! 🙂

Huawei-G8-Image-1